NovelToon NovelToon
Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Pernikahan Kilat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Setelah berjam-jam berdiri di bawah sorot mata yang menghakimi, acara resepsi pernikahan yang melelahkan itu akhirnya usai.

Para tamu undangan satu per satu mulai meninggalkan pelataran Masjid Baiturrahman, menyisakan dekorasi mewah yang kini terasa sunyi.

Ganda membalikkan badannya, menatap Diaz yang sejak tadi berdiri kaku di sampingnya bagai patung bernyawa.

"Ayo, kita pulang," ajak Ganda singkat.

Belum sempat Diaz merespons, sebuah aroma parfum mahal yang menyengat langsung mendekat.

Laura dengan cepat menghambur dan memeluk tubuh Ganda dari samping, sengaja memamerkan kedekatan mereka di depan mata Diaz.

"Mas, ayo kita pulang ke rumah yang baru kita beli kemarin," ucap Laura manja, mendongak menatap wajah Ganda dengan binar penuh harap.

"Semua barang-barangku sudah dipindahkan ke sana, Mas."

Diaz yang melihat pemandangan itu merasa dadanya semakin sesak.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Ganda dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Pulanglah ke istrimu, Ganda. Urusan kita sudah selesai di dalam masjid tadi. Aku akan melanjutkan perjalananku ke Gunung Kawi."

"Diaz, kamu pulang sama aku," potong Ganda cepat, suaranya mutlak tanpa bantahan. Ia lalu menoleh ke arah Laura, melepaskan pelukan wanita itu dengan halus namun tegas.

"Laura, kamu pulang dengan mobil. Kita semua ke pondok pesantren dulu sampai tujuh hari ke depan. Kita harus sowan ke Abah dan menjelaskan semuanya."

Wajah Laura langsung cemberut mendengar keputusan itu.

"Mas, aku mau ikut ke mobil kamu! Aku juga istri kamu, Mas! Kenapa aku harus dipisah?" rengeknya tidak terima.

"Laura, kamu naik mobil lain bersama Mama. Titik," jawab Ganda dingin, memotong semua kalimat protes yang hendak keluar dari bibir istri keduanya itu.

Tanpa memedulikan raut wajah Laura yang bertekuk mapan, Ganda berbalik dan kembali menggenggam erat tangan Diaz.

Ia menarik gadis itu dengan langkah lebar menuju area parkiran, tempat motor sport milik Diaz masih terparkir rapi.

"Ganda, lepaskan! Pulanglah," desak Diaz setengah berbisik, mencoba meronta dari cengkeraman tangan Ganda yang sekeras karang.

"Anggap saja kita tidak pernah bertemu hari ini. Istrimu sudah kembali, semuanya sudah aman untuk keluarga kamu. Jadi buat apa lagi aku ikut? Dan mmmpphhh—!"

Kalimat Diaz terputus seketika. Ganda dengan cepat mengeluarkan selembar sapu tangan bersih dari saku jas akadnya, lalu menggunakannya untuk membekap lembut mulut Diaz, membungkam semua protes yang sejak tadi keluar dari bibir tipis gadis itu.

"Kamu terlalu banyak protes, Diaz Aruna," bisik Ganda tepat di dekat telinga Diaz, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

Dengan satu tangan yang masih menahan pergerakan Diaz, tangan Ganda yang lain meraih helm full-face milik Diaz yang tergantung di setang motor.

Tanpa memedulikan tatapan syok dan melotot dari mata Diaz, Ganda memakaikan helm tersebut ke kepala istri pertamanya, lalu mengklik penguncinya hingga berbunyi klek.

Ganda melepas jas akad putihnya yang berharga mahal, menyampirkannya begitu saja di atas tangki, lalu melompat naik ke atas jok motor sport tersebut.

Ia memasukkan kunci yang sejak tadi dikantonginya, lalu menghidupkan mesin.

Suara raungan knalpot kembali membelah parkiran masjid.

"Naik, atau aku angkat kamu ke atas sini?" ancam Ganda dari balik kaca helmnya.

Diaz yang tidak punya pilihan lain, ditambah rasa malu jika harus digendong di depan umum, akhirnya terpaksa naik dan duduk di jok belakang dengan perasaan campur aduk.

Ganda menarik tuas gas dalam-dalam. Motor sport itu melesat membelah jalanan, membawa Diaz terbang menjauhi Gunung Kawi, menuju takdir baru yang jauh lebih mistis dan penuh tekanan: Pondok Pesantren jalur keluarga kiai.

Di dalam kurungan helm full-face-nya, Diaz hanya bisa terdiam membisu.

Angin jalanan Kepanjen yang menerpa tubuhnya tidak mampu mendinginkan kepala dan hatinya yang sedang mendidih.

Ia menatap punggung tegap Ganda dengan perasaan campur aduk—antara kesal, bingung, dan tidak percaya bahwa pelariannya subuh tadi justru membawanya berboncengan dengan seorang anak kiai.

Merasakan tidak ada lagi bantahan atau gerakan meronta dari penumpang di belakangnya, Ganda menyunggingkan senyum tipis di balik kaca helmnya.

Keheningan di atas motor sport itu justru terasa seperti kemenangan kecil baginya.

Dua puluh menit kemudian, deru mesin motor sport itu melambat, memasuki gerbang besar Pondok Pesantren Al Ikhlas. Suasana di sana tak kalah ramai.

Halaman pondok dipenuhi tenda-tenda santri dan para tokoh masyarakat yang memang tidak sempat datang ke Masjid Baiturrahman.

Begitu motor Ganda berhenti di depan kediaman utama (ndalem), ratusan pasang mata para santri dan tamu langsung membelalakkan mata. Mereka berbisik-bisik, heran melihat sang anak kiai pulang membawa motor sport, tanpa jas akad, dan membonceng seorang gadis berkaus oblong serta celana jins.

KH. Mahesa—sang Abah—yang sejak tadi sedang menyambut kedatangan para tamu di teras, langsung menghentikan obrolannya.

Gurat wibawa di wajah sepuhnya mendadak berubah tegang.

Beliau berjalan cepat ke arah motor Ganda dengan langkah lebar.

"Ganda! Siapa dia? Mana Laura?!" tanya Abah, suaranya berat dan penuh penekanan, meskipun tetap berusaha menjaga kewibawaannya di depan publik.

Ganda tidak langsung menjawab. Ia turun dari motor, lalu dengan telaten membuka kaca helm Diaz, melepas kunciannya, dan mengangkat helm tersebut dari kepala sang istri.

Setelah itu, ia perlahan menurunkan sapu tangan yang sejak tadi membekap mulut Diaz.

Melihat wajah polos Diaz yang tampak linglung dan ketakutan di bawah kepungan tatapan ratusan orang, Abah semakin terkejut.

"Ganda... kamu menculik seorang wanita?!" tanya Abah dengan nada menginterogasi, mengira putranya telah melakukan tindak kriminal karena stres.

"Bukan menculik, Abah," jawab Ganda dengan nada tenang namun mantap.

Ia menatap lurus mata sang ayah. "Dia istriku yang sah. Diaz Aruna Saraswati."

Mendengar kata 'istri', Diaz tersentak. Sadar dirinya sedang berhadapan dengan sosok ulama besar yang sangat dihormati, Diaz menekan semua egonya.

Dengan sopan dan gemetar, ia melangkah maju, membungkuk dalam, lalu mencium punggung tangan Abah dengan takzim—menunjukkan sisa-sisa adab yang diajarkan almarhum ayahnya.

Abah menatap Diaz dengan pandangan yang sulit diartikan.

Ada keterkejutan, namun juga ada ketenangan yang terpancar dari aura gadis itu.

Menyadari situasi di halaman pondok semakin tidak kondusif karena menjadi tontonan, Abah mengembuskan napas panjang.

"Ayo, kalian masuk ke dalam. Kita bicarakan ini di dalam sambil menunggu Umi dan rombongan mobil datang," perintah Abah tegas, lalu berbalik memimpin jalan masuk ke ndalem.

Namun, Diaz justru diam mematung di samping motor.

Kakinya terasa seperti dipaku ke paving halaman. Masuk ke dalam rumah itu artinya ia harus menghadapi sidang keluarga yang jauh lebih mengerikan.

Melihat Diaz yang tidak bergerak satu senti pun, Ganda berbalik.

Ia mendekatkan wajahnya, lalu berbisik dengan nada mengancam yang sensual, "Ayo masuk... atau aku gendong kamu di depan semua santri ini?"

Mata Diaz langsung melotot sempurna. Mendengar ancaman gila itu, ia tidak berpikir dua kali.

Dengan langkah seribu, Diaz langsung berjalan cepat mendahului Ganda, masuk ke dalam rumah, dan langsung duduk dengan kaku di salah satu kursi kayu ukiran yang ada di ruang tamu utama.

Jantungnya berdegup kencang, menanti badai selanjutnya yang siap menerjang.

1
merry yuliana
hmmmmm jangan bolak balik kak
sri hastuti
akhirnya ketemu, ayo diaz, pelan2 hilangkan trauma mu, ganda mencintaimu sungguh2 itu, ayo bangkit lg diaz, raih kebahagiaanmu kembali, umi yg kyk iblis sdh pergi, dan madumu jg sdh dicerai 🙏
sri hastuti
waduuh diaz, kenapa km buru2 keluar rumah sakit, ayo km hrs kuat hadapu semua, ganda sdh mencintaimu , 😭😭 ayo thor pertemukan kembali dng ganda ,kasihan diaz ,msh trauma dng umi yg kyk iblis kelakuannya 😡😡

😡😡😡😡😡😡😡😡
Elia Rosa
syukurin buat kalian berdua.. ibu mertua Dan menantu durjana🤭
sri hastuti
lanjuuttt thor sdh gak sabar topeng istri pemilik pondok yg spt iblis dibuka dan istri durhaka yg dengki di libas 😡😡😡
Elia Rosa
tambah seru NIH.. di tunggu kelanjutannya Thor 💪👍
sri hastuti
istri pemilik pondok kyk iblis ya, kelakuan nya , hiiihhh ngeri juga ,penuh tipu muslihat dan kejam , 😡😡😡😡
sri hastuti
ayo ganda kmnhrs tegas ,meski itu umi mu yg kelakuannya spt iblis, kyai jg hrs tegakkan keadilan ,meski itu istrimu ,yg sdh kyk iblis
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
sri hastuti
kelakuan umi kok kyk iblis 😡😡😡
Ana Yasrotin
Serius tanya..memang dipondok ada kelakuan se orang yg disebut umi dan dihormati py watak yg tdk manusiawi begitu 🤔
Ana Yasrotin
Terus terang thor dr awal novel saya br koment ini..saya bukan tipe orang yg suka dg novel genre poligami..tp sejauh ini saya ikuti alur cerita krn aktor pria tegas..semoga akhirx Ganda bisa memilih salah satu antara Diaz dan Laura krn mmg si Laura tdk pantas bersanding dg Ganda..mdhn diakhir cerita bs memuaskan pembaca 🙏
sri hastuti
bagus diaz, buka semua kedok kemunafikan mereka, terutama umi yg jd orang tua gak tau diri, cm ego saja yg dibesar besarkan, dan umi yg gak jd contoh baik 👍👍😡😡😡
sri hastuti
ahh lama2 pengen tak huhhh ,umi sm menantu laknat semua , thor , bikin jengkel aja, orang kok gak punya belas kasih, apalagi katanya umi , tp kelakuan e kyk 😡😡😡🤭
merry yuliana
💪💪💪😍👍🙏
Asra
Cerita kamu bagus, Kak. Bintang 5 nih, kayak kurang hhuhu, kamu berhasil bikin orang (terutama aku) bisa mendalami ceritamu, dibikin kesel, dibikin sedih, dan seterusnya^^✨

Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
sri hastuti
thor, aku kok jd jengkel dan mual dng kelakuan umi , gitu kok istri pemilik pondok to ??, trus anak didik e spt apa itu, ???? arogan ,apalagi laura itu. wanita yg bikin jengkel 😡😡😡
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
merry yuliana
ganda pdhl peluk obat termanjur buat diaz...ga salah sebuah pelukan utk hati yang patah...semangat crazy upnya kak...please crazy up banyakkan dikit boleh ya😍💪💪💪🙏👍
sri hastuti
bagus Abah,hrs tegas , umi nya juga ternyata spt itu, bikin 😡😡
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
sri hastuti
blm tentu ganda bisa adil dng 2 istri, kasihan biar lepas dari Ganda, kecuali Ganda bisa melindungi dng baik, kl tdk pendreritaannya semakin menjadi nanti 🙏🙏
sri hastuti
kasihan diaz thor, blm nanti menghadapi nyai nya ganda dan laura yg sdh punya rencana jahat, biarkan diaz bahagia thor, 🙏🙏🙏
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!