Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
“Itu ada Adrian, kenapa enggak menyambut dia?” tegur Adam pada Lina dan Linda yang hanya melihat interaksi Adrian dan Kayla.
Adam melihat keduanya masih terpaku menatap Adrian dan Kayla yang sedang berbicara. Dia mengernyitkan dahi, tidak memahami kenapa mereka hanya berdiri diam.
“Ayo, ayo kita ke sana,” ajak Adam.
Adam segera mengajak keluarganya menghampiri Adrian.
“Adrian, bagaimana kabar kamu? Sudah lama kita tidak berjumpa,” sapa Adam sambil menjabat tangan Adrian dan menepuk pundaknya.
Adrian membalas dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
“Aku baik, Om,” kata Adrian.
“Adrian, ini kado untuk aku ya,” ucap Lina sambil merebut kado yang dipegang oleh Aldo.
Gerakan Lina membuat Aldo sedikit terkejut, tetapi dia memilih diam. Adrian hanya melirik sekilas tanpa memberikan reaksi.
“Hari ini juga ulang tahun Lena, Om. Makanya aku berikan untuk Lena.”
Kalimat itu membuat ekspresi Adam dan Linda berubah.
Mata Linda berkaca-kaca. Tangannya perlahan menggenggam gaun yang dikenakannya, berusaha menahan perasaan yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Sudah dua puluh tahun berlalu, tetapi Adrian masih mengingat hari kelahiran Lena.
Anak mereka yang hilang.
“Terima kasih, Adrian. Kamu masih saja mengingat Lena.”
“Dia sudah menyelamatkan nyawaku. Tentu saja aku masih ingat, Tante.”
“Terima kasih, Adrian,” kata Linda tulus.
Suara Linda terdengar bergetar. Ada rasa haru sekaligus sedih yang tidak bisa dia sembunyikan.
“Adrian, ada kabar mengenai Lena?” Adam antusias berkata.
Adrian langsung menatap Adam.
“Benarkah?” Adrian antusias penasaran.
“Tentu saja benar. Mari cari tempat yang nyaman untuk membicarakan ini.”
“Baik, Om,” ucap Adrian.
Adrian membalikkan badan dan mencari keberadaan Kayla. Pandangannya langsung menemukan perempuan itu yang masih berdiri di dekat meja pelayanan.
Dia melangkah mendekat.
“Aku ada urusan dulu. Kamu baik-baik ya,” kata Adrian.
Kayla hanya menganggukkan kepala.
Sebuah interaksi sederhana. Tidak ada kata-kata romantis, tidak ada perlakuan berlebihan. Namun bagi Lina, pemandangan itu cukup membuat dadanya terasa sesak.
“
“Mah, mumpung tidak ada Adrian, mari pelajaran dia,” bisik Rina sambil menunjuk ke arah Kayla yang sedang sibuk melayani beberapa tamu.
Linda menoleh ke arah Kayla. Tanpa banyak bicara, dia mulai melangkah menuju perempuan itu. Rina dan Lina mengikuti di belakangnya dengan senyum penuh keyakinan.
Namun semakin dekat jarak mereka, semakin aneh perasaan yang muncul di dalam dada Linda.
Sesak.
Seperti ada sesuatu yang menarik ingatannya kembali pada masa lalu.
Saat hendak menyapa Kayla, perempuan itu tiba-tiba membalikkan badan.
Sanggul rambutnya terlihat jelas.
Langkah Linda langsung terhenti.
Pemandangan itu membuat pikirannya seakan kembali puluhan tahun lalu.
Lena kecil.
Anak perempuan kecilnya yang dulu sangat suka disanggul. Setiap kali rambutnya dirapikan, Lena selalu tersenyum bahagia dan berlari menghampirinya.
Dalam bayangan Linda, anak kecil itu membalikkan badan.
“Ibu.”
Suara kecil itu terdengar begitu jelas dalam ingatannya.
Bibir Linda bergetar.
“Lena, anak...”
“Maaf, Nyonya. Nama saya Kayla,” ucap Kayla yang membuyarkan lamunan Linda.
Linda tersadar. Dia menatap Kayla cukup lama, seolah berusaha mencari sesuatu dari wajah perempuan di depannya.
“Oh, Kayla ya.”
Tatapan Linda menyapu wajah Kayla dari atas hingga bawah.
Namun perlahan pikirannya kembali dipengaruhi oleh ucapan Rina dan Lina.
“Wanita licik ingin kaya dengan menggoda pria kaya. Mana mungkin dia adalah anakku yang hilang,” pikir Linda.
“Maaf, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Kayla sopan.
“Nama kamu?”
“Kayla, Nyonya.”
“Kayla ya,” ulang Linda. “Aku beri tahu kamu, kalau Adrian itu punya janji pernikahan dengan anakku. Kalau boleh tahu, apa hubungan kamu dengan Adrian?”
“Pak Adrian bos saya. Saya bawahan beliau.”
“Karyawan yang suka menggoda atasan pasti dia manusia murahan,” cibir Lina.
“Iya, karyawan yang suka menggoda kakak iparku. Aku sering melihat mereka bermesraan,” ucap Rina memanasi.
Kayla menatap ketiga wanita di hadapannya.
Baru saat itu dia menyadari sesuatu.
Mereka bukan datang untuk bertanya.
Mereka datang untuk menghakiminya.
“Adrian sudah dewasa. Aku tidak bisa mengintervensinya,” kata Linda.
Tatapan Linda berubah dingin saat menatap Kayla.
“Sebagai perempuan seharusnya kamu bisa menjaga diri, mempunyai rasa malu.”
Linda menyilangkan tangan di dada.
“Kamu sudah tahu Adrian sudah punya tunangan, masih saja menggodanya. Itu namanya pelakor.”
Kayla terdiam.
Aneh.
Dia sudah sering mendengar hinaan dari orang lain. Tetapi entah kenapa, hinaan dari wanita yang baru pertama kali ditemuinya ini terasa berbeda.
Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan.
“Dari sikap kamu,” ucap Linda, “sepertinya kamu perempuan dari keluarga kalangan bawah. Andai saja kamu tidak punya hubungan enggak jelas dengan Adrian, selamanya kamu tidak pantas bertemu denganku. Dan aku sangat membenci pelakor. Aku sudah sangat merendahkan diri menemui kamu. Dasar wanita murahan.”
“Benar, dasar wanita murahan. Gara-gara kamu Adrian bersikap dingin padaku dan malah peduli sama kamu,” ujar Lina kesal.
Kayla menghela napas berat.
Dadanya terasa semakin sesak.
Sangat sesak.
Padahal selama ini dia sudah terbiasa menerima hinaan. Dia sudah terbiasa dianggap rendah.
Namun kali ini rasanya berbeda.
“Maaf, saya tidak pernah menggoda Pak Adrian,” kata Kayla. “Kalau Pak Adrian bersikap dingin sama kamu, maka jangan salahkan saya.”
Kayla menatap langsung ke arah Lina.
“Kalau dia menjauh dari kamu, jangan-jangan dia tidak nyaman dengan kamu dan malah nyaman denganku.”
“Kamu...” geram Lina kesal.
Linda menatap Kayla dengan pandangan sulit diartikan.
Di dalam hatinya, ada rasa kagum yang tidak ingin dia akui.
Perempuan ini tidak menangis.
Tidak terlihat takut.
Bahkan ketika ditekan oleh tiga orang sekaligus, Kayla masih mampu menjawab dengan tenang dan elegan.
“Lihatlah dia, Mah,” kata Rina menatap sinis Kayla. “Jadi pelakor saja bangga.”
Rina menyilangkan tangan di dada.
“Oh ya... dia juga sedang hamil, Mah.”
“Hamil?” tanya Linda mengeram.
“Hamil anak siapa kamu?” tanya Linda spontan.
Kayla menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sesaat, keduanya sama-sama diam.
Ada getaran aneh yang tidak bisa dijelaskan.
Kayla merasakannya.
Begitu juga Linda.
Entah kenapa, hati Linda terasa sakit saat menatap mata Kayla. Seolah ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya sedang berdiri tepat di depannya.
Namun dia tidak tahu apa.
“Saya hamil anak siapa itu urusan saya,” ucap Kayla dengan suara serak. “Dari tadi kalian terus saja menyalahkan saya dan menuduh saya. Kalau Tuan Adrian tidak suka sama anak Anda, tanyakan pada Adrian. Jangan tekan saya.”
Kayla menatap Linda dengan tatapan terluka.
“Oh, saya tahu. Anda hanyalah nyonya besar kaya raya yang suka menindas orang lemah, tapi Anda pengecut untuk menegur Tuan Adrian.”
“Kamu...” geram Linda.
Kayla membalikkan badan. Dadanya masih terasa berat. Ada amarah yang ingin keluar, tetapi dia menahannya.
Hotel ini milik suaminya. Adrian sudah beberapa kali membelanya. Dia tidak ingin membuat keributan di tempat yang seharusnya dia jaga.
“Tunggu!” bentak Lina kesal. “Kamu ini sekarang pelayan. Aku haus, cepat ambilkan aku minum.”