Seorang ilmuan jenius yang meninggal di usia muda akibat kelelahan, karena memiliki tubuh yang lemah. Tidak disangka jiwanya merasuk pada seorang pria desa yang hidup sebagai petani miskin.
Orang tua baru saja mati dan dia mendapatkan jatah tanah warisan paling sedikit?
Dikenal orang yang pasif karena tidak pernah melawan?
Namun dia tidak mengeluh, dengan melihat tubuhnya yang kuat dan sehat saja dia sudah sangat bersyukur.
[ Selamat! Kamu telah terikat pada sistem Sugar Daddy ]
"Ha?!"
Dengan sistem yang aneh ini, Lin Chen mendadak menjadi Sugar Daddy zaman kuno.
"Suami, carilah istri lagi... Kami tidak kuat, huhuhu..." Istri pertama mengumpulkan keberanian nya dan menyuarakan suara hati para istri.
***
Kembali lagi di cerita author RAS(BY/AR)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Selamat datang Tuan, ingin membeli atau menjual obat?" ucap ramah seorang pegawai laki-laki.
"Menjual obat"
Begitu Lin Chen mengatakan ingin menjual obat, pegawai itu mendekati nya. "Obat apa yang ingin anda jual? Biarkan saya melihatnya"
Lin Chen menurunkan keranjang punggung nya, dan membiarkan pegawai itu memeriksa nya.
Keranjang itu memang terasa berat saat pegawai itu coba angkat, dan isinya memang benar-benar banyak. Setelah di periksa, ternyata tidak hanya ada satu jenis tanaman obat, melainkan ada beberapa jenis tanaman obat dalam jumlah yang lumayan.
Kebetulan pemilik toko berada di kasir, dia pun mendekat sambil menghitung.
"6 kati rumput Dong Chong Xia Cao, 7 kati Anggrek larat, 2 kati Lingzhi liar."
Pegawai itu mendecakan lidahnya. "Apakah anda menanam obat sendiri?"
Lin Chen menggeleng. "Aku tidak sengaja menemukan nya."
"Maksudmu kau tidak sengaja menemukan lahan obat?" Pemuda itu tak habis pikir, ada orang dengan keberuntungan sebesar itu.
"Keberuntungan anda memang besar ya, bahkan ginseng liar pun anda dapatkan" pemilik toko pun sedikit terkejut saat ternyata di bawah keranjang masih ada satu akar ginseng cukup besar.
"Di lihat dari ukuran ginseng nya, sepertinya sudah berusia 60 sampai 70 tahun."
Pelayan pun tidak bisa menahan kekaguman nya, dia menatap Lin Chen sedikit tak percaya. Orang ini akan kaya mendadak!
Ginseng liar ini setidaknya akan di hargai 50 tael perak, belum obat-obatan lainnya. Setelah pemilik toko menghitung sempoa, dia pun memberikan bayaran nya.
"6 kati rumput Dong Chong Xia Cao harganya 18 tael perak, 7 kati anggrek larat harganya 10 tael lima ratus Wen, 2 kati Lingzhi liar harganya 15 tael. Semuanya 43 tael 500 Wen. Karena kau pertama kali datang dengan banyak obat, maka akan ku genapkan menjadi 44 tael perak."
"Dan untuk ginseng liar ini akan aku beli 60 tael perak." Pemilik toko itu tersenyum ramah. "Kawan, semua obat mu berkualitas tinggi, kabu berhak mendapatkan uang ini"
Pemilik toko itu menyerahkan dua kantong uang berisi 44 dan 60 tael perak. Pemilik toko itu melihat ekspresi Lin Chen yang tetap tenang dan datar menerima uang tersebut, dia pun menaikan penilaian nya terhadap Lin Chen.
"Kawan, namaku Jin Defa, jika kau memiliki bahan obat lain nya jangan lupa untuk datang lagi kemari."
Lin Chen mengangguk, "Lin Chen, jika ada keberuntungan lainnya aku akan menjualnya kepada mu." Dengan datar dan tenang dia pun pamit pergi.
Sementara pelayan itu yang menyaksikan seluruh proses hampir tidak berkedip. "Tuan, apakah dia benar-benar orang desa? Kenapa reaksi nya seperti melihat uang kecil?" Padahal orang-orang desa akan langsung gemetar atau bereaksi berlebihan saat menerima beberapa tael dari menjual obat.
"Ah, itulah yang kau tidak tahu. Jangan memandang rendah orang desa, asal kau tau, beberapa orang penting terkadang lebih memilih hidup damai di pedesaan daripada hidup mewah di kota."
"Jadi laki-laki tadi adalah orang penting?"
Pemilik toko hanya menggeleng. "Tidak ada yang tahu, namun kau harus tahu jika kita tidak boleh meremehkan orang yang terlihat Kumal sekalipun."
Ah Wan langsung mengangguk.
...
Keluar dari toko obat, Lin Chen langsung berjalan ke toko bahan pangan, semacam toko kelontong yang menjual berbagai bahan makanan untuk kehidupan sehari-hari.
Sambil berjalan kesana, Lin Chen memperhatikan beberapa budak yang di pajang di sana.
[ Tuan, sudah seminggu berlalu, kapan ada akan memilih target? ]
Suara sistem terdengar lemas. Setelah tiga hari dirinya tetap tenang tanpa mencari target, sistem mulai bawel dan Lin Chen terlalu tenang untuk menanggapi sistem. Alhasil sistem hanya bisa menunggu dengan lemas, dirinya memang bukan sistem yang bisa langsung memberikan misi atau hukuman.
Hanya bisa memberikan hadiah jika inang melakukan tugasnya.
Namun seperti sebelumnya, Lin Chen hanya diam tanpa menanggapi. Awalan dia akan menjawab 'aku akan memiliki nya jika cocok' namun sepertinya Lin Chen juga jengah, jadi tidak mau lagi membalasnya.
Lin Chen hanya melihat sebentar budak-budak itu dan kemudian mengabaikan nya.
Di toko kelontong, meskipun barang-barang mulai naik karena mendekati musim dingin. Namun setelah memiliki uang yang terbilang sangat banyak untuk kehidupan desa, Lin Chen tanpa sungkan membeli banyak barang.
10 kati garam halus, 5 kati garam kasar, 10 kati gula putih, 10 kati gula merah, 15 kati tepung putih, 10 kati madu, 10 botol arak beras, 10 obor dan 10 liter minyak. Tidak ada orang yang berbelanja sebanyak dirinya, karena hal inilah beberapa bibi sampai berbicara kepadanya.
"Aduh, apakah kamu akan mengadakan pesta? Membeli begitu banyak barang" ucap seorang bibi dengan ramah, namun matanya tentu saja tidak bisa tidak merasa iri.
Lin Chen tidak mengenal mereka dan tidak berharap akan dekat, jadi dia menjawab dengan datar dan seadanya. "Untuk persediaan"
Semuanya hanya menghabiskan sekitar 2 tael perak. Untuk barang lainnya yang ingin dia beli seperti jahe, bawang, lada Sichuan dan bumbu-bumbu yang seharusnya ada sejak zaman kuno. Lin Chen hanya bisa mencoba menemukan nya di pedagang jalanan.
Pedagang jalanan seperti ini memang sering ada, harganya lebih terjangkau karena hasil alam yang tidak perlu di olah. Setelah membeli semua barang yang di butuhkan nya, Lin Chen membeli beberapa bakpao daging dan memakannya sambil berjalan menuju luar gerbang.
"Kakek Lao, tunggu!"
Tepat saat gerobak sapi akan bergerak, Lin Chen memanggil nya dan dengan cepat duduk di samping Kakek Lao.
"Aku pikir kalian akan pulang sore" ucap Kakek Lao, setelah Lin Chen naik, gerobak pun berjalan.
"Aku membeli dengan cepat, Kakek Lao ambilah, aku sudah kenyang" ucap Lin Chen, gerobak sapi ini memang tidak ada penumpang selain dirinya. Namun dia tetap duduk di depan karena merasa lebih mudah turun.
Kakek Lao melihat itu adalah bakpao isi daging yang berminyak, matanya sedikit bersinar. Dia melirik Lin Chen yang terlihat acuh dan kemudian menerima nya.
Terlalu lama jika memberikan nya dengan baik-baik, orang-orang kuno ini terlalu berbelit-belit. Jadi Lin Chen hanya bisa memikirkan cara yang agak tidak sopan untuk memberikan nya.
Lagipula itu hanya sepotong bakpao, dirinya sudah makan lima biji. Untuk Kakek Lao yang menunggu dari pagi dan melewatkan makan siang, bakpao ini bisa menjadi pengganjal perut atau makan siangnya.
Setelah beberapa waktu, gerobak sapi pun sampai di desa. Namun tepat setelah turun dari gerobak dan membayar, Lin Chen melihat kerumunan orang-orang yang ramai. Sambil terdengar suara laki-laki yang seperti sedang menawarkan barang.