Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panen Raya, Perut Buncit, dan Kejutan di Atas Bale-Bale
Enam bulan berlalu sejak malam pengantin konyol di Jakarta. Pagi itu, tanah kelahiran Ajo di kaki Gunung Salak seperti diselimuti keajaiban. Udara dingin pegunungan beradu hangat dengan wangi cengkeh yang menguning. Panen raya kali ini adalah yang terbesar dalam sejarah desa, bukan hanya karena hasil tanahnya yang melimpah, tetapi juga karena acara syukuran desa yang bakal kedatangan "tamu-tamu besar" dari kota.
Ajo, yang masih setia mengenakan kaus oblong kusam dan celana kain dilipat hingga betis, sedang memanggul keranjang bambu di tepi kebun. Tiba-tiba, iringan empat mobil mewah melaju pelan menyusuri jalan setapak desa yang kini sudah mulus diaspal.
Ratusan warga desa yang sedang memetik cengkeh mendadak bersorak riang.
Pintu mobil utama terbuka. Adam melangkah keluar lebih dulu, mengenakan kemeja batik santai. Namun, giliran ia membukakan pintu penumpang, mata Ajo hampir melompat keluar dari kelopaknya.
Juli melangkah turun. Kembang Desa itu kini tampil begitu anggun khas aktris papan atas AJA DISPOSA FILM, tetapi yang membuat Ajo mematung adalah perut Juli yang sudah membuncit lucu—hamil lima bulan! Juli berjalan sambil mengelus perutnya, tersenyum manis dengan lesung pipit yang tetap merona.
"Jul... Juli?!" pekik Ajo, hampir menjatuhkan keranjang bambu yang dipanggulnya. "Kamu... perut kamu kenapa bulat begitu?! Terus penampilan kamu... astaga, sepupuku benar-benar sudah jadi artis ibu kota?!"
Juli tertawa renyah, tawa khas desa yang tidak pernah hilang. "Ajo! Masa lupa sama sepupu sendiri? Ini di dalam perut ada calon Jenderal Kecil-nya Mas Adam tahu!"
Adam melangkah maju dengan dada membusung bangga, merangkul pinggang Juli posesif. "Gimana, Jo? Hasil didikan Jenderal Adam! Sekali tembak, langsung jadi calon Bintang Film masa depan!"
"Aduh, Mas Adam! Malu-maluin dibahas di depan warga!" celetuk Juli sambil mencubit pinggang Adam hingga sang mantan miliarder itu meringis kesakitan, membuat warga desa terkekeh geli melihat si bos besar kota takut pada istrinya yang sedang hamil.
Belum selesai Ajo menetralkan rasa terkejutnya, pintu mobil kedua terbuka. Jimi turun membawa anak pertamanya di panggulan, disusul Rina yang menggandeng anak kedua mereka yang tampil sangat menggemaskan. Warga desa bersorak menyambut keluarga kecil Jimi yang sangat hangat.
Dan akhirnya... pintu mobil ketiga terbuka.
Sesosok wanita melangkah turun. Elsa.
Ajo membeku di tempatnya. Elsa mengenakan gaun terusan putih longgar berenda halus yang melambai ditiup angin pegunungan. Rambut panjangnya terurai indah, kulitnya yang bersih bersinar memantulkan pendar matahari pagi. Di mata Ajo—dan seluruh warga desa yang menahan napas—Elsa tidak lagi terlihat seperti aktris kota, melainkan ibarat dewi yang baru turun dari khayangan untuk memijak tanah Gunung Salak.
Elsa berjalan mendekati Ajo, lalu menyunggingkan senyum paling tulus yang membuat jantung Ajo berdegup kencang persis seperti pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta.
"Kenapa melamun begitu, Ajo?" goda Elsa halus, merapikan kerah kaus kusam Ajo yang agak terlipat. "Masa menyambut calon istri cuma dengan muka bengong?"
"E-eh... kamu cantik sekali, Elsa. Benar-benar... luar biasa," bisik Ajo jujur tanpa gengsi, membuat pipi Elsa merona merah dadu.
Sore harinya, puncak syukuran panen raya digelar di bale-bale besar tengah kebun. Warga berkumpul menyantap nasi liwet, ayam bakakak, dan kopi hangat.
Di tengah keriuhan acara, Adam tiba-tiba berdiri di atas panggung kayu kecil, memegang mikrofon pengeras suara milik kepala desa. Jimi berdiri di sampingnya dengan wajah sok serius, sementara Rina dan Juli sibuk menahan tawa di bawah panggung.
"Tes, tes! Satu, dua, tiga... Perhatian warga desa Gunung Salak yang dicintai!" seru Adam menggelegar, membuat seluruh warga mendadak hening.
Ajo yang sedang menikmati kopi hitam bersama Elsa mendadak curiga. "Adam mau bikin ulah apa lagi?" gumamnya.
"Hari ini," lanjut Adam dengan nada wibawa yang dibuat-buat, "kami dari jajaran direksi AJA DISPOSA FILM membawa misi negara yang sangat penting! Misi ini menentukan masa depan Produser Utama kita, Saudara Ajo!"
Jimi mengambil alih mikrofon, menatap Ajo dengan cengiran jahil. "Saudara Ajo sudah terlalu lama hidup sendirian di rumah tua ini! Oleh karena itu, atas desakan warga desa, calon bayi di perut Juli, dan seluruh kru perfilman Indonesia... hari ini Ajo HARUS dilamar!"
"Eh?! Maksudnya melamar!" potong Adam cepat, merebut kembali mikrofon. "Bukan Ajo yang dilamar, tapi Ajo yang melamar Elsa! Kebalik, Jim!"
GELAK TAWA warga desa meledak seketika. Ajo sampai tersedak kopi hitamnya, sementara Elsa menutup wajahnya dengan kedua tangan, tertawa geli hingga matanya berair.
Adam melangkah turun dari panggung, membawa sebuah kotak beludru merah kecil yang diam-diam sudah ia siapkan bersama Jimi. Adam berlutut secara konyol di depan Ajo, lalu menyodorkan kotak itu.
"Nih, Jo! Jangan bikin malu Tiga Jenderal! Katanya Produser dingin, masa suruh sahabatmu yang urus kotak cincinnya!" bisik Adam heboh sambil mengedipkan mata.
Ajo menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dua sahabatnya yang tak pernah habis akal konyolnya. Namun, saat tangannya menerima kotak beludru itu, canda tawa di sekelilingnya perlahan mengendur.
Ajo bangkit berdiri. Ia membalikkan tubuhnya, berhadapan langsung dengan Elsa.
Di bawah saksi bisu rimbunnya pohon cengkeh tua, riuhnya warga desa yang menyayangi mereka, dan gelak tawa para sahabat sejati, Ajo berlutut di hadapan Elsa. Tidak ada lagi setelan jas kaku atau topeng produser mahal. Yang ada hanyalah Ajo—pria sederhana yang jiwanya telah utuh kembali.
Ajo membuka kotak beludru itu, memperlihatkan sebuah cincin emas bermotif ukiran daun cengkeh yang sangat indah.
"Elsa..." suara Ajo bergetar, berat dan penuh sarat emosi yang merembes langsung ke dasar dada siapa pun yang mendengarnya. "Di kota, aku hampir kehilangan segalanya. Tapi di tanah ini, aku sadar satu hal: sejauh apa pun aku berlari, rumahku adalah kamu. Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku, dan menghabiskan sisa hidupmu bersamaku di tanah kelahiran ini?"
Suasana di tengah kebun mendadak hening seketika. Juli menahan napas sambil mengelus perut buncitnya, Rina tersenyum haru sambil menggenggam tangan Jimi, dan warga desa menatap dengan mata berbinar-binar penuh doa.
Elsa menatap cincin itu, lalu menatap manik mata Ajo yang berkaca-kaca. Air mata kebahagiaan menetes melintasi pipi cantiknya.
"Ya, Ajo... aku mau," bisik Elsa mantap. "Aku mau menjadi rumahmu selamanya."
SORAK-SORAI MELEDAK!
Warga desa bertepuk tangan riuh, menaburkan bunga cengkeh kering ke udara. Ajo bangkit dan langsung merengkuh tubuh Elsa ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif, mencium kening wanita itu dengan rasa syukur yang meluap-luap.
Adam merangkul bahu Jimi, lalu berteriak heboh ke arah warga. "Malam ini kita potong kambing lagi! CEO AJA DISPOSA FILM akhirnya lepas masa lajang!"
Di bawah naungan langit sore Gunung Salak yang berwarna jingga keemasan, badai masa lalu telah benar-benar berlalu. Di atas tanah kelahiran yang penuh kenangan, cinta, persahabatan, dan kehidupan baru mekar dengan begitu indah dan abadi.