Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Pertama Dengan Ayah
Malam mulai menyelimuti Manhattan.
Gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya lampu kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Ella menarik napas panjang sebelum keluar dari gedung perusahaan.
Sopir pribadi keluarga Taylor sudah menunggu.
"Selamat malam, Nona Emma."
Ella tersenyum canggung.
"Malam."
Ia masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, ia terus mengingat semua yang pernah diceritakan Emma.
Richard Taylor.
Ayah biologis Emma dan dirinya.
Seorang pengusaha sukses.
Pria yang dingin, disiplin, tetapi diam-diam sangat menyayangi putrinya.
Setelah bercerai dari ibu mereka dua puluh tahun lalu, Richard tidak pernah menikah lagi hingga beberapa tahun terakhir.
Kini ia telah memiliki istri baru, tetapi malam ini ia sengaja mengajak putrinya makan malam berdua di luar rumah.
Emma pernah berkata,
"Ayah bukan tipe yang suka mengobrol. Jadi jangan panik kalau suasananya canggung."
Namun justru itulah yang membuat Ella semakin gugup.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah.
Richard sudah lebih dulu tiba.
Pria berusia hampir enam puluh tahun itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap.
Rambutnya mulai dipenuhi uban.
Namun wibawanya masih sangat kuat.
Begitu melihat putrinya turun dari mobil...
Tatapannya langsung tertuju pada rambut cokelat panjang bergelombang yang kini kembali menjadi ciri khas Ella.
Tentu, bagi Richard yang dilihatnya adalah Emma yang tidak lagi mengecat rambutnya pirang? Tidak. Emma memang masih berambut pirang.
Ia mengerutkan kening sesaat, lalu menyadari yang berubah bukan rambut, melainkan ekspresi putrinya.
"Emma."
Ella menghampiri.
"Maaf membuat Ayah menunggu."
Richard terdiam beberapa detik.
Kalimat itu...
Tidak biasa.
Emma biasanya hanya berkata, "Ayo masuk."
Tanpa meminta maaf.
"Kita masuk."
"Baik."
Mereka duduk berhadapan.
Pelayan menyerahkan buku menu.
Richard mempersilakan lebih dulu.
"Pesanlah."
Ella membaca menu dengan gugup.
"Ayah saja dulu."
Richard mengangkat sebelah alis.
"Kau biasanya memesan paling cepat."
Ella tersenyum kecil.
"Sedang bingung."
Richard tidak berkomentar.
Ia memesan makan malam sederhana.
Ella memilih menu yang sama agar tidak salah.
Keheningan pun kembali memenuhi meja.
Ella menggenggam gelas air putih.
Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
Richard yang akhirnya membuka suara.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Baik."
"Roman masih sering berdebat denganmu?"
Ella refleks tersenyum.
"Belakangan... tidak terlalu."
Richard mengernyit.
"Itu mengejutkan."
"Kenapa?"
"Biasanya setiap kali bertemu denganku, keluhan pertamamu selalu tentang Roman."
Ella langsung menyadari kesalahannya.
Ia menunduk, menyembunyikan kegugupannya.
"Mungkin... kami mulai saling memahami."
Richard tidak langsung menjawab.
Ia justru memperhatikan wajah putrinya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Sangat berbeda.
Makanan mulai dihidangkan.
Richard memotong steaknya dengan tenang.
"Liburanmu menyenangkan?"
"Ya."
"Kau terlihat jauh lebih tenang."
Ella tersenyum tipis.
"Mungkin karena banyak berpikir."
Richard mengangguk pelan.
"Itu bagus."
"Kau tahu..."
Ia meletakkan pisau dan garpunya.
"Sudah lama Ayah berharap kau berhenti membawa kemarahan ke mana-mana."
Ella terdiam.
Richard melanjutkan,
"Setidaknya sekarang kau tidak lagi terlihat seperti ingin bertengkar dengan semua orang."
Kalimat itu membuat Ella sedikit tersenyum.
Ia mulai mengerti...
Emma benar-benar memiliki kehidupan yang melelahkan.
Richard memandang putrinya beberapa detik.
"Lusa."
Ella mengangkat kepala.
"Hm?"
"Jangan lupa jadwalmu."
Ella mencoba mengingat.
Richard melanjutkan,
"Pertemuan dengan Dr. Miller."
Ella langsung membeku.
Dr. Miller.
Psikolog yang selama ini menangani masalah pengendalian emosi Emma.
"Masih ingat?"
Ella mengangguk pelan.
"Ingat."
"Jangan membatalkannya lagi."
Richard berkata datar, tetapi terdengar tegas.
"Kau sudah beberapa kali mencari alasan."
Ella mengangguk sekali lagi.
"Baik, Ayah."
Richard kembali terdiam.
Jawaban itu kembali terasa asing.
Tidak ada bantahan.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada wajah kesal.
Emma yang dikenalnya pasti sudah mendecakkan lidah dan berkata bahwa terapi itu membuang waktu.
Namun malam ini...
Putrinya justru menerima begitu saja.
Richard menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Emma."
"Ya?"
"Ada sesuatu yang ingin kau ceritakan?"
Ella menggenggam garpunya sedikit lebih erat.
Jantungnya berdegup kencang.
"Kenapa Ayah bertanya begitu?"
"Karena kau berubah."
Ella berusaha tetap tenang.
"Berubah bagaimana?"
Richard menatapnya lekat-lekat.
"Kau lebih sabar."
"Lebih sopan."
"Lebih banyak mendengarkan daripada berbicara."
Ia berhenti sejenak.
"Lima hari yang lalu, itu bukan dirimu."
Ella tersenyum kecil untuk menutupi kegugupannya.
"Mungkin... liburan memang mengubahku."
Richard tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada wajah putrinya.
Insting seorang ayah mengatakan...
Ada sesuatu yang berubah pada Emma.
Bukan sekadar suasana hati.
Melainkan cara ia memandang dunia.
Namun melihat senyum kecil putrinya malam itu...
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Richard justru merasa lebih tenang.
Seandainya perubahan itu membuat Emma menjadi pribadi yang lebih damai...
Mungkin itu bukan sesuatu yang perlu ia khawatirkan.
Setidaknya...
Begitulah yang ia pikirkan malam itu.
Makan malam berakhir hampir dua jam kemudian.
Richard memanggil pelayan untuk membayar tagihan.
Seperti biasanya.
Cepat.
Efisien.
Tanpa banyak bicara.
Sementara Ella hanya duduk diam, diam-diam memperhatikan pria yang berada di hadapannya.
Pria itu...
Adalah ayah kandung Emma.
Dan...
Juga ayah kandungnya.
Selama dua puluh tahun...
Ia tidak pernah sekalipun melihat wajah ayahnya secara langsung.
Tidak pernah mendengar suaranya.
Tidak pernah duduk semeja dengannya.
Namun malam ini...
Takdir justru mempertemukan mereka.
Meski...
Sebagai orang asing.
"Sudah selesai?"
Suara Richard membuyarkan lamunannya.
Ella mengangguk pelan.
"Iya."
"Ayo."
Richard berdiri lebih dulu.
Ella mengikuti dari belakang.
Mereka keluar dari restoran.
Udara malam Manhattan masih dipenuhi lalu lalang kendaraan.
Sopir keluarga Taylor telah menunggu di depan pintu masuk.
Richard berhenti.
"Aku harus kembali ke rumah nanti ibu tirimu akan cemas jika terlambat."
Ella mengangguk.
"Baik."
Hening.
Richard terbiasa mengakhiri pertemuan seperti itu.
Singkat.
Tanpa basa-basi.
Namun...
Malam ini Ella justru tidak ingin segera berpisah.
Ia memandang Richard beberapa detik.
Ada sesuatu yang terus mengganjal di dalam dadanya.
Sejak kecil...
Ia selalu membayangkan seperti apa rasanya bertemu ayah kandungnya.
Dan sekarang...
Kesempatan itu benar-benar ada di depannya.
Walaupun...
Pria itu mengira dirinya adalah Emma.
Ella mengepalkan tangannya pelan.
"Ayah."
Richard menoleh.
"Hm?"
Ella tampak ragu.
Bahkan bibirnya beberapa kali terbuka lalu tertutup kembali.
Richard memperhatikannya dengan tenang.
"Ada yang ingin kau katakan?"
Ella menarik napas dalam.
"Lama tidak bertemu..."
Richard mengangguk.
"Ya."
"Lalu..."
Suara Ella semakin pelan.
"...bolehkah aku memeluk Ayah?"
Keheningan.
Wajah Richard benar-benar membeku.
Ia bahkan mengira dirinya salah dengar.
"Apa?"
Ella tersenyum canggung.
"Kalau... Ayah tidak keberatan."
Richard masih belum bergerak.
Di kepalanya terlintas begitu banyak kenangan.
Emma kecil.
Yang selalu menolak digendong.
Yang akan melepaskan tangan siapa pun yang menggenggamnya terlalu lama.
Yang bahkan tidak pernah memeluknya setelah lulus sekolah.
Setelah ibunya pergi...
Emma semakin menutup diri.
Sentuhan fisik adalah hal yang paling tidak disukai putrinya.
Dan sekarang...
Putrinya sendiri yang meminta dipeluk.
Richard menatap wajah Ella cukup lama.
"Sejak kapan..."
gumamnya pelan.
"...kau suka dipeluk?"
Ella baru menyadari kesalahannya.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Namun sebelum Richard semakin curiga...
Ella tersenyum kecil.
"Aku hanya..."
Ia menundukkan kepala.
"...merasa sudah terlalu lama tidak mengucapkan terima kasih."
Richard terdiam.
"Terima kasih?"
"Karena..."
Ella menahan haru yang mulai memenuhi dadanya.
"...Ayah sudah membesarkan Emma."
Kalimat itu terdengar aneh.
Richard mengartikannya sebagai ungkapan syukur seorang anak kepada ayahnya.
Padahal...
Di dalam hati Ella...
Ia benar-benar sedang berterima kasih.
Karena pria ini telah menjaga saudari kembarnya selama dua puluh tahun.
Richard mengembuskan napas pelan.
Ekspresinya tetap datar.
Namun sorot matanya perlahan melembut.
Dengan sedikit canggung...
Ia mengangkat kedua tangannya.
"Kalau itu yang kau inginkan."
Ella tidak menunggu lebih lama.
Ia melangkah maju.
Lalu memeluk Richard dengan erat.
Sangat erat.
Richard membeku.
Tangannya menggantung beberapa detik.
Ia benar-benar tidak percaya.
Ini pertama kalinya dalam hidup...
Emma memeluknya lebih dulu.
Perlahan...
Richard membalas pelukan itu.
Tepat di punggung putrinya.
Hanya satu tepukan pelan.
Namun bagi Ella...
Kehangatan sederhana itu cukup membuat matanya mulai berkaca-kaca.
Ia menggigit bibirnya agar tidak menangis.
"Andai saja..."
"Andai Ayah tahu..."
"Aku juga putrimu."
Beberapa detik kemudian Ella melepaskan pelukan itu.
Ia buru-buru mengusap sudut matanya sebelum Richard sempat melihat air mata yang hampir jatuh.
Richard menatapnya cukup lama.
"Aneh."
Ella berusaha tersenyum.
"Apa?"
"Kau benar-benar berubah."
Ella tertawa kecil.
"Mungkin."
Richard mengangguk pelan.
"Kalau perubahan ini membuatmu lebih tenang..."
"...Ayah menyukainya."
Kalimat sederhana itu membuat dada Ella kembali terasa sesak.
Ia hanya mampu mengangguk.
"Terima kasih, Ayah."
Richard membuka pintu mobil untuk putrinya.
"Jangan lupa."
"Hm?"
"Lusa."
"Temui Dr. Miller."
Ella tersenyum kecil.
"Aku ingat."
"Bagus."
Mobil perlahan meninggalkan restoran.
Richard tetap berdiri di trotoar.
Menatap mobil yang semakin menjauh.
Entah mengapa...
Malam ini ia merasa sangat dekat dengan putrinya.
Lebih dekat daripada bertahun-tahun terakhir.
Ia tidak tahu...
Bahwa wanita yang baru saja memeluknya dengan penuh kerinduan itu...
Bukan Emma.
Melainkan Ella.
Putri kandungnya sendiri...
Yang telah terpisah darinya selama dua puluh tahun dan akhirnya kembali memeluk ayahnya, meski sang ayah sama sekali tidak menyadari keajaiban kecil yang baru saja terjadi di hadapannya.
mulai ngikuti sepertinya menarik