Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: RASET SEGELAS SUSU DI TENGAH MALAM
Januari akhirnya tiba, namun pergantian tahun sama sekali tidak membawa perubahan bagi nasibku di rumah ini. Hujan masih setia mengguyur kota, sewarna dengan mendungnya hari-hari yang harus kulewati. Siksaan fisik dan mental yang kuterima justru terasa kian terstruktur, seolah keluarga ini telah menemukan ritme yang sempurna untuk terus menginjak harga diriku tanpa perlu merasa bersalah.
Tubuhku mulai mengirimkan sinyal-sinyal kelelahan yang berbeda bulan ini. Setiap kali bangun pukul empat subuh untuk menyapu lantai marmer lantai dua, kepalaku sering kali terasa berputar hebat, dan ulu hatiku dirongrong rasa mual yang teramat sangat. Beberapa kali aku harus mendekap mulutku erat-eratif, menahan gejolak yang ingin memuntahkan asam lambung di wastafel dapur sebelum Ibu Retno turun. Aku mengira ini hanyalah akibat dari angin malam Desember yang masuk ke tubuhku karena terlalu sering tidur larut malam demi menyelesaikan setrikaan baju Ambar dan Bagus.
"Yuni! Mana teh manis Ibu? Jam berapa ini? Kamu ini makin hari makin lamban saja, ya!" Suara Ibu Retno menggelegar dari meja makan, memecah keheningan pagi yang masih remang.
Aku buru-buru menyeka keringat dingin di dahi dengan ujung celemek, lalu membawa nampan berisi cangkir teh melati pesanan beliau. "Maaf, Bu. Tadi saya agak pusing, jadi gerakannya sedikit lambat," ujarku lirih sembari meletakkan cangkir itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ibu Retno mendengus kencang, menatapku dari atas sampai bawah dengan pandangan sinis. "Halah, baru kerja begitu saja sudah mengeluh pusing. Anak desa macam apa kamu ini? Dulu katanya bekas buruh pabrik yang tahan banting, sekarang baru disuruh urus rumah begini saja sudah banyak alasan. Jangan manja, Yuni. Rendra itu sudah keluar banyak uang untuk membawa kamu ke sini, jadi tahu diri sedikit."
Kata-kata itu terasa seperti sembatan godam yang menghantam dadaku. Pak Didi yang duduk di sebelah istrinya hanya melirik sekilas tanpa minat, lalu kembali sibuk melipat halaman koran paginya, seolah-olah diriku yang sedang menahan sakit di depan mereka adalah pemandangan yang tidak kasat mata.
Penderitaan itu kian meruncing saat siang hari tiba. Ambar sengaja menumpahkan segelas sirup merah di atas lantai ruang tamu yang baru saja selesai kukeringkan dengan kain pel. Ketika aku menegurnya dengan sangat lembut, dia justru berkacak pinggang dan membalas dengan ketus.
"Mbak Yuni kan tugasnya memang bersih-bersih di sini. Kalau lantainya kotor lagi, ya tinggal dipel lagi, apa susahnya? Memangnya Mbak Yuni mau makan gaji buta di rumah kami?" ucap Ambar tanpa beban, lalu melenggang pergi meninggalkan jejak kaki yang lengket di atas marmer.
Aku tertegun di tengah ruangan, memegangi gagang pel dengan dada yang sesak oleh tangis yang tertahan. Rasanya ingin sekali aku berteriak bahwa aku bukan pelayan sewaan, aku adalah istri sah dari kakak laki-lakinya. Namun, semua kata-kata itu hanya mampu tertahan di tenggorokan, menjadi gumpalan duka yang harus kutelan bulat-bulat.
Malam harinya, penderitaan itu baru bisa mereda saat Mas Rendra masuk ke dalam kamar. Malam ini, Mas Rendra pulang dengan wajah yang sangat letih, namun senyumnya selalu terbit setiap kali melihatku menyambutnya di balik pintu.
"Kamu pucat sekali, Yun," bisiknya lembut sembari menangkup kedua pipiku yang mulai tirus. Dia membimbingku untuk duduk di tepi ranjang, lalu seperti biasa, meraih jemariku dan memijatnya perlahan dengan minyak hangat. "Ibu keterlaluan ya hari ini? Maafkan aku, Yun... Aku belum bisa berbuat banyak di depan Ibu. Di toko grosir pun, semua perputaran uang masih dipegang penuh oleh Ibu dan Ayah. Tapi aku janji, demi cintaku padamu, aku tidak akan membiarkanmu menderita selamanya. Bertahanlah sebentar lagi untukku, ya?"
Mendengar bisikan manis itu, setitik air mata yang sejak pagi kutahan akhirnya luruh juga. Aku menyandarkan kepalaku di bahu kokoh Mas Rendra, menghirup aroma tubuhnya yang menjadi satu-satunya tempatku berteduh di rumah yang asing dan kejam ini. Sentuhan tangannya yang hangat dan janji-janji masa depan yang selalu diucapkannya membuatku merasa bahwa seluruh rasa sakit, caci maki, dan bilur lelah di tubuhku ini berharga untuk dipertahankan. Aku terlanjur mencintai suamiku dengan teramat dalam, menyerahkan seluruh sisa hidup dan harapanku pada janji-janji manis yang diucapkannya setiap malam di dalam kamar lantai dua yang sunyi ini.
Aku memejamkan mata dalam dekapan Mas Rendra, mencoba melupakan rasa mual yang kembali menggelitik perutku, tanpa menyadari bahwa waktu terus berputar perlahan menuju sebuah titik balik yang akan menghancurkan seluruh duniaku dalam waktu dekat.