NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Rahasia di Balik Brankas Emas.

***

Pagi hari di kediaman mewah keluarga Danendra selalu disambut dengan aroma seduhan kopi hitam premium dan mentega yang meleleh diatas pemanggang roti.

Cahaya matahari pukul enam pagi menembus kaca-kaca patri besar di ruang makan, memantulkan kilau hangat di atas permukaan meja makan marmer putih yang megah.

Dari luar, suasana di ruangan itu tampak begitu sempurna. Sebuah potret keluarga ideal yang penuh kehangatan kelas atas. Kirana duduk dengan anggun sembari mengoleskan selai stroberi ke atas roti gandum, sementara Baskoro Danendra sibuk membolak-balik lembaran koran bisnis harian di ujung meja.

Namun, tepat di tengah-tengah kehangatan tersebut, ada sebuah lapisan atmosfer lain yang tersembunyi. Atmosfer yang teramat kaku—pekat—sarat akan ketegangan yang membungkam udara diantara dua orang yang duduk saling berhadapan: Freya Anindita dan Galen Danendra.

Freya duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya diatas pangkuan dibawah meja. Rok abu-abu seragam SMA-nya ia rapikan berulang kali, sebuah gestur bawah sadar untuk mengalihkan rasa gugup yang luar biasa hebat.

Bibir ranumnya yang kemarin sore dilumat secara brutal oleh pria dihadapannya, kini terasa begitu sensitif. Setiap kali ia mengingat kejadian didalam kamarnya, jantung Freya berdegup kencang hingga menimbulkan rasa ngilu di dadanya.

Namun, sebagai gadis remaja tujuh belas tahun yang sudah terlatih menghadapi teror psikologis, Freya memasang topengnya dengan sangat rapi. Ketika Kirana menoleh ke arahnya, Freya langsung memaksakan seulas senyum manis di wajahnya yang cantik.

"Freya sayang, bagaimana dengan proyek maket fisika yang kamu kerjakan sampai sore kemarin? Semuanya lancar, Nak?". Tanya Kirana dengan nada keibuan yang teramat lembut, memecah keheningan di meja makan.

Freya menahan napasnya sedetik, melirik sekilas ke arah piring nasi gorengnya sebelum mendongak menatap Kirana. "Lancar, Tante. Kemarin nilainya langsung keluar dan kelompok Freya mendapatkan nilai tertinggi di kelas". Jawab Freya dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar lembut, tenang, dan profesional.

Tidak ada satu pun getaran kepanikan di dalam nadanya. Ia menyembunyikan rapat-rapat kenyataan bahwa setelah proyek fisikanya selesai, ia pulang ke rumah ini hanya untuk disiksa secara emosional dan direnggut kesucian ciuman pertamanya oleh putra sulung keluarga ini.

"Wah, hebat sekali putri mama ini!". Puji Kirana dengan mata berbinar bangga, beralih mengambilkan segelas susu putih hangat untuk Freya. "Kamu memang selalu pintar seperti mendiang papamu, Freya."

Baskoro menurunkan korannya sejenak, melemparkan senyum kebapakan yang hangat dari ujung meja. "Papa juga bangga mendengarnya, Freya. Pertahankan prestasimu di kelas tiga ini, ya? Sebentar lagi ujian kelulusan dan masuk perguruan tinggi. Papa sudah siapkan dana pendidikan terbaik untukmu di universitas mana pun yang kamu inginkan."

"Terima kasih banyak, Om, Tante. Freya pasti akan belajar lebih giat lagi”. Balas Freya, memberikan anggukan takzim yang sangat sopan.

Sementara perbincangan hangat itu berlangsung, sosok di seberang Freya—Galen Danendra—tetap berada didalam dunianya yang hening, dingin, dan kaku.

Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu tampil rapi dengan setelan kemeja formal berwarna biru navy yang lengannya dikancingkan sempurna. Tangannya yang kemarin sore mencengkeram rahang Freya dengan kejam, kini bergerak tenang memegang garpu perak, menyuapkan makanan kedalam mulutnya tanpa ekspresi.

Galen sama sekali tidak mengeluarkan komentar apa pun. Ia mengabaikan obrolan tentang sekolah Freya seolah gadis remaja di depannya tidak kasat mata. Namun, dari balik bulu mata tajamnya, sepasang mata elang Galen sesekali berkilat, melirik ke arah bibir ranum Freya yang sedikit pucat pagi ini.

Di dalam kepalanya, ingatan tentang hasrat binal yang membakar bagian bawah tubuhnya dibawah kucuran air shower kemarin malam kembali mengusik logikanya.

“Oh shit!”.

Galen menggeram kaku di dalam hati, meminum kopi hitamnya yang pahit demi menekan gumpalan rasa tidak menentu yang merayap di dadanya.

Bagi Galen, sikap tenang dan profesional yang ditunjukkan Freya pagi ini justru terlihat seperti sebuah tantangan baru yang memantik sifat dominan dan amarah gelapnya.

Baskoro berdeham pelan, lalu merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan sebuah slip cetak transaksi bank kecil, meletakkannya di atas meja marmer di dekat piring Freya. Pembicaraan di meja makan kini beralih ke topik yang selalu dibahas setiap awal bulan.

"Oh iya, Freya. Papa hampir lupa”. Ucap Baskoro, mengetuk slip kertas tersebut dengan jarinya. "Kemarin tanggal satu, papa sudah memastikan dana bulanan dari rekening perusahaan almarhum papamu ditransfer masuk ke rekening pribadimu. Itu adalah hak mu dari sisa dividen dan keuntungan bersih saham peninggalan Hendrawan yang Papa kelola."

Mendengar topik tentang harta warisan orang tuanya dibahas, Freya menatap slip kertas itu dengan pandangan yang redup. Baginya, uang ratusan juta yang masuk setiap bulan itu tidak akan pernah bisa membeli kembali kehangatan pelukan ibu dan ayahnya yang telah tiada.

"Uang yang masuk ke rekeningmu itu jumlahnya sangat besar, Freya. Papa selalu menyimpannya di brankas dana perwalian atas namamu”. Lanjut Baskoro, menatap anak sahabatnya dengan serius namun penuh keterbukaan. "Apakah kamu ada kebutuhan khusus bulan ini? Mungkin untuk membeli buku-buku persiapan ujian, atau ada keperluan remaja lainnya? Katakan pada papa, biar papa cairkan dananya sekarang."

Freya menggelengkan kepalanya pelan dengan senyuman tulus yang sangat lembut. Ia mendorong kembali slip cetak transaksi itu ke arah Baskoro dengan sopan.

"Tidak perlu, Om. Freya tidak memiliki kebutuhan khusus bulan ini," Jawab Freya, suaranya terdengar sangat dewasa dan bijaksana untuk gadis seusianya.

"Seperti bulan-bulan sebelumnya, Freya hanya mengambil sebagian kecil dari uang tersebut untuk uang saku sekolah dan ongkos harian saja. Selebihnya... Freya mempercayakan semuanya pada Om untuk disimpan dan dikelola. Freya tahu Om adalah orang yang paling dipercaya oleh almarhum Papa, jadi Freya tidak pernah khawatir tentang uang itu."

Pernyataan pasrah dan penuh rasa percaya yang diucapkan Freya dari lubuk hatinya terdengar begitu menyentuh bagi Baskoro dan Kirana. Kirana mengusap punggung tangan Freya dengan sayang.

"Kamu benar-benar anak yang baik dan penurut, Freya. Berbeda sekali dengan kakakmu yang satu ini”. Sindir Kirana halus, melirik ke arah Galen yang masih bergeming seperti patung es.

Mendengar kalimat Freya tentang 'mempercayakan uang peninggalan orang tuanya', sudut bibir tipis Galen perlahan-lahan tertarik ke samping, menciptakan seulas senyum smirk yang teramat tipis, dingin, dan sarat akan konotasi yang kejam di wajah tampannya.

Galen meletakkan garpu peraknya di atas piring kosong dengan dentingan logam yang terdengar tajam membelah keheningan sesaat di meja makan.

Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap lurus kedalam manik mata Freya dengan pandangan mengintimidasi yang sangat pekat.

Di dalam benak gelap sang duda berumur dua puluh sembilan tahun itu, ia mencemooh kepasrahan Freya.

“Percaya pada ayahku?” Batin Galen dengan sinis. “Kau tidak tahu saja, Bocah Bodoh. Seluruh harta, saham, dan masa depan perusahaan papamu saat ini berada di bawah kendali tanganku di kantor pusat. Kau tidak lebih dari sekadar tawanan yang seluruh pasokan hidupnya terkunci didalam brankas kuasaku”.

"Aku berangkat ke kantor sekarang. Ada rapat eksternal pagi ini”. Ucap Galen tiba-tiba. Suara baritonnya yang berat, rendah, dan dingin seketika memotong kehangatan di meja sarapan, menghancurkan sisa-sisa kenyamanan yang Freya rasakan.

Pria itu berdiri tegak, memancarkan aura dominan yang menyesakkan dada Freya. Galen memutar tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan.

Langkah kaki tegap Galen yang lebar sudah hampir mencapai pintu keluar ruang makan ketika Kirana tiba-tiba tersadar dari keterkejutannya. Melihat putra sulungnya pergi begitu saja tanpa memperdulikan Freya yang juga harus segera berangkat ke sekolah, wanita paruh baya itu langsung menegakkan tubuh dan berseru cukup kencang.

"Galen! Tunggu dulu!". Seru Kirana, suaranya bergema di langit-langit ruang makan yang tinggi. "Itu Freya belum berangkat! Antar Adikmu ke sekolah sekalian, Galen!".

Namun, Galen tetap tuli. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu sama sekali tidak menghentikan ayunan langkah kakinya, seolah-olah telinganya telah tertutup rapat dari semua perintah sang mama.

Aura kaku dan punggung tegapnya yang dibalut kemeja navy tetap bergerak angkuh menjauh, melewati pintu penghubung menuju garasi mewah tanpa menoleh sedikit pun.

Galen benar-benar tidak peduli dengan ocehan ibunya. Di dalam kepalanya yang berkecamuk gila sejak kemarin sore, membiarkan Freya berada didalam jarak pandangnya saat ini hanya akan memantik sisa-sisa hasrat dan amarah yang mati-matian ia tekan dibawah kucuran air dingin.

Melihat respons putranya yang teramat dingin dan acuh tak acuh, Kirana mendengus kesal, bersiap untuk berdiri dan mengejar Galen ke luar. Namun, sebuah tangan mungil dengan jemari lentik perlahan menyentuh lengan Kirana, menghentikan gerakan wanita paruh baya tersebut.

"Sudah, Tante... tidak apa-apa. Jangan panggil kak Galen lagi”. Ucap Freya lembut, menatap Kirana dengan seulas senyum menenangkan yang dipaksakan di bibirnya.

"Biarkan Kak Galen berangkat duluan. Lagipula kak Galen pasti sedang buru-buru karena ada rapat yang sangat penting pagi ini. Freya tidak mau merepotkan atau membuat kak Galen terlambat bekerja”. Lanjut Freya dengan nada suara yang teramat sopan dan profesional, membungkam sisa kejengkelan Kirana seketika.

Di balik topeng kepasrahan dan kata-kata manis yang ia lontarkan untuk menenangkan orang tua angkatnya, lubuk hati kecil Freya justru bersorak lega.

Di dalam dadanya, ada rasa syukur yang teramat besar yang membuncah hebat pagi ini. Demi Tuhan, Freya merasa sangat senang dan bahagia karena tidak harus kembali terjebak di dalam kabin mobil yang sempit dan kedap suara bersama pria kejam itu.

Kejadian sore kemarin di dalam kamarnya yang terkunci sudah cukup menghancurkan harga dirinya, dan Freya tidak yakin apakah ia sanggup bertahan jika harus menerima tatapan mengintimidasi Galen sepanjang perjalanan ke sekolah pagi ini.

Freya merogoh ponsel pintarnya dari dalam saku rok abu-abu seragam SMA-nya. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat yang masuk tepat pada pukul enam pagi tadi dari sebuah nomor yang sangat ia kenal.

['Frey, pagi ini aku jemput ya? Kebetulan aku mau berangkat lebih awal karena ada jadwal piket kelas. Aku tunggu didepan gerbang rumahmu.']

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!