Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 9
Pagi hari di kawasan kos-kosan Depok biasanya diawali dengan suara kokok ayam, deru mesin motor mahasiswa yang bergegas kuliah pagi, atau teriakan abang tukang bubur.
Namun, pagi ini berbeda.
Aroma menyengat perpaduan antara jengkol mentah dan petai busuk sisa semalam mengambang di udara, menciptakan zona radiasi bau radius lima puluh meter di sekitar gedung kos milik Satria.
Di halaman depan, ribuan ember plastik warna merah jambu tersusun rapi membentuk piramida raksasa, dengan karung-karung kerupuk jengkol mentah yang sengaja ditumpuk asimetris di puncaknya.
Nisa, dengan handuk kecil melingkar di leher dan jepit rambut wortel yang masih setia bertengger, sedang memegang secangkir kopi instan sambil mengarahkan beberapa warga untuk mengambil ember gratis.
Satria sendiri baru saja turun dengan kaos kutang dan sarung kotak-kotak, berniat menikmati udara pagi sebelum sistem kembali menyiksanya.
Namun, ketenangannya mendadak sirna ketika sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik dengan plat nomor kedutaan asing berhenti tepat di depan gerbang.
Pintu belakang terbuka, dan turunlah seorang pria paruh baya berwajah kaukasia dengan jenggot putih yang dipotong sangat rapi.
Pria itu mengenakan setelan jas linen mahal, kacamata berbingkai bulat, dan syal sutra yang melingkar longgar di lehernya penampilan khas seorang kurator atau kolektor seni kelas atas dari Eropa.
Pria asing itu melangkah mendekati tumpukan ember pink dan kerupuk jengkol.
Dia tidak menutup hidungnya sama sekali. Sebaliknya, dia justru memejamkan mata, menghirup aroma jengkol dan petai busuk itu dalam-dalam, seolah-olah itu adalah wewangian terapi aromatik dari surga.
"Ooh... Magnifique! C'est absolument incroyable!"
seru pria itu dengan aksen Prancis yang sangat kental, matanya berkaca-kaca menatap piramida ember merah jambu tersebut.
Satria dan Nisa saling berpandangan.
"Bos, itu bule kesurupan jin jengkol atau gimana?"
bisik Nisa, perlahan mundur ke belakang Satria.
Pria asing itu mendadak berbalik, menatap Satria yang memakai kaos kutang dengan pandangan penuh rasa hormat yang mendalam.
Dia langsung mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan, nama saya Jean-Pierre."
"Saya adalah Direktur Kontemporer dari Louvre Avant-Garde Foundation Paris."
"Apakah Anda... sang maestro yang menciptakan mahakarya instalasi ini?"
Satria mengernyitkan dahi, menjabat tangan Jean-Pierre dengan ragu.
"Maestro? Bukan, Om."
"Ini cuma kerupuk jengkol sama ember pink sisa... eh, maksudnya buat dibagikan ke warga."
Jean-Pierre langsung menggelengkan kepalanya dengan heboh, jarinya bergoyang di depan wajah Satria.
"Non, non, non! Jangan merendah, Monsieur! Ini adalah seni instalasi tingkat tinggi!"
"Lihatlah kontras sosiologis ini! Ember merah jambu massal yang melambangkan konsumerisme modern masyarakat urban, dipadukan dengan bau pembusukan organik dari jengkol dan petai yang merepresentasikan kritik tajam terhadap degradasi moral para borjuis! Ini...
"ini adalah dekonstruksi kapitalisme yang sangat berani!"
Satria menelan ludah.
Keringat dingin mulai menetes di punggungnya.
Dekonstruksi kapitalisme apanya? Ini kan cuma proyek foya-foya semalam biar saldo gua gak hangus! batin Satria panik.
"Monsieur Maestro, saya tidak bisa membiarkan karya se-genius ini menguap begitu saja di pinggiran jalan kota ini,"
ucap Jean-Pierre dengan mata berapi-api. Dia langsung mengeluarkan sebuah buku cek dari balik saku jas linennya, lalu menuliskan angka dengan pena emasnya.
"Saya beli hak kepemilikan konsep instalasi ini sekarang juga."
"Saya akan pamerkan ini di galeri Paris bulan depan dengan judul 'The Stench of Capitalism'. Ini penawaran saya!"
Jean-Pierre merobek selembar cek dan menyodorkannya tepat di depan wajah Satria.
Satria melihat angka yang tertera di sana: $100,000 USD (Seratus Ribu Dolar Amerika).
Jika dikonversikan ke rupiah, nilainya mendekati satu setengah miliar rupiah!
Tepat pada detik itu, ponsel di saku sarung Satria bergetar dengan gila-gilaan, mengeluarkan suara alarm darurat berwarna merah darah di dalam kepalanya.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN - PERINGATAN DARURAT!]
Deteksi Anomali: Target terancam menerima keuntungan finansial sebesar Rp 1.500.000.000,00 dari hasil 'pembuangan sial' semalam.
Logika Sistem: Jika Anda menerima uang ini, sistem menganggap Anda telah melakukan investasi seni yang sukses, yang berarti misi foya-foya kemarin gagal total!
Sanksi Instan: Jika cek ini dicairkan atau diterima, saldo Anda akan langsung dipotong habis menjadi Rp 27 perak dan sistem akan terkunci selamanya!
Sisa Waktu Menolak Keuntungan: 00:03:00
Satria hampir saja terkena serangan jantung di tempat.
Dia menatap cek itu seolah-olah itu adalah bom waktu yang siap meledakkan seluruh masa depan kayanya.
"Gak! Gak boleh! Gua gak mau duit ini!"
teriak Satria histeris, membuat Jean-Pierre dan Nisa melonjak kaget.
Jean-Pierre tertegun, lalu matanya makin berbinar penuh kekaguman.
"Ah! Luar biasa! Anda menolak uang? Anda benar-benar seniman idealis sejati yang membenci komersialisasi seni!"
"Anda ingin karya ini tetap menjadi milik rakyat biasa, bukan?"
"Bukan begitu, Om! Pokoknya saya gak mau uangnya!"
Satria memutar otaknya yang mulai berasap karena panik. Waktu sistemnya tinggal dua menit.
Dia harus membuat alasan yang paling merusak nilai ekonomi dari barang-barang ini agar sistem mendeteksinya sebagai kerugian murni.
Satria langsung merebut cangkir kopi instan dari tangan Nisa.
Tanpa aba-aba, dia menyiramkan kopi hitam manis itu ke arah tumpukan karung kerupuk jengkol dan ember pink, lalu menendang salah satu ember hingga susunan piramida itu runtuh berantakan ke atas tanah yang becek.
Tidak berhenti di situ, Satria mengambil segenggam petai busuk dan mengucek-nguceknya ke atas kertas cek yang dipegang Jean-Pierre hingga kertas mahal itu basah dan berbau menyengat.
"Lihat ini! Ini bukan seni! Ini sampah! Saya merusaknya! Karya ini sudah hancur dan tidak punya nilai jual lagi! Hahaha!"
teriak Satria dengan tawa yang dipaksakan, demi memuaskan indikator penilaian sistem.
Nisa menepuk dahinya sendiri.
"Bos saya beneran sudah putus syaraf warasnya," gumamnya pasrah.
Jean-Pierre memandangi aksi destruktif Satria dengan mulut ternganga.
Tubuhnya gemetar hebat.
Air mata murni tiba-tiba meleleh dari sudut matanya, membasahi pipinya yang berkerut.
"Oh mon Dieu..." bisik Jean-Pierre, langsung berlutut di atas tanah becek depan kosan.
"Ini... ini adalah aksi performance art yang paling murni yang pernah saya saksikan seumur hidup saya!"
"Sang Maestro menghancurkan karyanya sendiri di depan kolektor untuk membuktikan bahwa seni tidak bisa dibeli dengan lembaran kertas dolar! Kehancuran adalah keindahan mutlak!"
Pria Prancis itu buru-buru berdiri, mengambil ponselnya dengan tangan gemetar, dan mengambil foto Satria yang sedang berdiri memakai kaos kutang di samping tumpukan ember pink yang hancur.
"Monsieur, tindakan anarkis Anda terhadap seni ini telah menaikkan level filosofis Anda!"
"Saya tidak akan memaksa Anda menerima uang ini."
"Tapi saya akan menulis ulasan setebal dua puluh halaman di jurnal seni internasional tentang Anda: The Anarchist Maestro of Depok!"
Jean-Pierre membungkuk hormat sembilan puluh derajat kepada Satria, lalu berlari masuk ke dalam mobil sedan kedutaannya dengan wajah penuh kepuasan spiritual, seolah-olah baru saja bertemu dengan reinkarnasi Vincent van Gogh.
Mobil mewah itu melesat pergi, meninggalkan Satria yang masih berdiri mematung memegang cangkir kopi kosong.
Ting!
Layar ponsel Satria di balik sarungnya berkedip hijau terang, membawa gelombang kehangatan yang melegakan ke seluruh dadanya.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Penolakan Keuntungan: BERHASIL DI-VERIFIKASI.
Evaluasi: Berhasil menghindari keuntungan satu setengah miliar rupiah dengan cara bertingkah seperti orang kesurupan dan merusak properti sendiri di depan kurator internasional. Kerugian estetika dan finansial tetap terjaga di angka 100% (Sangat Brilian).
Bonus Penyelamatan Saldo: Rp 50.000.000,00 (Lima Puluh Juta Rupiah) ditambahkan sebagai apresiasi atas ketahanan mental Anda dari godaan dolar.
Saldo Efektif Anda Saat Ini: Rp 2.514.550.270,00.
Catatan: Segera mandi dan ganti pakaian Anda. Misi berikutnya akan membawa Anda ke dalam pusaran bisnis properti kelas kakap yang menuntut Anda untuk membuang uang dalam skala yang jauh lebih masif.
Satria mengembuskan napas panjang, melirik Nisa yang masih menatapnya dengan pandangan penuh selidik.
"Bos," panggil Nisa pelan.
"Lain kali kalau mau bikin aksi seni kontemporer, tolong kopi saya jangan ditumbalkan ya."
"Itu kopi saset terakhir saya."
Satria tertawa lepas, merangkul pundak asistennya yang setia itu.
"Tenang, Nisa. Hari ini kita beli pabrik kopinya sekalian kalau perlu!"
ucap Satria penuh percaya diri, melangkah kembali ke dalam kosan untuk bersiap menghadapi kegilaan finansial berikutnya yang sudah menanti di luar sana.