NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: GETARAN YANG KEMBALI PULANG

Pagi hari di kota asing itu menyambut Aini dengan pelukan udara yang sejuk. Ketika tirai jendela kamar penginapan ditarik, sinar matahari pagi merayap masuk, membasuh lantai kamar dengan kehangatan yang lembut. Aini menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia bangun tidur tanpa ada rasa sesak yang menghimpit dada, tanpa ada bayang-bayang ketakutan akan penilaian negatif dari orang lain. Kamar itu sunyi, namun sunyi kali ini terasa begitu damai dan memerdekakan jiwanya.

Sembari duduk santai menikmati secangkir teh hangat yang mengepulkan uap tipis, sebuah getaran lembut dari ponsel di atas meja memecah keheningan.

Ting!

Sebuah notifikasi WhatsApp masuk. Aini meraih ponselnya, dan seulas senyuman tipis terukir di bibirnya saat melihat nama pengirimnya. Itu dari Egi.

Egi:Selamat pagi, Ai. Semoga tidurmu nyenyak semalam dan lelahmu sudah hilang. Jangan lupa sarapan yang kenyang ya sebelum pulang sore nanti. Hati-hati di jalan.

Membaca baris pesan yang teramat santun itu, dada Aini mendadak berdesir pelan. Ada kehangatan asing yang tiba-tiba menyusup ke relung hatinya. Sudah lama sekali—bahkan mungkin tidak pernah selama satu tahun pernikahannya dulu—Aini menerima perhatian yang begitu tulus, menghargai, dan menaruh hormat pada keberadaannya tanpa ada tuntutan materi atau adat di belakangnya.

Dengan jemari yang terasa ringan, Aini mengetikkan balasan yang tak kalah ramah, memulai sebuah kedekatan baru yang mengalir pelan namun pasti.

Sore hari yang dinanti pun tiba. Tepat jam lima sore, Aini sudah duduk manis di dalam mobil travel yang akan membawanya pulang menempuh perjalanan empat jam kembali ke Pesisir Selatan. Di sepanjang jalan aspal yang membelah perbukitan dan pemandangan malam yang mulai pekat, Aini menatap keluar jendela dengan tatapan yang berbinar. Perjalanan pulang kali ini terasa sangat berbeda. Pikiran Aini tidak lagi melayang pada air mata dan luka batin seperti saat dia pulang larut malam menembus hujan dari rumah mertuanya dulu.

Ponsel di genggamannya terus menyala, menampilkan obrolan demi obrolan seru bersama Egi. Mereka membahas banyak hal; mulai dari ide-ide liar untuk plot novel selanjutnya, karakter tokoh, hingga candaan ringan tentang daerah kecamatan mereka yang sama. Aini merasa menemukan seseorang yang berada di satu frekuensi pemikiran yang sama. Perjalanan pulang kali ini diibaratkan seperti fajar yang menyingsing, meninggalkan pekatnya kegelapan malam masa lalu yang melelahkan.

Namun, di belahan tempat lain di Pesisir Selatan, atmosfer di dalam rumah Ibu Rosita justru sedang membara oleh api konflik. Ruang tengah yang biasanya dipenuhi oleh suara sindiran sinis kini berubah menjadi medan perang mulut yang hebat. Arman berdiri di tengah ruangan dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata penuh frustrasi, menatap ibunya dan saudara-saudara perempuannya yang sedang duduk berkerumun.

Melihat anak nya frustasi karena Aini mantan menantunya ibu Rosita buka suara.

"Sudahlah Arman apaan sih mikirin dia terus, dia aja gak pernah mikirin kamu" celoteh ibu Rosita.

"Ini semua karena Ibu! Karena ucapan-ucapan Ibu dan tuntutan kakak-kakak yang membuat Aini pergi!" seru Arman, suaranya meninggi, meluapkan seluruh bendungan penyesalan yang selama ini dia pendam sendiri.

Untuk pertama kalinya, pria itu berani mengangkat suara di depan wanita yang melahirkannya.

"Kalau gak gara-gara ibu waktu itu pasti Aini gak bakal minta cerai sama aku. Sekarang dia sudah pergi, dan aku tahu aku telah kehilangan wanita terbaik dalam hidupku! Itu semua gara-gara kalian semua ini!"

Bukannya merenung, Ibu Rosita justru langsung melotot murka, merasa harga dirinya sebagai orang tua diinjak-injakkan oleh anak laki-laki kebanggaannya sendiri. Beliau berdiri dan menunjuk wajah Arman dengan jari gemetar.

"Kamu diam, Arman! Berani kamu menyalahkan Ibu?!" sembur Ibu Rosita dengan suara melengking kejam.

"Ibu bicara begitu demi kebaikanmu! Dasar perempuan itu saja yang memang tidak baik dan pembangkang! Janda tamatan SMA seperti dia tidak pantas untuk anak laki-laki Ibu yang hebat! Ibu sudah benar mendidiknya agar tahu adat, tapi dia malah kurang ajar! Bagus dia pergi, biar kamu bisa dapat istri baru yang jauh lebih kaya dan tahu hormat pada orang tua!"

Kakak-kakak perempuan Arman pun ikut bersuara, menambahkan bumbu minyak pada api yang sudah berkobar, membela sang ibu dan terus menyudutkan sosok Aini. Mendengar pembelaan egois dan kebutaan hati keluarganya yang tidak pernah mau merasa bersalah, Arman merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangan, merasakan sakit yang teramat sangat karena baru menyadari bahwa benteng rumah tangganya dihancurkan oleh orang-orang yang dia bela mati-matian dulu.

Merasa muak dan buntu di dalam rumah yang penuh racun itu, Arman berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kesunyian kamar, rindu dan rasa bersalahnya pada Aini semakin menggebu-gebu membakar batinnya. Dengan tangan yang gemetar, Arman membuka aplikasi kontak di ponselnya. Dia mencoba menekan tombol panggil ke nomor Aini, berharap ada mukjizat sore itu agar suara lembut istrinya bisa kembali dia dengar.

Namun, yang terdengar hanyalah suara operator dingin yang menyatakan nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Arman mencoba mengirimkan pesan teks singkat berisi permohonan maaf yang teramat dalam, namun tanda centang di pojok bawah tetap membeku di angka satu. Kenyataan pahit menghantam wajahnya:

nomor teleponnya masih berada di dalam daftar blokir mutlak milik Aini.

Jalur komunikasi telah mati, persis seperti matinya rasa percaya Aini padanya.

Malam semakin larut saat mobil travel akhirnya berhenti tepat di depan pekarangan rumah orang tua Aini. Bapak Farhan dan Ibu Naya yang sudah menunggu sejak tadi langsung membuka pintu rumah dengan senyuman yang teramat lebar. Mereka memeluk anak perempuan mereka dengan erat, merasakan kehangatan fisik yang utuh.

Ibu Naya menatap wajah Aini, dan sang ibu tersenyum lega saat mendapati sepasang netra anaknya kini memancarkan binar kebahagiaan dan keceriaan yang murni—sebuah binar yang sudah satu tahun lamanya hilang dari wajah Aini.

Aini melangkah masuk ke dalam kamarnya, merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur yang empuk. Dia menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang teramat tenang.

Surat undangan Gala Dinner emas di emailnya, kesuksesan novelnya yang meledak, serta kehadiran chat ramah dari Egi malam itu menjadi bukti nyata tentang sebuah hakikat kehidupan yang indah:

Sebab, saat kamu memiliki keberanian untuk menutup bab cerita yang penuh luka, Tuhan tidak akan membiarkan halaman berikutnya kosong. Dia akan menuliskan takdir baru yang jauh lebih indah; membuktikan bahwa kesembuhan terbaik dari sebuah rasa sakit adalah ketika kamu berhasil bangkit menjadi versi dirimu yang paling bahagia.

Malam itu, di bawah atap rumah orang tuanya yang penuh kasih sayang, Aini memejamkan mata dengan senyuman manis yang menghias bibirnya, siap menjemput esok hari dengan jiwa yang telah merdeka sepenuhnya.

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!