NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Barang terlarang di tas Bima

Begitu kaki Karin dan Arvin menapak di area parkiran bawah, Reza langsung berlari menghampiri mereka dengan wajah yang masih dipenuhi rasa penasaran. Bukannya menanyakan berapa nilai yang dia dapat, dia malah langsung menuntut penjelasan.

"Tan! Gimana tadi di atas? Ngomongin apa lo sama si Sherly? Kok dia sampai kayak mau nangis gitu pas gue dorong?" tanya Reza bertubi-tubi, mengabaikan tatapan dingin Arvin yang berdiri di samping Karin.

Karin menghembuskan napas panjang, memasang ekspresi lelah yang dibuat-buat. "Dia itu cemburu karena gak diajak liburan ke pantai waktu itu, Ja. Terus Tante bilang sama dia, kalau Arvin ini udah nolak mentah-mentah, harusnya jangan terus dikejar. Makanya dia marah karena harga dirinya kesentil."

"Oh... pantesan dia ngamuk!" Reza manggut-manggut puas, merasa teka-teki besarnya terjawab. Detik berikutnya, wajah ketus Reza langsung berubah ceria dengan mata berbinar-binar. "Ya udah deh, berhubung raport udah dibagikan dan kita resmi libur, gimana kalau kita rayain, Tan? Kita rayain di rumah Tante, kita bakar-bakaran, BBQ-an gitu. Boleh ya, Tan? Please..." Reza menyatukan kedua telapak tangannya, memohon dengan tampang paling melas yang dia punya.

Karin melirik Reza, lalu beralih menatap Arvin yang hanya diam namun sorot matanya jelas-jelas mendukung ide sahabatnya itu. Karin kembali menghela napas pasrah. "Berapa orang? Siapa aja yang ikut?"

"Ya biasa, anak-anak geng kita aja, Tan," jawab Reza.

"Sama pacar kalian juga?" tanya Karin memastikan, menaikkan sebelah alisnya.

Reza makin melebarkan cengengesannya. "Iya dong, pastinya! Boleh kan, Tan?"

Karin melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu kembali menatap keponakannya itu dengan tegas. "Abis ini Tante mau ke rumah sakit dulu jenguk Lulu. Kalian datangnya sore aja, biar Tante bisa beresin kerjaan Tante dulu. Tapi inget, kasih tahu temen-temen kamu, semuanya harus izin ke orang tua masing-masing dulu. Kalau datang tanpa izin, Tante bakal suruh mereka pulang saat itu juga."

Mendengar persyaratan itu, mata Reza langsung berbinar-binar kegirangan. "Wah, harus izin orang tua? Berarti boleh nginep dong? Yes! Makasih tanteku yang paling cantik se-dunia!"

Cup!

Tanpa aba-aba, Reza langsung mengecup pipi kiri Karin sekilas saking senangnya, lalu dengan cepat merangkul pundak Arvin dan menggiring cowok itu pergi menuju gerombolan temannya di pinggir lapangan. "Ayo, Vin! Kita kabarin anak-anak sekarang biar mereka langsung packing!"

"Reza! Ini raport kalian gimana?!" panggil Karin setengah berteriak, mengangkat dua map biru di tangannya yang terabaikan. Namun, keponakannya itu sudah terlanjur berlari menjauh bersama Arvin. Karin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas panjang melihat kelakuan remaja-remaja itu. 

Karin langsung memacu motornya menuju rumah Kak Maya terlebih dahulu. Kondisi rumah tampak sepi karena sang pemilik sedang berada di rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Karin masuk dan menyimpan map raport milik Reza dan Arvin di atas meja ruang tamu, lalu bergegas pergi lagi.

Setibanya di rumah sakit, Karin berjalan menyusuri koridor kamar rawat anak. Beruntung, Lulu ternyata sudah dipindahkan dari ruang IGD ke ruang rawat inap biasa karena kondisinya mulai stabil, meski selang infus masih menempel di tangan mungilnya.

Karin mendorong pintu kamar rawat pelan. Di dalam, tampak Maya sedang duduk di samping banker, mengusap dahi Lulu yang sedang tertidur lelap.

"Kak," sapa Karin pelan, berjalan mendekat seraya meletakkan kantong plastik berisi makanan yang sempat dia beli di jalan tadi ke atas meja nakas. "Ini aku bawain makan siang buat Kakak. Dimakan dulu, Kak."

"Eh, Karin. Makasih ya," ucap Maya dengan suara parau seperti orang kurang tidur. Dia menatap adiknya dengan rasa lega. "Gimana tadi di sekolah? Raport si Eja sama Arvin aman?"

"Aman, Kak. Sudah aku taruh di meja ruang tamu tadi," jawab Karin, lalu menarik kursi untuk duduk di dekat kakaknya. "Oh ya, Kak. Tadi si Eja minta izin. Katanya karena udah beres pembagian raport, dia mau ngajak temen-temennya buat BBQ-an di rumahku nanti malem. Mereka nginep juga bahaya kan kalau pulang malem-malem."

Raut wajah Maya mendadak berubah agak khawatir. "Nginep, Rin? Kamu kan sendirian di rumah, apalagi kamu satu-satunya perempuan dewasa di sana. Kakak agak khawatir kalau anak-anak cowok itu lepas kendali."

Karin langsung tersenyum menenangkan, mengusap punggung tangan kakaknya lembut. "Kakak tenang aja, gak usah khawatir. Mereka gak cuma cowok-cowok kok. Temen-temen perempuannya juga ikutan nginep. Jadi nanti aku bisa tidur di kamar bareng anak-anak perempuan itu buat jagain mereka. Jadi aman, Kakak fokus aja jagain Lulu di sini sampai sembuh, ya?"

Mendengar penjelasan rasional dari Karin, gurat kekhawatiran di wajah Maya perlahan memudar. Dia menghembuskan napas lega. "Ya udah kalau emang temen perempuannya ikut nginep juga. Titip si Eja ya, Rin. Tolong diawasin anak-anak itu, jangan sampai bikin rumah kamu berantakan kayak kapal pecah."

"Siap, Bos," canda Karin sambil terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana tegang yang menyelimuti kamar rawat tersebut.

Sore itu, ponsel Karin di atas meja kerjanya bergetar. Sebuah pesan dari Arvin masuk.

Arvin: Tante, aku mau bawa koper ke sananya.

Karin: Ngapain?

Arvin: Mau liburan sama Tante, jadi harus bawa baju banyak.

Karin: Gak usah aneh-aneh.

Di kamarnya, Arvin tersenyum tipis membaca balasan ketus namun perhatian dari Karin. Pada akhirnya, dia membawa tas ransel hitamnya dengan tiga pasang baju ganti.

Tepat pukul setengah enam sore, halaman rumah Karin mendadak ramai. Deretan motor terparkir rapi, dan suara riuh anak remaja langsung memenuhi teras.

Karin langsung memasang mode siaga. Berjaga-jaga takut ada yang nekat membawa alkohol atau barang terlarang lainnya, Karin berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.

"Eits, tunggu dulu. Sebelum masuk, Tante harus cek kalian satu-satu," titah Karin tegas.

"Yah, Tante... masa dicek sih? Kayak OSIS aja," keluh Bima langsung lemas. Teman-teman yang lain ikut mengeluh karena menganggap ini bagian yang paling membosankan dari acara mereka.

Di tengah kehebohan pemeriksaan itu, seorang tetangga sebelah rumah Karin kebetulan lewat dan menengok karena penasaran. "Eh, Mbak Karin, ada apa ini ramai-ramai?" tanya si tetangga ramah.

Karin langsung menoleh dan tersenyum tidak enak. "Eh, iya Bu. Ini anak-anak biasa mau pada main dan nginep di sini. Maaf ya Bu kalau nanti agak berisik," jawab Karin sopan, yang dibalas anggukan maklum oleh tetangganya.

Karin kembali fokus menyisir tas anak-anak. Hingga tibalah giliran tas ransel milik Bima. Karin memasukkan tangannya, meraba-raba ke bagian dalam tas tanpa melihat langsung isinya. Tiba-tiba, jemarinya menyentuh sebuah bungkusan plastik kecil yang terasa aneh dan pipih di selipan kantong dalam.

Begitu Karin menariknya keluar, matanya seketika membelalak. Itu adalah benda karet pengaman yang belum cukup umur untuk Bima bawa..

"Kamu ya! Masih sekolah udah berani beli ginian?!" ucap Karin gemas, langsung menjitak jidat Bima.

"Aduh! Enggak, Tante! Sumpah, bukan punya gue itu!" sangkal Bima panik sambil memegangi jidatnya, sementara anak-anak lain sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Bima.

"Terus kalau bukan punya kamu, punya siapa? Punya Tante, gitu?!" semprot Karin ketus.

"Iya!" jawab Bima asal ceplos.

"Eh, enak aja! Sembarangan banget kalau ngomong!" sahut Karin makin gemas. Setelah memastikan sisa tas yang lain aman, Karin mengangkat bungkusan kecil tadi tinggi-tinggi. "Karena cuma ini benda terlarangnya, Tante sita! Sekarang semuanya boleh masuk!"

Rumah minimalis Karin langsung mendadak penuh. Karin mengarahkan anak-anak perempuan menuju kamarnya sendiri. "Kalian beresin barang-barang untuk para gadis di kamar itu ya, nanti tidurnya di sana."

Para gadis—Aurel, Nayara, Sela, Elora, dan Alessa—langsung masuk ke dalam kamar Karin yang rapi dan harum. Saat sedang menaruh tas, mata mereka kompak tertuju ke arah meja rias Karin yang ada beberapa foto paraloid.

"Tante! Foto Tante sama Arvin kok gak ada yang pas di pantai?" tanya Elora setengah berteriak dari dalam kamar.

Karin yang sedang duduk di sofa depan TV sambil memangku laptopnya seketika terdiam. Ingatannya berputar ke momen di pantai, lalu tersadar kalau foto bertiga mereka itu diambil diambil Lulu.

"Ada di rumah Eja!" teriak Karin balik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop karena dia sedang dikejar deadline pekerjaannya.

"Kirain bakalan Tante simpen di sini," ucap Elora yang berjalan keluar kamar sambil tersenyum menggoda.

"Padahal bagus banget tahu, Tan, buat jadi kenangan," sahut Alessa ikut menimpali.

"Iya, bener," sahut Aurel yang kemudian berjalan mendekat lalu duduk di samping Karin. Aurel memperhatikan jemari Karin yang bergerak cepat di atas papan ketik. "Tante lagi nulis novel baru ya?"

Karin menggeleng pelan sambil tetap fokus. "Iya, tapi kalau yang ini bukan novel. Ini kerjaan orang lain, Tante lagi ngetik tugas kuliah pesenan orang."

"Oh, freelance ya, Tan?" sahut Sela yang kini ikut duduk lesehan di karpet bawah, menyandarkan dagunya di dekat lutut Karin.

"Heem," jawab Karin singkat.

Tiba-tiba Reza muncul dari arah dapur membawa sekantung arang. "Udah, jangan ganggu tante gue lagi kerja. Kita ke halaman belakang aja ayo, laper nih gue!" seru Reza.

"Iya, kalian siapin sendiri ya bumbu sama makanannya. Tante masih ada kerjaan, tanggung," kata Karin pada anak-anak.

Para laki-laki langsung berhamburan ke halaman belakang untuk menyalakan alat panggangan, sementara para gadis masih tampak santai mengelilingi Karin di ruang tengah sambil sesekali mengambil foto.

Tak lama kemudian, langkah kaki seseorang mendekat. Arvin berjalan dari arah dapur dengan wajah datarnya, membawa sebuah cangkir yang masih mengepulkan asap tipis.

"Nih, Tan, kopinya," ucap Arvin pelan, meletakkan cangkir itu dengan hati-hati di atas meja kopi tepat di hadapan Karin.

Aksi perhatian Arvin itu sontak membuat semua anak perempuan yang sedang asyik berfoto langsung menoleh serempak, termasuk Karin yang menghentikan ketikannya dan menatap Arvin dengan pandangan tertegun.

Arvin yang ditatap banyak orang tetap bersikap santai seolah tidak ada yang aneh. "Gue ke belakang dulu," pamitnya datar, lalu berbalik bergabung dengan Reza dan yang lain.

"Tante... Tante sama Arvin deket banget ya?" tanya Aurel langsung menyuarakan rasa penasarannya yang sudah di ujung tanduk.

Karin berdeham pelan, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang mendadak salah tingkah. "Sama kalian semua juga Tante deket, kan?" jawab Karin diplomatis.

"Ih, gak gitu, Tante," sahut Aurel gemas, karena mereka semua tahu tindakan manis dan inisiatif dari seorang Arvin barusan benar-benar di luar dugaan dan tidak pernah dia lakukan ke perempuan lain.

"Woi, cewek-cewek! Sini bantuin potong sosis!" teriakan Dito dari halaman belakang memotong obrolan mereka. Mau tak mau, para gadis itu pun akhirnya pamit keluar menuju halaman.

Setelah ruang tengah kembali sepi, Karin menutup laptopnya perlahan. Dia meraih cangkir kopi pemberian Arvin, lalu menyesapnya sedikit. Detik itu juga, Karin kembali tertegun. Rasanya pahit pekat tanpa gula sedikit pun.

Karin tersenyum tipis di tengah keheningan. Dia tidak menyangka kalau Arvin ternyata mengingat dengan sangat detail hal kecil tentangnya.

Setelah menghabiskan setengah kopinya dan menyelesaikan baris terakhir pekerjaannya, Karin beranjak berdiri dari sofa. Dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan hangat, dia melangkah menuju halaman belakang untuk bergabung dengan keramaian anak-anak remaja itu.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!