NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengupload Photo Tina Callista Alexander

Fisya masih duduk di kamar bayi sambil memandangi Tina yang tertidur pulas, wajah kecil itu terlihat tenang.

Sesekali bibir mungilnya bergerak kecil seperti sedang bermimpi.

Fisya tersenyum tipis, rasa lelahnya setelah bekerja seharian seakan hilang hanya dengan melihat putrinya.

Tak lama kemudian, Bik Lili kembali masuk ke kamar sambil berdiri di dekat pintu.

“Bu…” panggil Bik Lili

Fisya menoleh.

“Iya Bik?”

“Ibu mau makan malam sekarang?” tanya Bik Lili

Fisya melirik jam di dinding lalu menggeleng pelan.

“Belum bik, aku masih kenyang.”

Bik Lili mengangguk.

“Nanti kalau lapar bilang saja ya bu, nanti akan saya hangatkan.”

Fisya tersenyum kecil.

“Gak usah repot Bik, kalau lapar nanti aku ambil sendiri.”

Bik Lili terlihat ragu.

“Tapi Bu…”

Fisya memotong lembut.

“Bik istirahat aja kalau udah gak ada kerjaan.”

Bik Lili akhirnya tersenyum lega.

“Iya Bu.”

Wanita itu memang sedikit kelelahan sejak pagi karena mengurus rumah dan membantu menjaga Tina.

“Kalau begitu saya ke dapur dulu ya Bu.”

Fisya mengangguk.

“Iya.”

Bik Lili pun pamit keluar kamar, kini tinggal Fisya dan Tina di dalam ruangan.

Suasana terasa sangat tenang, Fisya mengambil ponselnya lalu mendekat ke tempat tidur bayi.

Ia mengatur posisi tubuhnya di samping Tina lalu mengambil beberapa foto bersama.

Dalam foto itu Tina sedang tertidur pulas, wajah bayi itu sengaja Fisya tutup sedikit di bagian mulutnya oleh emot senyum sehingga tidak terlalu jelas terlihat.

Fisya memperhatikan hasil fotonya beberapa detik.

Lalu ia tersenyum puas.

“Bagus.”

Ia membuka media sosial nya lalu mengunggah foto itu.

Caption yang ia tulis sederhana.

"Anugerah terindah dalam hidupku, selamat datang, putri kecilku"

Tak butuh waktu lama notifikasi mulai berdatangan.

Banyak teman bisnis dan kenalan memberikan ucapan selamat dan Fisya hanya membalas seperlunya.

Beberapa menit kemudian… Sebuah pesan masuk dari Kasandra.

Fisya menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum membukanya.

Pesan itu berbunyi:

("Fisya, cantik banget putri kamu, aku ikut bahagia lihatnya, aku pengen banget datang lihat dia langsung")

Senyum tipis muncul di bibir Fisya tatapannya justru berubah dingin.

“Tentu kamu ingin melihatnya karena kamu pikir itu anakmu” batinnya.

Fisya mulai mengetik balasan.

("Wah makasih ya, hebat juga kamu bisa bilang cantik padahal wajahnya aja gak kelihatan jelas")

Beberapa detik kemudian centang biru muncul, Kasandra langsung membalas.

("Hahaha iya juga sih, namanya feeling seorang ibu mungkin")

Fisya tersenyum sinis.

“Feeling seorang ibu?” batinnya.

Ia mengetik lagi.

("Kalau mau datang minggu depan aja")

Kasandra langsung membalas cepat.

("Kenapa minggu depan?")

Fisya mengetik santai.

("Karena minggu depan aku bikin pesta kecil buat menyambut kelahiran bayiku")

Lalu ia menambahkan:

("Sekalian bawa bayi kamu juga ya, aku kan penasaran juga ingin melihatnya")

Pesan itu terkirim, beberapa detik tidak ada balasan lalu ponsel Fisya bergetar lagi.

Kasandra membalas:

("Serius? Wah seneng banget, aku pasti datang")

Fisya menatap layar tanpa ekspresi, tak lama muncul pesan berikutnya.

("Sebenernya aku pengen datang sekarang, aku udah gak sabar lihat putri kamu")

Tatapan Fisya langsung menajam, jelas sekali Kasandra sangat ingin memastikan bayi yang dibesarkan Fisya benar-benar bayi yang ia yakini sebagai anak kandungnya.

Fisya mengetik santai.

("Santai aja, bayiku gak ke mana-mana kok")

Kasandra membalas dengan emoji tertawa, ia benar-benar tidak merasa bahwa Fisya sedang menyindirnya.

Kasandra lalu menulis lagi.

("Aku penasaran banget, pengen gendong dia dan mencium dia")

Fisya tersenyum kecil.

“Tentu, karena kamu pikir dia darah dagingmu jadi kamu sampai tidak sabar seperti itu, tunggu saja pembalasan ku untuk kalian" batinnya

Ia membalas singkat.

("Minggu depan saja ya, sekalian rame-rame")

Setelah itu Fisya meletakkan ponselnya di samping namun belum sampai satu menit telepon masuk dari Kasandra.

Fisya menatap layar beberapa detik lalu mengangkatnya.

(“Halo.”)

Suara Kasandra terdengar sangat ceria.

(“Fisya!”)

(“Iya?”) jawab Fisya agak malas

(“Aku seneng banget kamu bikin pesta.”) suara Kasandra terdengar bahagia banget

Fisya menjawab tenang.

(“Kenapa seneng?”)

(“Ya seneng aja, aku jadi bisa lihat bayi kamu.”) ucap Kasandra

Fisya tersenyum tipis.

(“Segitunya ya sampai kamu penasaran seperti itu”)

(“Iya dong, aku penasaran banget karena aku akan jadi Tante nya, bahkan bayi mu itu akan jadi kesayangan aku loh”) jawab Kasandra dengan penuh percaya diri

Fisya pura-pura tertawa kecil.

(“Kayaknya kamu lebih excited daripada aku ibunya.”)

Kasandra ikut tertawa.

(“Ya namanya juga sahabat dekat")

Fisya menatap Tina yang masih tertidur lalu berkata pelan namun menusuk.

(“Iya. Sahabat memang harus ikut bahagia kalau sahabatnya punya sesuatu yang berharga.”)

Kasandra terkekeh.

(“Betul.”)

Sama sekali tidak sadar bahwa ucapan Fisya mengandung sindiran.

Kasandra lalu berkata lagi.

(“Ngomong-ngomong bayinya sehat kan?”)

(“Sehat.”) ucap Fisya

(“Rewel gak?”) tanya Kasandra

(“Enggak.”) jawab Fisya singkat

Kasandra terdiam beberapa detik lalu tanpa sadar ia berkata,

(“Syukurlah… dia memang anak yang tenang.”)

Fisya langsung menangkap keanehan itu, alisnya sedikit terangkat.

(“Memang kenapa?”)

Kasandra langsung gugup.

(“Maksudku… feeling aja.”)

Fisya tersenyum tipis.

(“Hmm.”)

Kasandra buru-buru mengalihkan pembicaraan.

(“Kalau anakku malah nangis terus.”)

Fisya pura-pura kaget.

(“Oh ya?”)

(“Iya. Berisik banget.”) ucap Kasandra kesal kalau sedang mengingat bayinya

Fisya menatap lurus ke depan.

(“Aneh ya…”)

Kasandra terdiam.

(“Apa?”)

Fisya berkata santai.

(“Harusnya ibu senang dengar suara tangis bayinya.”)

Kasandra langsung menjawab cepat.

(“Ya iya sih.”)

Namun nada suaranya terdengar tidak nyaman, Fisya kembali tersenyum kecil.

(“Ya udah, smpai ketemu minggu depan.”)

(“Iya.”)

Telepon ditutup.

Fisya menaruh ponselnya perlahan, tatapannya berubah dingin.

“Jadi kamu benar-benar gak peduli sama anakmu sendiri…” gumam Fisya

Ia menatap Tina yang tertidur, jari Fisya mengusap lembut kepala putrinya.

“Tenang sayang, mama akan pastikan semuanya dibayar lunas oleh mereka semua" ucap Fisya menatap tajam ke depan

***

Di rumah Kasandra, ia masih menatap layar ponselnya sambil tersenyum puas tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Jason untuk memberitahukan kabar tersebut.

Kasandra yakin Jason belum sempat melihat status milik Fisya karena pria itu masih berada di jalan dan sedang menyetir.

Kasandra terus mencoba menelepon Jason, tetapi panggilannya tak kunjung diangkat.

Hingga akhirnya, setelah beberapa kali mencoba, Jason pun menerima telepon darinya.

("Hello kenapa") ucap Jason dari seberang sana

("Minggu depan Fisya bikin pesta buat bayi kita") ucap kasandra

Jason mengernyit.

(“Terus?”)

Kasandra tersenyum penuh arti.

(“Aku bisa lihat anak kita langsung karena aku sudah tidak sabar")

Jason terdiam lalu perlahan senyumnya muncul.

(“Bagus.”)

Kasandra semakin serius

(“Aku senang Fisya meratukan anak kita")

Jason mengangguk pelan.

(“Ya, sebentar lagi semuanya berjalan sesuai dengan rencana kita.”)

("Pasti dong sayang") ucap Kasandra lalu mematikan ponselnya

Namun, tanpa mereka sadari...

Di tempat lain, Fisya telah selangkah lebih maju dari permainan licik yang mereka susun.

Setiap langkah Jason dan Kasandra sudah ia perhitungkan, mereka mengira sedang menggenggam kemenangan, padahal tanpa sadar justru sedang berjalan menuju kehancuran mereka sendiri.

Dan pesta yang akan digelar minggu depan bukan sekadar perayaan, itu akan menjadi awal dari sebuah pembalasan yang jauh lebih besar

Kasandra yang merasa senang karena rencananya berjalan lancar dan ia melihat Fisya sangat menyayangi putrinya

Ia mengira Fisya wanita yang sangat bodoh yang bisa ia kelabuhi selama ini

"Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba nantinya aku akan menendangmu keluar, Fisya," gumam Kasandra dengan senyum penuh kemenangan.

"Aku akan menguasai rumah besar itu... juga seluruh aset dan Perusahaan Alexander semua akan menjadi milikku," lanjutnya sambil tertawa puas.

__Bersambung__

1
Anisa Nur Afifah
balikk lgii buatt bacaa😍
Anisa Nur Afifah
bagusss kakkk
Queen_Fisya08: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!