Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RINSO ELECTRIC SOLUTION
Papan nama baru Rinso berdiri dua gang dari bengkel kami seperti gigi palsu yang terlalu putih.
Tulisan RINSO ELECTRIC SOLUTION dicetak dengan huruf biru mengilap. Di bawahnya ada slogan: TEKNISI BERSERTIFIKAT, BUKAN TEKNISI VIRAL. Dua orang pekerja memakai seragam abu-abu yang sama, sepatu keselamatan bersih, dan helm yang tidak pernah dijadikan tempat menaruh paku.
Fadli memperlambat motor saat kami lewat. “Halus kali sindirannya. Hampir tidak terasa, kecuali nama kau ditulis besar-besar di udara.”
“Berhenti.”
“Kita ada pekerjaan.”
“Lima menit.”
“Lima menit versi kau biasanya cukup untuk satu keributan dan dua saksi.”
Aku turun sebelum motor benar-benar berhenti. Rinso sedang memasang spanduk diskon pembukaan. Rambutnya rapi, kemejanya masuk celana, dan tangannya tidak memiliki noda solder. Sejak dulu ia punya bakat terlihat seperti pemilik perusahaan bahkan saat kami sama-sama disuruh mengangkat tangga.
“Bagus papanmu,” kataku.
Ia menoleh. “Terima kasih.”
“Slogannya sampah.”
“Berarti terbaca.”
Di meja depan ada daftar harga, kartu nama, dan formulir pemesanan. Seorang ibu yang kemarin menghubungi Konslet Medan sedang berbicara dengan pegawai Rinso. Aku mengenali nama dan alamatnya dari jadwal Liza.
“Kak,” panggilku, “bukannya besok kami datang?”
Ibu itu terlihat salah tingkah. “Iya, Bang. Tapi di sini bisa hari ini. Ada diskon juga.”
“Kami sudah simpan jadwal.”
“Belum bayar uang muka, kan?” Rinso menyela.
Aku menatapnya. “Kau ambil pelanggan kami.”
Rinso menyerahkan brosur kepada ibu itu, lalu mempersilahkannya duduk. “Nomornya ada di komentar video. Semua orang bisa baca.”
“Kau sengaja menawarkan ke orang yang sudah menghubungi kami.”
“Kau sengaja membiarkan nomor dan keluhan mereka terbuka di kolom komentar.”
Kalimat itu menjengkelkan karena ada benarnya. Tia sudah berkali-kali meminta orang mengirim pesan pribadi, tetapi banyak yang tetap menaruh nomor di kolom publik. Kami belum sempat menghapus atau menyembunyikan semuanya.
“Setidaknya jangan pakai slogan murahan.”
Rinso melipat tangan. “Aku bersertifikat. Itu fakta. Kau viral. Itu juga fakta.”
Fadli berdiri di belakangku. “Aku juga viral sekali waktu karena motor masuk parit. Tidak kubuat jadi merek.”
“Kau diam,” kataku.
“Aku mencoba menurunkan suhu.”
Rinso menunjukkan ruang kerjanya. Rak material tertutup, alat diberi nomor, dan sertifikat dipasang dalam bingkai. Di sudut ada papan prosedur keselamatan. Semua tampak seperti versi bengkel yang ingin dibuat Liza, hanya tanpa termos Mak Mina dan televisi tabung yang tidak pernah selesai.
Dulu, di CV Cahaya Indah, aku dan Rinso sering dipasangkan. Aku lebih cepat memanjat, ia lebih teliti mencatat. Aku mengejeknya karena memeriksa baut dua kali. Ia mengejekku karena tas alatku seperti tempat sampah berjalan. Banyak pekerjaan selesai karena kami saling menutup kekurangan, sampai malam pesta itu membuat semua perbedaan terasa seperti pengkhianatan.
Rinso pernah mengingatkanku tentang ukuran kabel. Ia juga menulis larangan itu dalam laporan. Aku tahu dua hal tersebut. Namun, sebagian diriku masih ingin ia ikut bersalah hanya karena ia berdiri dekat ketika aku jatuh.
Di dinding bengkel barunya tergantung foto almarhum ayahnya. Pak Marpaung pernah meminjami Pak Tor uang tanpa banyak bertanya. Setelah ia meninggal, angka dalam buku utang berubah menjadi urusan dua anak laki-laki yang sama-sama tidak tahu cara membicarakan rasa malu tanpa menaikkan suara.
“Kau membuka ini sejak kapan?” tanyaku.
“Rencana sudah lama. Modalnya baru cukup.”
“Dari utang keluarga kami?”
Wajah Rinso berubah sedikit. “Jangan bicara seolah uang itu hasil rampasan. Bapakmu meminjam dari bapakku. Catatannya ada.”
Aku maju satu langkah. “Bapakku tetap membayar.”
“Sudah berapa tahun?”
Suara di kepalaku menjadi lebih keras daripada jalan. Aku tahu jawaban yang benar, tetapi tidak ingin memberikannya di depan pekerja, pelanggan, dan Fadli yang mendadak berhenti melawak.
Rinso melanjutkan dengan nada rendah. “Aku tidak datang menagih tiap hari karena aku tahu Pak Tor sakit. Tapi jangan pakai itu untuk menyebutku pencuri.”
“Kau tetap mengejar pelanggan kami.”
“Pelanggan memilih. Kau tidak punya hak kepemilikan atas rumah orang.”
Seorang pegawai Rinso keluar membawa kotak alat baru. Ia mengenaliku dari perusahaan lama dan menunduk canggung. Di tangannya ada formulir pemeriksaan yang dulu sering dianggap Rinso terlalu merepotkan. Sekarang formulir itu menjadi bagian dari usahanya, sementara aku baru belajar memakainya setelah kehilangan pekerjaan.
Kenyataan itu membuat amarahku bercampur iri. Rinso bukan hanya memasang papan nama untuk mengejekku. Ia membangun sesuatu yang tampak siap dipercaya, dan aku benci karena sebagian caranya memang benar.
Di depan pintu, pelanggan lain membaca daftar jaminan pekerjaan. Rinso memberinya salinan tertulis, bukan janji lisan. Aku teringat berapa kali aku berkata aman tanpa meninggalkan satu lembar bukti pun. Perbandingan itu terasa lebih menyakitkan daripada slogan di papan.
Aku mencengkeram tepi meja. Rinso juga menegang. Semua kalimat lama dari masa kami bekerja bersama mulai mengantre di mulutku: tentang laporan pesta, tentang caranya duduk diam saat aku dipecat, tentang bengkel rapi yang mungkin dibangun dari kelemahan keluarga kami.
Sebelum satu pun keluar, Liza muncul dari ujung gang. Tia rupanya meneleponnya setelah melihat lokasi kami di grup.
“Jefri,” katanya.
Satu kata itu cukup untuk membuatku tahu ia tidak datang meminta penjelasan.
“Dia mengambil pelanggan.”
“Pelanggan membatalkan?”
“Belum.”
“Sudah membayar uang muka?”
“Belum.”
“Berarti mereka masih bebas memilih.”
Aku menatapnya tidak percaya. “Kau membela dia?”
“Aku mencegah kau mempermalukan usaha kita di depan usaha saingan.”
Rinso hampir tersenyum. Liza langsung menoleh kepadanya. “Dan kau, jangan menghubungi nomor yang jelas sedang meminta jadwal pada kami. Legal belum tentu tidak murahan.”
Senyumnya hilang.
Liza menarik lenganku menjauh. Aku menolak bergerak selama satu detik, lalu melihat ponsel seorang pekerja sudah terangkat. Bayangan video baru tentang Bang Jepot berkelahi di depan bengkel saingan cukup untuk membuat kakiku menurut.
Dalam perjalanan kembali, Fadli mengemudi lebih pelan.
“Kau boleh bilang sesuatu,” kataku.
“Aku sedang menikmati hidup.”
“Bilang.”
“Papan Rinso memang bagus.”
Aku memukul belakang helmnya.
Di bengkel, Liza memeriksa daftar pelanggan yang terlihat di komentar publik. Tia menyembunyikan nomor dan mengirim pesan agar orang tidak menaruh data pribadi. Kami menghubungi semua jadwal untuk memastikan ulang.
Pelanggan pertama tetap bersama kami. Pelanggan kedua meminta waktu berpikir. Pelanggan ketiga mengatakan sudah memilih Rinso karena bisa datang lebih cepat.
“Satu hilang,” kataku.
“Bukan hilang,” kata Liza. “Memilih orang lain.”
“Sama saja.”
“Tidak. Cara berpikirmu itu yang membuat kau mudah merasa dicuri.”
Malamnya, ponsel bengkel berbunyi tiga kali. Bukan pesanan baru. Tiga pelanggan yang sudah masuk jadwal membatalkan hampir bersamaan.
Alasannya serupa: mereka menerima tangkapan layar ulasan buruk tentang Konslet Medan.