NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Pertama

Langit Kota Arvandra diselimuti awan kelabu sejak matahari belum mencapai puncaknya. Udara yang biasanya hangat berubah sejuk, sementara angin berembus perlahan, membawa aroma tanah yang sebentar lagi akan diguyur hujan.

Dari lantai dua sebuah rumah bergaya klasik yang berdiri megah di kawasan elite, seorang gadis tengah berdiri di depan jendela kamarnya. Kedua tangannya bertumpu pada bingkai kayu berwarna putih, sementara pandangannya menerobos hamparan taman yang tertata rapi di halaman depan.

Bunga mawar yang ditanam berderet di sepanjang jalan setapak tampak bergoyang pelan diterpa angin.

Senyum tipis terukir di bibirnya.

"Akhirnya akan hujan."

Suara pintu yang diketuk perlahan memecah keheningan.

"Nona Aluna."

"Masuk saja, Bibi."

Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan celemek berwarna krem. Rambutnya yang mulai memutih disanggul sederhana, tetapi sorot matanya selalu memancarkan kehangatan.

"Ayah dan Ibu sudah berangkat ke Surabaya satu jam yang lalu. Mereka berpesan agar Nona tidak keluar rumah hari ini."

Aluna berbalik sambil menghela napas pelan.

"Mereka pasti mengira aku masih berusia lima belas tahun."

"Bukan begitu. Mereka hanya mengkhawatirkan Nona."

"Aku sudah dua puluh tiga tahun, Bibi."

"Di mata orang tua, usia tidak pernah mengurangi rasa khawatir."

Aluna tersenyum kecil. Ia tidak membantah, sebab ia tahu ucapan itu benar.

Sejak kecil, kedua orang tuanya memang selalu bersikap sangat melindunginya. Hampir setiap keinginan Aluna dipenuhi, bukan karena mereka ingin memanjakannya tanpa alasan, melainkan karena ia adalah satu-satunya anak yang mereka miliki.

Setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini.

"Bibi."

"Ya?"

"Aku ingin pergi sebentar."

Wanita itu langsung menggeleng sebelum Aluna selesai berbicara.

"Tidak."

"Bibi bahkan belum mendengar alasanku."

"Apa pun alasannya, jawabannya tetap sama."

Aluna tertawa pelan.

"Baiklah, kalau begitu aku akan menjelaskan supaya penolakannya terasa lebih adil."

Wanita itu melipat kedua tangan di depan dada.

"Aku mendengarkan."

"Hari ini ulang tahun Celine."

"Celine yang bekerja sebagai guru itu?"

Aluna mengangguk.

"Aku sudah berjanji akan memberikan hadiah secara langsung."

"Bukankah besok juga masih bisa?"

"Aku tidak pernah mengingkari janji."

Kalimat itu membuat wanita tersebut terdiam beberapa saat.

Ia mengenal Aluna sejak gadis itu masih balita. Di balik sifatnya yang ceria, Aluna selalu memegang teguh setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.

Bila telah berjanji, ia akan berusaha menepatinya.

"Aku hanya pergi sebentar."

"Bersama sopir."

Aluna menggeleng pelan.

"Aku ingin pergi sendiri."

"Nona..."

"Sesekali saja."

Tatapan memohon yang diberikan Aluna akhirnya meluluhkan hati wanita itu.

"Kalau begitu, setidaknya bawalah payung."

"Akan kubawa."

"Dan telepon harus tetap aktif."

Aluna mengangguk cepat.

"Terima kasih, Bibi."

Ia memeluk wanita itu sekilas sebelum berlari kecil keluar dari kamar.

Wanita paruh baya itu hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.

"Gadis itu tidak pernah berubah."

___________________________________________

Satu jam kemudian.

Aluna melangkah santai di trotoar yang mulai dipenuhi pejalan kaki. Rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai bergerak lembut mengikuti embusan angin.

Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda dipadukan dengan kardigan putih. Penampilannya jauh dari kesan mencolok, sehingga tidak banyak orang menyadari bahwa gadis itu berasal dari keluarga yang sangat berada.

Aluna memang lebih menyukai kesederhanaan.

Ia senang berjalan kaki, menikmati aroma kopi dari kafe-kafe kecil di pinggir jalan, atau sekadar menghabiskan waktu membaca buku di taman kota.

Hal-hal sederhana seperti itu selalu membuatnya merasa hidup.

Langkahnya berhenti di depan sebuah toko buku tua yang berdiri di sudut jalan.

Bel kecil di atas pintu berdenting pelan saat ia masuk.

Ruangan itu dipenuhi aroma khas kertas yang telah lama tersusun di rak-rak kayu.

"Selamat siang."

Seorang pria lanjut usia menyapanya ramah dari balik meja kasir.

"Selamat siang."

"Sudah lama tidak berkunjung."

Aluna tersenyum.

"Beberapa minggu terakhir cukup sibuk."

"Kau mencari buku baru?"

"Bukan."

Aluna menggeleng pelan.

"Aku ingin mencari hadiah."

Pria tua itu mengangguk mengerti.

"Rak sebelah sana mungkin bisa membantumu."

Aluna menghabiskan hampir tiga puluh menit berkeliling sebelum akhirnya menemukan sebuah buku edisi khusus yang sejak lama diinginkan sahabatnya.

"Ini pasti membuat Celine senang."

Setelah membayar, ia meminta buku itu dibungkus dengan kertas kado sederhana berwarna hijau tua.

"Terima kasih."

"Sama-sama. Hati-hati di jalan. Kurasa hujan akan segera turun."

Aluna menoleh ke arah jendela.

Langit memang semakin gelap.

"Sepertinya benar."

Ia melangkah keluar sambil membawa kantong hadiah di tangan kanan.

Namun baru beberapa langkah meninggalkan toko buku, ponselnya berdering.

Nama Ayah muncul di layar.

Aluna segera mengangkatnya.

"Haiiiii sayang."

"Hallo Ayah."

Suara hangat ayahnya terdengar dari seberang.

"Kau sedang di rumah?"

Aluna terdiam sesaat.

Ia tidak pandai berbohong.

"Aku sedang membeli hadiah ulang tahun Celine."

Hening beberapa detik.

"Bukankah Ayah sudah berpesan agar kau tetap di rumah?"

"Aku hanya keluar sebentar."

Ayahnya mengembuskan napas pelan.

"Ayah tidak sedang memarahimu."

"Aku tahu."

"Hanya saja... entah mengapa sejak tadi Ayah merasa tidak tenang."

Aluna tersenyum kecil.

"Mungkin Ayah terlalu mencemaskanku."

"Mungkin."

Suara itu terdengar lirih.

"Segeralah pulang."

"Baik."

Sambungan telepon berakhir.

Aluna memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.

Ia tidak menyadari bahwa, sejak keluar dari toko buku tadi, sepasang mata terus mengawasinya dari seberang jalan.

Seorang pria bertubuh tinggi mengenakan topi hitam berdiri di dekat halte.

Tatapannya tidak pernah lepas dari Aluna.

Beberapa detik kemudian, ia menekan sebuah alat komunikasi kecil yang terselip di balik kerah bajunya.

"Target telah meninggalkan toko."

Suara berat dari seberang terdengar singkat.

"Terus awasi."

"Baik."

Pria itu memutus sambungan, lalu kembali mengikuti langkah Aluna dari kejauhan.

Sementara itu, langit akhirnya tak lagi mampu menahan beban awan.

Setetes air jatuh ke permukaan jalan.

Disusul tetes berikutnya.

Dan dalam hitungan detik, hujan turun membasahi seluruh kota.

— Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!