Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : SKAKMAT UNTUK SANG PANGERAN
Malam itu pun tiba, gerbang besi kediaman Ouroboros terbuka lebar saat iring-iringan mobil Dante bergerak keluar.
Menyisakan beberapa lampu koridor yang menyala dan pos penjagaan yang kosong.
Di ruang tengah lantai dua, Elara duduk tenang di kursinya. Gaun malamnya yang berwarna emas gelap menangkap bias cahaya dari lampu kristal di atasnya.
Jemarinya memutar gelas anggur dengan gerakan konstan yang santai.
Langkah kaki yang berirama memecah kesunyian ruangan. Adrian masuk lebih dulu. Bahunya tegap, dan ia tidak bisa menyembunyikan binar puas di matanya.
Di belakangnya, Julian mengekor dengan kedua tangan terbenam di saku celana, wajahnya memasang senyum yang sulit dibaca.
"Kak," sapa Adrian. "Kudengar ada pergerakan massal dari geng rival di dermaga barat. Dante terpaksa membawa hampir seluruh pasukan inti ke sana. Kurasa malam ini rumah kita agak... sepi."
Elara mengangkat gelasnya, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali. Tatapannya tertuju pada Adrian, sebelum beralih ke Julian.
"Sepi adalah kemewahan yang jarang bisa dinikmati di rumah ini, Adrian," ucap Elara, suaranya mengalun datar, begitu tenang hingga membuat senyum di wajah Adrian perlahan berubah jadi seringai.
Julian mengambil langkah maju, bersandar pada sandaran kursi di seberang Elara. "Nona Elara tampaknya sama sekali tidak cemas. Padahal kehilangan 'pengawal' seperti Dante di saat seperti ini bisa menjadi posisi yang sangat rentan bagi seorang pewaris tunggal."
"Rentan?" Elara menaikkan sebelah alisnya. "Tuan Julian, Anda seorang konsultan keamanan strategis, bukan? Harusnya Anda tahu, seorang jenderal tidak pernah berada dalam posisi rentan hanya karena sebilah pedangnya sedang memotong daging di luar."
Adrian terkekeh sinis. "Jangan terlalu sombong, Elara. Tanpa Dante di sisimu malam ini, kau hanyalah seorang wanita di dalam rumah kosong. Jika musuh memutuskan untuk merayap masuk lewat jalur yang longgar..."
"Jalur logistik barat?" potong Elara cepat.
Kata-kata itu langsung mengunci mulut Adrian. Wajahnya menegang seketika. Bagaimana mungkin Elara bisa tahu spesifikasi jalur itu?
Elara menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia meraih tablet kecil di atas meja, lalu menekan tombol 𝘱𝘭𝘢𝘺. Sebuah rekaman suara dengan volume tinggi menggema di ruangan itu.
> "𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘨𝘦𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘳𝘮𝘢𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘵... 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳 𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴𝘵𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘖𝘶𝘳𝘰𝘣𝘰𝘳𝘰𝘴 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢..."
>
Suara Adrian yang parau dan penuh kegilaan dari ruang bawah tanah malam lalu bergema dengan sangat jelas di ruang tengah itu.
Wajah Adrian seketika memucat. Lututnya gemetar. "K-Kau... bagaimana bisa..."
Di sisi lain, mata Julian sempat melebar sebelum tawa rendah keluar dari tenggorokannya. Ia menatap Elara dengan pandangan takjub.
Skenario ini jauh lebih menarik dari yang ia duga. Elara tidak sedang bertahan; wanita ini yang memegang talinya sejak awal.
"Adrian yang bodoh," ucap Elara lirih, menatap adiknya dengan rasa jijik yang kentara.
"E-Elara... Ayah tidak akan tinggal diam jika tahu kau memfitnahku!" gagap Adrian, mencoba mencari tameng terakhirnya.
"Fitnah?" Elara tersenyum tipis.
"Saat ini, Dante tidak sedang kewalahan di dermaga barat, Adrian. Pasukan kita sudah memutar lewat jalur timur dan sedang membantai seluruh geng rival yang kau undang. Dan tebak apa yang akan Dante bawa pulang besok pagi?"
Elara menjeda kalimatnya sejenak, menatap lurus ke arah mata Adrian yang kini dipenuhi ketakutan.
"Dante akan membawa kepala informanmu, bersama dengan seluruh bukti digital bahwa kaulah yang menjual rumah ini pada mereka. Menurutmu, apa yang akan Ayah lakukan pada seorang anak angkat yang mencoba meruntuhkan organisasinya sendiri?"
Julian bertepuk tangan pelan.
"Luar biasa, Nona Elara. Anda membiarkan badai itu datang hanya untuk menggunakannya sebagai penyapu bersih hama di rumah ini."
Elara mengalihkan pandangan dinginnya pada Julian, sama sekali tidak terpengaruh oleh pujian pria itu.
"Dan untuk Anda, Tuan Julian," ucap Elara, suaranya merendah. "Jangan mengira aku tidak tahu agenda tersembunyimu sejak malam perjamuan. Entah gosip apa yang kamu denger tentangku di luar sana. Tapi kau datang ke sini untuk melihatku hancur, bukan?"
Julian tidak mengelak. Ia justru membungkuk sedikit. "Dan saya baru saja melihat bahwa Anda terlalu hebat untuk dihancurkan oleh orang-orang amatir seperti Adrian."
"Kalau begitu, ingat posisi Anda baik-baik di rumah ini," ucap Elara bangkit dari duduknya.
"Patuhi aturan di kediaman ini, urus sistem digitalmu, dan jangan pernah sekali pun mencoba menguji batas kesabaranku lagi. Karena jika Anda melangkah satu senti saja di luar garis..." Elara melirik Adrian yang bengong, masih tak percaya rencananya gagal, "...nasib Anda akan jauh lebih mengenaskan daripada tikus tanah ini."
Tanpa menunggu jawaban, Elara melangkah pergi meninggalkan ruang tengah.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..