NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGUBAH PENAMPILAN, MENGUBAH TAKDIR

Hari Senin selalu menjadi hari yang paling sibuk di Harapan Elite International School. Deretan mobil mewah berbaris rapi di depan lobi utama, menurunkan para pewaris takhta dari kalangan satu persen teratas. Koridor sekolah sudah dipenuhi oleh riuh rendah obrolan tentang pesta akhir pekan, liburan mewah, dan gosip terbaru. Semua orang sibuk memamerkan apa yang mereka miliki, mempertahankan posisi mereka di puncak rantai makanan sosial.

Namun, semua kegaduhan itu mendadak surut seperti air laut yang surut sebelum tsunami saat sebuah taksi reguler berhenti tepat di depan gerbang sekolah.

Dari dalam taksi, sebuah kaki jenjang berbalut kaus kaki putih bersih dan sepatu pantofel hitam melangkah turun. Begitu pintu mobil ditutup dengan bunyi ketukan yang mantap, seorang siswi berjalan melewati gerbang besi tempa dengan langkah yang begitu tenang, berirama, dan sarat akan rasa percaya diri yang mutlak.

Setiap pasang mata yang berada di dekat gerbang mendadak menghentikan aktivitas mereka. Bisikan-bisikan yang tadinya riuh berganti dengan keheningan yang dipenuhi rasa tidak percaya.

"Eh, lihat deh... itu siapa?"

"Anak baru ya? Murid pindahan dari sekolah internasional di luar negeri?"

"Gila, auranya mahal banget. Tapi tunggu... seragamnya kan seragam sekolah kita?"

Gadis yang menjadi pusat perhatian itu adalah Rina.

Perubahannya begitu radikal hingga nyaris terasa tidak nyata. Rambut hitamnya yang kini sehat berkilau dipotong dengan gaya layer modern yang jatuh dengan sangat indah membingkai wajahnya. Poni tebal yang selama ini menutupi wajahnya telah dipangkas habis, mengekspos dahinya yang bersih dan sepasang alis yang melengkung sempurna. Tanpa kacamata plastik hitam besarnya, sepasang mata bulat berwarna hitam pekat miliknya kini terpancar bebas—menatap lurus ke depan dengan binar yang tajam, dingin, dan sangat berwibawa.

Rina tidak lagi berjalan dengan tubuh membungkuk seolah-olah dia sedang memikul beban seluruh dunia. Punggungnya tegak, dagunya terangkat sedikit, memancarkan karisma aristokrat yang bahkan membuat para siswi populer dari kelas 12 menahan napas saat dia lewat. Seragam kotak-kotak birunya yang biasanya tampak kedodoran kini terpasang pas dan rapi di tubuhnya yang proporsional karena dia telah merapikan ukurannya di penjahit profesional.

Rina menyadari semua tatapan syok, kagum, dan iri yang diarahkan kepadanya. Namun, dia mengabaikan semuanya dengan ekspresi wajah yang sangat tenang. Di dalam otak dewasanya, dia tahu betul kekuatan dari sebuah impresi pertama visual. Di Harapan Elite, penampilan adalah zirah. Dan hari ini, dia telah mengenakan zirahnya yang paling sempurna.

Saat Rina melangkah masuk ke dalam gedung utama, dia berpapasan dengan faksi Sherly yang sedang berkumpul di dekat mading koridor tengah. Sherly sedang tertawa palsu bersama Clarissa sebelum tawanya mendadak mati di tenggorokan saat melihat sosok Rina mendekat.

Mata Sherly melebar hingga hampir melompat keluar dari rongganya. Gelas tumbler mewah berisi kopi yang dipegangnya bergetar hebat. "R-Rina...?" bisik Sherly dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Rasa tidak percaya dan ketakutan yang mendalam langsung merayap naik ke dadanya.

Gadis di depannya ini bukan lagi si kuper yang bisa dia maki-maki setiap hari. Sosok di depannya ini memancarkan aura seorang pemenang yang siap menginjak-injak siapa saja yang menghalangi jalannya.

Rina berjalan melewati faksi Sherly tanpa memperlambat langkahnya atau melirik mereka sedikit pun. Dia memperlakukan mereka seolah-olah mereka hanya seonggok udara kosong. Pengabaian yang begitu dingin itu terasa seperti tamparan keras di wajah Sherly, membuatnya berdiri mematung menahan malu di depan siswa lain yang mulai menyadari situasi tersebut.

Rina terus berjalan menuju kelasnya, namun langkahnya terhenti saat sebuah suara familier memanggil namanya dari arah belakang dengan nada yang sangat antusias.

"Rina! Tunggu!"

Rina membalikkan badannya perlahan. Di ujung koridor yang sedikit sepi, Kevin sedang berjalan cepat menghampirinya. Cowok itu mengenakan jaket varsity andalannya, tersenyum lebar dengan binar mata yang awalnya penuh dengan kepuasan karena mengira umpan manipulasinya berhasil.

Namun, begitu Kevin berdiri dalam jarak dua meter di depan Rina, senyumannya langsung membeku. Cowok itu melongo seketika. Matanya menyapu seluruh penampilan baru Rina dari kepala hingga kaki dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kagum yang luar biasa sekaligus syok yang tak terbendung.

"R-Rina... ini beneran kamu?" tanya Kevin, suaranya sedikit terbata-bata. "Gila... kamu... kamu cantik banget hari ini. Ke mana aja kacamata sama poni kamu yang kemarin?"

Perubahan Rina memicu insting berburu Kevin sebagai cowok nakal sekolah. Jika dulu dia mendekati Rina murni karena ingin memanfaatkan dokumen ayahnya, kini ada rasa ketertarikan fisik yang sangat egois dan agresif yang bergolak di dalam dadanya. Gadis di depannya ini terlihat sangat menakjubkan, seperti model majalah kelas atas yang mendadak mengenakan seragam sekolahnya.

Rina menatap Kevin datar melalui sepasang matanya yang hitam pekat. Tidak ada rona merah di pipinya atau sikap salah tingkah seperti di kehidupan lalu. Ketetapan hatinya sedalam palung samudera.

"Ada apa, Kevin?" tanya Rina, suaranya terdengar sangat jernih, dingin, dan menjaga jarak yang sangat tegas.

Kevin berdeham, mencoba menguasai kembali pesonanya yang sempat runtuh. Dia melangkah satu langkah lebih dekat, menurunkan nada suaranya menjadi lebih intim dan penuh rahasia, melirik ke sekeliling koridor. "Soal... permintaan aku yang kemarin di taman belakang, Rin. Kamu udah berhasil ambil dokumen proposal proyek dan daftar vendor sutra dari ruang kerja ayahmu, kan? Kamu bawa flashdisk-nya hari ini?"

Rina mengulum senyum yang sangat tipis, sebuah senyuman yang tampak begitu manis namun sebenarnya sarat akan racun yang mematikan. Dia merasuk tangannya ke dalam saku rok seragamnya, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna perak mengkilap di antara jemari lentiknya yang bersih.

Mata Kevin langsung berbinar serakah melihat benda tersebut. Dia menjulurkan tangannya untuk merebut flashdisk itu, namun dengan gerakan yang sangat anggun dan cepat, Rina menarik kembali tangannya, membuat jemari Kevin hanya menangkap angin.

"Rin?" Kevin mengernyitkan keningnya, sedikit tidak suka dengan penolakan tersebut.

"Aku membawanya, Kevin," ucap Rina, menatap mata cowok itu lurus-lurus dengan pandangan mata yang menusuk. "Di dalam sini ada semua data yang kakakmu butuhkan untuk 'tugas akhir'-nya. Strategi ekspansi vendor, analisis harga potongan kain, hingga draf tender proyek tahun depan."

Tentu saja itu adalah kebohongan yang sangat rapi. Di dalam flashdisk tersebut, Rina bersama bantuan analisis makroekonominya telah menyusun sebuah dokumen proposal palsu. Dokumen itu berisi analisis pasar fiktif yang menyarankan investasi besar-besaran pada lahan komersial dan skema vendor tekstil imitasi di wilayah pinggiran yang bulan depan akan dinyatakan sebagai zona hijau lindung oleh pemerintah—sebuah bom waktu finansial yang akan menghancurkan modal siapa pun yang nekat menirunya.

"Tapi," Rina melanjutkan kalimatnya sebelum Kevin sempat memotong, "dokumen ini sangat rahasia. Aku mengambil risiko yang sangat besar demi kamu, Kevin. Jadi, pastikan kakakmu menggunakannya dengan sangat hati-hati dan jangan sampai ada pihak luar yang tahu bahwa data ini berasal dari aku."

"Iya, Rin! Pasti! Aku sumpah nggak akan ada yang tahu!" seru Kevin penuh kemenangan, egonya melambung tinggi karena merasa Rina melakukan semua risiko gila ini murni karena sangat mencintainya. "Kamu emang pacar terbaik aku, Rin. Sini, kasih ke aku flashdisk-nya."

Rina menyerahkan flashdisk perak itu ke atas telapak tangan Kevin. Begitu jemari Kevin menutup benda tersebut, Rina tahu bahwa vonis kehancuran bagi keluarga cowok itu telah resmi berjalan.

"Terima kasih ya, cantik. Nanti jam istirahat kita makan bareng di kantin, ya?" ucap Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya, berlagak romantis sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah terburu-buru menuju kelasnya, tidak sabar untuk segera mengirimkan data berharga itu kepada ayahnya.

Rina tetap berdiri di posisinya, menatap punggung Kevin yang menjauh dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa muak yang mendalam. Dia merogoh sapu tangan kecil dari sakunya, mengusap ujung jarinya yang sempat tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Kevin tadi, seolah-olah dia baru saja menyentuh sesuatu yang sangat kotor.

"Nikmatilah kemenangan semu kalian, Keluarga Wangsa," desis Rina dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan angin koridor. "Bulan depan, saat pemerintah menyegel lahan investasi kalian, aku ingin melihat apakah kalian masih bisa tersenyum lebar seperti itu."

Rina membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan langkah menuju kelas 11-A. Namun, begitu dia menoleh, langkahnya kembali terhenti seketika.

Di ujung koridor lantai dua, bersandar pada pembatas pagar pembatas tangga, berdiri Kai.

Sang Ketua OSIS itu rupanya telah berdiri di sana sejak tadi, mengamati seluruh interaksi antara Rina dan Kevin dari ketinggian. Sepasang mata hitam pekat milik Kai menatap Rina dengan intensitas yang sangat kuat, tajam, dan penuh selidik. Ada kilat ketertarikan dan kecurigaan yang mendalam di wajah tampannya yang biasanya tanpa ekspresi, seolah-olah dia baru saja melihat sebuah pertunjukan teater yang sangat menarik dari seorang gadis yang penuh misteri.

Rina tidak menghindari tatapan itu. Dia menegakkan kepalanya, menatap balik Kai dari kejauhan, lalu memberikan sebuah anggukan hormat yang sangat tipis dan anggun sebelum melangkah masuk ke dalam kelasnya. Perang di Harapan Elite telah resmi bergeser ke tingkat yang lebih tinggi, dan Rina telah siap untuk menguasai seluruh papan permainan.

1
Hitomaa🇦🇷
ambisius sekali si Rina
Hitomaa🇦🇷
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Hitomaa🇦🇷
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!