NovelToon NovelToon
Jangan Sentuh Anak-anakku

Jangan Sentuh Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.

Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.

Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya

Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??

Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis

Silahkan dukung kami🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Mereka berdua terkesima melihat bagaimana Nurbiah memperlakukan anaknya atau lebih tepatnya keponakannya.

Romi menatap iri kearah Ukasyah yang diperlukan lembut dan penuh kasih sayang seperti itu padahal dia hanya seorang keponakan tapi perlakuannya sama persis dengan anak kandung, ibunya tidak pernah memperlakukan dan memperhatikan dia selembut dan sesayang ibunda Umar itu.

"Biah, boleh aku tanya gimana cara kamu mengurus 7 anak itu sendirian, bukannya rumah ini ada pembantu?". Tanyanya dengan heran.

Biah tersenyum lembut kemudian tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.

"Setiap anak itu berbeda Van, mereka punya ciri khas sendiri, tinggal bagaimana kita mengenali watak dan karakter mereka agar bisa diajak bekerjasama bukan dikendalikan apalagi diperintah".

"Aku tidak pernah memperlakukan mereka semata-mata anak yang harus aku kendalikan tapi aku selalu mengajak mereka berdiskusi dalam menghadapi apapun yang ada di hidup mereka begitu juga pekerjaan rumah, semua anakku bisa melakukan pekerjaan rumah bahkan merawat adiknya juga, hanya saja aku harus tetap mengawasi mereka bukan untuk mengekang tapi tetap mengontrol kebebasan yang aku berikan".

"Setiap anak akan tumbuh dengan contoh yang kita berikan, mereka tidak hanya perlu nasehat dan kata tapi juga contoh yang baik dalam memperlakukan orang lain, dan itu semua dimulai dari orangtua dan lingkungannya".

Perkataan Biah barusan membuat keduanya bungkam seribu bahasa, terutama Melisa, dia baru sadar selama ini anaknya ini mencontoh sikap dan kelakuannya sehingga dia suka bertindak sesuka hatinya.

"Anak lelaki ku semuanya mencontoh sikap dari ayahnya saat ayahnya memperlakukan bunda dan ibu mereka, aku tidak bisa berkata banyak tapi kalian bisa menilai sendiri bagaimana mereka memperlakukan aku".

"Mereka tetap menjadi jati diri mereka tanpa adanya rasa kekangan atau kontrol berlebih membuat mereka akan merasa dihargai, disayangi dan juga memperlakukan kita sama bahkan lebih baik lagi".

Pembicaraan mereka terhenti karena Umar membawa nampan berisi minuman sedangkan Ukasyah datang bersama Ammar mendorong sebuah keranjang roda berisi aneka kue dan jajanan.

"Maaf bunda, ini minuman dan jajanannya". Ucap Umar dengan sopan.

Kedua adiknya tidak ada yang menyela perkataan sang kakak dan membiarkan sang kakak berkata kepada bundanya.

Ketiganya masih berada disamping sang bunda menatap bunda untuk menunggu dipersilahkan.

"Terima kasih nak, kalian duduk dulu yah, Tante dan om pengen bicara sama kalian, bunda akan atur yang kalian bawah yah". Biah mengelus kepala mereka kemudian tersenyum lembut

Ketiganya mengangguk pelan, tapi tidak beranjak malah ikut membantu sang bunda mengatur jajanan dan minuman itu.

Biah tersenyum kemudian membantu ketiganya untuk menyusunnya di meja.

"Terima kasih nak".

"Sama-sama bunda". Jawab ketiga kemudian duduk disamping sang bunda dan berhadapan langsung kepada ketiganya.

"Nah ini mereka, silahkan kalian bicara pada mereka". Ucap Biah.

Dia melirik kedalam melihat Asma membawa si bungsu Aminah yang tengah menangis mencarinya.

"Maaf bunda aku mengganggu, Ade Aminah sedang menangis mungkin dia lapar dan sedang mencari bunda". Ucap nya pelan sambil melirik kearah para tamu dengan sopan.

"Iya nak, makasih yah, Asma mau ikut duduk disini atau mau naik saja?". Tanyanya dengan lembut.

"Aku naik saja yah bunda, tadi aku dan adik-adik sedang menggambar, dan belajar berhitung, tidak apa-apa kan?". Jawabnya pelan.

"Iya nak, kamu naik saja, lihat adik-adikmu yah, kan besok kalian sekolah dan ada tugas sekolah kan?".

"Iya bunda, aku naik dulu".

Romi menatap mereka semua tidak suka, wajahnya sangat kesal, dia melihat ayahnya tersenyum tipis melihat bagaimana Umar dan adik-adiknya, dia merasa jika ayahnya menyayangi mereka sedangkan dirinya tidak padahal dia anak kandung.

"Aku mau pulang". Ucapnya langsung berdiri dan berjalan keluar tanpa kata.

Mereka semua langsung tersentak melihat aksi Romi yang terkesan sangat tidak sopan.

"Romi apa yang kamu lakukan?, kembali kamu kesini!". Bentak Revan tanpa sengaja.

Biah menatap anaknya yang menatap tidak percaya dan menutup telinganya kini menarik nafas dalam-dalam karena tidak suka.

"Kalian naik dulu nak yah, jangan didengar bentakan itu, putar murottal saja diatas, takutnya kedengaran sama adik-adik kalian".

Mereka mengangguk dan langsung naik seperti yang dikatakan ibu mereka.

Wajah Melisa merah padam, antara malu dan marah serta ketakutan melihat amarah sang suami.

"Pulang lah lebih dulu Melisa, tenangkan anakmu, seperti nya dia sedang sangat kesal, bujuk dia dengan baik tanpa meracuni otaknya". Sindirnya halus.

Melisa menatap berang kearahnya begitu dia mengatakannya.

"Apa maksudmu mengatakan aku meracuni otak anakku? , kau pikir kamu siapa?, aku lebih tahu watak anakku, jangan sembarangan". Bentaknya tidak suka.

Biah menatap kasihan sekaligus iba, dia baru sadar Romi seperti ini karena didikan orang tuanya.

"Terserah kamu, aku hanya memberi saran agar kelak anak-anakmu tidak egois dan keras kepala saat dia dewasa, dan yang paling penting dia tidak tumbuh dengan luka masa kecil yang membekas".

Mereka mematung mendengar nya, Melisa bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha mencerna perkataan itu

"Maksudnya?". Cicitnya.

"Anak kalian tumbuh terlalu dimanja dan diberi semua yang dia inginkan, bahkan selalu diberikan pemakluman atas tindakannya merugikan orang lain, aku hanya khawatir jika dia tumbuh menjadi orang yang tidak memiliki etika dan empati kepada orang lain, dan jika hidup tidak sesuai keinginannya maka dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan nya karena terbiasa mendapatkan keinginannya sejak kecil ".

Dia bangun dari tempat duduknya menatap mereka dengan helaan nafas lelah.

"Anak itu kita arahkan sambil kita bentuk tanpa melupakan diri mereka, kalian dua orang dewasa yang bekerja mengikuti aturan, kalian bisa rasakan sendiri jika watak anak kalian mengikuti arus tekanan yang kalian rasakan nanti, silahkan renungkan itu, saya akan melihat anak saya karena disini tak ada bentakan apalagi suara keras sambil memaki anak kecil".

"Dan satu lagi, seorang anak itu tidak suka orangtuanya terlalu memuji anak lain didepannya apalagi terang-terangan mengaguminya dan membandingkan anak itu dengan orang lain, mereka juga punya hati, jangan hanya memerintah dan mengatur tanpa mendengar suara hati dan keinginan terdalam anak kita sendiri".

Biah berjalan tanpa menunggu jawaban mereka yang berdiri dengan wajah memucat dan malu.

Revan keluar dari rumah itu tanpa menunggu istrinya dengan penuh amarah lebih tepatnya marah pada dirinya sendiri.

Perkataan Biah barusan membuatnya malu, dia selalu membentak anaknya bahkan saat dirinya baru pulang dan bertemu dengan nya padahal anaknya pasti merindukannya dan ingin bermain bersamanya tapi yang dia dapat malah bentakan dan juga perbandingan.

"Mas, aku tidak terima teman mu itu menghina anak kita".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!