NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Setelah mereka berjalan cukup jauh meninggalkan Sasa yang masih terduduk lemas di tepi jalan dengan raut wajah berantakan akibat tangisan, Repan akhirnya melepas pegangan tangannya pada jemari Vina.

"Vina, dengan begini urusan kita impas. Terima kasih sudah mau membantu Aku tadi," pukas Repan singkat, lalu segera melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Vina menatap punggungnya dari belakang.

"Tunggu dulu, Repan! Hari ini kamu senggang, kan? Gimana kalau kita jalan nonton bioskop bareng?" ajaknya dengan nada lembut dan penuh harap.

Repan tetap mengayunkan langkahnya.

"Maaf, Aku sedang sibuk," jawabnya datar tanpa menghentikan langkah, apalagi menoleh.

Vina mendengus pelan, wajah cantiknya seketika cemberut.

'Ih! Repan ini bener-bener susah banget didekati! Padahal gue udah bantuin dia... masa tega banget mengabaikan cewek secantik gue?!' batinnya sebal.

Meski begitu, ia belum mau menyerah. Vina mempercepat langkah kaki, menyusul di sampingnya.

"Kalau gitu... izinkan aku menemani kamu hari ini. Aku janji gak bakal mengganggu kok."

Namun respons Repan tetap lempeng.

"Maaf ya, Vina. Lain kali saja," ucapnya dingin namun tetap menjaga kesopanan.

Vina hanya bisa menatap kepergian Repan dengan bibir mengerucut jengkel.

Sulit ditebak, keras kepala, dan tak pernah memberi celah sedikit pun—itulah sosok Repan.

Sementara itu, pikiran Repan hanya berfokus pada satu hal. 'Gue harus membelanjakan lebih banyak uang... dan investasi properti adalah langkah awal yang sangat bagus.'

Dengan rencana yang sudah tersusun di benaknya, Repan mengarahkan langkah menuju salah satu kantor agen properti ternama di kota: Tim Properti Bogor Raya.

Kantor agen tersebut tampak begitu profesional dan ramai, dipenuhi jajaran agen muda bersetelan jas rapi.

Namun begitu Repan melangkah masuk, seluruh aktivitas kantor berjalan seperti biasa—tanpa ada satu pun staff yang menyambutnya.

Ia hanyalah seorang pemuda berseragam SMA yang tiba-tiba melangkah masuk. Sangat wajar jika sepasang mata para staf di sana hanya melirik sejenak, lalu mengabaikannya seolah ia cuma salah masuk ruangan.

Salah satu agen senior, Harris, berdiri di dekat area meja depan dan langsung membuka suara dengan nada vokal sinis.

"Ngapain anak SMA masuk ke sini? Mau nyari orang tua lo, ya?" ejeknya seraya tersenyum meremehkan.

Repan menatapnya tenang. "Aku butuh gedung... atau tanah yang cukup luas."

Harris terkekeh geli. "Dek, ini kantor bisnis ternama. Bukan taman bermain anak sekolah. Kita kagak punya waktu buat melayani anak-anak yang lagi iseng."

Beberapa agen lain ikut tertawa kecil, sementara sisanya berpura-pura sibuk mengurus dokumen agar tidak perlu terlibat.

Namun mendadak, atmosfer di kantor agen tersebut berubah saat seorang wanita muda melangkah keluar dari area ruang belakang.

Langkahnya mantap, pakaian setelannya sangat rapi dan elegan. Rambutnya terikat rapi, dan kacamata berbingkai tipis memperkuat aura profesionalismenya.

Dia adalah Adelia, salah satu agen properti terbaik di perusahaan tersebut.

Begitu sepasang matanya menangkap sosok Repan, ukiran senyuman ramah langsung terpatri di wajahnya.

"Ah, Tuan Repan... Saya tidak menyangka Anda akan mampir ke sini," ucap Adelia dengan vokal sopan namun tegas.

Para agen lain seketika bungkam seribu bahasa. Beberapa di antaranya melirik tak percaya. 'Tuan?! Kepada anak SMA itu?!'

Repan menoleh dan menatapnya sejenak. "Ah... Aku ingat Kamu. Adelia, kan?"

"Benar, Tuan. Nama Saya Adelia," jawabnya seraya tersenyum manis, membuat pandangan para pria di ruangan itu teralih.

Harris melongo tak percaya. "Lo... kenal sama anak ini?!"

Adelia hanya mengangguk kecil.

Ia masih mengingat jelas, Repan pernah membeli rumah mewah bernilai tiga miliar rupiah tunai lewat perantara tangannya—tanpa menawar, tanpa banyak cincong. Transaksi termudah dan paling fantastis sepanjang kariernya.

"Nona Adelia, Aku sedang mencari sebuah gedung dan tanah yang cukup luas. Apakah Kamu punya rekomendasi yang cocok?" tanya Repan dengan vokal tenang namun penuh ketegasan.

"Tentu saja, Tuan Repan. Kebetulan Saya memiliki beberapa portofolio properti yang mungkin sangat cocok untuk Anda. Mari ikut Saya ke ruang konsultasi VIP," ucap Adelia bersemangat.

Ia segera mengambil beberapa map dokumen, tablet kerja, dan berkas yang tersusun rapi.

Setelah keduanya duduk santai di ruang khusus, Adelia memperlihatkan sebuah berkas utama.

"Ini adalah gedung besar yang berlokasi tepat di pusat kota. Posisinya sangat strategis, lahannya luas, dan saat ini sedang ditawarkan untuk dijual. Pemilik lamanya kehabisan modal pembangunan, jadi struktur bangunannya belum sepenuhnya tuntas. Tapi potensinya luar biasa, apalagi jika direnovasi secara serius."

Repan menatap lembar gambar dan rincian spesifikasi gedung tersebut. Pandangannya tajam, sarat akan kalkulasi.

'Tempat ini bagus. Bisa difungsikan jadi kantor pusat perusahaan. Lokasinya strategis, lahannya luas... dan yang paling penting, gue bisa membelanjakan banyak uang buat biaya renovasinya. Setelah ini tuntas, gue bisa mendirikan badan amal, menyuntikkan dana ke sekolah dan rumah sakit. Uang gue bakal terserap cepat, dan kucuran poin sistem bakal mengalir deras.'

"Aku tertarik. Bawa Aku melihat langsung lokasinya," pukas Repan tenang namun tegas.

Sepasang mata Adelia berbinar gembira.

"Tentu, Tuan Repan! Saya akan mengantar Anda sekarang juga!"

Tanpa membuang waktu, mereka berdua bersiap berangkat menuju lokasi proyek gedung tersebut.

Sementara di area belakang, para agen lainnya hanya bisa berdiri terpaku kaku, baru menyadari bahwa anak SMA yang sempat mereka remehkan ternyata adalah klien paling bernilai raksasa yang pernah menginjakkan kaki di kantor itu.

Sementara itu, di tempat terpisah...

Jauh di area bawah tanah, tersembunyi di balik bangunan pabrik boneka yang tampak biasa dari luar, terdapat sebuah markas rahasia yang teramat kontras dengan tampilan luarnya.

Ruangan bawah tanah itu dirancang sangat mewah—terlalu megah untuk sebuah lokasi tersembunyi.

Lampu gantung kristal menjulang dari langit-langit, menyinari area bar elegan lengkap dengan bartender profesional yang meracik minuman kelas atas.

Di sudut ruangan lain, tersedia arena bowling, meja billiard, hingga meja judi poker yang dipenuhi susunan koin taruhan.

Alunan musik jazz bergema lembut, menciptakan atmosfer santai namun sarat akan kekuasaan.

Namun hal yang paling mengejutkan bukanlah kemewahan fasilitasnya... melainkan siapa saja yang memenuhi ruangan tersebut.

Bukan jajaran eksekutif korporat atau mafia dewasa, melainkan para siswa SMA.

Mereka menamai kelompok mereka sebagai Geng RJP—Raja Jalanan Penguasa.

Berbeda dengan Geng GBA yang mengandalkan otot, kekerasan, dan pemerasan terbuka di kalangan sekolah, Geng RJP bergerak di jalur yang jauh lebih cerdas dan rapi.

Mereka menggelar arena pertarungan bawah tanah eksklusif bagi kalangan pejabat dan pengusaha kaya.

Mereka mendistribusikan barang terlarang, menjadi kurir rahasia, bahkan mengoperasikan lini bisnis legal untuk memutihkan transaksi gelap mereka.

Salah satu topeng bisnis legal mereka adalah pabrik boneka ini—yang kini menjadi pusat operasional dan transaksi rahasia mereka.

Di sudut ruangan, seorang pemuda duduk santai di atas sofa kulit hitam yang mewah. Sebatang rokok menyala di jemarinya, kepulan asap mengudara pelan. Dia adalah Edwan, salah satu petinggi elit Geng RJP.

Di hadapannya, duduk pemuda lain dengan seragam rapi dan aura tenang yang mendominasi seluruh ruangan.

Rambutnya tertata rapi, dan raut wajahnya sama sekali tidak mencerminkan bahwa ia adalah sosok pemimpin tertinggi dari geng paling berbahaya di wilayah ini.

Dia adalah Julian—Ketua Utama Geng RJP, sekaligus siswa paling cerdas dan berprestasi di Kota Bogor.

Tak ada satu pun orang yang bakal menduga bahwa murid teladan berprestasi seperti dirinya adalah dalang utama di balik organisasi kriminal bawah tanah yang amat berbahaya.

"Gue menemukan mainan baru yang menarik," pukas Edwan seraya menghembuskan asap rokoknya ke udara.

"Anak ini cukup tangguh... dan kuat."

Julian tak langsung menoleh. Jemarinya tetap sibuk mencatat pembukuan keuangan geng di buku catatannya.

"Mainan baru? Seberapa bagus dia?"

"Dia melibas habis puluhan anggota GBA sendirian. Bahkan Jhonson si kepala batu itu sampai kagak sanggup menumbangkannya," jawab Edwan santai.

Gerakan tangan Julian terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap Edwan dengan minat yang mulai terpantik.

"Jhonson kalah? Maksud lo... Jhonson dari SMA 09 Cimanggu?"

Edwan mengangguk pelan. "Iya. Bajingan keras kepala yang susah diatur itu akhirnya bertekuk lutut dalam taruhan sama anak ini."

Geng RJP sebelumnya sudah berulang kali berupaya merekrut Jhonson, namun pemuda itu terlalu liar dan menolak tunduk pada aturan organisasi.

Julian menyipitkan sepasang matanya. "Kelas berapa dia?"

"Kelas tiga. Seangkatan sama kita," sahut Edwan seraya memainkan pemantik apinya.

Julian mengernyitkan dahi.

"Aneh. Dalam daftar peta kekuatan siswa seangkatan, kagak ada nama lain yang menonjol selain Jhonson."

"Soalnya dia baru mulai aktif belakangan ini, Boss. Dari informasi yang gue kumpulkan, dia mulai berubah total setelah putus dari ceweknya. Mungkin itu yang memicu potensi tersembunyi di dalam dirinya."

Julian menggeser laptop kerjanya, mengetikkan beberapa perintah cepat, lalu membuka basis data.

"Siapa namanya?"

"Repan. Repan Kusuma," jawab Edwan tegas.

Julian menelusuri rekaman data siswa tersebut di layar laptopnya.

"Hmph... Ayahnya terjerat utang judi di banyak kasino. Latar belakang ekonominya sangat memprihatinkan. Nilai akademisnya biasa aja... kagak ada catatan prestasi, kagak ada rekam jejak kriminal... Anak ini seharusnya sama sekali kagak menonjol."

"Justru itu yang bikin dia makin menarik," pangkas Edwan. "Waktu gue memperhatikan dia bertarung... dia jelas bukan anak sekolah biasa. Gerakan bertarungnya... penuh jam terbang."

Julian menghembuskan napas panjang. Sorot matanya menajam dan dalam. "Kalau begitu... mari kita uji seberapa jauh kemampuannya."

"Kita rekrut dia?" tanya Edwan.

Julian mengangguk pelan.

"Kalau dia setuju, kita latih dan manfaatkan potensinya buat kepentingan organisasi. Tapi... kalau dia menolak, dia tetap bisa kita manfaatkan sebagai aset. Jadikan dia bintang baru di arena pertarungan bawah tanah. Kita keruk uang dari orang-orang kaya yang mau bayar mahal buat menonton pertunjukannya."

Edwan menyunggingkan senyuman miring.

"Gue suka ide lo."

Julian bangkit dari duduknya, melangkah menuju jendela kecil yang langsung berhadapan dengan dinding beton kedap suara.

"Repan Kusuma... Mari kita lihat seberapa berharganya nilai lo di jalanan."

Geng RJP pun mulai menyusun pergerakan rahasia mereka.

Dan Repan tanpa ia sadari kini telah sepenuhnya masuk ke dalam radar perburuan sang Penguasa Jalanan.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!