NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Rasanya batas kesabaranku benar-benar habis. Melihat Aira berdiri begitu dekat dengan pemuda itu, melihat ia tertawa lepas dan begitu nyaman bersamanya... rasanya ada bagian dari diriku yang perlahan hancur lebur. Sakit. Sangat sakit. Lebih sakit dari apa pun yang pernah kurasakan seumur hidupku.

Dulu aku selalu bertanya-tanya, bingung, mengapa hatiku begitu perih, mengapa aku begitu takut kehilangannya, mengapa aku begitu ingin selalu ada di dekatnya dan menjauhkan siapa saja yang mendekat. Aku selalu menyalahkan diri sendiri, berpikir aku berlebihan, berpikir aku salah paham karena kami hanya sahabat.

Namun saat melihat pemandangan itu, saat rasa sesak itu menyergap dadaku begitu hebat hingga membuatku sulit bernapas... semuanya menjadi jelas seketika. Semua kebingungan itu lenyap, berganti dengan satu kebenaran yang menyadarkanku sepenuhnya.

Bukan sekadar rasa khawatir sebagai sahabat. Bukan sekadar rasa sayang teman. Semua rasa sakit, rasa cemburu, rasa ingin memiliki, dan rasa takut kehilangan itu... semuanya adalah cinta.

Aku mencintai Aira. Bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai laki-laki yang ingin menjadikannya miliknya selamanya.

Kesadaran itu datang begitu kuat, begitu nyata, dan membuatku tak sanggup lagi menyimpannya sendirian. Aku tak mau lagi diam. Aku tak mau lagi memendam rasa ini dan menyiksaku sendiri. Aku tak mau lagi melihatnya dekat dengan orang lain, sementara aku hanya berdiri di pinggir dengan perasaan yang berantakan.

Dengan langkah yang mantap namun penuh getaran di dada, aku berjalan mendekat. Kali ini berbeda dari biasanya. Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi rasa takut, yang ada hanya keinginan besar untuk berterus terang.

Aira yang sedang mengobrol dengan pemuda itu seketika menoleh saat merasakan kehadiranku yang begitu dekat. Ia melihat raut wajahku yang serius, mataku yang menatapnya lekat-lekat dan penuh arti, membuatnya perlahan menjauh dan mengucapkan sesuatu pada rekannya itu. Pemuda itu mengangguk, lalu berjalan pergi meninggalkan kami berdua.

Kini hanya ada kami. Berdiri berhadapan di balik meja kasir, dalam keheningan yang terasa begitu berat namun penuh makna.

Aira menatapku bingung, alisnya sedikit terkerut. Ia masih tak mengerti perubahan sikapku belakangan ini, masih penasaran dengan segala keanehan yang kutunjukkan.

"Arjun... ada apa? Kamu natap aku kayak gitu lagi," ucapnya pelan, nadanya bercampur antara ragu dan ingin tahu.

"Kamu diam aja dari tadi, lihatin kami terus... sebenernya ada apa sih? Aku makin nggak ngerti sama kamu."

Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungku yang seolah mau copot. Aku menatapnya dalam-dalam, meneliti setiap inci wajah yang begitu kucintai ini, wajah yang selama ini menjadi alasan segala bahagia dan sakit hatiku.

"Ra..." suaraku terdengar berat namun jelas, bergetar sedikit menahan gejolak hati yang besar.

"Aku nggak kuat lagi."

Aira tertegun. Matanya membelalak sedikit, bingung mendengar kalimat itu.

"Maksud kamu? Nggak kuat apa?"

"Aku nggak kuat lagi menyembunyikan semuanya," jawabku jujur, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.

"Aku nggak kuat lagi pura-pura biasa saja, pura-pura nggak ada apa-apa, padahal setiap kali aku lihat kamu dekat sama orang lain... rasanya dadaku sakit sekali, Ra. Sakit banget sampai rasanya aku mau hancur di tempat."

Ada keheningan sejenak. Aira diam, menatapku lekat-lekat, seolah mulai menangkap sesuatu di balik mataku yang penuh kepedihan itu.

"Dulu aku bingung," lanjutku, suaraku makin pelan namun makin dalam.

"Dulu aku selalu tanya sama diri sendiri, kenapa aku begini? Kenapa aku cemburu? Kenapa aku takut banget kehilangan kamu? Aku pikir itu cuma rasa sayang sebagai sahabat. Aku pikir aku cuma terlalu peduli sama teman baikku. Tapi hari ini... pas aku lihat kamu ketawa, pas aku lihat kamu begitu nyaman sama dia... aku sadar semuanya. Aku sadar kenapa rasanya sesakit ini."

Aku berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa begitu berat, lalu melanjutkan dengan keberanian penuh.

"Ra... aku cinta sama kamu. Bukan cuma sekadar sahabat. Bukan sekadar teman. Tapi aku cinta sama kamu sebagai laki-laki. Aku ingin kamu jadi milikku. Aku ingin jadi satu-satunya orang yang bikin kamu tertawa, satu-satunya orang yang bisa deket sama kamu, satu-satunya orang yang jagain kamu. Selama ini rasa bingung, rasa sakit, rasa cemburu itu... semuanya karena aku cinta sama kamu. Aku baru sadar sepenuhnya sekarang, dan aku nggak mau lagi nyembunyiin ini."

Pengakuan itu meluncur begitu saja, membawa beban berat yang selama ini kupikul sendirian. Rasanya lega, namun sekaligus penuh rasa cemas menunggu jawabannya.

Aira diam mematung. Wajahnya pucat, matanya memandangku tak berkedip, penuh keterkejutan yang mendalam. Ia tak menyangka sama sekali. Ia yang selama ini bingung dengan sikapku, ia yang selama ini mengira kami hanya sahabat... kini mendengar pengakuan yang mengubah segalanya.

Namun perlahan, keterkejutan di wajahnya berubah menjadi raut yang sedih, ragu, dan penuh kepahitan. Ia memalingkan wajah, menunduk dalam, seolah ada rasa sakit lama yang kembali bangkit.

"Arjun..." suaranya keluar pelan, bergetar, terdengar begitu rapuh.

"Kamu tau kan... kenapa aku pernah bersikap dingin sama kamu dulu? Kenapa aku selalu menjaga jarak? Bukan cuma karena aku bingung... tapi karena aku takut."

Ia mengangkat wajahnya kembali menatapku, matanya berkaca-kaca, terlihat jelas rasa takut dan trauma yang masih tersisa di sana.

"Kamu tau cerita aku sama mantanku dulu. Kamu tau betapa hancurnya aku waktu itu. Aku percaya sama dia, aku kasih semuanya, aku yakin dia tulus... tapi akhirnya dia nyakitin aku, ninggalin aku, dan bikin aku merasa kalau rasa cinta itu cuma bikin sakit hati aja. Aku udah mati rasa, Arjun. Aku udah nggak percaya lagi sama janji, sama kata-kata manis, sama apa pun yang namanya cinta."

Air mata mulai menggenang di sudut matanya, membuat dadaku ikut sesak melihatnya bersedih begini.

"Kamu sahabat terbaik aku. Kamu orang paling baik yang aku kenal. Kamu orang yang selamatin aku, yang selalu ada buat aku... aku nggak mau kehilangan kamu. Aku takut kalau aku terima kamu, nanti ujungnya bakal sama kayak dulu. Aku takut kalau nanti kamu berubah, kamu nyakitin aku, dan aku bakal kehilangan sahabat sekaligus orang yang aku sayang. Aku nggak sanggup ngerasain sakit itu lagi, Arjun. Aku trauma banget."

Hatiku nyeri mendengar itu. Aku mengerti sepenuhnya. Aku tahu betapa dalam luka yang ditinggalkan masa lalunya. Aku tahu betapa sulitnya baginya untuk percaya lagi.

Aku melangkah selangkah lebih dekat, berdiri tepat di hadapannya, menatapnya dengan tatapan paling tulus dan serius yang kumiliki.

"Ra, aku ngerti. Aku ngerti ketakutan kamu. Aku ngerti luka yang kamu punya. Aku nggak minta kamu buat langsung percaya, nggak minta kamu langsung nerima aku begitu aja. Aku tau kata-kata aja nggak cukup buat hapus rasa takut kamu," ucapku tegas dan mantap.

Aira mengangguk pelan, menghapus air matanya yang mulai jatuh. Ia menatapku dengan pandangan yang bercampur antara harapan dan keraguan.

"Kalau emang bener kamu sungguh-sungguh..." ucapnya pelan, nadanya mulai tegas namun masih bergetar.

"Kalau emang kamu cinta sama aku dan nggak bakal bikin aku nyesel... buktiin."

Ia diam sejenak, lalu melanjutkan dengan jelas dan tegas.

"Jangan cuma ngomong. Jangan cuma bilang cinta. Aku butuh bukti, Arjun. Aku butuh lihat kesungguhan kamu. Buktiin ke aku kalau kamu beda sama dia. Buktiin kalau kamu bakal sabar nunggu aku sampai aku siap. Buktiin kalau kamu bakal ada terus, nggak bakal pergi, nggak bakal berubah, dan bakal jagain aku tulus apa pun keadaannya. Kalau kamu emang serius... tunjukin. Kalau kamu sanggup nunggu dan berjuang... baru aku bakal percaya sama kamu."

Kalimat itu terasa berat namun sekaligus menjadi harapan baru bagiku. Ia tak menolakku sepenuhnya. Ia hanya butuh kepastian. Ia hanya butuh bukti untuk menyembuhkan traumanya.

Aku tersenyum tipis, senyum yang penuh kelegaan dan tekad yang kuat. Aku mengangguk mantap, menatapnya dengan keyakinan penuh.

"Aku janji, Ra. Aku bakal buktiin. Aku bakal sabar. Aku bakal nunggu sampai kamu beneran siap. Aku bakal tunjukin kalau aku beda. Aku bakal jagain kamu, ada terus di samping kamu, dan bikin kamu lupa sama rasa sakit masa lalu kamu. Aku bakal buktiin kalau rasa cinta aku ini sungguh-sungguh, sampai kamu percaya sendiri."

Aira membalas senyum itu dengan senyum tipis yang masih samar, namun ada rasa damai yang mulai tumbuh di matanya. Rasa bingung yang selama ini ada di antara kami perlahan menghilang, berganti dengan satu tujuan yang sama: membuktikan dan mempercayai.

Mulai hari ini, segalanya berubah. Aku tak lagi diam dalam kebingungan. Aku punya tujuan. Aku punya tugas. Dan aku siap berjuang, sekuat apa pun, untuk membuktikan rasa cintaku, dan perlahan menyembuhkan luka hati wanita yang paling kucintai ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!