NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Waktu adalah draf kontrak paling adil yang ditulis oleh semesta; ia mengalir tanpa bisa diinterupsi oleh banding, eksepsi, atau kekuasaan absolut faksi mana pun. Lima tahun kembali bergulir di atas takhta Menara Bratadikara. Jakarta kini telah bertransformasi menjadi kota metropolitan yang sepenuhnya bersandar pada efisiensi digital, di mana pelabuhan otomasi Distrik Utara menjadi jantung ekonomi utama yang mengalirkan kemakmuran tanpa henti.

Di ruang perpustakaan pribadi kediaman Menteng, aroma kertas tua, kayu mahoni, dan sisa seduhan teh kamomil berpadu menciptakan atmosfer ketenangan yang sakral. Matahari sore menerobos masuk melalui celah jendela vertikal, membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas meja kerja besar.

Gavinandra, yang kini telah menginjak usia delapan tahun, duduk tegap di sebuah kursi kayu besar yang sengaja dilapisi bantal tambahan agar tingginya sejajar dengan meja. Di hadapannya tergelar sebuah draf simulasi perjanjian fiktif setebal dua puluh halaman. Wajahnya yang rupawan memancarkan perpaduan genetika yang luar biasa: garis rahang yang tegas dan dingin milik Devan, namun memiliki sepasang mata cokelat jernih yang memancarkan kedalaman analisis yurididis seperti milik Aura.

"Gavin," sebuah suara lembut namun sarat akan wibawa akademis memecah keheningan ruangan.

Aura berjalan mendekat dari balik deretan rak buku, membawa sebuah buku referensi hukum perdata internasional terbaru. Di usianya yang kini menyentuh angka tiga puluh tahun, keanggunan Aura telah mencapai titik puncaknya. Ia mengenakan blus sutra berwarna biru dongker dengan rambut hitamnya yang kini dipotong sebahu, memberikan kesan seorang praktisi hukum senior yang sangat matang.

"Ibu," Gavin mendongak, memberikan senyuman kecil yang sangat mirip dengan senyuman miring ayahnya. "Gavin baru saja menemukan celah dalam pasal pembebasan tanggung jawab (force majeure) di draf simulasi ini."

Aura tersenyum bangga, duduk di kursi di sebelah putranya. Ia mengelus rambut hitam lebat Gavin dengan penuh kasih sayang. "Coba jelaskan pada Ibu, di mana letak kelemahannya, Jagoan?"

Gavin menunjuk baris ketujuh belas dengan jemari kecilnya yang bersih. "Di sini tertulis bahwa huru-hara politik luar negeri dapat membatalkan kontrak pengiriman kargo secara otomatis. Tapi, jika kita menggunakan yurisdiksi hukum maritim yang Ibu revisi lima tahun lalu, Bratadikara Group tetap memiliki hak untuk mengalihkan rute kapal ke pelabuhan sekutu di Distrik Selatan tanpa terkena denda keterlambatan. Jadi, klausul ini tidak adil bagi pihak kita jika tidak ditambahkan pasal pengecualian operasional."

Aura tertegun selama beberapa detik. Di usianya yang baru delapan tahun, Gavin tidak hanya mampu membaca istilah hukum yang rumit, melainkan sudah bisa mengintegrasikannya dengan strategi taktis pergerakan fisik klan. Naluri dan kecerdasan anak ini benar-benar melompat melampaui usianya.

"Analisis yang sangat presisi, Gavinandra," sebuah suara bas yang berat dan sarat otoritas terdengar dari arah pintu masuk perpustakaan.

Devanandra berdiri di sana, bersandar pada bingkai pintu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Penampilannya sore itu begitu karismatik; sebuah kemeja linen putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan tato sulur hitamnya yang legendaris, dipadukan dengan celana kain hitam formal. Di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam tangan kronograf mewah berkilau terkena pantulan cahaya sore.

Gavin langsung turun dari kursinya dan berlari kecil menghampiri ayahnya. Devan langsung berlutut satu kaki, menangkap tubuh putranya, lalu menggendongnya dengan satu lengan kekannya yang kokoh seolah Gavin tidak memiliki bobot sama sekali.

"Ayah baru kembali dari kantor kementerian?" tanya Gavin, tangannya memegang pundak lebar Devan.

"Ya, dan Ayah sengaja pulang lebih cepat karena tahu hari ini ada kelas hukum privat dengan pengacara terbaik di Asia Tenggara," jawab Devan sambil melirik Aura dengan binar mata penuh kilau asmara yang tidak pernah meredup selama satu dekade terakhir. Ia menurunkan Gavin perlahan. "Sekarang, pergilah ke taman belakang. Paman Kenzo baru saja membawa drone pemantau generasi terbaru yang katanya bisa mendeteksi pergerakan burung camar di pelabuhan. Dia butuh asisten taktis kecil untuk mengujinya."

"Asyik! Terima kasih, Ayah!" Gavin memberikan kecupan singkat di pipi Devan dan Aura, sebelum melesat pergi meninggalkan perpustakaan dengan langkah kaki penuh semangat anak-anak.

Setelah pintu perpustakaan tertutup kembali, kesunyian yang romantis kembali memenuhi ruangan. Devan berjalan mendekati Aura yang masih duduk di kursinya. Pria itu berdiri di belakang istrinya, meletakkan kedua telapak tangannya yang hangat di atas bahu Aura, lalu memijatnya perlahan untuk meredakan ketegangan otot setelah berjam-jam memeriksa berkas.

"Gavin benar-benar menakutkan, Ra," bisik Devan di dekat rungu Aura, sebuah kekehan rendah lolos dari bibirnya. "Dia baru delapan tahun dan sudah bisa berpikir seperti seorang jenderal hukum korporasi. Gue rasa, di umur lima belas tahun, dia sudah bisa mengambil alih seluruh rapat pleno dewan direksi."

Aura mendongakkan kepalanya, menatap wajah suaminya yang kini berada tepat di atasnya. "Dia adalah perpaduan kita, Dev. Dia tahu kapan harus menggunakan logika hukum yang dingin, dan dia tahu kapan harus menggunakan ketegasan fisik untuk melindungi apa yang menjadi haknya."

Devan menghentikan gerakan tangannya, lalu memutarkan kursi Aura agar wanita itu menghadapnya seutuhnya. Ia berlutut di depan Aura, meletakkan kedua tangannya di atas lutut sang istri, menatap langsung ke dalam manik mata cokelat jernih yang selalu menjadi kompas moral dan pelabuhan terakhir jiwanya.

"Malam ini adalah malam perayaan sepuluh tahun pernikahan kita, Ra," kata Devan lembut, jemarinya bergerak menyelipkan sehelai rambut Aura ke belakang telinga. "Gak ada pesta besar, gak ada pertemuan faksi. Cuma ada gue, lo, dan sebuah tempat yang sudah lama gak kita kunjungi."

Aura mengangkat sebelah alisnya, sebuah senyuman misterius terukir di bibirnya. "Pulau seberang?"

Devan tersenyum miring—sebuah senyuman penuh kemenangan yang selalu berhasil membuat jantung Aura berdebar seolah mereka masih sepasang remaja di perpustakaan Ganesha. "Dermaga privat kita sudah siap, Permaisuri. Kapal pesiar baru klan sudah diisi bahan bakar penuh, dan Kenzo sudah mengunci seluruh radar udara agar perjalanan kita malam ini tidak terganggu oleh apa pun."

Dua jam kemudian, di bawah siraman cahaya bulan purnama yang keperakan, sebuah kapal pesiar mewah berwarna hitam legam membelah ombak Laut Jawa dengan kecepatan konstan yang anggun. Di bagian dek terbuka teratas, sebuah meja makan kecil telah ditata dengan lilin-lilin aromaterapi beraroma cendana yang menenangkan, berpadu dengan aroma asin angin laut malam yang sejuk.

Aura berdiri di tepi pagar pembatas dek, mengenakan gaun malam panjang berbahan sutra lembut berwarna putih salju yang berkibar indah ditiup angin malam. Rambut sebahu miliknya bergerak mengikuti irama angin, memantulkan kilau keperakan di bawah sinar rembulan.

Dari belakang, Devan melangkah mendekat, menyampirkan sebuah syal kasmir hitam di bahu Aura agar istrinya tetap hangat. Ia kemudian melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling pinggang Aura, menarik tubuh wanita itu bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya yang selalu menjadi tempat paling aman di seluruh semesta.

"Sepuluh tahun, Ra," bisik Devan, suaranya yang berat terdengar begitu syahdu di antara deburan ombak yang menghantam lambung kapal. "Gue masih sering ingat malam di mana gue membawa lo ke pulau ini untuk pertama kalinya. Saat itu, dunia kita dipenuhi oleh badai, konspirasi Mahendra, dan ketakutan akan hari esok."

Aura memegang lengan Devan yang melingkari pinggangnya, memejamkan mata sejenak untuk meresapi kehangatan dekapan suaminya. "Dan malam ini, kita kembali ke sini dengan langit yang sangat bersih, Dev. Tidak ada lagi musuh di garis belakang, tidak ada lagi draf yang ditulis di bawah ancaman senjata. Kita sudah memenangkan seluruh pertempuran itu."

Devan memutar tubuh Aura secara perlahan, menangkup wajah cantik istrinya dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat. Di bawah cahaya bulan yang begitu terang, wajah tampan Devan memancarkan sebuah kedalaman cinta, rasa hormat, dan komitmen yang telah teruji oleh waktu dan badai kehidupan.

"Gue pernah bersumpah untuk menjadi perisai fisik lo, Aura," ujar Devan, matanya menatap lekat-lekat mata cokelat Aura yang berkaca-kaca oleh keharuan. "Dan malam ini, setelah sepuluh tahun, sumpah itu tidak berkurang satu kata pun. Malah, sumpah itu bertambah kuat. Gue akan memastikan bahwa sisa hidup lo hanya akan dipenuhi oleh kedamaian, tawa Gavin, dan cinta dari pria yang hidupnya berhasil lo selamatkan dari kegelapan."

Aura tersenyum, air mata kebahagiaan yang suci menetes perlahan membasahi pipinya, namun Devan dengan cekatan mengusapnya dengan ibu jarinya. Aura mengalungkan kedua tangannya di leher tegap Devan, merasakan kedekatan batin yang telah menyatu menjadi satu jiwa yang mutlak.

"Dan sumpah hukumku untukmu, Devanandra Bratadikara..." suara Aura terdengar begitu jernih dan mantap, bergema menembus sunyinya malam di laut lepas. "...adalah kesetiaan yang tidak akan pernah bisa digugat oleh yurisdiksi mana pun di dunia ini. Kita telah menulis mahakarya kehidupan kita sendiri, dan klausul cinta ini akan terus berlaku, abadi, melintasi waktu hingga napas terakhir kita terhenti."

Devan tersenyum miring—sebuah ekspresi kebanggaan sejati seorang penguasa yang telah memenangkan hadiah terbesar dalam hidupnya—sebelum ia menundukkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam, penuh gairah, dan sarat akan janji suci yang telah terkunci rapat di dalam keabadian.

Di bawah saksi bisu hamparan laut Jawa yang tenang dan langit malam yang bertabur bintang keperakan, kisah tentang sang mahasiswi teladan yang cerdas dan penguasa takhta kegelapan Bratadikara tidak lagi membutuhkan lembaran kertas draf baru. Karena di dalam pelukan satu sama lain, mereka telah berhasil menuliskan sebuah akhir yang sempurna, sebuah warisan abadi tentang bagaimana cinta, kecerdasan taktis, dan perlindungan mutlak mampu meruntuhkan kegelapan dan melahirkan sebuah fajar baru yang akan terus bersinar terang selamanya.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!