Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Kampung Halaman : Firasat Buruk
Ada ketakutan yang bisa membuat seseorang lari.
Tapi ada juga ketakutan yang terpaksa ditelan mentah-mentah demi orang-orang yang menunggu kita pulang.
Dan bagi seorang ibu...
Rasa takut sering kali kalah oleh kebutuhan.
-----
Hari-hari di ruko ujung gang itu terus berjalan.
Mula-mula aku menghitungnya dengan jari.
Lalu dengan kalender.
Sampai akhirnya tanpa terasa, minggu berganti bulan.
Aku masih tetap tinggal di sana.
Masih tidur di kamar sempit lantai empat bersama Marni.
Masih terbangun sesekali karena suara langkah kaki misterius di tengah malam.
Masih mencium aroma melati yang muncul tanpa sebab.
Masih melihat asap dupa tipis keluar dari bawah pintu kamar Anggun setiap kali larut malam tiba.
Dan anehnya...
Aku mulai terbiasa.
Bukan karena keberanianku bertambah.
Melainkan karena hidup memaksaku untuk terbiasa.
Setiap kali rasa takut mulai menguasai pikiranku, aku selalu teringat wajah Lala dan Andi di kampung.
Aku teringat seragam sekolah yang harus dibeli.
Aku teringat biaya hidup yang terus berjalan.
Aku teringat impian sederhana yang selama ini kami simpan rapat-rapat sebagai keluarga.
Membangun rumah sendiri.
Rumah kecil yang mungkin tidak mewah.
Tapi cukup untuk membuat kami tidak lagi menumpang.
Karena itulah aku bertahan.
Bukan untuk Jakarta.
Bukan untuk ruko itu.
Melainkan untuk mereka.
Suatu malam, saat sedang menghitung hasil tabunganku, aku sampai tidak percaya dengan angka yang kulihat.
Lembaran uang yang selama ini kusimpan di dalam kaleng bekas susu sudah memenuhi hampir seluruh bagian dalamnya.
Ada uang tip dari Cherry.
Ada uang pemberian penghuni lain setelah aku membantu mencuci pakaian mereka.
Ada juga uang tambahan dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang kukerjakan diam-diam saat hari libur.
Ketika semuanya dihitung, jumlahnya membuatku terdiam cukup lama.
Belasan juta rupiah.
Jumlah yang mungkin biasa bagi sebagian orang.
Tapi bagiku?
Itu adalah bukti bahwa setiap tetes keringatku tidak sia-sia.
Malam itu aku menangis diam-diam.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena untuk pertama kalinya aku merasa langkahku menuju masa depan keluarga mulai terlihat jelas.
Tak lama kemudian bulan Ramadan berakhir.
Hari raya Idulfitri tiba.
Dan seperti para perantau lainnya, aku pun pulang.
Perjalanan menuju kampung terasa jauh lebih ringan dibanding saat pertama kali berangkat ke Jakarta.
Mungkin karena kali ini aku tidak pulang dengan tangan kosong.
Aku pulang membawa harapan.
Saat mobil travel memasuki jalan desa, dadaku langsung berdebar.
Aku melihat rumah-rumah sederhana.
Melihat sawah.
Melihat jalan tanah yang begitu akrab.
Dan ketika kendaraan berhenti di depan rumah ibuku...
Dua sosok kecil langsung berlari ke arahku.
"Ibuuuuu!"
Air mataku langsung pecah.
Andi memeluk kakiku erat-erat.
Sementara Lala menangis sambil memeluk pinggangku.
Rasanya seperti seluruh beban yang selama berbulan-bulan kupikul mendadak runtuh begitu saja.
Di saat seperti itu aku sadar.
Tidak ada tempat yang lebih nyaman daripada rumah.
Malam harinya, setelah anak-anak tertidur, aku duduk berdua dengan suamiku di kamar.
Kami banyak bercerita.
Tentang Jakarta.
Tentang pekerjaan.
Tentang anak-anak.
Tentang mimpi-mimpi yang selama ini kami simpan.
Lalu suamiku mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam lemari.
"Ini uang kirimanmu."
Aku mengernyit.
"Belum dipakai?"
Suamiku menggeleng.
"Dari awal memang Mas simpan."
Aku membuka amplop itu.
Dan kembali terdiam.
Jumlahnya tidak sedikit.
Dadaku langsung terasa sesak.
Bukan karena terkejut.
Melainkan karena terharu.
Aku tahu penghasilan suamiku sebagai buruh bangunan tidak besar.
Namun selama ini dia memilih bekerja lebih keras agar uang yang kukirim bisa tetap utuh.
Malam itu kami membuat keputusan bersama.
Seluruh tabungan kami akan dipakai untuk mulai membangun rumah.
Sedikit demi sedikit.
Tidak perlu besar.
Yang penting milik sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, impian itu terasa begitu dekat.
Sayangnya...
Semua kebahagiaan selalu terasa terlalu singkat.
Libur lebaran berakhir.
Dan aku harus kembali ke Jakarta.
Kali ini aku berangkat sendirian.
Marni mendadak jatuh sakit beberapa hari sebelum keberangkatan.
Tubuhnya demam tinggi.
Wajahnya pucat.
Bahkan beberapa kali muntah tanpa sebab yang jelas.
"Aku nyusul nanti kalau sudah mendingan," katanya.
Aku hanya mengangguk.
Meski entah kenapa ada perasaan aneh yang mengganjal saat meninggalkannya.
Perjalanan menuju Jakarta berlangsung panjang dan membosankan.
Sebagian besar penumpang memilih tidur.
Aku pun ikut memejamkan mata.
Dan di situlah semuanya dimulai.
Aku bermimpi.
Namun mimpi itu terasa terlalu nyata untuk disebut sekadar bunga tidur.
Aku berdiri sendirian di koridor lantai tiga ruko.
Gelap.
Sunyi.
Tidak ada suara apa pun.
Di ujung lorong, pintu kamar Shara terbuka sedikit.
Entah kenapa aku melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Semakin dekat, aroma amis darah semakin kuat menusuk hidung.
Saat aku mendorong pintu kamar itu...
Jantungku langsung berhenti berdetak.
Shara berdiri di tengah ruangan.
Membelakangiku.
Diam.
Tidak bergerak.
"Shara?"
Tidak ada jawaban.
Perempuan itu perlahan memutar tubuhnya.
Dan saat wajahnya terlihat...
Aku nyaris menjerit.
Separuh wajah cantiknya hancur.
Darah mengalir dari pelipis hingga leher.
Matanya menatap lurus ke arahku.
Kosong.
Pucat.
Mengerikan.
Lalu bibirnya bergerak pelan.
"Amira..."
Suaranya terdengar jauh.
Seperti datang dari dasar sumur.
"Tolong aku..."
DUK!
Aku langsung terbangun.
Napas memburu.
Jantung berdebar sangat kencang.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku.
Beberapa penumpang menoleh heran.
Aku buru-buru melihat ke luar jendela.
Gedung-gedung Jakarta mulai terlihat di kejauhan.
Langit pagi masih kelabu.
Kami sudah hampir sampai.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya mimpi.
Hanya bunga tidur akibat kelelahan.
Namun semakin keras aku mencoba menepisnya...
Semakin kuat pula firasat buruk itu tumbuh di dalam dadaku.
Perasaan yang sama seperti saat pertama kali melihat perempuan berbaju putih di ujung tangga.
Perasaan yang sama seperti saat menemukan bunga melati di depan pintu kamar.
Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan bekerja di ruko ujung gang...
Aku benar-benar berharap firasatku kali ini salah.
Karena entah kenapa...
Hatiku terus berbisik bahwa ketika aku kembali ke sana...
Seseorang sudah tidak akan menyambutku lagi dalam keadaan hidup.