NovelToon NovelToon
Jalan Abadi Sang Pengembara

Jalan Abadi Sang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Wuxia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.

Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.

Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah yang Hampir Terbongkar

​Peringatan histeris dari Roh Menara membuat jantung Yu Chen berdegup kencang. Namun, sebagai seorang pemburu yang terbiasa menghadapi terkaman maut di alam liar, ekspresi di wajah samarannya tetap terlihat setenang air danau.

​Ia perlahan memalingkan pandangan, melirik ke arah celah retakan dimensi di belakang Tetua Bai. Di sana, di antara barisan murid Sekte Pedang Awan yang tersisa, berdiri seorang pemuda berjubah biru yang sejak awal pertempuran sama sekali tidak ikut angkat senjata.

​Tatapannya tajam, mengunci lurus pada sosok Yu Chen dengan kening berkerut dalam, seolah-olah sedang berusaha menggali sebuah memori lama yang terkubur.

​"Aku pernah melihat siluet bajingan jubah biru itu..." batin Yu Chen tajam.

​Dalam hitungan milidetik, kepingan ingatan masa lalu dari Desa Qinghe mendadak mencuat di otaknya. Tiga tahun yang lalu, saat ia masih menanggung hinaan sebagai anak yatim piatu di desa, sebuah rombongan sekte besar pernah lewat untuk mencari bibit murid berbakat. Dan pemuda jubah biru di depan sana... adalah salah satu orang yang sempat menatap wajah asli Shen Yu dari jarak dekat!

​Jika ia sampai menyadari siapa Yu Chen sebenarnya di depan Tetua Bai, tamat sudah riwayatnya.

​Tetua Bai kembali membuka suara, nadanya memberat. "Kenapa kau mendadak membisu, Anak Muda? Apakah kau berniat menolak niat baik dari tawaran emas Sekte Pedang Awan-ku?"

​Yu Chen segera menarik fokusnya, lalu membungkukkan badannya dengan sangat formal demi menjaga sopan santun beladiri.

​"Junior tentu saja merasa teramat sangat terhormat atas kemurahan hati Senior," ucap Yu Chen tenang. "Namun, sebelum Junior melabuhkan diri ke sekte besar mana pun, Junior telah mengikat janji pada diri sendiri untuk menguji batas kemampuan awal dengan mengikuti Ujian Rekrutmen Murid Gabungan di Kota Awan Hijau terlebih dahulu."

​Tetua Bai mengelus janggut putihnya, mengangguk-angguk paham. "Sebuah pilihan prinsip yang cukup bijaksana. Kalau begitu, datanglah mengetuk gerbang Sekte Pedang Awan setelah ujian gabunganmu selesai."

​Yu Chen mengangguk takzim. "Terima kasih atas pengertiannya, Tetua."

​Namun, bahaya belum sepenuhnya berlalu. Di belakang Tetua Bai, pemuda berjubah biru itu mendadak melangkah maju, memotong perimeter pertahanan. Keningnya kian berkerut dalam saat menatap lekat-lekat ke arah sepasang manik mata Yu Chen.

​"Aneh... Struktur wajahnya jelas berbeda... tapi sorot mata pemburu yang sedingin es itu... kenapa rasanya begitu familier di ingatanku?" gumam pemuda jubah biru itu penasaran.

​Ia berhenti tepat dua langkah di depan Yu Chen, menatapnya dengan intimidasi visual. "Tetua Bai, mohon izin. Ada satu hal janggal yang ingin saya konfirmasikan langsung kepadanya."

​Pria jubah biru itu menyipitkan mata. "Bocah... apakah kita berdua pernah berpapasan di suatu tempat sebelumnya?"

​Yu Chen mengepalkan tinju kanannya erat-araf di balik lipatan lengan baju abunya, menyiagakan energi Langkah Bayangan Ilusi. Namun, wajah samarannya justru mengumbar senyuman santai tanpa dosa.

​"Mungkin saja, Saudara. Sebagai seorang pemburu independen, aku sudah terbiasa menjelajahi berbagai hutan liar untuk menyambung hidup."

​Pemuda berjubah biru itu menggelengkan kepala dengan tegas. "Bukan. Aku sangat yakin pernah melihat sorot matamu itu... tepat di sebuah gubuk desa terpencil!"

​Atmosfer di sekeliling tebing batu seketika membeku total. Liu Xue yang berdiri di belakang Yu Chen ikut menahan napasnya dengan wajah pucat. Ia tahu persis, jika identitas asli Yu Chen terbongkar sebagai buronan atau musuh rahasia di depan Tetua Agung ranah Foundation Establishment Puncak ini, tidak akan ada satu pun dari mereka yang diizinkan keluar hidup-hidup dari lembah.

​Namun, di luar ekspektasi semua orang, Yu Chen justru meletuskan tawa kecil yang teramat renyah dan santai.

​"Hahaha! Saudara jubah biru, wajah standar dan biasa seperti milikku ini memang sangat sering membuat orang lain salah ingat. Di kota perbatasan bahkan ada seratus orang yang memiliki potongan wajah serupa denganku," canda Yu Chen lempang.

​Beberapa murid Sekte Pedang Awan di sekitarnya yang menganggap ketegangan ini konyol, ikut tertawa remeh. "Benar juga. Wajah kerempeng pengembara seperti dia mana mungkin merupakan seorang tokoh penting."

​Pemuda berjubah biru itu mendengus gusar, masih tidak puas. Namun, sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan interogasi berikutnya...

​ROOOAAARRR!!!!!

​Ular Naga Bertanduk yang sebelumnya terhempas dalam amblas tebing, mendadak kembali bangkit berdiri dengan ledakan energi yang seribu kali lipat lebih destruktif!

​Aura kabut merah darah yang teramat pekat menyelimuti sekujur tubuh raksasanya. Sisik zirah hitamnya mulai memancarkan retakan-retakan emas yang berdenyut panas, dan sepasang tanduk merah di dahinya memanjang drastis menyerupai bentuk mahkota naga kuno.

​Suara panik Roh Menara kembali bergema di kesadaran Yu Chen: "Sialan! Binatang melata itu... dia ternyata berhasil memanfaatkan sisa tekanan hantaman Tetua Bai untuk meremukkan belenggu ranahnya! Dia telah resmi menembus alam [Foundation Establishment]!!!"

​Atmosfer keangkuhan Tetua Bai seketika lenyap, digantikan oleh gurat wajah yang teramat serius. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini, tangan kanannya bergerak aktif memegang gagang senjata di pinggangnya.

​SREEENNNGGG!!!

​Bilah pedang pusaka panjang Tetua Bai ditarik keluar dari sarungnya, memancarkan dengungan niat pedang yang teramat tajam hingga memotong bersih seluruh daun dan ranting pohon di sekitarnya dalam radius puluhan meter tanpa menyentuhnya.

​Yu Chen menyipitkan matanya tajam, tubuh fisiknya menegang di bawah belenggu gelang 5.000 jin. "Ini adalah demonstrasi kekuatan penuh dari seorang Tetua Agung sekte... Aku yang sekarang masih terlalu kerempeng jika dibandingkan dengannya."

​Di tengah arena kawah, Ular Naga Bertanduk yang telah resmi bermutasi menjadi monster ranah Foundation Establishment, menegakkan kepalanya dengan keangkuhan tirani baru. Sisik tubuhnya kini berubah warna sepenuhnya menjadi merah tua pekat, dibarengi sambaran kilatan petir merah yang meletus dari sepasang tanduk barunya.

​ROOOAAARRR!!!!!

​Semburan gelombang suara raungannya mengepulkan riak destruktif yang meremukkan bebatuan arena. Beberapa murid Sekte Pedang Awan yang kultivasinya masih berada di ranah bawah langsung memuntahkan darah segar dan jatuh pingsan karena dantian mereka terguncang.

​Tetua Bai melayang di udara, mengangkat pedangnya lurus ke langit. "Hewan liar tetaplah hewan liar tanpa akal budi. Eksistensimu mutlak tidak akan pernah memiliki kelayakan untuk menantang batas superioritas manusia!"

​Zhao Feng yang terkapar kritis di kejauhan bergumam dengan mata berbinar serakah. "Matilah kau, Ular Sialan!"

​SWIIING!!!

​Tetua Bai menebaskan pedangnya ke bawah. Sebuah kilatan cahaya pedang putih murni sepanjang puluhan meter membelah ruang udara lembah dengan daya hancur mutlak, menghantam telak tepat di atas tubuh raksasa Ular Naga Bertanduk.

​BOOOOMMMM!!!!!

​Ledakan masif kembali meletus, memuntahkan kepulan asap tebal dan debu berlumpur yang menutupi seluruh jarak pandang mata fana.

​Namun... belum sempat para murid bersorak gembira, sebuah suara retakan tajam mendadak terdengar bergemuruh dari balik kepulan asap. Dan itu... sama sekali bukan suara hancurnya sisik ular!

​KRAAAKKK!!!

​Cahaya pedang putih murni milik Tetua Bai mendadak hancur berkeping-keping menjadi serpihan energi di udara. Satu detik kemudian, sesosok monstrum ular merah raksasa menerobos keluar dari balik kepulan debu dengan kecepatan penuh, sama sekali tidak mengalami luka fisik berarti pada tubuh barunya!

​"Mustahil! Pertahanan fisiknya meningkat sampai ke tingkat tirani ini?!" seru para murid elit luar dengan wajah penuh teror.

​Ular Naga Bertanduk tidak menyia-nyiakan momentum kejutan tersebut. Rahang mulutnya terbuka tiga kali lipat lebih lebar, memuntahkan kombinasi semburan api hitam pekat bercampur sambaran petir merah darah lurus ke arah posisi Tetua Bai melayang!

​DUAAARRRRR!!!!!

​Ledakan dahsyat memicu terciptanya sebuah kawah lubang baru berskala raksasa di tengah lembah. Tetua Bai mengerahkan seluruh kelincahan spasialnya untuk melompat mundur ke udara di detik-detik terakhir. Namun, ia terpaksa membayar harga atas keangkuhannya—ujung kain jubah putih mewahnya telah robek tercabik dan hangus terbakar di bagian lengan kanan. Sang Tetua Agung... kini mulai terdesak dan terluka!

​Yu Chen yang menyaksikan duel hidup dan mati tingkat tinggi tersebut dari balik perlindungan batu raksasa, menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat licik di wajah samarannya.

​"Dua harimau terkuat di dalam hutan ini akhirnya mulai bertarung dengan mempertaruhkan seluruh modal nyawa mereka," analisis Yu Chen dengan mata berkilat. "Jika ritme pertempuran berdarah ini terus berlanjut... konklusinya adalah kedua belah pihak akan berakhir dengan luka dalam yang teramat parah."

​"Dan situasi kekacauan masal itulah... yang merupakan wujud dari panggung kesempatan emas terbaik bagi seorang pemburu liar sepertiku!"

​Di dalam dimensi Cincin Penyegel Langit, Roh Menara menggelengkan kepalanya seraya tersenyum getir. "Shen Yu... otak cerdikmu itu benar-benar teramat sangat licik dan berbahaya. Namun ingat hukum emas pemburu: Sifat keserakahan yang tidak terkontrol... sering kali menjadi dalang utama yang membunuh sang pemburu itu sendiri di akhir cerita."

​Tepat pada detik ketika nasihat Roh Menara selesai terngiang, sepasang mata jeli Yu Chen mendadak menangkap sebuah pendaran pilar cahaya baru yang teramat murni memancar dari balik reruntuhan puing kawah tengah arena.

​Di sela-sela sisa pohon spiritual yang telah hancur lebur setelah diserap habis energinya oleh sang ular, ternyata tertinggal satu butir biji tanaman berukuran kecil yang warnanya merah keemasan murni. Biji kecil itu terus berdenyut, memancarkan riak fluktuasi energi spiritual yang ratusan kali lipat lebih murni dan pekat dibandingkan dengan wujud buah aslinya sebelum hancur!

​Roh Menara seketika membelalakkan matanya sempurna, berteriak histeris di dalam kesadaran Yu Chen:

​"Demi Dewa Kosmik! Itu... itu bukan sisa sampah buah! Benda itu adalah [Benih Roh Berdarah ]!"

​"Sebuah anomali mutasi alam yang nilai jual dan khasiat energinya... mutlak sepuluh kali lipat lebih tinggi dan langka dibandingkan dengan wujud Buah Roh Berdarah biasa! Itu adalah harta karun penempa dantian tingkat dewa!"

​Sepasang mata Yu Chen seketika menyipit tajam, kobaran tekad baja menyala terang di matanya. Ia mencengkeram Batu Bintang lima ribu jin di tangannya.

​"Sekarang... aku telah memiliki satu alasan mutlak yang teramat kokoh... untuk tetap bertahan dan mengacaukan medan pertempuran berdarah ini hingga ke titik darah penghabisan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!