Dirga dan Asha..
Keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih saat duduk di bangku sekolah, Asha adalah cinta pertama Dirga begitu juga Dirga yang cinta pertama Asha.
Keduanya saling mencintai satu sama lain, bahkan mereka bermimpi untuk menikah suatu hari nanti.
Namun takdir berkata lain..
Orangtua Dirga menentang hubungan Asha dengan Dirga, meminta Asha untuk pergi dengan memberikan sejumlah uang kepada asha.
Asha pun pergi meninggalkan Dirga tanpa penjelasan yang jelas..
Lima tahun berlalu..
Asha kembali Ke Jakarta..
Asha berpikir semuanya sudah berubah, termasuk Dirga..
Namun takdir kembali mempertemukan Dirga dan Asha, bukan sepasang kekasih tapi Bos dan juga asisten pribadinya.
apakah mereka akan kembali bersatu ? atau justru sudah ada orang lain yang mengisi hidup mereka ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Setelah hampir tiga jam perjalanan menuju Bandung
Asha dan Dirga pun sampai dihotel yang sudah disiapkan oleh klien Dirga
Segera mereka pun langsung melakukan check in agar bisa beristirahat lebih dulu
" Maaf pak yang tersisa hanya Suite Room, karena kondisi hotel yang sedang ramai saat ini "
Jelas Resepsionis hotel
" Kita cari hotel lain saja gimana Dir yang di dekat sini ? " tanya Asha
" Mohon maaf bu, hotel lainnya pun sama penuh karena beberapa hari ini sedang ada acara konferensi"
" Yaudah kita ambil aja kamar itu, kita harus segera istirahat"
Setelah selesai chek in mereka pun segera naik ke kamar untuk menaruh koper dan beristirahat
Begitu mereka masuk kedalam kamar, mereka pun semakin dibuat terkejut
Didalam kamar itu hanya ada satu kasur yang berukuran king size
" Ini kita nggak mungkin satu kasur kan Pak Dirga ? "
" Lalu kamu mau tidur di lantai ? Atau kamu nyuruh saya tidur di lantai ? "
Asha dan Dirga saling bertatapan untuk beberapa detik, sebelum akhirnya mereka saling membuang muka
" Karena terpaksa yaudah kita harus satu kasur " ucap Asha
Asha langsung menuju kasur, ia menumpuk bantal di tengah tengah
" Nggak boleh lewat batas "
Dirga tersenyum sambil menggeleng
" Saya juga nggak akan macam-macam sama kamu Asha "
" Ya tetap aja saya harus waspada "
Dirga yang merasa lelah pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang
" Pak Dirga "
" Hmm "
" Pak Dirga lapar nggak ? "
Dirga yang memejamkan matanya langsung membuka matanya
" Kamu lapar, Sha ? "
" Lumayan Pak "
" Yaudah kita keluar cari makan ya "
" Tapi katanya Pak Dirga cape "
" Saya juga lapar, lagian nanti kalau sekretaris saya pingsan gimana ?"
Asha tersenyum
Kemudian mereka pun keluar dari kamar
" Kamu mau makan apa, Sha ? "
" Hmm tadi sih di dekat sini ada tempat makan, kamu mau coba nggak ? "
" Boleh "
Entah kenapa sikap manis Dirga seperti ini membuat Asha semakin luluh..
Sikap manis yang Asha rindukan dari sosok Dirga
Kondisi Bandung yang dingin saat itu, membuat Asha beberapa kali menggosokkan lengannya dengan telapak tangan
Dirga yang menyadari hal itu langsung melepas sweater dan memasangkan kepada Asha
" Pak Dirga "
" Dingin, nanti kamu sakit "
" Loh nanti kalau pak Dirga kedinginan gimana ? "
" Aman Sha '
Mereka berjalanan kaki menuju tempat makan yang tak jauh itu
Begitu masuk mereka lansung memilih makanan untuk mereka santap
" Jadi gimana soal kontrak kerja kamu ? Masih mau kamu langgar ? "
" Aturan aneh "
" Aneh gimana ? Saya cuma ingin kamu profesional Sha "
" Saya bisa profesional "
" Tapi kalau pacar kamu tau gimana ? Kalau saya ini mantan terindah kamu ? "
" Apa apa ? mantan terindah ? "
" Iyah, benar kan ? "
" Kalau terindah ngapain putus ? "
" Nggak tau, kan kamu yang ninggalin saya "
Asha pun langsung diam dan mecoba memperhatikan sekelilingnya
Sedangkan Dirga ia tersenyum memperhatikan Asha yang semakin salah tingkah
Setelah menyantap makanan mereka, segera mereka pun kembali ke hotel
Mereka masih memiliki waktu 1 jam untuk meeting hari ini
Sesampainya di kamar, Dirga kembali merebahkan tubuhnya
Asha yang juga merasa pegal pun akhirnya ikut merebahkan tubuhnya
Asha yang mengantuk perlahan memejamkan matanya dan tertidur..
Dirga sendiri justru masih memikirkan cara bagaimana caranya Asha bercerita
" Sha.. Asha "
Panggil Dirga, namun tak ada jawaban dari Asha
Dirga pun menggelengkan kepalanya saat melihat Asha yang sudah tertidur
Dengan hati-hati Dirga menarik selimut
Namun saat Dirga hendak beranjak pergi, Asha yang sedang tidur tanpa sadar memeluk lengan Dirga
" Jangan pergi "
Dirga diam
" Sha.. "
" Jangan pergi Dirga.. "
" Aku minta maaf Dirga "
Dirga pun merebahkan tubuhnya disamping Asha
Membiarkan gadis itu tetap memeluk lengannya
" Kamu kenapa nggak bisa jujur sih Sha " ucap Dirga pelan
Dirga menatap langit-langit kamar, pikirannya saat ini hanya ada Asha dan Asha..
Sekitar tiga puluh menit Asha tertidur, ia terbangun karena suara ponsel Dirga yang cukup kencang
Begitu Asha membuka mata, ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang memeluk lengan Dirga
" Astaga Maaf " Asha langsung mendorong Dirga
" Nggak harus dorong kan bisa, Sha "
" Ya maaf maaf "
" Yaudah siap-siap sana, 30 menit lagi kita turun "
" Hmm " Asha mengangguk
Asha langsung pergi menuju toilet untuk bersiap-siap
...
Meeting hari pertama berjalan dengan lancar
Asha beberapa kali memandang Dirga dengan kagum
Pria itu bisa menjelaskan semuanya dengan tenang dan yakin
Bahkan klien pun mendengarkan tanpa menyela
Sejak dulu Dirga bagi Asha adalah sosok pria yang hampir sempurna
Setelah meeting selesai, Asha dan Arge pun meninggalkan cafe tempat mereka meting
Saat mereka hendak keluar dari cafe, rintik hujan mulai turun
" Kamu tunggu ya, aku ambil payung dulu "
Dirga berlari menuju mobilnya
Setelah berhasil mendapatkan payung, Dirga langsung menghampiri Asha dan memayungi Asha sampai mobil
" Yaampun rambut pak Dirga basah "
Asha tanpa sadar mengusap kepala Dirga
Namun begitu sadar ia langsung menariknya, namun sayangnya tangan DIrga sudah lebih dulu menahan tangan Asha
" Kayaknya rambut saya masih basah, Sha "
" Nanti dikeringin di hotel aja pak "
" oke "
Dirga langsung melajukan mobilnya menuju hotel
Setelah sampai ia langsung naik menuju kamar
Begitu didalam kamar, Asha mengeluarkan hair dryer untuk mengeringkan rambut Dirga
Dirga pun parsrah dengan apa yang Asha lakukan kepadanya saat ini
Setelah dirasa rambutnya sudah kerong sempurna, Asha pun langsung mematikan hair dryer itu dan kembali meletakkannya
Malam pertama di Bandung mereka habiskan dengan menatap hujan yang turun dengan deras
Tidak ada pemabahasan berat tentang masalalu
Namun malam itu menjadi saksi
Dua orang yang sudah berpisah tujuh tahun mulai memahami perasaan masing masing