"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 9
"Itu terjadi satu tahun lalu..."
Suara Ervin terdengar berat memenuhi ruang tamu yang sunyi. Sedangkan Reno, pria itu mulai mendudukkan tubuhnya kembali sambil menatap sahabatnya serius.
Untuk sesaat, Ervin hanya diam. Tatapannya kosong menembus lantai rumahnya sendiri.
Rumah yang dulu selalu terasa hangat, kini berubah menjadi tempat paling menyiksa baginya.
"Waktu itu, hubungan gue sama Dinda sebenarnya baik-baik aja," lanjutnya lirih. "Cuma... kami mulai sering kepikiran soal anak."
Reno menganggukkan kepala pelan.
Ia tahu betul bagaimana Ervin sangat mencintai Dinda. Bahkan selama bertahun-tahun menikah, pria itu selalu membicarakan istrinya dengan bangga.
"Gue nggak pernah nyalahin Dinda," lanjut Ervin cepat. "Nggak pernah sedikitpun."
"Tapi?" sela Reno.
Ervin mengusap wajahnya kasar.
"Tapi tekanan dari luar bikin semuanya berubah." Seketika suasana kembali hening.
Pria itu mengingat jelas bagaimana keluarganya mulai mempertanyakan soal keturunan. Rekan kerja yang terus bercanda soal rumah tangganya yang sepi. Bahkan beberapa kerabat mulai terang-terangan menyuruhnya menikah lagi.
Dan sialnya... Semua ucapan itu perlahan memengaruhi pikirannya.
"Dinda terlalu sering nangis diam-diam," gumamnya pelan. "Dia pikir gue nggak tahu."
Padahal Ervin tahu semuanya.
Ia tahu istrinya sering mengurung diri di kamar mandi lebih lama hanya untuk menangis. Ia tahu Dinda diam-diam menyalahkan dirinya sendiri karena belum bisa memberinya anak.
Namun bukannya memperbaiki keadaan... Ervin justru membuat semuanya semakin hancur.
"Terus Jenita masuk?" tanya Reno hati-hati.
Pria itu langsung memejamkan mata. "Iya." Napasnya terasa berat sekarang.
"Awalnya gue cuma kenal dia sebagai anak klien butik. Dia sering ikut mamanya ke kantor buat nganter desain atau berkas."
"Dan lo tertarik?" Ervin langsung menggeleng cepat.
"Nggak," jawabannya terdengar tegas. "Awalnya dia biasa aja buat gue."
Memang benar.
Saat pertama kali bertemu Jenita, Ervin sama sekali tidak memiliki pikiran aneh. Gadis itu jauh lebih muda darinya. Terlalu ceria. Terlalu manja. Sangat berbeda dari Dinda yang tenang dan dewasa.
Namun semuanya mulai berubah ketika suatu malam—Dinda dan Ervin kembali bertengkar soal program hamil mereka yang gagal.
Flashback.
"Bukan salah kamu kalau kita belum punya anak."
"Itu gampang buat Mas bilang!"
Tangisan Dinda malam itu masih sangat jelas di ingatannya. Wanita itu benar-benar hancur setiap kali harapan mereka gagal lagi.
Dan Ervin... Ia ikut lelah.
Bukan lelah dengan Dinda. Melainkan lelah melihat istrinya terus menyiksa diri sendiri.
"Waktu itu gue lagi kacau banget," lanjut Ervin pelan. "Gue mabuk untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun."
Reno mengernyit.
"Gue kira lo nggak pernah nyentuh alkohol."
"Gue juga pikir gitu." Ervin mengangguk.
Namun malam itu berbeda. Ervin terlalu penuh pikiran. Dan saat dirinya mabuk setengah sadar, Jenita datang menjemput karena mengira pria itu sendirian di cafe.
"Gue bahkan nggak sadar penuh malam itu..." suara Ervin mulai melemah. Reno langsung menghela napas panjang.
"Lo tidur sama dia?" tebak Reno yang membuat Ervin langsung menunduk.
"Iya." Hening kembali menyita. Reno langsung mengusap wajahnya kasar frustrasi.
"Goblok lo, Vin." Reno menatap jengkel ke arah temannya itu. Sungguh, hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan wanita sebaik Dinda.
"Aku tahu." Bahkan, Ervin tidak membantah sedikitpun. Karena memang itu kenyataannya.
Setelah kejadian malam itu, Ervin sebenarnya berniat mengakhirinya begitu saja. Ia bahkan sempat memutus komunikasi dengan Jenita.
Namun dua bulan kemudian—Gadis itu datang sambil menangis dan mengatakan dirinya hamil.
"Gue panik setengah mati waktu itu," lirih Ervin. "Gue nyuruh dia gugurin kandungannya." Reno langsung menatapnya tak percaya.
"Lo serius ngomong gitu?" Ervin tertawa hambar.
"Gue lebih serius waktu bilang gue rela mati daripada Dinda tahu semuanya."
Dan itulah kenyataannya. Saat itu Ervin benar-benar takut. Takut kehilangan rumah tangganya, dan juga, takut kehilangan Dinda.
Namun semuanya sudah terlambat. Karena Jenita menolak menggugurkan kandungannya. Gadis itu memilih mempertahankan bayinya apapun yang terjadi.
"Terus selama ini Dinda nggak curiga?" tanya Reno lagi.
Ervin langsung terdiam, karena sebenarnya, Dinda cukup peka. Wanita itu mulai menyadari perubahan sikapnya beberapa bulan terakhir.
Lebih sering pulang malam, lebih emosional, lebih banyak melamun. Namun, Dinda terlalu percaya padanya. Dan kepercayaan itulah yang sekarang terasa paling menyakitkan untuk Ervin.
"Gue benci diri gue sendiri sekarang," lirihnya pelan. Reno menghembuskan napas panjang.
"Lo masih cinta sama Dinda?" Pertanyaan itu membuat Ervin langsung mengangkat wajahnya. Tatapannya merah.
"Gue sayang sama dia, Ren." Jawabannya bahkan tidak membutuhkan waktu berpikir. Karena Dinda, memang satu-satunya perempuan yang sangat ia cintai. Selalu begitu.
"Dari dulu sampai sekarang, cuma Dinda yang gue mau."
"Terus Jenita?" Ervin langsung menunduk lagi.
"Gue bertanggung jawab sama anaknya," gumamnya pelan. "Tapi gue nggak pernah bisa cinta sama Jenita." Hening kembali memenuhi ruangan.
Sementara itu—
Di rumah orang tuanya, Dinda masih belum bisa memejamkan mata meski malam sudah sangat larut. Wanita itu terduduk diam di atas kasur sambil memeluk kedua lututnya.
Tatapannya kosong, sedangkan ponselnya kembali menyala karena pesan masuk.
Mas Ervin.
Aku mohon jawab aku sekali aja.
Dinda langsung mematikan layar ponselnya lagi. Dadanya kembali terasa nyeri. Semakin ia membaca pesan pria itu, semakin sulit dirinya menahan tangis.
Tok tok tok.
Pintu kamarnya diketuk perlahan.
"Dinda, belum tidur?" suara ibunya terdengar lembut dari luar.
"Nanti aja, Buk..."
Namun beberapa detik kemudian, sang ibu tetap masuk sambil membawa semangkuk sup hangat.
"Kamu belum makan dari tadi sore."
Dinda hanya diam. Wanita paruh baya itu akhirnya duduk di samping putrinya pelan.
"Nangis terus juga badan kamu nanti sakit."
Kalimat sederhana itu justru membuat mata Dinda kembali panas.
"Aku gagal ya, Buk?" lirihnya tiba-tiba.
Sang ibu langsung mengernyit bingung.
"Gagal apa?"
"Jadi istri."
Deg.
Wanita itu langsung menggenggam tangan putrinya erat. "Jangan ngomong sembarangan."
"Tapi nyatanya suamiku nyari perempuan lain."
"Itu bukan karena kamu kurang."
Dinda tertawa kecil—tawa yang terdengar sangat rapuh.
"Kalau aku bisa kasih dia anak dari dulu, mungkin semua ini nggak bakal terjadi." Dinda kembali mendundukkan kepalanya dengan tangan yang bergetar.
"Nak..." suara sang ibu mulai bergetar. "Jangan nyalahin diri sendiri."
Namun Dinda justru menundukkan kepalanya semakin dalam. Untuk pertama kalinya—Ia mulai mempertanyakan harga dirinya sendiri sebagai seorang perempuan.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada perselingkuhan Ervin sekalipun.
Sementara di rumahnya—
Ervin masih terduduk diam di ruang tamu sambil menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding. Foto dimana Dinda tersenyum begitu bahagia di pelukannya.
Dulu ia berpikir bisa menjaga senyum itu selamanya. Namun sekarang... Ia sendiri yang menghancurkannya.
Ponselnya kembali bergetar. Namun kali ini, sebuah panggilan dari rumah sakit.
Nama Jenita muncul di layar.
Ervin memejamkan mata beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo."
Suara tangisan kecil langsung terdengar dari seberang sana.
"Kak..." lirih Jenita lemah. "Aku takut."
Namun untuk pertama kalinya—Ervin justru merasa sesak mendengar suara gadis itu.
Karena sekarang ia sadar satu hal. Semua pilihannya telah menghancurkan terlalu banyak orang sekaligus.