NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Semilir angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan yang mulai mengering. Suaranya lirih, seperti bisikan yang menenangkan. Di tepian danau yang tenang, dua sosok remaja duduk berdampingan di atas batang pohon rambutan yang tumbang. Kayunya sudah mulai kasar, tapi cukup kuat untuk menjadi tempat bersandar bagi mereka yang sedang mencari jeda dari dunia.

Air danau tampak berkilau, memantulkan warna langit yang perlahan berubah. Biru yang tadi terang kini mulai memudar, digantikan semburat jingga yang menyebar perlahan seperti lukisan Tuhan yang digoreskan dengan penuh ketelitian.

Tidak semua orang punya waktu untuk menikmati hal seperti ini.

Tidak semua orang sadar bahwa keindahan sederhana seperti senja bisa menjadi pelarian terbaik.

Dan tidak semua orang bisa duduk diam tanpa memikirkan beban hidup. Namun saat ini,  Nayla dan Endra mencoba mencoba melupakan, mencoba diam. Mencoba hanya ada.

Tanpa tuntutan.

Tanpa tekanan.

Tanpa rasa sakit.

Nayla menatap lurus ke depan.

Matanya mengikuti pergerakan cahaya yang perlahan tenggelam di balik pepohonan. Warna jingga itu begitu hangat, begitu lembut seolah memeluk dunia yang lelah setelah seharian berputar tanpa henti.

Lalu perlahan, ia menoleh ke samping.

Ke arah Endra.

Laki-laki itu duduk dengan posisi santai, kedua tangannya bertumpu di belakang tubuhnya. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada senja yang sedang berlangsung. Wajahnya terlihat tenang, jauh berbeda dari sosok yang biasanya dipenuhi emosi.

Alisnya tebal, iris matanya pekat, rahangnya tegas. Dan semua yang ada dalam diri Endra, begitu Nayla kagumi. Semua kecuali satu hal.

Sikapnya.

Sikap Endra yang terkadang terlalu berlebihan, terlalu posesif, terlalu mudah marah. Terlalu menyakitkan.

Namun entah kenapa, Nayla tetap memilihnya.

Endra Prasetya.

Laki-laki yang bagi banyak orang sulit dipahami. Laki-laki yang jarang membuka diri. Namun justru itu yang membuatnya menarik. Tidak banyak yang tahu siapa Endra sebenarnya. Tapi semua orang, mengaguminya terutama para perempuan.Namun hanya Nayla yang benar-benar memilikinya. Atau setidaknya itulah yang ia yakini.

“Matahari terbenam itu bukti…” suara Nayla tiba-tiba memecah keheningan, “…kalau nggak semua hal yang terjadi setiap hari itu buruk. Kadang, semuanya bisa berakhir indah.” Endra langsung menoleh. Tatapannya berpindah dari langit ke wajah Nayla.

Dan di situlah tatapan mereka bertemu. Dalam jarak yang begitu dekat.

Terlalu dekat.

Nayla membeku, ia baru sadar bahwa sejak tadi ia memang memandangi Endra diam-diam dan sekarang ia tertangkap. Wajahnya sedikit memanas, ia buru-buru mengalihkan pandangan, mencoba terlihat biasa saja.

Namun Endra masih menatapnya.

Diam.

Dalam.

“Nayla…” suaranya lebih pelan sekarang. “Maaf ya… tadi gue nggak ada.”

Kalimat itu menggantung berat. Karena keduanya tahu apa yang dimaksud kejadian di kantin, keributan, tamparan. Dan semua yang terjadi.

Nayla langsung menggeleng.

Cepat.

Seolah ingin memotong pembicaraan itu sebelum benar-benar dimulai.

“Udah, Endra,” katanya. “Semuanya udah berlalu.”

Ia tersenyum kecil. Namun ada sesuatu di balik senyum itu—Lelah.

“Aku nggak mau bahas itu lagi. Sejenak kita lupain semua masalah yang ada.”

Endra terdiam sejenak.

Lalu terkekeh pelan.

Ia kembali menatap danau.

Angin sore kembali menyapu rambutnya.

“Lo bener,” katanya. “Di sini cuma ada kita. Dan cuma tentang kita.”

Kalimat itu sederhana, namun cara ia mengucapkannya berbeda.

Ada kehangatan.

Ada ketulusan.

Dan ada sesuatu yang membuat Nayla terdiam.

Ia menatap Endra lagi.

Seolah memastikan bahwa laki-laki di sampingnya ini benar-benar Endra yang sama.

Endra yang biasanya kasar.

Endra yang mudah marah.

Endra yang sering menyakitinya.

Namun yang duduk di sampingnya sekarang , laki-laki yang tenang.

Hangat.

Dan lembut.

Keduanya kembali diam.

Tidak canggung.

Tidak juga terpaksa.

Mereka hanya menikmati senja yang perlahan berubah menjadi gelap. Waktu yang terasa berjalan lebih lambat. Dan perasaan yang untuk sesaat terasa ringan.

“Katanya…” suara Endra kembali terdengar, “…senja itu bikin orang tenang.”

Nayla menoleh.

“Maksudnya?”

Endra masih menatap ke depan.

“Kalau lagi sedih… marah… kesel… katanya senja bisa bikin semuanya reda.”

Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum tipis.

“Tapi nggak buat gue.”

Nayla mengernyit.

“Kenapa?”

Kali ini Endra menoleh, tatapannya langsung ke mata Nayla.

Dalam.

Serius.

Seolah ingin memastikan bahwa setiap kata yang ia ucapkan benar-benar sampai.

“Karena senja itu cuma pemanis.”

Nayla diam menunggu.

“Yang bikin gue tenang…” lanjut Endra pelan, “…itu Nayla.”

Tangannya bergerak.

Pelan.

Menyingkirkan anak rambut Nayla yang jatuh menutupi wajahnya.

Sentuhannya lembut dan hati-hati, seolah takut menyakiti.

Nayla terperangah, matanya sedikit membesar. Ia tidak menyangka Endra bisa berkata seperti ini.

Kapan terakhir kali ia mendengar kata-kata seperti ini?

Ia mencoba mengingat.

Dan jawabannya sudah lama sekali. Mungkin sejak awal mereka bersama. Sejak semuanya masih terasa indah.

“Sejak kapan Endra-nya Nayla jadi pujangga?” godanya, mencoba menutupi rasa gugupnya.

Endra tersenyum.

Tidak malu.

Tidak ragu.

“Sejak dunia Endra diisi sama Nayla.”

Nayla tertawa kecil.

Geli.

Namun juga  hahagia. Perasaan yang jarang ia rasakan belakangan ini.

Ia menatap Endra lama. Dan untuk sesaat ia melupakan semuanya.

Tentang rumah.

Tentang ayahnya.

Tentang Deviana.

Tentang luka.

Tentang rasa sakit.

Yang ada hanya mereka.

“Tapi ini danau,” kata Nayla tiba-tiba. “Bukan laut.”

Endra mengangkat alis.

“Jadi lo mau ke laut?” Pertanyaan itu terdengar serius. Namun juga seperti tawaran seolah ia benar-benar akan mengajak Nayla pergi jika ia mengangguk.

Namun Nayla menggeleng.

Tidak perlu.

Tidak harus jauh-jauh.

Danau ini sudah cukup. Tempat ini sudah terlalu sering menjadi saksi. Saksi dari tawa mereka, saksi dari tangis Nayla. Saksi dari janji-janji yang mungkin tidak semuanya bisa ditepati.

“Sadar nggak sih…” Nayla kembali menatap senja, “…kita tuh kadang cuma kagum sama senja.”

Ia berhenti sebentar, mencari kata yang tepat.

“Tanpa sadar… yang bikin senja itu indah ya warna jingganya.”

Endra menatapnya, lalu tersenyum.

“Sama kayak lo, Nayla.”

Tangannya tiba-tiba menarik hidung Nayla pelan.

Nayla langsung mengerutkan wajah.

Lalu tertawa.

“Kok bisa?”

Endra mengangkat bahu.

“Gue nggak tau. Ngasal aja.”

Nayla mendengus kesal. “Tuh kan! Kirain serius!”

Endra tertawa keras dan terdengar lepas. Dan itu langka. Ia jarang tertawa tanpa beban seperti ini. Wajah yang terlihat tenang tanpa amarah, setelah beberapa saat, tawanya mereda.

Ia menatap Nayla lagi, lebih tenang sekarang.

“Mau tau nggak apa yang nggak tenggelam pas senja datang?”

Nayla berpikir sebentar.

“Langit?” tebaknya.

“Awannya?”

Endra menggeleng.

“Kita.” Ia berhenti, menatap mata Nayla. “Dan rasa.”

Nayla tersenyum pelan dan hangat. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena untuk pertama kalinya ia merasa cukup.

“Nayla,” panggil Endra lagi.

“Iya?”

“Lo suka senja?”

Nayla mengangkat alis.

“Menurut lo?”

Endra tersenyum miring.

“Nggak. Soalnya lo sukanya gue.”

Nayla tertawa. “Percaya diri banget sih.”

“Tapi bener kan?”

Nayla tidak menjawab. Namun senyumnya sudah cukup.

“Nayla,” suara Endra berubah lagi. Lebih serius. “Meski gue bukan senja yang lo tunggu…”

Ia menarik napas pelan.

“…gue bisa jadi langit. Yang selalu ada buat nemenin lo.”

Nayla mendengus.

“Geli tau! Kayak anak senja aja gombalannya.”

“Tapi keren kan gue?”

“Iya, iya…”

Dan memang sejak kapan Endra tidak keren?

“Nayla…”

“Iya?”

“Jangan pernah ninggalin gue, ya.”

Kalimat itu membuat Nayla terdiam. Ia menoleh menatap Endra. Ada sesuatu di matanya, ketakutan yang jarang terlihat.

“Kenapa gitu?”

Endra tidak langsung menjawab.

“Emang lo mau ninggalin gue?”

Nayla menggeleng cepat. “Nggak." Dan itu kalimat jujur. Seaneh apa pun Endra, sesakit apa pun sikapnya. Nayla tidak pernah benar-benar berpikir untuk pergi. Karena ia butuh Endra. Satu-satunya orang yang tetap ada di saat yang lain pergi.

“Janji?” tanya Endra.

Nayla mengangguk.

“Janji.”

Di bawah langit yang mulai gelap, dengan sisa-sisa jingga yang masih bertahan. Dengan angin yang terus berhembus pelan. Mereka membuat janji.

Janji yang sederhana.

Namun berat.

Janji yang mungkin akan diuji suatu hari nanti.

“Lo harus nemenin gue…” kata Endra tiba-tiba. “…sampai gue jadi hakim.”

Nayla mengerutkan dahi. “Terus?”

Endra tersenyum. “…dan gue bakal hukum papa lo.”

Nayla langsung menatapnya tidak suka. “Endra! Apaan sih!” Ia membuang wajahnya kesal. Namun juga takut.

“Bercanda,” kata Endra cepat, lalu tertawa sambil mengacak rambut Nayla.

Nayla mendengus, ia masih kesal. Namun tidak benar-benar marah.

Namun Endra tidak sepenuhnya bercanda. atapannya berubah sesaat.

Serius.

Gelap.

Maaf, Nay. Tapi kali ini gue nggak bercanda.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!