NovelToon NovelToon
The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yaya haswa

Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.

Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.

Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.

Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.

Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.

Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.

Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teguran

Keana duduk di halte bus menunggu Gavin menjemputnya. Namun seseorang menghentikan motor didepannya, itu Arlo.

"Ayo balik, gue anter!" ucap Arlo

"Nggak usah. Ada kak Gavin yang jemput gue"

"Dia gak bisa. Tiba-tiba ada panggilan kegiatan dari kampusnya"

"Mana mungkin. Kak Gavin sekarang libur"

"Aiiss.....Lo gak percaya banget. Kak Gavin yang suruh gue buat antar lo"

Keana tetap tidak percaya, tetapi suara notifikasi di ponselnya mengalihkan pandangannya dari Arlo. Itu pesan pesan dari Gavin. Ia membaca pesan itu.

"Dek, sori banget ya, kakak tiba-tiba harus ke kampus sekarang. Ini dosen penguji kakak mendadak manggil buat revisi ulang laporan hasil instalasi kemarin. Kamu balik bareng Arlo ya? kakak udah titip lo ke dia. Hati-hati di jalan, Ndut!"

Keana menghela napas panjang, bahunya merosot lesu. Ia mendongak, mendapati Arlo yang masih setia di atas motornya sambil menatapnya dengan sebelah alis terangkat, seolah memamerkan kemenangan.

"Gimana? Masih mau nunggu Kak Gavin sampai lumutan di sini?" sindir Arlo datar, tangannya bergerak mengetuk-ngetuk setang motor.

Keana mengerucutkan bibirnya kesal, buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku rok seragam. "Iya, iya! Gak usah pakai ngeledek bisa, kan?"

Dengan langkah terpaksa dan hentakan kaki yang sengaja dibuat berisik, Keana berjalan mendekati motor Arlo. Cowok itu tanpa sepatah kata pun menyodorkan sebuah helm cadangan berwarna putih ke arah Keana.

"Nih. Pakai yang bener, jangan cuma ditempelin di kepala," ujar Arlo, suaranya teredam di balik kaca helmnya yang sudah diturunkan.

Keana merebut helm itu dengan cemberut. "Tahu! Lagian gue bukan anak TK yang gak bisa pakai helm sendiri!" cerocosnya sambil mengancingkan tali helm dengan sentakan agak kasar.

Setelah memastikan posisinya siap, Keana naik ke jok belakang motor Arlo yang lumayan tinggi, menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka karena ia sengaja berpegangan pada besi pembatas di belakang motor, menolak untuk terlalu dekat dengan cowok menyebalkan di depannya ini.

"Pegangan. Gue gak mau tanggung jawab kalau lo terjungkal di jalan," ucap Arlo dingin.

"Udah pegangan kok! Udah buruan jalan, keburu sore!" ketus Keana.

Arlo tidak membalas lagi. Ia menarik gas motornya dengan perlahan, membelah jalanan di depan sekolah yang mulai sepi. Di balik kaca helmnya, sudut bibir Arlo diam-diam terangkat tipis, menikmati gerutu pelan gadis di boncengannya yang tenggelam di balik suara bising angin jalanan.

Motor Arlo melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang mulai padat. Keana yang sejak tadi membuang muka ke arah deretan ruko di pinggir jalan, tiba-tiba menangkap suara Arlo yang sedikit meninggi di balik helmnya, mencoba mengalahkan bisingnya knalpot kendaraan lain.

"Kea," panggil Arlo.

"Apa?!" sahut Keana agak berteriak agar suaranya terdengar.

"Gue suka sama lo."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arlo. Singkat, padat, dan tanpa basa-basi.

Detik itu juga, pasokan udara di sekitar Keana seolah tersedot habis. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Keana terdiam seribu bahasa di jok belakang, matanya membelalak lebar di balik kaca helm. Saking syoknya, tangannya yang memegang besi pembatas motor sempat meremasnya begitu kuat. Ia tidak pernah menyangka Arlo akan menembaknya di atas motor seperti ini.

Bingung harus merespons apa dan terlalu gengsi untuk menunjukkan kalau jantungnya sedang berdisko, otak jahil Keana langsung memikirkan cara paling aman untuk kabur dari situasi super canggung ini. Ia dengan sengaja memajukan tubuhnya sedikit, lalu berteriak keras.

"Hah?! Apaan, Lo ngomong apa,? Gak kedengeran, anginnya kencang banget!"

Arlo melirik dari kaca spion motornya. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana bola mata Keana yang bergerak gelisah dan pipinya yang mendadak merona merah di balik kaca helm transparannya. Arlo tahu persis, gadis itu sedang berbohong dan pura-pura tuli.

Sebuah senyuman miring terukir di wajah tampannya. Bukannya mengulangi kalimatnya, ia justru sengaja menarik gas motornya sedikit lebih dalam, membuat motor melaju lebih cepat.

"Gak ada pengulangan, Kea!" seru Arlo lagi dari balik helmnya, nadanya terdengar sangat santai namun tegas.

"Karena lo gak nolak dan malah pura-pura gak denger... gue anggap lo setuju. Mulai hari ini, lo pacar gue."

"Heh?! Apa-apaan?! Gak bisa gitu dong, Arlo!" pekik Keana spontan, melupakan aktingnya barusan karena terlanjur kesal dengan klaim sepihak cowok itu.

"Tuh, denger kan," sahut Arlo pendek, terkekeh geli di balik helmnya.

Keana langsung bungkam, merutuki kebodohannya sendiri karena secara tidak langsung mengaku kalau dia sebenarnya mendengar ucapan Arlo sejak awal. Sepanjang sisa perjalanan menuju rumah, Keana hanya bisa mengerucutkan bibirnya dalam-dalam dengan wajah yang terasa terbakar hebat, sementara Arlo terus mengendarai motornya dengan perasaan yang jauh lebih ringan sore itu.

****

Sementara Elvan yang tengah bersantai sendirian di ruangan tengah seketika menolehkan kepalanya ke luar jendela yang tembus langsung ke halaman depan. Ia bisa melihat sebuah motor yang baru saja terparkir. Ia mengerutkan keningnya, merasa tidak mengenal siapa pemilik motor itu.

Hingga ia melihat siluet Keana yang baru turun dari jok belakang motor. Keningnya semakin mengkerut. Gadis itu tampak sibuk melepas helm putihnya sambil memanyunkan bibir, sempat terlibat obrolan singkat dengan si pengendara motor sebelum cowok itu memutar balik kendaraannya dan melenggang pergi.

Rahang Elvan mengeras. Rasa tidak suka langsung bergejolak di dadanya. Di mata seorang Elvan yang kaku dan perfeksionis, prioritas Keana saat ini adalah belajar demi ujian kenaikan kelas dua minggu lagi, bukan keluyuran apalagi berboncengan dengan seorang pria. Menurutnya, Keana masih terlalu muda dan belum saatnya mengenal hal-hal seperti itu.

Ia bangkit berdiri dengan tangan bersedekap di depan dada. Keana yang baru saja masuk di ruang tengah, langkahnya langsung terhenti. Ia terdiam melihat tatapan kakak pertamanya yang tajam bak elang.

Atmosfer di ruangan itu mendadak turun drastis hingga terasa membeku. Keana yang tadinya masih salah tingkah pasca-ditembak Arlo di motor, seketika menciut. Jantungnya berdisko lagi, tapi kali ini karena perasaan takut yang luar biasa.

"S-siang, Kak El..." cicit Keana pelan, hampir tidak terdengar, sambil meremas tali tas ranselnya erat-erat.

Elvan tidak langsung menjawab.

"Siapa cowok tadi?" tanya Elvan, lugas dan tanpa basa-basi.

"Te....teman, kak. Iya, hanya teman. Keana sungguh gugup.

Elvan tahu Keana sedang berbohong.

"Kenapa pulang bersamanya? Kemana Gavin?"

"Kak Gavin bilang gak bisa jemput, karena ada kegiatan di kampus, jadi Kea pulang bareng Arlo. Lagi pun Kak Gavin sendiri yang suruh Arlo untuk antar Kea"

"Itu bukan alasan yang bagus. Kenapa tidak minta sama saya yang menjemput mu? Ponselmu gunanya untuk apa kalau bukan untuk memberi kabar?"

"K-Kea gak punya nomor telpon kakak" cicit Keana, mencoba mencari pembelaan diri yang logis walau suaranya bergetar.

Elvan terdiam. Benar juga, Keana belum menyimpan nomornya.

"Kalau begitu, simpan nomor ku sekarang!"

Dengan pelan, Keana memberikan ponselnya pada Elvan, lalu Elvan mengetik nomornya. Kemudian memberikannya kembali pada Keana.

Elvan terdiam sejenak, tatapannya menyapu seragam sekolah Keana yang tampak sedikit kusut setelah seharian beraktivitas, lalu kembali mengunci wajah adiknya.

"Dua minggu lagi kamu ujian tengah semester. Fokusmu sekarang adalah belajar dan mempersiapkan masa depanmu, bukan memikirkan hal-hal tidak penting seperti ini. Saya tidak mau melihat pria tadi, atau motornya, kelihatan lagi di sekitar rumah ini sampai ujianmu selesai. Mengerti?"

Keana menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak sekaligus takut yang bercampur menjadi satu. Alih-alih membantah dan membuat suasana semakin buruk, ia akhirnya memilih untuk mengalah.

"M-mengerti, kak El..." jawab Keana lirih sambil mengangguk pelan.

"Sekarang naik ke kamar. Bersihkan badanmu, lalu buka buku pelajaranmu. Jangan sentuh ponselmu sampai jam makan malam," perintah Elvan tegas, memberikan jalan agar Keana bisa lewat.

Tanpa menunggu dua kali, Keana langsung berjalan cepat melewati abangnya, setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Keana mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang, merosot di balik pintu sambil memegangi dadanya yang masih bergemuruh. Teguran Elvan barusan benar-benar sukses menghapus sisa-sisa rasa salah tingkah akibat pernyataan cinta Arlo di jalan padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!