NovelToon NovelToon
Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / CEO
Popularitas:403
Nilai: 5
Nama Author: Irma Nirmala

kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.

diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru

sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

...****************...

Restoran bintang tujuh itu dipenuhi cahaya keemasan yang hangat, dengan dekorasi mewah yang memancarkan kemewahan kelas atas.

Setiap sudutnya terasa eksklusif—tempat di mana hanya orang-orang berpengaruh yang biasa datang.

Di salah satu ruangan VVIP—

Evelyn sudah duduk dengan tenang.

Ia mengenakan gaun formal elegan berwarna gelap, rambutnya tertata rapi, auranya kembali seperti biasanya—dingin, profesional, tak tersentuh.

Di sampingnya, Naomi berdiri sambil mengecek jadwal di tablet.

“Pertemuan dijadwalkan pukul 19.00 tepat, Nona,” ujar Naomi pelan.

Evelyn mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

“Pastikan semua dokumen sudah siap.”

“Sudah saya siapkan.”

Hening.

Namun tidak lama—

Pintu ruangan terbuka.

Langkah kaki terdengar.

“Selamat malam.”

Suara pria itu tenang, dalam, dan berwibawa.

Evelyn yang masih menatap ponselnya sedikit mengernyit.

Suara itu.

Ia perlahan mengangkat kepala.

Dan,Waktu seakan berhenti.

Di ambang pintu, berdiri Arseno Andreas dengan jas hitam rapi, didampingi asistennya, Kosta.

Tatapan mereka bertemu.

Sunyi sejenak..

Satu detik...

Dua detik...

Lalu..

“Kamu…??” ucap

keduanya hampir bersamaan.

Naomi dan Kosta saling berpandangan, bingung.

“...Kalian saling kenal?” tanya Naomi pelan.

Evelyn masih menatap Arseno dengan ekspresi kaku.

Ingatan itu langsung muncul

Parkiran,Tendangan danTeriakan.

“Dasar pria mesum!”

Wajah Evelyn langsung berubah sedikit pucat, lalu cepat kembali dingin.

Di sisi lain, Arseno menyeringai tipis.

“Oh..” gumamnya pelan, cukup terdengar. “Jadi,wanita gila itu.”

Ia melangkah masuk perlahan.

“adalah Nona muda Hills.”

Naomi langsung menoleh ke Evelyn dengan kaget.

“Wanita gila?”

Evelyn langsung berdiri, tersenyum kaku.

“Tuan Arseno,” ucapnya formal, mencoba mengontrol situasi. “Senang bertemu dengan Anda.”

“Benarkah?” balas Arseno santai, alisnya terangkat sedikit. “Sepertinya kemarin Anda tidak terlalu senang bertemu saya.”

Naomi dan Kosta langsung membeku.

“...Kemarin?” ulang Kosta.

Evelyn menghela napas pelan, rahangnya sedikit mengeras.

“Itu, kesalahpahaman.”

“Kesalahpahaman?” Arseno terkekeh pelan.

“Menendang seseorang tanpa alasan itu termasuk kesalahpahaman baru, ya.”

Evelyn menatapnya tajam.

“Anda menarik tangan saya tanpa izin.”

“Aku mencoba mengembalikan gelangmu.”

Hening.

Evelyn terdiam.

Naomi langsung menoleh cepat.

“Gelang…?”

Kosta ikut menatap tangan Arseno.

Dan benar saja. Gelang itu masih ada di tangannya.

Arseno mengangkat gelang itu sedikit, seolah pamer bukti.

“Ini,” katanya santai.

“Yang Anda tinggalkan setelah kabur seperti dikejar polisi.”

Evelyn menutup matanya sejenak.

Astaga…

Naomi berusaha menahan ekspresi.

“Nona, Anda benar-benar..”

“Diam, Naomi,” potong Evelyn pelan, masih berusaha menjaga wibawa.

Arseno berjalan mendekat, lalu meletakkan gelang itu di atas meja di depan Evelyn.

“Lain kali,” katanya ringan, “pastikan Anda tahu situasi sebelum menyerang orang.”

Evelyn membuka mata,

menatap gelang itu, lalu ke Arseno.

“Dan lain kali,” balasnya dingin, “jangan pegang wanita sembarangan.”

“Kalau tidak saya pegang, Anda sudah kabur tanpa barang Anda sendiri.”

“Itu bukan alasan.”

“Dan menendang adalah solusi?” Arseno menyeringai.

Hening lagi.

Suasana semakin Tegang.

Naomi dan Kosta berdiri kaku, tidak tahu harus ikut bicara atau pura-pura tidak ada.

Akhirnya Kosta berdeham pelan, mencoba menyelamatkan suasana.

“Ehm… izinkan saya memperkenalkan secara resmi,” katanya profesional.

“Ini Tuan Arseno Andreas, CEO Andreas Corporation.”

Naomi langsung mengikuti.

“Dan ini Nona Evelyn Hills, CEO Hills Corporation.”

Keduanya saling menatap lagi.

Namun kali ini—

Bukan sebagai orang asing.

Bukan juga sebagai “korban” dan “pelaku.”

Tapi sebagai—

Dua orang dengan ego besar… yang baru saja mempermalukan diri masing-masing.

Evelyn menarik napas pelan, lalu duduk kembali.

“Kita fokus ke bisnis,”

ucapnya tegas.

Arseno tersenyum tipis, lalu ikut duduk di hadapannya.

“Tentu,” jawabnya santai.

“Aku juga tidak datang untuk balas dendam.”

“Bagus.”

“Tapi..” Arseno sedikit condong ke depan, suaranya merendah, “aku tidak menjamin tidak akan mengungkitnya lagi.”

Evelyn menatapnya tajam.

“Silakan. Saya juga tidak keberatan mengulanginya.”

Arseno langsung terdiam sesaat.

Lalu—

Tertawa pelan.

Menarik.

Sangat menarik.

Kosta berbisik pelan ke Naomi,

“Ini, pertemuan bisnis atau?”

Naomi menjawab lirih,

“Saya juga tidak yakin.”

Di tengah meja mewah itu—

Bukan hanya kontrak kerja sama yang sedang diuji.

Tapi juga—

Kesabaran.

Ego.

Dan mungkin

Awal dari hubungan yang jauh lebih rumit dari sekadar bisnis.

...----------------...

  Ruangan VVIP itu kembali tenang.

  Di atas meja panjang, berkas-berkas kerja sama sudah terbuka rapi. Gelas wine dan air mineral tersusun elegan, sementara lampu gantung memantulkan cahaya hangat di antara empat orang yang duduk saling berhadapan.

  Namun, Meski suasana terlihat profesional, udara di antara dua orang itu terasa panas.

  Evelyn membuka berkas di depannya, wajahnya kembali dingin seperti biasa.

  “Kita mulai saja. Saya tidak suka membuang waktu.”

  Arseno menyandarkan tubuhnya dengan santai.

  “Kebetulan, aku juga tidak suka membuang energi… terutama untuk hal-hal yang tidak perlu.”

  Evelyn melirik sekilas.

  “Semoga kali ini Anda bisa membedakan mana yang perlu dan tidak.”

  Kosta langsung menahan napas.

  Naomi pura-pura fokus pada tablet.

  Ini baru pembukaan…

  Naomi mulai menjelaskan,

  “Kerja sama ini berfokus pada penggabungan aset investasi di sektor teknologi dan ekspansi pasar internasional.”

  Kosta menambahkan,

  “Andreas Corporation akan menyediakan jaringan distribusi global dan akses pasar Eropa.”

  Evelyn mengangguk pelan.

  “Itu yang membuat proposal ini menarik.”

  Arseno menatapnya.

  “‘Menarik’ saja?”

  Evelyn mengangkat alis tipis.

  “Untuk sesuatu yang belum terbukti, kata ‘menarik’ sudah cukup tinggi.”

  Arseno tersenyum tipis.

  “Biasanya orang langsung menyebutnya peluang besar.”

  “Biasanya,” jawab Evelyn tenang, “orang juga terlalu cepat percaya.”

  Kosta menunduk, hampir tersedak napasnya sendiri.

  Arseno mengetuk meja pelan.

  “Hati-hati, Nona Hills. Terlalu banyak kecurigaan bisa membuat Anda melewatkan kesempatan.”

  Evelyn membalas tanpa ragu,

  “Dan terlalu sedikit kecurigaan bisa membuat Anda… ditendang tanpa sempat menjelaskan.”

  Hening.

  Naomi langsung menatap ke bawah.

  Kosta menutup mulutnya, berusaha tidak tertawa.

  Arseno terdiam sejenak…

  Lalu, tertawa pelan.

  “Poin yang bagus,” katanya santai.

  Diskusi kembali berlanjut lebih runut.

  Grafik ditampilkan. Angka dibahas. Strategi disusun dengan rapi.

  Namun adegan Saling sindir tidak berhenti.

  “Margin keuntungan kita bisa meningkat hingga 30% dalam dua tahun,” jelas Kosta.

  Evelyn menyilangkan tangan.

  “Dengan asumsi tidak ada kesalahan manajemen.”

  Arseno langsung menyahut,

  “Tenang saja. Kami tidak bekerja dalam kondisi… tidak stabil.”

  Evelyn menatapnya datar.

  “Bagus. Saya juga tidak bekerja dengan orang yang mudah kehilangan kendali.”

  “Menarik,” Arseno menyeringai. “Dari seseorang yang langsung menyerang tanpa peringatan.”

  “Refleks wanita,” jawab Evelyn singkat. “Biasanya akurat apalagi untuk kasus melacak pria cabul.”

  “Apa menurut mu wajahku terlihat seperti pria cabul?” Arseno condong sedikit ke depan.

  Evelyn menatap lurus.

  “Sayangnya… iya.”

  Kosta akhirnya menoleh ke Naomi, berbisik pelan,

  “Kenapa saya merasa ini lebih menegangkan daripada negosiasi miliaran dolar?”

  Naomi menjawab tanpa melihatnya,

  “Karena ini bukan soal uang lagi, ini harga diri.”

  Beberapa saat kemudian, suasana mulai sedikit mencair.

  Pembahasan masuk ke tahap detail kontrak.

  Evelyn membaca poin terakhir, lalu berkata,

  “Pembagian saham ini… saya ingin 55% di pihak kami.”

  Kosta langsung terlihat ragu.

  “Itu cukup tinggi, Nona.”

  Arseno mengangkat tangan, memberi isyarat agar Kosta diam.

  Ia menatap Evelyn.

  “Alasan?”

  Evelyn menjawab tanpa ragu,

  “Karena proyek ini lebih bergantung pada inovasi kami.”

  Arseno berpikir sejenak.

  “50-50,” katanya akhirnya.

  Evelyn menggeleng.

  “Tidak cukup.”

  “53,” tawar Arseno.

  Evelyn menatapnya tajam.

  “54.”

  Hening.

  Dua pasang mata saling menatap.

  Sama-sama keras kepala dan tak mau kalah.

  Akhirnya, Arseno tersenyum tipis.

  “Baik. 54.”

  Kosta langsung menoleh, kaget.

  “Pak..!?”

  “Tidak apa,” potong Arseno santai. “Kali ini… aku mengalah.”

  Evelyn menyipitkan mata.

  “Anda terlihat tidak seperti orang yang suka mengalah.”

  Arseno menatapnya dalam.

  “Hanya pada situasi tertentu.”

  “Situasi seperti apa?”

  “Situasi di mana lawan mainnya… sulit untuk diyakinkan”

  Evelyn terdiam sesaat.

  Naomi langsung pura-pura batuk kecil.

  “Baik,” kata Evelyn akhirnya, kembali ke nada profesional. “Kita sepakat.”

  Beberapa menit kemudian, Dokumen ditandatangani kedua belah pihak.

  Kontrak resmi akhirnya tercapai.

  Kerja sama besar antara dua perusahaan raksasa itu akhirnya disetujui.

  Naomi tersenyum lega.

  “Selamat, Nona. Ini kerja sama yang sangat menguntungkan.”

  Kosta mengangguk.

  “Untuk kedua pihak.”

  Evelyn menutup mapnya.

  “Kerja yang bagus.”

  Arseno berdiri, merapikan jasnya.

  “Sepertinya kita akan sering bertemu mulai sekarang.”

  Evelyn ikut berdiri.

  “Selama itu urusan bisnis, saya tidak keberatan.”

  Arseno tersenyum tipis.

  “Semoga lain kali… pertemuannya tidak berakhir dengan kekerasan.”

  Evelyn menatapnya datar.

  “Itu tergantung perilaku Anda.”

  Kosta menahan tawa.

  Naomi menutup wajah sebentar.

  Arseno mengangguk kecil.

  “Baiklah. Aku akan berhati-hati.”

  Evelyn mengambil tasnya.

  “Bagus.”

  Keduanya berdiri saling berhadapan.

  Diam sejenak.

  Aura mereka masih sama, berpendirian kuat, keras kepala, dan sama-sama tidak menerima kekalahan.

  Namun, ada sesuatu yang berubah.

  Bukan lagi sekadar permusuhan karena kesalahpahaman namun lebih dari itu.

...****************...

1
Nanda Sa
oke 👍❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!