Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kembali Pulang
Beberapa menit berlalu hingga suasana di dalam mobil perlahan kembali tenang. Tangisan yang sebelumnya memenuhi mobil kini telah mereda. Amora dan Jelita sama-sama menarik napas panjang, berusaha mengembalikan emosi yang sempat tak terkendali.
Amora mengambil beberapa lembar tisu dari laci dashboard, lalu menyerahkannya kepada sang kakak.
"Nih, Kak."
"Terima kasih."
Jelita menerima tisu itu sambil mengusap sisa air mata di pipinya. Meski matanya masih tampak sembap, raut wajahnya tidak lagi setegang beberapa menit yang lalu.
Amora menunggu sejenak sebelum akhirnya kembali membuka percakapan.
"Selama ini Kakak tinggal di mana?"
Jelita menatap lurus ke arah kaca depan mobil.
"Aku nyewa kamar kos," jawabnya pelan. "Lokasinya beberapa menit dari sini."
Amora mengangguk pelan. Ia sama sekali tidak menyangka kakaknya berada di tempat tinggal yang begitu dekat dengan apartemen tempat ia kini tinggal bersama Atharazka.
Tidak lama kemudian, sebuah pertanyaan lain muncul di benaknya.
"Mas Dani tahu Kakak tinggal di sana?"
Jelita tidak terlihat terkejut mendengar nama sang kekasih disebut. Ia hanya menganggukkan kepala pelan.
"Iya. Dani satu-satunya orang yang tahu."
Amora tersenyum tipis.
"Aku udah curiga dari awal."
Jelita menoleh.
"Kok bisa?"
"Karena sikap Mas Dani beda."
"Dalam hal apa?"
"Sejak Kakak menghilang, dia enggak pernah sekalipun ikut nanya perkembangan pencarian Kakak. Padahal biasanya dia paling perhatian sama kakak. Kalau benar-benar enggak tahu, pasti dia bakal sering menghubungi Ayah atau Mama."
Amora berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Tapi dia justru kelihatan tenang. Dari situ aku mulai yakin kalau sebenarnya dia tahu Kakak ada di mana."
Mendengar penjelasan itu, Jelita tersenyum kecil.
"Kamu ternyata jeli juga."
Amora hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. Suasana di antara mereka kini jauh lebih santai. Untuk pertama kalinya sejak bertemu, keduanya bisa berbincang tanpa diselingi tangisan.
Jelita kemudian menceritakan bahwa ia sebenarnya hanya keluar sebentar untuk membeli makan malam. Ia sama sekali tidak menduga akan bertemu Amora di supermarket tersebut.
"Kakak kira enggak bakal ada orang yang kenal dengan berpenampilan kaya gini,," katanya lirih.
"Kalau adik sendiri mana mungkin enggak kenal."
Ucapan Amora membuat Jelita tertawa pelan meski masih terdengar hambar. Tidak ingin membuang kesempatan yang ada, Amora kembali membujuk kakaknya.
"Kak... pulang, ya."
Senyum di wajah Jelita perlahan memudar.
"Aku belum siap ketemu Ayah sama Mama."
"Kenapa?"
"Aku malu."
Jawaban itu keluar hampir tanpa suara.
"Aku sudah mengecewakan mereka."
Amora menggeleng pelan.
"Mereka mungkin kecewa sama keputusan Kakak, tapi mereka jauh lebih sedih karena Kakak menghilang tanpa kabar."
Ia menggenggam tangan Jelita dengan lembut.
"Selama dua hari ini mereka terus menunggu. Ayah bahkan berkali-kali keluar rumah cuma buat berharap ada kabar dari Kakak."
Jelita menundukkan kepala.
"Kakak takut dimarahi."
Amora tersenyum tipis.
"Kalau dimarahi sedikit sih mungkin iya."
Jelita langsung menatap adiknya.
"Tapi setelah itu semuanya pasti baik-baik saja. Yang penting Kakak pulang."
Amora sengaja tidak menceritakan bagaimana sebenarnya situasi setelah pernikahan mendadak itu terjadi. Ia tidak ingin menambah rasa bersalah yang sudah begitu besar di hati kakaknya.
"Percaya sama aku," lanjut Amora pelan. "Ayah dan Mama enggak mungkin marah terlalu keras sama kakak. Mereka sayang banget sama kakak." Kalimat itu membuat Jelita terdiam cukup lama.
Beberapa saat kemudian, ia menganggukkan kepala pelan.
"Iya, kakak pulang."
Jawaban singkat itu langsung membuat wajah Amora berbinar.
"Serius?"
"Iya."
Senyum lebar seketika terukir di wajah Amora. Rencana membeli bahan makanan malam itu langsung terlupakan. Yang terpenting baginya sekarang hanyalah membawa kakaknya kembali ke rumah keluarga Atmojo.
Amora segera menyalakan mesin mobil. Begitu kendaraan mulai bergerak meninggalkan area parkir supermarket, ia melirik sekilas ke arah Jelita yang kini tampak jauh lebih tenang.
Perjalanan malam itu terasa berbeda. Bukan sekadar perjalanan pulang menuju kediaman keluarga Atmojo, tetapi juga langkah pertama bagi Jelita untuk menghadapi semua kesalahan yang selama ini ia hindari, ditemani sang adik yang sudah ia kecewakan tapi tetap selalu ada untuknya.
Sekitar 30 menit kemudian, mobil yang dikemudikan Amora akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Atmojo. Lampu taman yang menyala menerangi jalan masuk menuju garasi, sementara suasana malam di sekitar rumah tampak begitu tenang.
Amora memperlambat laju mobilnya sebelum menghentikannya di area parkir yang berada tepat di depan teras utama. Mesin dimatikan, tetapi tak satu pun dari mereka langsung beranjak turun.
Di kursi sebelah, Jelita masih terdiam. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan, sementara pandangannya terus tertuju ke bawah. Wajahnya menyiratkan kegelisahan yang belum juga hilang.
Amora menoleh ke arah kakaknya dengan senyum lembut.
"Kak..."
Jelita mengangkat wajah perlahan.
"Kita udah sampai."
Kalimat sederhana itu membuat Jelita menarik napas panjang. Ia mencoba mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan.
"Ayo," ujar Amora menenangkan. "Semuanya pasti baik-baik aja."
Jelita membalas dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan. Beberapa detik kemudian, keduanya membuka pintu mobil dan turun bersamaan.
Angin malam berembus pelan, membawa aroma bunga melati dari taman depan rumah. Belum sempat mereka melangkah menuju teras, pintu utama lebih dulu terbuka dari dalam.
Danendra Atmojo bersama Fina Atmojo sudah berdiri di sana.
Rupanya suara mobil yang memasuki halaman membuat keduanya segera keluar untuk memastikan siapa yang datang.
Sesaat, waktu seolah berhenti. Tidak ada satu pun yang berbicara. Tatapan Danendra langsung tertuju kepada putri sulungnya yang berdiri beberapa langkah dari teras. Sementara Fina menatap Jelita dengan mata yang perlahan dipenuhi air mata.
Jelita sendiri hanya mampu menundukkan kepala. Rasa bersalah membuatnya tak sanggup menatap kedua orang tuanya lebih lama.
Tanpa menunggu lebih lama, Fina bergegas menghampiri putrinya. Begitu jarak mereka cukup dekat, perempuan itu langsung memeluk Jelita erat.
"Ya Allah... akhirnya kamu pulang juga, Nak."
Suara Fina terdengar bergetar menahan haru.
"Mama takut terjadi apa-apa sama kamu."
Pelukan itu begitu hangat hingga membuat benteng pertahanan Jelita runtuh seketika.
Air matanya kembali mengalir.
"Maaf, Ma..." bisiknya lirih. "Maafin Jelita."
Fina mengusap pelan punggung putrinya.
"Yang penting kamu pulang dalam keadaan selamat."
Sementara itu, Danendra masih berdiri beberapa langkah dari mereka. Pria yang biasanya selalu tampak tegas itu hanya memandangi putrinya dalam diam. Rasa lega begitu jelas terlihat dari sorot matanya, meski ia belum mengucapkan sepatah kata pun.
Amora yang menyaksikan momen tersebut ikut merasa haru. Ia berjalan mendekati kedua orang tuanya lalu berkata dengan lembut,
"Ayah.. Mama... kita masuk dulu, yuk. Di luar udaranya mulai dingin."
Danendra menganggukkan kepala pelan.
"Iya. Kita lanjut ngobrol di dalam."
Fina perlahan melepaskan pelukannya, tetapi tetap menggenggam tangan Jelita seolah takut putrinya kembali menghilang.
"Masuk, Sayang," ucapnya lembut.
Jelita mengangguk pelan sambil mengusap sisa air matanya.
Keempatnya kemudian melangkah memasuki rumah bersama-sama. Suara langkah kaki mereka menggema pelan di atas lantai marmer yang mengilap. Meski keheningan masih menyelimuti perjalanan menuju ruang keluarga, suasana rumah malam itu terasa jauh berbeda.
Tidak semua persoalan telah selesai, dan masih banyak penjelasan yang harus disampaikan. Namun setidaknya, rumah keluarga Atmojo yang selama dua hari terasa kehilangan kini kembali utuh dengan hadirnya putri sulung mereka.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰