"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Jerat yang Kian Mengencang
Sisa-sisa badai semalam menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang di pagi hari. Di dalam kamar utama penthouse, Viona Adeline terbangun dengan kelopak mata yang terasa berat dan membengkak akibat tangisannya semalam. Ketika ia menoleh ke samping, sisi ranjang Arkan sudah kosong dan mendingin. Pria itu selalu memiliki mobilitas yang tinggi sebagai CEO Utama Mahendra Group, namun kepergiannya yang tanpa pamit selalu meninggalkan kekosongan yang aneh di dada Viona.
Viona bangkit secara perlahan, menahan rasa linu yang menjalar di tubuhnya akibat tuntutan gairah Arkan yang begitu dominan semalam. Saat kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, matanya tidak sengaja menangkap sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil di atas meja rias, bersanding dengan sebuah memo pendek dengan tulisan tangan yang tegas dan rapi.
“Pakai ini malam ini. Aku menjemputmu jam delapan. Jangan terlambat dan jangan membuat masalah lagi seperti kemarin.” — Arkan.
Dengan tangan sedikit gemetar, Viona membuka kotak tersebut. Di dalamnya berkilau sebuah gelang berlian dengan desain yang sangat elegan namun tampak sangat mahal. Alih-alih merasa senang, Viona justru merasakan dadanya kian sesak. Gelang ini bukanlah hadiah yang didasari oleh ketulusan atau kasih sayang. Bagi Viona, benda berkilau ini tidak ada bedanya dengan rantai tak kasat mata yang sengaja Arkan pasang untuk menegaskan statusnya sebagai wanita simpanan kontrak.
"Anda benar-benar tahu cara menginjak-injak harga diri saya dengan uang, Tuan Mahendra," lirih Viona pada ruangan yang sepi.
Siang harinya di kantor Mahendra Group, atmosfer di Divisi Manufaktur terasa jauh lebih sibuk dari biasanya. Viona berusaha memfokuskan pikirannya pada deretan angka dan laporan inventaris di layar komputernya. Mengenakan kemeja kerja yang longgar dan kerah yang dikancing tinggi hingga batas leher, ia menenggelamkan diri dalam rutinitas demi melupakan status gandanya yang melelahkan.
Namun, ketenangan itu terusik ketika beberapa rekan kerjanya di kubikel sebelah mulai berkumpul sambil berbisik-bisik heboh.
"Kalian sudah dengar kabar terbaru? Hari ini Nona Clarissa datang ke kantor! Katanya dia datang langsung dari luar negeri untuk makan siang bersama Tuan Arkan di ruang CEO," ucap salah satu staf dengan mata berbinar gosip.
"Wah, benarkah? Mereka pasti sedang mendiskusikan detail pernikahan besar itu. Aku dengar dari orang lantai atas, gaun pengantin Nona Clarissa dipesan langsung dari desainer ternama di Paris," sahut rekan yang lain.
Mendengar nama Clarissa dan kata 'pernikahan' kembali digaungkan, jemari Viona membeku di atas papan ketik. Dadanya berdenyut nyeri. Rasa angst yang mendalam merayap naik, mencekik kesadarannya. Di tempat kerja ini, ia harus memasang wajah datar seolah gosip tentang sang CEO tidak ada hubungannya dengan hidupnya, padahal di malam hari, pria yang sama memeluknya dengan begitu posesif.
"Viona, bisa tolong antarkan dokumen revisi anggaran ini ke meja Sekretaris Utama di lantai tiga puluh?" panggil kepala divisinya tiba-tiba, memecah lamunan getir Viona.
Viona tersentak, lalu buru-buru mengangguk. "Baik, Pak. Saya antarkan sekarang."
Mengambil map dokumen tebal itu, Viona melangkah menuju lift. Ia hanya perlu mengantarkannya ke meja sekretaris di lantai atas, bukan ke ruangan Arkan langsung. Namun, takdir tampaknya sedang senang mempermainkan emosinya hari ini.
Begitu pintu lift terbuka di lantai tiga puluh yang merupakan area eksekutif, suasana sunyi dan mewah langsung menyambutnya. Saat Viona berjalan melewati koridor menuju meja sekretaris, pintu ruang kerja CEO yang berlapis kayu mahoni tebal tiba-tiba terbuka.
Dua orang melangkah keluar dari sana. Arkan Mahendra dengan setelan jas hitam sempurnanya, dan di sampingnya berjalan seorang wanita berpenampilan sangat anggun dengan gaun desainer berwarna pastel—Clarissa. Wanita itu merangkul lengan Arkan dengan manja, dan Arkan tidak menolaknya.
Viona seketika menghentikan langkahnya, tubuhnya menegang tegak.
Tatapannya beradu dengan mata hitam kelam Arkan. Untuk sepersekian detik, ada kilat keterkejutan di mata sang CEO melihat keberadaan wanita simpanannya di lantai eksekutif, namun ekspresi itu dengan cepat berganti menjadi sedingin es dan acuh tak acuh. Arkan menatap Viona seolah wanita itu hanyalah staf biasa yang tidak berharga untuk dilirik—sisi kehidupan ganda mereka yang sesungguhnya.
"Arkan, Sayang, setelah makan siang kita harus mampir ke butik untuk melihat sampel dekorasi, ya?" ucap Clarissa dengan suara manis yang terdengar jelas di koridor yang sepi itu.
"Terserah kau saja, Clarissa," jawab Arkan pendek, nadanya datar namun tidak menolak.
Viona menundukkan kepalanya dalam-dalam, memeluk map dokumen di dadanya dengan erat seolah benda itu bisa melindungi hatinya yang sedang hancur berkeping-keping. Ia melangkah mepet ke dinding koridor, memberikan jalan bagi sang penguasa dan tunangan resminya untuk lewat.
Saat Arkan berjalan melewatinya, aroma parfum maskulin yang sangat familiar di indra penciuman Viona berembus, membawa rasa sakit yang kian nyata. Pria ini benar-benar membagi dunianya dengan sangat kejam: Clarissa untuk kehormatan dan publik, sementara dirinya hanya untuk gairah tersembunyi di sudut tergelap penthouse.
Pukul delapan malam tepat, mobil Rolls-Royce hitam milik Arkan sudah menunggu di pelataran parkir apartemen mewah tempat Viona biasanya dijemput secara rahasia. Viona melangkah keluar dengan gaun malam sederhana berwarna hitam yang memeluk tubuh rampingnya dengan pas. Di pergelangan tangan kirinya, gelang berlian pemberian Arkan melingkar dengan kilau yang dingin.
Begitu ia masuk ke dalam mobil, Arkan sudah duduk di sana. Tatapan mata pria itu langsung menyapu penampilan Viona, lalu terpaku pada gelang berlian yang terpasang di pergelangan tangannya. Ada kilat kepuasan yang muncul di wajah tegasnya.
"Kau memakainya. Bagus," ucap Arkan rendah, suaranya baritonnya memecah keheningan kabin mobil.
Viona tidak menoleh, ia tetap menatap lurus ke depan. "Saya hanya menjalankan kewajiban kontrak saya, Tuan Mahendra. Anda yang meminta saya memakainya."
Arkan mengerutkan alisnya, tidak menyukai nada bicara Viona yang terkesan dingin dan berjarak sejak kejadian di kantor siang tadi. Sifat posesifnya langsung terusik. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh, mencengkeram dagu Viona dengan tegas dan memalingkan wajah wanita itu agar menatapnya.
"Ada apa dengan tatapanmu itu, Viona? Kau cemburu karena melihatku bersama Clarissa siang tadi?" tanya Arkan dengan senyum miring yang provokatif, mencoba memancing reaksi dari ketegaran wanita di depannya.
Viona menepis tangan Arkan secara perlahan namun berani, sebuah tindakan yang jarang ia lakukan. "Cemburu? Untuk apa saya cemburu, Tuan? Saya tahu persis di mana posisi saya dalam hidup Anda. Hubungan kita hanyalah sebatas transaksi bisnis dan pemuas gairah. Anda membayar saya untuk tubuh saya, bukan untuk melibatkan hati saya."
Kata-kata Viona yang begitu lugas dan dingin mendadak menyulut percikan kemarahan di dada Arkan. Pria egois itu menolak mengakui bahwa kata-kata Viona justru memicu rasa tidak nyaman yang aneh di hatinya. Arkan tidak suka ketika Viona mencoba menarik garis pembatas yang begitu tegas di antara mereka, seolah wanita itu bisa pergi kapan saja setelah kontrak ini berakhir.
"Kau benar, ini hanya kontrak," bisik Arkan dengan nada suara yang mendadak turun menjadi sangat berbahaya dan mengintimidasi. Ia memajukan tubuhnya, mengurung Viona di sudut kursi mobil yang luas. "Dan selama kontrak ini berjalan, jangan pernah berani menunjukkan wajah menantang seperti itu di depanku. Mengerti?"
Viona tidak menjawab, ia hanya menatap Arkan dengan sepasang mata bulat besarnya yang memancarkan kerapuhan sekaligus keteguhan yang luar biasa. Di dalam kabin mobil yang bergerak membelah malam Jakarta, jerat tak kasat mata di antara sang CEO posesif dan wanita simpanannya kian mengencang, menuntut kepatuhan yang perlahan mulai mengikis sisa-sisa harga diri Viona.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.