Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Tabir
Hari demi hari berlalu dengan tenang di gubuk bambu yang terisolasi itu. Waktu seolah berjalan lebih lambat di tengah rimbunnya Hutan Hitam. Udara pagi yang diselimuti kabut tebal, deburan halus angin sore yang menerpa dedaunan, serta kehangatan api tungku di kala malam menjadi saksi bisu kebersamaan Dante dan Aura.
Kondisi fisik Dante mengalami kemajuan pesat. Luka tembak di pergelangan kakinya perlahan mengering berkat ramuan racikan Aura yang tak pernah absen dibalurkan setiap pagi dan malam. Pria itu kini sudah mulai bisa berjalan perlahan tanpa lagi bergantung penuh pada kayu penopang.
Selama masa pemulihan tersebut, hari-hari mereka diisi dengan perbincangan hangat. Aura yang haus akan interaksi setelah dua tahun menyendiri, sering kali bercerita panjang lebar tentang masa kecilnya, caranya bertahan hidup di hutan, hingga impian-impian sederhananya yang telah terenggut. Di sisi lain, Dante lebih banyak menjadi pendengar yang tenang. sesekali ia menanggapi cerita Aura dengan sudut pandangnya yang dewasa dan penuh pengalaman, meski setiap detail mengenai latar belakang dirinya telah tersaring ketat oleh kebohongan yang ia ciptakan.
Sama sekali tidak pernah terlintas di benak Aura bahwa laki-laki bertubuh kekar yang kini membantunya memotong kayu bakar dan menemaninya makan adalah sosok bos mafia paling kejam dan paling ditakuti di dunia bawah. Bagi Aura, Dante hanyalah seorang pria korban kejahatan yang bernasib tragis sama seperti dirinya.
Namun, di balik keheningan malam saat Aura telah tertidur lelap, Dante sering kali memikirkan cerita-cerita yang pernah dibagikan gadis itu.
Malam itu, hujan gerimis mengguyur hutan dengan lembut. Dante duduk di tepi ranjang bambu sambil mengamati gambar lambang unik yang pernah digambar Aura di atas tanah siang tadi—lambang dari kelompok mafia yang telah membantai keluarga Aura sepuluh tahun yang lalu.
Mata hitam Dante menyipit tajam. Lambang itu berbentuk tengkorak bersilang pedang dengan mahkota berduri di atasnya.
Jantung Dante berdegup lebih kencang. Ia mengenali lambang itu dengan sangat baik. Itu adalah lambang kehormatan milik klan Arcanum—kelompok mafia besar berskala internasional yang dipimpin oleh keluarga garis keras yang sangat serakah, klan yang sama yang dimotori oleh Marco untuk mengkhianati dan menjebaknya di Jurang Tengkorak.
Dante mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sebuah kenyataan pahit namun mencengangkan kini terungkap. Mafia yang dimaksud Aura—musuh bebuyutan yang telah menghancurkan hidup dan membantai seluruh keluarga gadis polos ini—ternyata adalah musuh bebuyutannya sendiri.
"Dunia ini benar-benar sempit," bisik Dante dingin pada kegelapan malam.
Sebuah senyuman sinis perlahan terukir di rahang tegasnya. Rasa dendam yang sebelumnya menyala di dada Dante kini berkobar berkali-kali lipat lebih dahsyat. Dulu, pertarungannya dengan klan Arcanum hanyalah sebatas perebutan wilayah, kekuasaan, dan pengkhianatan bisnis. Namun kini, setelah mengetahui apa yang telah mereka lakukan pada keluarga Aura—gadis yang telah menyelamatkan nyawanya dan memberinya rasa kemanusiaan kembali—perang ini telah berubah menjadi urusan pribadi.
Dante menoleh, menatap wajah lelap Aura yang tampak begitu damai di bawah pendar redup lampu minyak.
Pria itu berjanji dalam hatinya. Kebohongan mengenai identitasnya mungkin tetap harus tersimpan rapi untuk saat ini demi menjaga kepolosan Aura. Namun saat kakinya benar-benar pulih dan saat mereka kembali ke kota, Dante tidak akan hanya membimbing Aura melangkah di dunia hitam. Dialah yang akan menjadi pedang pencabut nyawa bagi klan Arcanum, membalaskan dendamnya sendiri sekaligus menghancurkan musuh yang telah merenggut kebahagiaan gadis penyelamatnya.