Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Kota Jianxia
Sudah lima hari lima malam Dazhi dan Xiao Qingxuan pergi dari kota Jinling untuk ke kota Jianxia, jarak antar kedua kota tersebut lumayan jauh, wajar kalau perjalanan mereka cukup lama.
Selama perjalanan, beruntungnya tidak ada hal buruk terjadi seperti penyerangan Kultivator aliran hitam atau sebagainya. Kini mereka sudah sampai di kota Jianxia dengan selamat.
Dazhi menatap keramaian pasar dihadapannya dari jendela kecil kereta kuda. Ini adalah kota Jianxia. Di setiap sudut pasar, banyak orang yang memperjualbelikan pil Kultivasi, pedang, dan hal-hal yang berbau Kultivasi.
Kota ini berbeda sekali dengan apa yang Dazhi lihat di kehidupan pertamanya. Mungkin karena Dazhi mengunjungi kota ini ketika berumur 20-an, jadi banyak perbedaan di kota tersebut.
Mata Dazhi menatap salah satu kios yang ada dipinggiran jalan kota Jianxia, kios itu menjual cincin penyimpanan yang bagus. Itu adalah benda yang Dazhi butuhkan sekarang, jika ia mempunyainya, maka dirinya tak perlu susah payah membawa barang-barangnya kalau sudah mempunyai cincin penyimpanan.
Kereta kuda terus melaju melewati pasar tersebut. Hingga akhirnya berhenti didepan sebuah kediaman yang besar.
Kediaman itu begitu besar dan megah, bahkan plakat nama keluarga didepan gerbang masuk pun terbuat dari emas.
"Kediaman keluarga Yan." Ucap Dazhi membaca plakat nama tersebut.
"Dazhi! Ayo kita turun!" Teriak Xiao Qingxuan dari luar kereta kuda.
Ia kemudian turun setelah dipanggil oleh Xiao Qingxuan. Mereka berdua lalu memasuki kediaman yang megah dan besar tersebut dipandu oleh seorang pengawal.
Didalam, Dazhi bisa melihat banyak dayang dan Kasim berlalu lalang. Tempat ini bahkan lebih besar ketika dimasuki daripada yang terlihat diluar.
Setelah berjalan selama beberapa saat, mereka sampai didepan sebuah ruangan yang cukup besar.
"Tuan, silahkan masuk kedalam. Di sana anda akan bertemu dengan kepala pelayan dan membahas pembelian perhiasan dengan beliau." Jelas pengawal yang memandu mereka.
"Terimakasih. Saya akan masuk."
"Ngomong-ngomong, apakah pemuda dibelakang anda adalah teman anda? Jika dia tidak punya kepentingan disini, maka bisa menunggu di gazebo sebelah sana."
"Ah baik. Zhizhi, nanti kau tunggu di gazebo itu yah. Paman tidak akan lama."
Dazhi mengangguk. Xiao Qingxuan lalu masuk kedalam ruangan sementara si pengawal sudah pergi meninggalkan Dazhi sendirian.
Karena Dazhi adalah anak yang baik, dia pergi ke gazebo seperti yang pamannya perintahkan. Di sana dirinya duduk santai sembari menikmati pemandangan kolam buatan yang indah.
"Hm... Tadi pengawal itu memanggilku pemuda. Mungkinkah fisikku sudah terlihat seperti berusia 16 tahun? Padahal aku masih 9 tahun, haha..." Dazhi bergumam sendiri.
"Hah? Dazhi masih 9 tahun? Kukira sudah belasan tahun." Sven menyahut tidak percaya.
"Loh? Bukannya kau sudah tahu kalau aku berumur 9 tahun, Sven?"
"Bagaimana aku bisa tahu kalau dirimu tidak memberitahu?"
Dazhi dan Sven terus berbicara mengenai usia Dazhi. Sekitar 15 menit mereka berkutat dengan topik itu, sampai suara ribut-ribut dibelakang mereka menghentikan pembicaraan diantara keduanya.
"Tuan muda, ini adalah jadwal anda untuk pergi ke sekte. Jika anda tidak pergi, maka tuan besar bisa memarahi anda."
Ada seorang Kasim terlihat berbicara kepada pemuda yang ada diatas dahan pohon. Namun sepertinya, pemuda itu tidak mendengar ucapan Kasim tersebut dan malah tidur dengan santai.
Entah mengapa, Dazhi merasa tidak asing dengan sosok pemuda diatas pohon. Ia seperti pernah melihatnya, tapi lupa.
"Ya ampun, Tuan muda ini..." Kasim itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah tuan mudanya.
Seorang dayang mendekati mereka, ia membawa sapu panjang yang biasa digunakan untuk membersihkan sarang laba-laba di atap genteng.
"Kasim, saya telah membawa apa yang anda minta."
"Bagus, bawa kemari."
Dayang memberikan sapu kepada Kasim. Lalu tanpa peringatan, Kasim itu menggunakan sapu tersebut untuk mendorong tuan muda diatas pohon.
Hal ini membuat tubuh si pemuda bergoyang hebat, ia bahkan sampa terbangun karena terkejut dengan apa yang dilakukan kasimnya.
"Hey Kasim, apa yang kau lakukan?! Kalau begini nanti aku bisa jatuh!!"
Bruk!!
Tepat seperti apa yang dikatakannya, pemuda itu terjatuh ke semak-semak dibawah pohon. Suara jatuhnya begitu keras, tentu saja ini membuat Dazhi dan Sven tertawa.
"Hahaha!! Lihatlah... Tuan muda itu terjatuh!"
"Bagaimana ia bisa terjatuh? Padahal sudah mencapai ranah Kultivasi ke-5. Hahaha!"
Mereka tertawa selama hampir semenit, sampai akhirnya Xiao Qingxuan memanggilnya.
"Zhizhi!! Ayo kita pergi! Paman sudah selesai!!"
***
"Paman, kita akan membeli apa?"
"Apa saja yang enak! Uang paman sedang sangat banyak sekarang!!"
Xiao Qingxuan menggoyangkan kantong koinnya yang penuh sehingga mengeluarkan bunyi yang enak didengar.
Kini mereka sudah kembali ke pasar setelah dari kediaman besar tadi. Hari sudah siang, dan ini berarti waktunya untuk makan siang.
"Lihat Zhizhi! Di sana ada yang menjual bakpao besar!! Lalu ada pangsit!! Itu juga ada daging babi panggang!!"
Xiao Qingxuan menunjuk setiap kios ramai yang menjual makanan menggugah selera. Dazhi hanya bisa tersenyum canggung melihat tingkah pamannya yang seperti orang baru melihat makanan enak.
"Zhizhi, kau mau yang mana?"
"Itu... Aku mau apa saja, yang terpenting bisa membuatku kenyang."
"Baiklah! Kalau begitu Paman akan membeli semuanya!! Kau tunggulah disini, nanti paman akan membawakan mu makanan enak!!"
Xiao Qingxuan pergi ke kedai-kedai tersebut dengan riang gembira. Dazhi menggelengkan kepalanya. Sebenarnya yang anak kecil itu siapa sih?
Sembari menunggu Xiao Qingxuan, anak itu pergi ke toko senjata didekatnya untuk melihat-lihat. Palingan pamannya itu akan lama karena kedai yang ia tuju sangat ramai.
Didalam toko senjata yang lumayan luas itu, Dazhi bisa melihat banyak pedang, tombak, belati, dan senjata lainnya yang biasa digunakan para Kultivator.
Toko ini cukup ramai oleh para Kultivator dari berbagai ranah dan sekte. Dazhi mendekati salah dua Kultivator yang sedang berbincang dan berharap bisa mendapatkan informasi yang bagus.
"Halo... Apakah kalian sedang membicarakan sesuatu? Bolehkah aku ikut mendengarkan?" Tanya Dazhi dengan sopan.
"Oh, tentu saja boleh... Kemarilah, kami sedang membicarakan tentang turnamen antar Kultivator."
Dazhi tertarik dengan pembicaraan ini. Apalagi topik mengenai 'Turnamen antar Kultivator' itu.
"Iya, sembilan hari lagi akan diadakan turnamen antar Kultivator. Kami sedang berunding tentang pendaftaran untuk mengikuti turnamen tersebut."
"Benarkah? Kalau begitu, mohon senior ceritakan lebih banyak karena junior ini benar-benar tertarik tentang hal itu."