Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Kembali ke Barak
Dalam satu tarikan napas, kedua bilah katana terhunus bersamaan.
Kilatan baja memantulkan cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan, sementara Ryosuke langsung melesat memasuki medan pertempuran tanpa menunggu monster-monster itu menyadari kehadirannya. Tanah di bawah kakinya berhamburan ketika ia mempercepat langkah, lalu dalam sekejap jarak yang memisahkannya dari kawanan monster lenyap.
Monster pertama baru saja mengangkat cakar ke arah gadis pemanah itu ketika Nichirin-gatana melintas dengan satu tebasan bersih.
Tubuh monster itu roboh sebelum sempat mengeluarkan raungan.
Pada saat yang sama, Tenkū Matō berputar mengikuti gerakan tubuh Ryosuke, menghantam monster kedua yang datang dari arah samping hingga terpental menghantam batang pohon. Benturan keras menggema di seluruh tanah lapang, membuat perhatian semua monster beralih kepada pendatang baru tersebut.
Gadis itu menoleh dengan wajah terkejut.
"Ada orang!"
Pemuda bertubuh besar yang berdiri di depannya juga memandang Ryosuke sesaat, tetapi ia tidak membuang waktu untuk bertanya. Begitu melihat beberapa monster mengubah arah serangan menuju Ryosuke, ia kembali mengangkat kapak raksasanya dan menerjang maju.
"Aku tahan sisi kiri!"
teriaknya lantang.
Kapak besar itu berayun membentuk lintasan lebar, menghantam dua monster sekaligus hingga terlempar beberapa meter. Meskipun gerakannya tidak secepat Ryosuke, setiap serangannya memiliki tenaga yang luar biasa. Tanah bergetar setiap kali mata kapaknya menghantam permukaan bumi.
Sementara itu, gadis pemanah segera memanfaatkan ruang yang terbuka.
Ia menarik tali busurnya dengan gerakan yang tenang meskipun napasnya masih memburu.
Satu anak panah melesat.
Kemudian disusul anak panah kedua.
Keduanya mengenai sasaran dengan tepat, menjatuhkan monster yang mencoba mengapit Ryosuke dari belakang.
"Sebelah kanan!"
teriaknya memberi peringatan.
Ryosuke tidak menoleh.
Ia hanya menggeser langkah setengah putaran.
Cakar monster yang menyambar dari arah kanan meleset beberapa sentimeter dari tubuhnya. Dalam gerakan yang sama, Nichirin-gatana menusuk ke depan, sementara Tenkū Matō menyapu rendah ke arah kaki lawan. Dua monster kembali tumbang hampir bersamaan.
Empat tentara bayaran yang datang bersama Ryosuke akhirnya tiba di tepi tanah lapang.
"Mereka terkepung!"
"Sekat jalur belakang!"
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, mereka segera bergabung dalam pertempuran. Dua orang mengangkat tombak untuk menahan monster yang mencoba memutari Ryosuke, sementara dua lainnya membidik menggunakan busur guna mengurangi jumlah lawan dari kejauhan.
Kini keadaan perlahan mulai berubah.
Monster yang sebelumnya mengepung dua kakak beradik itu mulai kehilangan keunggulan jumlah. Mereka dipaksa menghadapi serangan dari berbagai arah sehingga tidak lagi mampu menekan lawannya seperti sebelumnya.
Pemuda bertubuh besar mengatur napasnya sejenak.
"Kau datang tepat waktu."
Ryosuke tetap memusatkan perhatian kepada monster di depannya.
"Habisi mereka dulu."
Pemuda itu tersenyum tipis.
"Setuju."
Ia kembali mengangkat kapak raksasanya, lalu menerjang seekor monster bertubuh paling besar yang berdiri di sisi barat lapangan. Tebasan pertama ditahan oleh lengan monster tersebut, tetapi benturan itu cukup membuat keseimbangannya goyah. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Ryosuke.
Dengan langkah cepat, ia melintas di belakang monster itu.
Tenkū Matō bergerak lebih dahulu memotong jalur geraknya.
Sesaat kemudian Nichirin-gatana menebas dari arah berlawanan.
Monster itu mengaum keras sebelum akhirnya roboh ke tanah.
Melihat pemimpin kawanan mereka tumbang, monster-monster yang tersisa mulai menunjukkan keraguan. Beberapa menggeram sambil mundur perlahan, sedangkan yang lain berbalik memasuki rimbunnya hutan.
Tidak ada seorang pun mengejar mereka.
Ryosuke tetap berdiri dengan kedua pedangnya di tangan hingga suara langkah monster benar-benar menghilang dari pendengarannya.
Suasana hutan akhirnya kembali tenang.
Hanya suara napas para petarung yang masih terdengar memenuhi tanah lapang.
Gadis pemanah perlahan menurunkan busurnya.
"Terima kasih."
Ia membungkukkan badan dengan tulus.
"Kalau kalian tidak datang, kami mungkin sudah menjadi santapan mereka."
Ryosuke menyarungkan kedua katana nya.
"Kalian terluka?"
Gadis itu menggeleng.
"Hanya kelelahan."
Pemuda bertubuh besar meletakkan kapak raksasanya di atas tanah lalu mengusap keringat di dahinya.
"Kami masih bisa berdiri."
Ia mendekati Ryosuke dan mengulurkan tangan.
"Namaku Hector."
Kemudian ia menoleh kepada gadis di sampingnya.
"Dan ini adikku, Melinda."
Melinda kembali membungkukkan kepala.
"Aku pemburu."
"Kami tinggal di sebuah desa di sisi timur hutan ini... dulu."
Nada suaranya perlahan berubah muram ketika mengucapkan kata terakhir.
Hector menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Perang telah menghancurkan desa kami."
"Sejak itu kami terus berpindah tempat untuk bertahan hidup."
Tidak ada kemarahan dalam suaranya.
Yang terdengar hanyalah kelelahan seseorang yang telah kehilangan rumah.
Ryosuke memahami perasaan itu.
Ia pernah berdiri di posisi yang sama.
"Aku Ryosuke."
Ia memperkenalkan diri dengan tenang.
"Kami berasal dari kelompok tentara bayaran yang bermarkas di dekat Benteng Vargan."
Salah seorang anggota rombongan kemudian melangkah mendekat sambil melihat ke arah hasil perburuan yang sama sekali belum mereka dapatkan.
"Tampaknya misi berburu hari ini berubah menjadi misi penyelamatan."
Beberapa orang tertawa kecil.
Ketegangan yang sejak tadi memenuhi tanah lapang perlahan menghilang.
Namun di balik suasana yang mulai tenang itu, Ryosuke tidak mengetahui bahwa pertemuan singkat di tengah hutan tersebut akan menjadi awal terjalinnya ikatan dengan dua bersaudara yang kelak berjalan bersamanya menghadapi Empire Krusador dan menjadi bagian penting dari pasukan perlawanan yang baru saja mulai terbentuk.
Langit di ufuk barat mulai berubah jingga ketika Ryosuke dan rombongannya meninggalkan hutan tempat pertempuran melawan kawanan monster baru saja berakhir. Udara sore yang sejuk berembus perlahan melewati pepohonan, mengiringi langkah mereka yang kini jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya. Setelah memastikan tidak ada lagi monster yang mengikuti jejak mereka, rombongan kembali melanjutkan misi yang sempat tertunda. Kawasan hutan yang sebelumnya dipenuhi suara raungan kini hanya menyisakan desir dedaunan yang bergoyang tertiup angin.
Misi utama mereka tetap sama.
Mengumpulkan persediaan makanan untuk barak.
Dengan bantuan Melinda yang mengenal seluk-beluk hutan lebih baik daripada siapa pun di sana, pekerjaan berburu menjadi jauh lebih mudah. Gadis itu mampu membaca setiap jejak yang tertinggal di atas tanah lembap, membedakan pijakan rusa, babi hutan, maupun hewan-hewan kecil hanya dengan sekali pandang. Beberapa kali ia mengangkat tangan sebagai isyarat agar rombongan berhenti, kemudian menunjuk bekas ranting yang patah atau rumput yang baru saja terinjak.
"Rusa-rusa itu belum jauh."
ucapnya pelan.
"Kalau kita memutar melewati bukit kecil di depan, kita bisa memotong jalur mereka."
Ryosuke memperhatikan cara Melinda bekerja tanpa banyak bicara. Ia dapat melihat bahwa kemampuan gadis itu bukan sekadar hasil latihan singkat, melainkan pengalaman bertahun-tahun hidup sebagai pemburu.
Perkiraan Melinda terbukti tepat.
Tidak lama kemudian mereka menemukan dua ekor rusa yang sedang memakan rumput di sebuah tanah lapang kecil. Atas isyarat Ryosuke, seluruh rombongan bergerak hati-hati agar tidak mengejutkan mangsa. Dua pemanah mengambil posisi dari arah berbeda, sementara Melinda menunggu saat yang tepat.
Dua anak panah melesat hampir bersamaan.
Kedua rusa itu roboh sebelum sempat melarikan diri.
"Bagus."
Salah seorang tentara bayaran mengangguk puas.
"Persediaan daging untuk beberapa hari sudah aman."
Perburuan berlanjut hingga matahari semakin rendah. Sebelum meninggalkan hutan, mereka juga berhasil menangkap tiga ekor kelinci liar menggunakan jerat yang dipasang di jalur sempit dekat semak belukar.
Ketika seluruh hasil buruan dikumpulkan, rombongan membawa pulang dua ekor rusa dan tiga ekor kelinci.
"Tidak buruk."
ucap salah seorang anggota kelompok sambil tersenyum.
"Kapten pasti senang."
Perjalanan menuju barak pun dimulai.
Cahaya matahari yang tersisa perlahan memudar ketika rombongan keluar dari kawasan hutan. Dari kejauhan, tembok tinggi Benteng Vargan kembali terlihat berdiri kokoh menghadap jalur menuju Empire Krusador. Obor-obor di atas menara pengawas mulai dinyalakan satu demi satu sebagai pertanda malam segera tiba.
Tidak jauh dari benteng, barak tentara bayaran juga mulai dipenuhi kesibukan menjelang malam. Beberapa anggota yang tidak mendapat penugasan hari itu sedang menyiapkan makan malam, sementara yang lain kembali dari patroli rutin di sekitar jalur perdagangan.
"Gerbang dibuka!"
teriak salah seorang penjaga ketika melihat rombongan Ryosuke mendekat.
Pintu pagar kayu segera dibuka lebar.
Beberapa anggota yang berada di halaman langsung menghampiri.
"Hasil buruannya banyak juga."
"Dua rusa?"
"Dan tiga kelinci."
"Tidak perlu khawatir kehabisan daging minggu ini."
Suasana barak yang semula tenang mendadak menjadi lebih hidup. Beberapa orang segera membantu menurunkan hasil buruan, sementara yang lain membawa rusa-rusa itu menuju tempat pengolahan agar dagingnya dapat diawetkan.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉