Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Ini fitnah! Pelayan sialan itu pasti disewa oleh Herman untuk menjebakku!"
Tuan Surya berteriak dengan suara parau yang bergetar hebat. Ia melangkah mundur dengan panik menuju pintu keluar, matanya bergerak liar mencari celah untuk melarikan diri.
Namun, seluruh pintu keluar ballroom telah diblokir rapat oleh barisan pengawal berjas hitam milik keluarga Herman.
Lebih buruk lagi, para elit ibukota yang tadinya bersikap ramah pada Tuan Surya kini menatap pria itu dengan pandangan membunuh yang sangat pekat. Tuan Surya baru saja mencoba meracuni mereka semua para jenderal, menteri, dan CEO perusahaan raksasa hanya demi ambisi liciknya menjatuhkan keluarga Herman.
"Tahan pria gila itu!" raung salah seorang pejabat tinggi yang wajahnya masih pucat pasi. "Hubungi kepala kepolisian pusat sekarang juga! Aku ingin dia membusuk di penjara dengan pengamanan maksimal!"
Pak Herman berjalan maju dengan langkah mantap dan penuh wibawa.
"Tidak perlu repot-repot menelepon, Jenderal," ucap Pak Herman tenang. "Saya sudah menyiagakan pasukan kepolisian khusus di luar ballroom ini sejak awal pesta."
Atas isyarat dari Pak Herman, pintu utama dibuka. Sepasukan polisi bersenjata lengkap masuk dan langsung meringkus Tuan Surya beserta kaki tangannya dengan kasar. Borgol besi dingin mengunci pergelangan tangan pria yang tadinya merasa paling berkuasa di ruangan itu.
"Kalian akan menyesal! Lepaskan aku!" Tuan Surya terus meronta dan memaki saat ia diseret keluar dari ballroom, meninggalkan putranya, Rico, yang sudah jatuh terduduk di lantai dengan celana basah karena mengompol ketakutan.
Setelah kekacauan mereda dan para penyusup diamankan, suasana ballroom perlahan kembali kondusif. Para pelayan hotel yang terpercaya segera membersihkan pecahan kaca dan mensterilkan area tersebut.
Kini, seluruh pandangan mata tertuju pada satu orang.
Bima berdiri dengan tenang di tengah ruangan, menyarungkan kembali sisa jarum peraknya ke dalam saku jas. Sikapnya begitu santai seolah ia baru saja membuang sampah, bukan menyelamatkan nyawa puluhan orang paling berpengaruh di negara ini.
Satu per satu, para pengusaha dan pejabat yang sebelumnya memandang Bima dengan sebelah mata mulai melangkah mendekatinya. Wajah mereka dipenuhi oleh rasa syukur yang amat dalam dan rasa bersalah yang kentara.
"T-Tuan Bima... saya mohon maaf atas kelancangan saya sebelumnya. Anda adalah dewa penyelamat keluarga kami!" ucap seorang CEO perusahaan tambang sambil membungkuk dalam-dalam.
"Tuan Bima, jika Anda berkenan, perusahaan kami bersedia menawarkan posisi direktur medis dengan gaji berapa pun yang Anda minta!"
Bima hanya menanggapi pujian dan tawaran tersebut dengan anggukan tipis dan raut wajah datar. Ia sangat tidak menyukai keramahan palsu dari orang-orang yang hanya peduli pada kekuasaan.
Di tengah kerumunan yang menyesakkan itu, sebuah tangan lembut menyelusup dan menggenggam erat jemari Bima.
"Maaf, Tuan-tuan, tapi pahlawan ini sudah disewa secara eksklusif oleh keluarga Herman," ucap Clara dengan senyum manis namun bermakna tegas.
Clara menarik Bima menjauh dari kerumunan para penjilat, membawanya ke bagian tengah lantai dansa yang sedikit lebih sepi. Pada saat yang sama, Pak Herman memberi kode kepada dirigen orkestra, dan alunan musik waltz yang lembut kembali mengalun memenuhi ballroom.
"Terima kasih, Bima. Kau menyelamatkan nyawaku, nyawa ayahku, dan kehormatan keluarga ini sekali lagi," bisik Clara sambil menatap lurus ke dalam mata hitam pekat pemuda itu.
"Ini sudah menjadi tugas saya, Clara," jawab Bima sopan.
Clara mengerucutkan bibirnya sedikit. "Kalau begitu, sebagai majikanmu malam ini, aku memberimu satu tugas tambahan."
Gadis cantik itu meletakkan tangan kanannya di bahu Bima, lalu meraih tangan kiri Bima dan menaruhnya di pinggang rampingnya sendiri. Wajah Clara merona merah hingga ke telinga.
"Kamu berjanji akan berdansa denganku malam ini, Bima."
Bima sedikit terkejut. Tubuhnya yang terbiasa kaku saat menghadapi pertarungan hidup dan mati kini terasa canggung saat bersentuhan dengan tubuh lembut gadis di hadapannya.
"Saya tidak pernah belajar menari, Clara. Saya khawatir akan menginjak kakimu," jujur Bima.
Clara tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng perak yang menenangkan hati Bima. "Tidak apa-apa. Ikuti saja langkahku."
Perlahan, di bawah tatapan kagum dari ratusan tamu undangan, Bima dan Clara mulai berdansa. Meskipun kaku pada awalnya, intuisi bela diri dan kelenturan tubuh Bima yang luar biasa membuatnya dengan cepat menyesuaikan diri dengan ritme musik. Keduanya berputar anggun di lantai dansa, terlihat seperti sepasang raja dan ratu dari dunia yang tidak tersentuh oleh manusia biasa.
Melihat putrinya tersenyum begitu bahagia, Pak Herman melangkah menaiki panggung utama. Ia mengambil mikrofon, membuat seluruh pasang mata dan telinga kembali tertuju padanya.
"Hadirin sekalian, saya memohon perhatian Anda sebentar," suara bariton Pak Herman bergema hangat ke seluruh ruangan. Bima dan Clara menghentikan tarian mereka, namun Clara enggan melepaskan pelukannya pada lengan Bima.
"Malam ini, kita telah melihat siapa musuh yang sesungguhnya bersembunyi dalam selimut, dan siapa pahlawan sejati yang berdiri tanpa pamrih," lanjut Pak Herman sambil menatap Bima dengan penuh kebanggaan.
"Bima bukan sekadar tabib berbakat atau pengawal yang menyelamatkan nyawa putri saya. Dia adalah pemuda dengan integritas dan kekuatan yang sangat langka di dunia modern ini."
Pak Herman mengambil napas panjang, lalu menyunggingkan senyum terlebarnya malam itu.
"Oleh karena itu, di hadapan Anda semua sebagai saksi, saya ingin mengumumkan secara resmi... bahwa Bima bukan lagi sekadar tamu di rumah kami. Malam ini, saya meresmikan perjodohan antara putri tunggal saya, Clara Herman, dengan pemuda luar biasa ini!"
Deg.
Seluruh ballroom seketika meledak dalam sorak-sorai dan tepuk tangan yang luar biasa riuh. Tidak ada satu pun yang berani melayangkan protes atau hinaan kali ini. Mereka semua tahu, pemuda bernama Bima ini bagaikan naga yang sedang tertidur; dan keluarga Herman baru saja mengamankan aset paling berharga di seluruh negeri.
Di tengah lantai dansa, Bima melebarkan matanya. Ia menoleh ke arah Clara, berniat meminta penjelasan karena pengumuman ini sama sekali tidak ada dalam skenario pengamanan mereka.
Namun, saat ia menatap Clara, gadis itu justru menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajah Clara merah padam seperti kepiting rebus. Dengan tangan bergetar, Clara semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Bima dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pemuda itu.
"Tolong... jangan tolak pengumuman Papa di depan umum, Bima," bisik Clara dengan suara yang sangat pelan dan penuh harap. "Aku... aku sungguh tidak keberatan jika itu dirimu."
Mendengar bisikan tulus dan malu-malu dari bidadari di pelukannya, dinding es di hati Bima akhirnya mencair sepenuhnya. Ia tersenyum, sebuah senyuman tulus yang sangat langka, lalu membalas pelukan Clara dan membelai rambut gadis itu dengan lembut di hadapan seluruh dunia.