"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi memenuhi dapur kecil kami yang hangat. Di balik jendela, matahari pagi Kota Bandung menyinari halaman rumah peninggalan almarhum orang tuaku dengan lembut. Suasana pagi yang selalu menyajikan ketenangan yang sama selama empat tahun terakhir.
"Mimo! Pipo mana? Naya mau minum susu, Mimo!"
Suara mungil Naya bergaung dari arah ruang tengah. Putri kecilku yang baru berusia tiga setengah tahun itu berlari kecil mendekatiku. Rambut ikalnya dikuncir dua, bergoyang mengikuti langkah kakinya yang aktif.
Aku tertawa kecil, berlutut untuk menyamakan tinggiku dengannya. "Pipo masih di kamar, Sayang. Lagi pakai dasi. Naya duduk manis dulu di meja makan, ya?"
"Siap, Mimo!" Naya memberikan hormat patah-patah dengan tangan kanannya yang mungil, membuatku tak tahan untuk tidak mencium kedua pipinya yang tembam.
Tak lama kemudian, langkah kaki teratur terdengar mendekat. Bayu pria yang kuikahi empat tahun lalu muncul dengan kemeja kerja biru muda yang sudah rapi. Wajahnya yang bersih dan senyumnya yang selalu hangat langsung menyapa pandanganku.
"Pipo!" Naya berseru girang, menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
"Anak Pipo yang paling cantik udah siap sarapan?" Bayu menghampiri Naya, mengangkat tubuh mungil itu ke udara hingga Naya tertawa melengking, lalu mendaratkannya dengan lembut di kursi.
Setelah mencium puncak kepala Naya, Bayu berjalan mendekatiku yang sedang menyiapkan piring di atas meja. Tangan kanannya melingkar santai di pinggangku, menyandarkan dagunya sebentar di bahuku dari belakang.
"Pagi, Mimo-ku yang paling rajin," bisiknya lembut, memberi kecupan singkat di pipiku.
"Pagi, Pipo. Duduk dulu, yuk. Nasi gorengnya udah matang," balasku sambil tersenyum lebar.
Kehidupan kami sangat harmonis. Sebagai pasangan muda, kami membiasakan diri memanggil Pipo dan Mimo di depan Naya agar suasana keluarga selalu terasa hangat dan dekat. Bayu adalah sosok suami yang manis, penyabar, dan hampir tak pernah memperlakukanku dengan kasar.
Saat kami duduk menikmati sarapan, Bayu merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu meletakkannya tepat di samping piringku.
"Ini buat bulan ini ya, Mimo. Udah Pipo lebihin dikit buat tabungan Naya," ucap Bayu tulus.
Aku menatap amplop itu, lalu menatap suami di hadapanku dengan rasa syukur yang membuncah. "Makasih ya, Pipo. Pipo selalu pengertian banget sama kebutuhan rumah kita."
"Sama-sama, Sayang. Kamu kan Mimo yang paling pinter ngatur rumah tangga kita. Pipo percaya seratus persen sama kamu," jawabnya mantap, mengusap punggung tanganku di atas meja.
Momen-momen seperti inilah yang membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Kami hidup mandiri, cukup dan penuh cinta.
Setelah Bayu berangkat kerja dan Naya sibuk mewarnai buku gambarnya di ruang tengah, suasana rumah mendadak henim. Aku melangkah ke ruang tamu, berdiri diam di depan sebuah bingkai foto berukuran sedang yang menggantung di dinding kayu.
Di foto itu, kedua orang tuaku tersenyum merona di hari pernikahan kami empat tahun lalu. Air mataku mendadak menetes tipis. Sudah satu tahun berlalu sejak kecelakaan maut itu merenggut nyawa Ayah dan Ibu sekaligus.
Sebagai anak tunggal, rasa kehilangan itu sempat membuatku hancur dan terpuruk dalam kesedihan yang tak berkesudahan. Bandung, kota kelahiranku ini, adalah satu-satunya tempat yang menyimpan seluruh jejak dan kenangan bersama mereka. Rumah ini, sudut-sudut jalanan kota ini, semuanya adalah benteng rasa amanku.
"Ayah... Ibu... Maya kangen," bisikku pelan pada foto yang tak bisa menjawab itu.
Namun, di tengah rasa sepi itu, aku selalu bersyukur memiliki Bayu dan Naya.
Bayu adalah sosok yang menggantikan posisi pelindungku setelah Ayah pergi. Dialah satu-satunya tempatku bersandar di dunia ini.
Goyangan pelan di ujung bajuku membuyarkan lamunanku. Aku menunduk dan menemukan Naya sedang menatapku dengan mata bulatnya yang polos.
"Mimo kenapa nangis? Kangen Opa sama Oma ya?" tanya Naya pelan.
Aku menyapu air mataku cepat-cepat, lalu tersenyum dan mengangkat Naya ke dalam pelukanku. "Nggak apa-apa, Sayang. Mimo cuma kangen aja. Sekarang Mimo kan udah punya Naya sama Pipo."
Aku membawa Naya kembali ke kamar utama untuk menidurkannya siang itu.
Setelah Naya tertidur lelap, aku berniat merapikan tas kerja Bayu yang sengaja dia tinggalkan karena hari ini dia hanya membawa map tipis untuk rapat di luar kantor.
Tas laptop kulit hitam milik Bayu terletak di atas meja kerja di sudut kamar. Aku membukanya dengan niat membersihkan remah-remah atau kertas bekas pembayaran yang biasanya menumpuk di bagian dalam.
Namun, jemariku menyentuh sebuah dokumen tebal berstempel resmi dari kantor pusat perusahaan tempat Bayu bekerja.
"Surat apa ini?" gumamku pelan.
Aku menarik lembaran kertas itu keluar. Di bagian paling atas, tertera tulisan berhuruf tebal yang seketika membuat dadaku berdesir hebat.
SURAT KEPUTUSAN MUTASI DAN PEMINDAHAN TUGAS KERJA
Jantungku berdegup kencang. Dengan tangan bergetar, aku membaca baris demi baris isi surat resmi tersebut.
Bahwa atas permohonan mandiri yang diajukan oleh Saudara Bayu Samudra, maka pihak manajemen menyetujui pemindahan lokasi kerja dari Kantor Cabang Bandung ke Kantor Cabang Jawa Tengah... Terhitung efektif mulai bulan depan.
"Permohonan... mandiri?" bisikku lirih, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja kubaca.
Darahku serasa berhenti mengalir. Mataku terpaku pada tanggal pengajuan permohonan itu. Surat ini sudah diajukan oleh Bayu sejak tiga bulan yang lalu.
Tiga bulan yang lalu! Itu artinya, di saat dia masih menciumku setiap pagi, di saat dia berakting manis dan memanggilku Mimo dengan penuh kasih, dia sudah merencanakan kepindahan ini secara diam-diam tanpa pernah mendiskusikannya sepatah kata pun denganku.
Kertas di tanganku remuk dalam genggamanku yang memutih. Rasa sesak luar biasa langsung menghimpit dadaku, menyisakan kekecewaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sore harinya, deru mesin mobil Bayu terdengar berhenti di halaman depan. Langkah kakinya masuk ke dalam rumah dengan siulan kecil yang terdengar riang, seperti biasanya.
"Mimo! Pipo pulang!" serunya dari ruang tamu.
Aku keluar dari kamar tidur dengan langkah pelan. Tidak ada senyum hangat yang biasanya menyambutnya. Wajahku datar, mataku sembap karena terlalu banyak menahan tangis seharian ini.
Bayu yang menyadari perubahanku mendadak menghentikan siulannya. "Mimo? Kamu kenapa, Sayang? Kok mukanya pucat gitu? Kamu sakit?"
Bayu mendekat, hendak menyentuh dahi dan pipiku. Tapi dengan cepat, aku melangkah mundur, menghindar dari sentuhannya.
"Mimo?" Bayu tampak terkejut dengan penolakanku.
Aku menarik napas panjang, mencoba menguasai suara bergetarku, lalu mengeluarkan lembaran surat yang sejak tadi kukepal di dalam saku celanaku. Aku meletakkannya di atas meja makan di antara kami.
"Bisa jelaskan ke aku, Pipo... ini maksudnya apa?" tanyaku dengan suara yang sangat pelan, tapi sarat akan rasa sakit.
Mata Bayu tertuju pada kertas itu. Seketika, ekspresi wajahnya berubah total. Senyum dan keceriaannya hilang, berganti dengan kepanikan yang teramat sangat. Matanya bergerak liar, memandang surat itu dan wajahku bergantian.
"Mimo... kamu... kamu buka tas Pipo?" tanyanya terbata-bata.
"Jangan alihkan pembicaraan, Bayu!" tegasku, untuk pertama kalinya aku memanggil nama aslinya tanpa sebutan kesayangan. "Kamu mengajukan mutasi kerja ke kota asalmu? Tiga bulan yang lalu? Tanpa ngomong sepatah kata pun sama aku?!"
"Sayang, dengarin Pipo dulu, tolong..." Bayu mencoba maju melangkah, tapi aku mengangkat tanganku, menyuruhnya tetap di tempat.
"Kenapa, Bayu? Kenapa kamu tega melakukan ini?" Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya meluncur deras membasahi pipiku. "Kamu tahu rumah ini adalah peninggalan orang tuaku. Kamu tahu Bandung adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa punya ingatan tentang Ayah dan Ibu! Kenapa kamu ambil keputusan sebesar ini tanpa diskusi sama aku?!"
Bayu mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa bersalah terpancar jelas dari matanya. Dia melangkah cepat, tidak peduli lagi dengan penolakanku, lalu langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.
"Lepas, Bayu! Lepas!" Aku meronta, memukul dada bidangnya. Tapi Bayu makin mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di leherku.
"Maafkan Pipo, Mimo... Maafkan Pipo," bisiknya lirih dengan suara yang ikut bergetar. "Pipo tahu Pipo salah karena nggak ngomong dari awal. Tapi Pipo punya alasan, Sayang. Tolong dengarkan Pipo dulu..."
Aku berhenti meronta, tubuhku lemas bersandar pada dadanya, menangis sesenggukan.
Bayu mengelus rambutku dengan lembut, mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya, menatap mataku dengan tatapan paling memohon yang pernah kulihat.
"Ibu di kampung udah makin tua, Mimo," ucap Bayu pelan, mencoba menyusun kata-kata. "Selama ini cuma ada Rika di sana. Pipo sebagai anak laki-laki merasa berdosa kalau nggak mendampingi Ibu di usianya yang sekarang. Ibu sering sakit-sakitan, Sayang..."
"Tapi kenapa harus sembunyi-sembunyi?" tanyaku terisak. "Kenapa nggak bicara baik-baik sama aku?"
Bayu menunduk, menghela napas berat. "Pipo takut... Pipo takut kamu menolak. Pipo tahu kamu masih berduka atas meninggalnya Ayah dan Ibu setahun lalu. Pipo tahu betapa beratnya kamu meninggalkan rumah ini. Tapi percaya sama Pipo, ini demi kebaikan keluarga kita juga."
Bayu memegang kedua bahuku, menatapku dalam-dalam dengan pandangan manis yang selalu berhasil meluluhkan hatiku.
"Kita bisa kontrakan rumah ini, Mimo. Hasil kontrakannya bisa jadi tabungan tambahan buat Naya. Di sana, kita nggak usah sewa rumah lagi. Kita tinggal di rumah Ibu. Rumahnya luas, ada Ibu dan Rika juga. Naya bakal punya banyak saudara yang jagain. Kamu juga nggak bakal kesepian lagi..."
Bayu menggenggam kedua tanganku, membelai punggung tanganku dengan lembut. "Lagian... di Bandung ini kamu kan udah nggak ada siapa-siapa lagi, Sayang. Orang tuamu udah nggak ada. Kalau kita pindah ke kota Pipo, ada keluarga Pipo yang bakal jadi keluargamu juga. Kita bakal merawat Ibu sama-sama, ya?"
Kalimat itu...
Kalimat bahwa aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi menghantam dadaku seperti godam berat. Menyadarkanku betapa sebatang karanya aku di dunia ini. Kata-kata Bayu terdengar begitu masuk akal, begitu penuh kasih dan bakti seorang anak, hingga aku tidak sanggup menemukan celah untuk membantahnya.
Aku menatap mata suamiku. Pria yang selama empat tahun ini selalu memanjakanku, menyerahkan seluruh gajinya padaku, dan mencintaiku dengan tulus. Aku percaya padanya. Aku percaya bahwa di mana pun kami berada, selama Bayu ada di sisiku, aku akan baik-baik saja.
"Pipo janji... kita bakal tetap bahagia di sana?" tanyaku lirih di antara sisa isak tangis.
Senyum manis Bayu kembali merekah. Dia mengecup keningku lama sekali. "Pipo janji, Mimo. Pipo bakal tetap jadi Pipo yang selalu sayang sama Mimo dan Naya. Nggak ada yang bakal berubah."
Aku akhirnya mengangguk pelan, menyandarkan kepalaku di dadanya. Sebuah keputusan yang kuambil atas dasar rasa cinta dan kepatuhanku sebagai seorang istri.