Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 - Denda Lima Puluh Juta
Pintu kamar mandi bergeser terbuka, memecah keheningan kamar utama yang megah itu. Max melangkah keluar dengan penampilan yang jauh lebih santai, hanya mengenakan kaus oblong hitam polos dan celana panjang abu-abu.
Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit basah, jatuh di dahinya, membuat kesan intimidatifnya sedikit berkurang. Namun, tatapan matanya tetap sebeku biasanya.
Di sudut ruangan, Nami sudah berdiri tegap di samping sofa, memeluk guling besar erat-erat di depan dadanya seperti tameng pelindung. Matanya melot waspada, mengikuti setiap pergerakan pria itu.
"Jangan macam-macam ya, Max!" ancam Nami tegas tanpa basa-basi.
"Pernikahan kita akan dilangsungkan hari Jumat dan belum sah secara hukum! Aku punya hak untuk menolak sentuhan apa pun malam ini!"
Max menghentikan langkahnya di dekat sisi ranjang king size-nya. Ia menoleh datar, menatap Nami dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sulit untuk Nami artikan, lalu mendengus pendek.
"Siapa yang mau menyentuhmu malam ini, Dokter Namira?" tanya Max, suaranya sangat tenang namun luar biasa menyebalkan.
"Jadwal dinasmu baru selesai, tubuhmu penuh bakteri rumah sakit, dan kau bahkan belum mandi sejak itu. Aku tidak berminat merusak standar higienis tempat tidurku dengan kuman residen."
Harga diri Nami kembali digampar mentah-mentah. Mulutnya terbuka setengah, syok sekaligus emosi disindir sebagai sumber bakteri.
"Aku sudah cuci muka dan ganti baju ya! Dan asal kau tahu, meski murahan begini bajuku bersih!" bela Nami, wajahnya memerah menahan kesal.
"Tetap saja belum mandi," sahut Max kaku sambil menarik selimut tebalnya.
Nami mendesis pelan. Sindiran soal bakteri itu berhasil menusuk tepat di titik lemahnya, dia memang baru pulang dinas, dan aroma disinfektan rumah sakit masih menempel samar di kulitnya.
Tanpa sepatah kata lagi, Nami membalik badan. Langkahnya kini lurus ke arah pintu kamar mandi.
Suara pintu kamar mandi tertutup cukup keras, memecah keheningan lagi. Dari balik pintu, terdengar suara air keran dibuka, lalu gemericik shower yang mulai mengalir. Nami sengaja membiarkan airnya agak kencang, sebagai jawaban pasif-agresif untuk Max.
Di luar, Max hanya mengangkat alis tipis. Bibirnya nyaris membentuk senyum, tapi ia tahan. Ia bersandar ke headboard, melipat tangan di dada, mendengarkan suara air itu dengan ekspresi sulit ditebak.
Lima belas menit berlalu. Uap tipis mulai keluar dari celah pintu kamar mandi. Ketika pintu itu akhirnya terbuka, Nami muncul dengan rambut tergerai setengah basah, dibalut handuk mandi warna putih dan bathrobe yang terlalu besar untuk tubuhnya. Wajahnya bersih dan pipinya sedikit merona karena air hangat.
Ia melangkah ke ranjang tanpa menatap Max. Tapi Max, yang sedari tadi memejamkan mata, mendadak membuka mata saat mencium aroma sabun mandi yang bersih dan segar.
"Bau rumah sakitnya hilang," komentar Max datar, tapi ada nada lain di sana—lebih rendah, lebih dekat.
Nami berhenti tepat di tepi ranjang. Jantungnya berdegup kencang entah karena malu atau karena kalimat itu. "Senang mendengarnya, Tuan Max. Sekarang standar higienismu aman."
Ia merangkak naik ke ranjang dengan hati-hati.
"Ranjang ini ukurannya dua kali dua meter. Sangat cukup untuk menampung dua orang dewasa tanpa perlu bersentuhan seujung kuku pun."
Max meraih sebuah guling besar dari atas kasur, lalu menghempaskannya tepat di tengah-tengah ranjang, menciptakan garis pembatas yang kokoh.
"Ini batas mutlak," ucap Max, menepuk guling itu sekali. "Siapa pun yang melewati garis ini, denda lima puluh juta rupiah per sentimeter. Adil?"
Nami mengerjapkan matanya sejenak, lalu senyum sinisnya terbit. Logika bisnis Max kali ini bisa ia manfaatkan. "Oke! Tapi kalau kau yang melewati garis ini dan menyentuhku, kau harus membayarku seratus juta per senti! Bagaimana?"
Max menatap guling pembatas itu, lalu kembali menatap Nami dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Kesepakatan bisnis yang adil. Sekarang, matikan lampunya dan tidur. Aku benci orang yang membuang waktu istirahat."
Nami akhirnya merangkak naik ke atas ranjang dengan gerakan selembut mungkin, seolah kasur mahal itu terbuat dari kaca yang gampang pecah.
Ia mengambil posisi di sisi kiri, meringkuk menyamping membelakangi Max yang sudah berbaring telentang di sisi kanan dengan mata terpejam.
Lampu kamar dimatikan, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu tidur di sudut ruangan.
Suasana kamar mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan deru halus dari pendingin ruangan dan… suara napas.
Napas Max.
Nami bisa mendengarnya dengan jelas dari balik kegelapan. Berat, teratur, terlalu dekat. Tubuhnya mendadak kaku seperti manekin pajangan toko. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya bisa terdengar oleh Max.
Seumur hidupnya, ia tidak pernah membayangkan bakal tidur seranjang dengan seorang laki-laki, apalagi pria asing yang berstatus sebagai bos besarnya.
Ia menarik selimutnya sampai ke batas dagu, menggigit bibir bawahnya, mencoba memejamkan mata. Aroma sabun mandinya sendiri masih menempel di kulit, bercampur samar dengan wangi dari parfum Max yang entah kenapa masih bisa ia tangkap meski jarak mereka dipisahkan guling tebal.
Ini cuma kontrak. Ini demi Ibu Sofia. Ini ranjang dua meter, tidak mungkin bersentuhan, ulang Nami dalam hati seperti mantra.
Hampir tiga puluh menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Nami mengira Max sudah terlelap karena tidak ada pergerakan sama sekali dari sisi kanan kasur. Otot-ototnya mulai mengendur sedikit demi sedikit.
Lalu…
Sprei di sisi kanan bergerak pelan. Sangat pelan. Seolah Max baru saja bergeser.
Jantung Nami langsung melonjak ke tenggorokan.
"Namira..."
Suara Max pecah di tengah gelap. Rendah. Berat. Terasa terlalu dekat untuk ukuran ranjang dua meter.
Nami langsung menahan napas, tubuhnya kembali menegang sempurna. Ia tidak berani berbalik. Darahnya berdesir ke kepala.
Apa dia mau melewati garis itu?
"A-apa lagi?" tanyanya, suaranya nyaris pecah.
Keheningan beberapa detik. Cukup lama untuk membuat Nami membayangkan hal-hal yang tidak-tidak.
"Besok pagi jam tujuh, desainer gaun pengantinmu akan datang ke sini untuk fitting terakhir," ucap Max datar, membelah sunyinya malam. Nada suaranya kembali datar seperti biasa, tapi Nami bisa bersumpah tadi ada jeda sesaat sebelum ia bicara.
"Pastikan berat badanmu tidak turun akibat stres memikirkan garis pembatas malam ini. Aku tidak mau membayar biaya denda permak baju karena ukuran tubuhmu menyusut."
Nami memejamkan matanya rapat-rapat di balik kegelapan, meremas ujung selimut dengan gemas. Sial. Laki-laki ini bisa bikin jantung orang mau copot cuma buat ngomongin jadwal fitting.
"Tidur, kau berisik," ketus Nami, mencoba menyembunyikan getaran cemas di suaranya. Padahal yang berisik itu jantungnya sendiri.
"Selamat malam," sahut Max untuk terakhir kalinya.
Sprei di sisi kanan bergerak lagi pelan, lalu hening.
Nami tetap terjaga lama setelah itu. Menatap garis hitam guling di tengah ranjang yang samar-samar terlihat dalam gelap. Pikirannya terus memutar ulang suara Max tadi—terlalu rendah, terlalu dekat, terlalu… mengganggu.
Dan sialnya, ia baru sadar: napasnya sendiri belum kembali normal sampai fajar menjelang.