NovelToon NovelToon
Kage No Karada Toshite Tensei Shita Node, Saikyō No Danjon Ōkoku O Tsukurimashita!

Kage No Karada Toshite Tensei Shita Node, Saikyō No Danjon Ōkoku O Tsukurimashita!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Mengubah Takdir
Popularitas:704
Nilai: 5
Nama Author: royco

menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kemunculan raja iblis, kekalahan telak (bagian 2)

"Aman, Delta... Aman. Ini semua masih berada di dalam jangkauan kendaliku," ucapku lirih, menepuk pundak naga merah kepercayaanku yang sudah terluka parah. "Kau beristirahatlah sekarang di pos medis bersama Alpha."

Setelah memastikan Delta mundur ke area aman, aku membalikkan tubuhku.

Langkah kakiku berketuk konstan, berjalan mantap menuju ke arah episentrum medan tempur perbatasan timur.

Namun, begitu sepasang mataku menyaksikan pemandangan di garis depan, seluruh pasokan udara di paru-paruku seolah tersedot habis. Mataku membulat sempurna, menatap horor purba yang terhampar di depan mata.

Pemandangan di sana bener-bener keji. Daratan yang tadinya hijau kini menjelma menjadi lapangan berdarah berselimut uap belerang. Jasad-jasad ksatria tangguh dari Kerajaan Oscar, potongan tubuh pasukan Goblin setianya, hingga barisan prajurit Undead milikku hancur berkeping-keping, berserakan layaknya rongsokan tak berharga. Medan pertempuran ini sudah berubah menjadi neraka jahanam yang sanggup membuat orang normal langsung kehilangan warasnya dalam sekali lirik.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kawah dengan tatapan mata yang bener-bener tidak tega. Napasku terasa berat, tenggorokanku mendadak tercekat parah.

"Satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan... sembilan... sepuluh..." Aku menghitung jasad-jasad rakyat dungeon-ku dengan suara yang gemetar berbalut amarah purba, sebelum akhirnya aku menundukkan kepalaku dalam-dalam menatap tanah yang bersimbah darah hitam. "Terlalu banyak... Korban ini bukan cuma sampai angka sepuluh, melainkan sudah menyentuh angka ribuan..."

Deg.

Di tengah keputusasaan malam, sepasang mata tajamku mendadak tertuju pada sesosok tubuh manusia yang terkapar megap-megap menantikan ajalnya di dasar kawah. Penampilan fisik dan potongan zirah kainnya terasa sangat familiar di ingatan taktisku. Aku sangat mengenali pakaian itu.

Tanpa membuang waktu, aku langsung melangkah cepat menghampirinya. Tebakanku 100% akurat. Sosok yang sedang berada di sisa sakaratul mautnya itu adalah Jerry—sang pemimpin regu pahlawan reinkarnator bumi. Aku langsung berlutut di atas tanah gersang, meraih tubuh ksatria bumi yang sekarat itu dan meletakkan kepalanya dengan lembut di atas pangkuanku.

"H-hei... Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Siapa yang berani membuatmu sehancur ini?" Tanyaku dengan nada suara yang lirih bergetar menahan amarah.

Jerry membuka sepasang matanya yang mulai meredup, menatap jubah kegelapanku dengan sisa-sisa kesadaran terakhirnya.

"A-... Ahh... Tuan Miko... Akhirnya... Anda datang juga..." Ucap Jerry terbata-bata dengan sisa tenaga di tenggorokannya yang berdarah.

"Hee... Aku sudah datang, Jerry. Katakan padaku, ada apa dengan semua kekacauan ini?" Tanyaku lagi, mencengkeram erat pundak zirahnya.

"Ahh... Dia... sesosok monster luar biasa kuat telah mengamuk hebat... dan dia akan segera menghancurkan seluruh sisa peradaban Kerajaan Oscar..." Bisik Jerry menyedihkan, air mata ketulusan mulai mengalir membasahi pipinya yang penuh luka goresan.

"Kekuatanku... kekuatanku tidak cukup besar untuk menahan daya hancurnya... Tolong, Tuan Miko... lawan makhluk itu... menangkan pertempuran ini demi kami... aku mohon..."

Tepat setelah kalimat permohonan terakhir itu selesai diucapkan, tangan Jerry yang sempat memegang erat lenganku mendadak terkulai lemas jatuh ke tanah. Pancaran cahaya kehidupan di sepasang matanya memudar total, berganti tatapan kosong yang kaku. Dia telah tiada tepat di atas pangkuanku.

"Ahh... Jadi hidupmu sudah selesai di sini ya, Jerry? Huh..." Aku terdiam sejenak, mengusap luka di keningnya dengan pelan sebelum menatap lurus ke depan dengan sepasang mata yang berkilat tajam bagai mata pisau. "Tenang saja. Aku bersumpah akan membalaskan dendam kematianmu. Sekarang, istirahatlah dengan damai, Pahlawan. [Gluttony Inventory]."

Pusaran cairan bayangan hitam pekat berputar hebat dari telapak tanganku, menelan jasad Jerry masuk ke dalam dimensi saku khusus agar kondisinya tetap utuh, suci, dan tidak membusuk sebelum aku menagih utang politik ke Raja Oscar nanti. Aku pun bangkit berdiri tegap. Di ujung garis pandanganku menembus pekatnya debu, sesosok makhluk bertubuh tinggi kekar dengan zirah tanduk hitam tampak berdiri angkuh. Makhluk itu tidak melangkah dengan kaki, melainkan bergerak melayang di udara mendekati perimeter posisiku. Hawa auranya luar biasa dominan dan mengerikan. Aku yang dulu—saat masih menjadi manusia bumi biasa—mungkin akan langsung lari terbirit-birit ketakutan. Tetapi aku yang sekarang adalah seorang Penguasa Dungeon yang memikul ribuan jiwa rakyat yang harus kulindungi dengan nyawaku sendiri!

Aku mulai berjalan melangkah maju menghampirinya dengan ritme yang lambat, menatap lurus ke arahnya dengan ekspresi wajah yang dipenuhi gejolak emosi luapan amarah namun dipaksa untuk tetap tenang teratur.

"Sialan... sialan... sialan... Keparat... Kubunuh kau... Akan kubunuh kau... Akan kubunuh kau... Akan kubunuh kau tanpa ampun..." Aku terus bergumam seperti itu sepanjang langkah kakiku mengetuk tanah. Begitu jarak kami tersisa beberapa meter, aku menatap penampilannya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan mata yang bener-bener muak. "Keparat lancang kau, makhluk dunia luar... Lebih baik kau mati membusuk saja malam ini!" Ucapku dingin dengan nada suara menahan ledakan emosi mutlak kepada sang Raja Iblis luar.

Sang Raja Iblis bertanduk itu menunduk menatap siluet tubuh jubahku, lalu mendengus meremehkan. "Hmmm? Ahh... Datang lagi satu serangga dari regu pahlawan bumi? Kau juga bagian dari rombongan pahlawan sampah itu, hah?" Tanya Raja Iblis luar dengan nada suara bariton yang bergetar penuh dominasi tirani yang mengerikan.

"Jangan berani-berani menyamakan derajatku dengan cecurut seperti mereka!" Bantahku dingin.

Perlahan, aku mengulurkan tangan kananku ke samping tubuh, mulai berjalan melangkah lebar membentuk pola lingkaran, mengitari tubuh raksasa Sang Raja Iblis layaknya seekor predator puncak yang sedang mengunci mati koordinat pergerakan mangsanya.

"Hoo... Jadi kau merasa berbeda ya dari mereka? Menarik. Baiklah kalau begitu, akan aku ladeni seluruh permainan sepelemu ini selama kau berani mengganggu urusan ekspansiku di dunia ini!" Ucap Raja Iblis itu sembari meledakkan suara tawa yang menggelegar kejam, layaknya seseorang yang sudah memenangkan papan catur pertempuran sejauh puluhan langkah ke depan.

"Keparat kau! Rasakan ini... Anubis!"

Detik itu juga, daging lengan kananku bermutasi mencair mengeluarkan riak shadow storage. Dari dalam dimensi bayangan, aku menarik keluar Anubis, pedang pendek pengusir setan yang memiliki bilah lurus tajam di tengah dengan dua pelindung besi melengkung simetris berbentuk huruf "U" di pangkalnya. Aku memasukkan jari telunjukku ke celah lengkungan U tersebut, lalu memutarnya dengan kecepatan super kencang hingga pedang pendek itu membelah udara menciptakan desingan badai besi yang bising.

"Senjata apa yang kau pegang itu? Bentuknya sangat aneh dan konyol! Tapi ya sudahlah, senjata aneh itu emang bener-bener sangat cocok untuk orang aneh seperti dirimu, hahahaha!" Ejek Sang Raja Iblis luar, kembali tertawa meremehkan pertahananku.

"Sialan kau...! Sistem... Turn on [Glitch Shadow]." Ucapku lirih ke dalam kesadaran sistem dungeonku.

Sistem memverifikasi perintah. Proses asimilasi selesai. Mode Glitch Shadow berhasil diaktifkan secara mutlak. Kapasitas daya hancur fisik dan output kecepatan melesat pengguna meningkat tajam sebesar 500% hingga 1000% dari batas normal.

Melihat riak kotak-kotak digital yang merusak ruang di sekeliling tubuhku, Raja Iblis luar itu kembali mencibir.

"Apa-apaan dengan tampilan muka itu? Jelek dan menjijikkan banget!" Ejeknya.

"Cih, tutup mulutmu! Pergilah... Anubis!"

Tepat saat pedang Anubis mencapai puncak putaran terkencangnya di jari telunjukku, aku langsung menyentakkan lenganku ke depan, melemparkan pedang pendek tersebut dengan kekuatan penuh hingga melesat layaknya peluru kendali menembus celah pertahanan atas musuh.

"[Shadow Blink]!" Ucapku instan.

Dalam sekelebat milidetik, tubuh jubah hitamku menghilang dari atas tanah memicu sihir teleportasi kilat, berpindah tempat secara instan mengikuti titik koordinat melesatnya pedang Anubis tepat di depan wajah raksasa Sang Raja Iblis. Aku menarik kaki kananku ke belakang dan menghantamkan sebuah tendangan badai berkekuatan penuh ke arah rahangnya. Namun, zirah tanduk hitam miliknya terlalu tebal. Serangan fisikku sama sekali tidak mempan. Dengan refleksnya yang mengerikan, tangan kiri besarnya bergerak cepat menangkap pergelangan kaki kananku dengan sangat erat.

"Kena kau, serangga pengganggu!" Seringai kejam Raja Iblis luar memecah udara. Dengan satu sentakan lengan ototnya, dia melemparkan tubuhku dengan kasar ke kejauhan.

Namun, sebelum tubuhku terlempar menjauh, aku sudah melepaskan pedang Anubis dari genggaman dan melemparkannya kembali ke arah koordinat buta di belakang lehernya. Detik berikutnya, aku kembali memicu teleportasi beruntun, muncul di belakang tubuh raksasanya dan langsung melancarkan rentetan kombinasi tebasan super cepat dan tendangan badai secara bertubi-tubi tanpa memberikan jeda satu milidetik pun.

"Sialan kau... Seranganmu ini emang sama sekali tidak terasa sakit di kulitku, tapi pergerakanmu bener-bener rusuh dan berisik banget, woi!" Raung Raja Iblis itu yang mulai jengkel karena digempur kecepatan tinggi.

Dengan satu ayunan lengannya yang memancarkan gelombang destruktif masif, dia berhasil membaca gerakanku. Tangan besarnya kembali menyambar leherku, mencengkeramnya erat lalu menghempaskan tubuhku dengan daya hancur mutlak ke arah bawah.

"Rasakan kehancuranmu di sini!" Teriak Raja Iblis luar dengan murka.

Aku terlempar tanpa bisa menahan momentum ini. Tubuh jubah hitamku meluncur deras bagai meteor jatuh.

Tubuh jubah hitamku menghantam sebuah bongkahan bukit batu besar di kejauhan hingga langsung ambles hancur lebur menjadi puing-puing debu tebal.

"Uhuk... uhukk...!" Aku terbatuk keras, memuntahkan segumpal darah segar dari sela bibirku yang mulai merobek zirah jubah kegelapanku.

Aku bersandar lemas di runtuhan batu dengan napas terengah-engah kritis. "Sialan... Ini adalah kali pertama dalam hidupku merasakan esensi dari sebuah kekalahan telak yang mengerikan begini..." Gerutuku lirih menahan rasa sakit di sekujur sel tubuh bayanganku.

Belum sempat aku memulihkan pasokan staminaku, pekatnya debu reruntuhan mendadak terkoyak paksa. Sang Raja Iblis luar sudah berpindah tempat secara instan tepat di hadapanku dengan kepalan tangan raksasa yang sudah diselimuti oleh kobaran daya sihir peledak kosmik berdaya hancur massal.

"Aku bener-bener paling tidak suka membuang waktu dengan basa-basi tidak penting. Mati kau! [ATOMIC SMASH]!!!" Ucap Raja Iblis luar kejam.

Sebuah ledakan berskala raksasa berkekuatan bom atom meledak hebat menghancurkan sisa bukit batu tempatku terpojok. Gelombang apinya membubung tinggi menembus langit malam perbatasan.

Dari balik tenda pos medis darurat di kejauhan, Alpha menyaksikan kobaran ledakan raksasa tersebut dengan sepasang mata yang terbelalak lebar menahan horor. Tubuh sang Penyihir Agung seketika lemas, gemetaran hebat memeluk dadanya sendiri. "T-Tuan Miko..." Ucap Alpha dengan nada suara yang sangat lirih, menjatuhkan tubuhnya berlutut di atas tanah sembari menyatukan kedua tangannya, berdoa dengan air mata keputusasaan yang mulai mematangkan pipi cantiknya.

Sedangkan di pusat kawah ledakan, penderitaanku belum berakhir. Tubuhku yang sudah babak belur dijadikan samsak hidup, dipukuli berulang kali secara brutal tanpa ampun oleh kepalan batu Sang Raja Iblis luar hingga struktur sel bayanganku hancur kacau berantakan.

"Melesatlah sampai ke ujung cakrawala! [INFINITE EXPLOSION]!!!" Teriak Raja Iblis luar, melayangkan satu jotosan maut yang menghantam dadaku hingga tubuh lemasku melesat tinggi melayang menembus awan langit.

Saat tubuhku masih melayang tak berdaya di angkasa, sesosok bayangan raksasa mendadak sudah muncul secara instan di belakang punggungku, menyatukan kedua tangannya di atas kepala bersiap memberikan hantaman penutup.

"Mati dan ratalah menjadi debu! [INFINITE GALAXY SMASH]!!!" Ucap Raja Iblis luar kejam.

Tininininit... DORRR...

Suara dengungan energi kosmik pekat berbunyi nyaring selama satu milidetik tepat sebelum hantaman dua kepalan tangannya meluncur mutlak menghajar punggungku. Sebuah ledakan bertekanan gravitasi gila meledak hebat di langit malam perbatasan timur.

Tubuh jubahku melesat jatuh bebas dari langit dengan kecepatan mengerikan, menghantam tanah gersang dengan sangat keras hingga menciptakan kawah raksasa baru sedalam belasan meter. Tanpa memberikan jeda satu detik pun untukku bernapas, Sang Raja Iblis luar mendarat di dalam kawah, menjambak rambut ku dengan kasar, lalu menyeret tubuh lemasku dengan kecepatan tinggi di atas tanah, membawanya melesat lurus menuju ke arah perimeter depan pos medis belakang—tepat di mana Alpha sedang berdiri terpaku menahan tangis.

Tubuhku dihempaskan dengan sangat kasar, bergulingan di atas tanah gersang dan berhenti tepat beberapa meter di depan kaki Alpha.

"Hee... HAAAAAAA!!!!! TUAN MIKOOOOO!!!" Jerit Alpha histeris sampai tersedu-sedu, tangisnya pecah berantakan saat menyaksikan sosok Raja absolut yang selama ini dia agungkan sebagai entitas tertinggi tak terkalahkan, kini terkapar hancur berlumuran darah segar di depan mata kepalanya sendiri.

Aku menggerakkan kelopak mataku yang terasa sangat berat dengan sisa kesadaran terakhirku, menatap wajah cantik Alpha yang sudah basah oleh air mata. "A... a... Alpha..." Ucapku terbata-bata menahan rasa sakit yang luar biasa hebat, namun sudut bibirku tetap memaksakan diri untuk mengulas sebuah senyuman tipis berlumur darah untuk menenangkannya.

Sebelum Alpha sempat melangkah mendekat, tangan besar Sang Raja Iblis luar sudah kembali mencengkeram erat leherku, mengangkat tubuh lemasku ke udara dengan satu tangan layaknya mencekik seonggok rongsokan kosong.

"Ugh... a-a-a... l-l-lepaskan..." Ucapku lirih, sepasang mataku mulai membalik ke atas, lidahku menjulur sedikit mengeluarkan air liur akibat saluran pernapasan dan pasokan energiku benar-benar tersumbat total di titik paling kritis.

"Hehemmm... Sudah saatnya kau mati membusuk, kecoa dungeon!" Ucap Raja Iblis luar dengan seringai kemenangan mutlak sembari mempererat cengkeraman cekikan tangannya tanpa ampun.

Alpha yang menyaksikan pemandangan mengerikan itu langsung jatuh berlutut, menutup rapat mulutnya menggunakan kedua tangannya dengan tubuh yang gemetaran hebat menahan horor keputusasaan malam yang mencekam.

Kesadaranku sempat menghilang sepenuhnya selama beberapa detik di dalam kegelapan cekikan tersebut. Sistem kehidupanku mendadak mati total.

Melihat mataku yang sudah terpejam kaku dan tubuhku yang berhenti bergerak, Sang Raja Iblis luar mendendug puas, melemparkan tubuh lemas bot-ku ke tanah. "Mati juga akhirnya makhluk ampas ini... Sekarang, sudah saatnya aku meratakan pos medis sialan ini dan mengambil apa pun yang bisa kuambil sebagai rampasan perang... Seperti dirimu salah satunya, wahai ras Elf yang cantik. Kau akan menjadi budak pribadiku!"

Namun, baru saja tangan besar penuh otot milik Raja Iblis itu bergerak maju hendak menyentuh helai rambut Alpha, gerakannya mendadak terhenti secara paksa di udara.

Dari atas tanah gersang yang bersimbah darah, tangan kanan lemasku bergerak secara refleks menembus batas kematian, mencengkeram pergelangan kaki kanannya dengan sangat erat dan kuat. Aku menolak mutlak membiarkan serangga dunia luar ini menyentuh aset berharga dungeon-ku!

Aku membuka mataku kembali, mendongak menatap siluet raksasanya dari dasar kawah.

"B-Belum selesai jalannya pertempuran ini, bajingan..." Ucapku lirih berbalut desis suara yang rusak parah.

Merasakan kakinya ditahan kembali oleh makhluk yang dianggapnya sudah mati kutu, Sang Raja Iblis luar langsung memutar tubuhnya dengan raungan murka yang luar biasa jengkel.

"Si anying ini masih sok kuat dan berlagak tangguh aja di depan mataku, hah?!" Teriaknya murka.

Makhluk bertanduk itu kembali menjambak rambut ku dan mengangkat tubuh babak belurku tinggi-tinggi di udara dan kembali mencekik leherku menggunakan tangan kirinya dengan brutal tanpa belas kasihan.

"B-Bajingan... Lu kira... G-Gini doang sudah bisa bikin gua menyerah kalah dan berlutut padamu, hah?!" Ucapku dengan sisa tenaga terakhir, memaksakan sebuah senyuman mengerikan yang sangat lebar di hadapan wajahnya, dengan air liur dan darah yang terus menetes deras akibat kehabisan pasokan oksigen murni di paru-paruku.

"Masih belagu juga kau di sisa ajalmu! Mati saja kau menjadi abu, kecoa!" Raung Raja Iblis luar yang bener-bener kehilangan kesabaran psikologisnya.

Tangan kiriku bergerak ke atas, mencengkeram balik pergelangan tangan besar Raja Iblis yang sedang mencekik leherku. Aku memajukan wajah manusiaku ke depan, lalu memicu perintah sistem ke tingkat paling terlarang yang pernah ada di draf dungeonku. Aku memaksa membuka rongga mulut wujud manusiaku selebar-lebarnya menembus batas biologis.

Bagian sudut kanan dan kiri mulut wujud manusia tiruanku mendadak robek melebar secara paksa ke arah belakang menembus pipi hingga mendekati daun telinga.

Genangan darah segar yang pekat mengucur deras, membasahi sepanjang dagu dan kerah jubahku. Di dalam rongga mulut yang robek lebar berdarah-darah tersebut, seluruh barisan gigiku mendadak tumbuh memanjang dengan cepat, berubah drastis menjadi deretan gigi taring tajam yang runcing-runcing layaknya monster kelaparan dari neraka terdalam.

"Ha? Apa-apaan bentuk muka itu? Apa yang sebenarnya sedang kau inginkan dari wajah jelekmu itu, hah, orang aneh?!" Ucap Raja Iblis luar mendadak kebingungan setengah mati melihat mutasi mengerikan di hadapannya.

Dari bawah kawah, Alpha yang melihat wujudku berubah hancur dan mengerikan seperti itu hanya bisa terbelalak lebar menahan napas takzim yang luar biasa dalam.

"SIALANNNN KAU, KEPARAT!!!" Teriakku lantang dengan suara melengking bercampur desis glitch digital yang rusak parah.

Tanpa ada rasa jijik sedikit pun, aku langsung memajukan kepalaku dan menggigit pergelangan tangan besar Sang Raja Iblis luar yang sedang mencekikku dengan sangat brutal! Gigi taring runcingku menembus lapisan zirah batu keras dan daging berototnya tanpa hambatan sedikit pun. Dengan satu hentakan rahang yang dipenuhi oleh amarah mutlak, aku merobek paksa segumpal besar daging hidup dari tangannya hingga darah hitamnya yang panas muncrat membasahi sekujur wajah manusiaku. Aku langsung mengunyah dan menelan daging Raja Iblis tersebut bulat-bulat masuk ke dalam tenggorokanku!

Glek.

"Sistem memverifikasi penyerapan inti energi orisinil musuh melalui skill spesifik [Gluttony]. Proses asimilasi selesai. Membuka segel evolusi terlarang dan wujud baru: [The Darkness of Glitch Demon King]."

Mendengar konfirmasi sistem tersebut, sudut mulut berdarahku yang robek lebar otomatis melengkung ke atas, memamerkan deretan taring tajamku yang mengerikan di bawah siraman cahaya bulan perbatasan.

"Skakmat," ucapku lirih penuh kemenangan, tersenyum bangga layaknya seorang predator puncak yang baru saja mengunci mati jalannya kemenangan absolut di atas papan catur kematian malam ini.

1
Quinnela Estesa
belum baca LN Tenshura sih. berharap ada risiko aja untuk tokoh utama. risikonya belum ada sama sekali
royco: ouhh ini genre berat aslinya kak.. ikutin teruss yaa.. ini udah sampai skala war antar kerajaan kok..🙏😍
total 3 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
royco: siapp
total 1 replies
Crimson
Semoga nggak putus di jalan ya, min. Sayang banget kalau putus di tengah jalan./Grin//Grin//Grin/
royco: amann lanjut terus sampe tamat bahkan bakal ada volume lainnya😄
total 1 replies
Crimson
tuh kan, sekali di gas, sesak nafas.🤣🤣🤣
royco: 🤭 iyya
total 1 replies
Crimson
Gini, nih, kalau karakter sok keras. Sekali di gas, sesak nafas.🤣🤣🤣🤣
royco: wkwkwkwkwkk
total 1 replies
Crimson
Gas, jangan sampai putus di jalan min. Kyk hubungan ku sama dia, anjay klas king. Wkwkwk 😅😅😅
royco: waduu
total 1 replies
Crimson
Rada" plenger jugak nih, orang.🤣🤣🤣
royco: wkwkkwkwk
total 1 replies
Crimson
Udah kyk Rimuru Jir, War di awal pakai wujud aslinya. wkwkwk 🤣🤣😁
royco: hehehee
total 1 replies
Crimson
Saran gw sih Thor, biar seru. beri MC nya bawahan thor, hehehe 😁
royco: ikuti terus kak alur cerita nya makin ke sini makin rame kok
total 1 replies
Crimson
adegan ini lagi, mirip Rimuru Jir, yang mau masuk ke kota para dwaf. /Facepalm/
royco: reall wkwkkwkwk
total 8 replies
Crimson
Good job, Thor. Nanti aku mampir lagi. /Grin/
Crimson
Wah, gw udah kyk baca novel tensura, ya, baca nih novel. /Grin/
royco: siapp
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!