NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

beri aku waktu

Mentari pagi baru saja mengintip dibalik garis cakrawala.

Sinarnya yang hangat menyapa disela gedung-gedung tinggi yang berjejer rapat.

Revan membuka matanya begitu dia mendengar sayup-sayup suara gaduh dari arah dapur milik Gian.

"Kamu sudah bangun?" tegur Gian yang mengintip sedikit kearah sofa dimana Revan semalam tertidur.

Revan mengeram namun belum beranjak dari posisinya.

Sedikit meregangkan otot leher yang kaku karena tidur yang sembarangan disofa yang ukurannya lebih pendek dari tinggi badannya.

"Jam berapa sekarang?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.

"Jam 8 pagi.. Kan kamu nggak ke kantor karena long weekend..."

"Hmmmm....." gumam Revan.

Dia meraih ponsel yang tertelungkup diatas meja tamu. Berharap jika Laura menghubungi balik.

Hela nafas berat keluar dari mulutnya.

Dia kecewa karena tak ada satu panggilan atau pesan chat dari Laura.

Revan cepat beranjak guna membasuh wajahnya.

"Aku pergi" ucapnya beberapa menit kemudian.

"Sarapan dulu... Membujuk juga butuh tenaga Van..." seru Gian.

Revan tak mendengarkan.

Dia langsung pergi dari unit Gian meninggalkan sepupunya dengan perasaan khawatir.

"Semoga semuanya baik-baik saja meski salah satu dari kalian harus tersakiti" gumam Gian.

...********^*******...

Sementara itu, dirumah kediaman Nugraha, masih terlihat sepi walaupun beberapa ART sudah melakukan tugas masing-masing.

Mang Samad membuka gerbang karena mendengar suara klakson dari luar pagar.

"Eh den Revan... Mau ketemu non Laura ya?" sapa satpam tersebut.

"Iya mang... Laura masih dirumah kan?" sahut Revan.

"Masih den... Dari tadi malam sampai pagi ini belum ada keluar lagi... Masuk aja den..."

Revan segera memarkirkan mobilnya di halaman dan segera mengetuk pintu bertepatan dengan Adi Nugraha beserta isterinya, Nuri Nugraha muncul dari arah samping rumah.

Pasangan pensiunan jaksa dan petinggi salah satu bank swasta itu terlihat kebingungan melihat penampilan Revan yang nampak kusut.

"Loh Van... Kenapa pagi-pagi udah kemari? Kemarin bukannya udah ketemu Laura di rumah kamu? Ada janji ya?" tegur Nuri heran.

Revan menyalami dua paruh baya tersebut.

"Ada janji sama Laura tante, om... Lauranya udah bangun?" ringis Revan.

"Kenapa nggak kamu telpon? Kalian berantem?" tebak Nuri.

Revan menatap kesegala arah guna menghindari interogasi dadakan orangtua kekasihnya.

"Salah paham sedikit tante... Makanya aku pagi-pagi kesini mau jelasin sama Laura karena ponselnya mati sejak tadi malam" tutur Revan yang tidak sepenuhnya bohong atau benar.

"Kalian ini... Jauh kangen-kangenan, dekat berantem... Udah mau nikah lo... Baik-baik ya, karena disini letak ujiannya..." nasehat Nuri.

Revan tak menyahut hanya gerakan kepala mengangguk sebagai isyarat.

"Masuk aja sana.. Om sama tante mau jalan pagi di sekitaran komplek..." suruh Nuri.

"Terimakasih om, tante..."

Dia langsung masuk dan bertemu dengan Laura yang rupanya baru turun dari arah tangga.

Penampilan Laura sudah segar seperti baru selesai mandi.

"Beb... Sayang... Aku mau jelasin sama kamu... Kasih aku kesempatan buat jelasinnya... Please Ra... Aku mohon...." pinta Revan menghiba.

Laura sebenarnya sudah mendengar voice note yang dikirim oleh Revan sejak dia bangun tadi.

Dia tahu jika tunangannya ini tak punya pilihan selain berbakti kepada orangtuanya.

Laura menghambur kedalam pelukan Revan yang disambut pria itu dengan suka cita.

"Kamu jahat beb... Kenapa kamu nggak kasih tahu aku padahal aku selalu cerita semuanya sama kamu..."

"Jahat kamu mas...."

Laura memukul kecil punggung Revan tanpa melepaskan pelukannya. Dan justru pelukan keduanya semakin erat.

Dan disinilah mereka berdua berada.

Duduk saling bersisian dikursi taman halaman belakang rumah keluarga Nugraha.

Revan menceritakan semua yang terjadi hingga dirinya menikahi Maara atas permintaan Mira, ibunya.

Revan menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikit pun.

"Jadi, dimana dia sekarang?" tanya Laura mengarah kepada Maara.

Revan menggedikkan bahu.

"Aku nggak perduli dia dimana... " tutur Revan dingin.

Kepalanya tertunduk menatap ujung sepatunya.

Laura membuang nafas berat.

"Lalu rencana kamu selajutnya apa? Nggak mungkin kita tetap nikah sementara kamu udah jadi suami orang... Bagaimana tanggapan papa dan mamaku nanti. Kamu akan dicap sebagai pria yang nyeleneh dan tidak bertanggungjawab" ujarnya tanpa menoleh pada Revan yang masih menundukkan kepala.

Revan mengangkat pandangan kearah Laura.

Sinar matanya nampak lelah seakan beban yang ada dipundaknya sangat menekan batinnya.

"Bagaimana kalau aku tetap nikahi kamu? Toh selama ini aku belum urus surat nikah dengannya... Intinya, kami masih berstatus nikah siri.. Dan jika kita menikah, kamu yang akan jadi sah dimata hukum dan agama" tegas Revan dengan pikirannya.

Laura menoleh cepat.

"Aku nggak mau jadi perempuan jahat mas... Dia perempuan dan aku juga... "

Revan meraih tangan Laura dan menggenggamnya erat " Tapi akunya cinta cuma sama kamu.. Dia hanya sebagai hutang budi dan aku sudah membayarnya dengan menikahinya... Lalu dimana salahku...?"

Laura menatap jauh kedalam sorot mata kekasihnya.

Dia tahu, beban Revan tidaklah mudah.

"Asal kamu tetap disisiku, aku akan tetap memperjuangkan cinta kita... Aku akan tetap memintamu pada om dan tante... Tolong, jangan tinggalkan aku... Aku nggak bisa tanpa kamu..."

Revan menitikkan airmata untuk pertama kalinya dihadapan perempuan selain ibunya.

Hati Laura begitu terenyuh melihat keteguhan sekaligus kerapuhan Revan.

Perempuan itu membawa kepala Revan untuk disandarkan ke bahunya.

"Aku akan tetap berada disisimu dan mendukung semua keputusanmu... Asal kamu nggak akan pernah berkhianat"

Revan memeluk punggung Laura "Nggak akan sayang..." bisiknya.

...****************...

Maara masih duduk disisi ranjang.

Matanya sembab oleh sisa-sisa tangisannya tadi malam hingga ia tertidur karena kelelahan.

Hingga pagi ini, belum ada seorang pun dari keluarga Revan yang bertanya akan dirinya seolah dia bukan siapa-siapa dirumah itu.

Hingga ketukan dipintu kamar membuyarkan lamunannya.

"Non Maara... Ibu dan bapak tunggu non dimeja makan... Non mau sarapan bareng atau bibi bawakan kekamar saja?" ujar bibi dari balik pintu kamar.

Maara membuka pintu sedikit.

"Terima kasih bi... Tapi aku langsung pulang aja..." ujar Maara.

"Baik... nanti bibi sampaikan sama bapak dan ibu..." wanita paruh baya itu lekas berbalik kembali kedapur.

Maara bergegas dan merapikan kembali kamar yang ia tempati tadi malam.

Dengan langkah berat, dia menghampiri kedua pasutri orang tua Revan yang berada dimeja makan.

"Ra.. sarapan dulu... Kamu belum makan dari tadi malam... Ayo, mau sarapan pakai apa? Roti, nasi goreng atau..."

"Aku langsung pulang saja bu, pak..." potong Maara cepat.

Rendra yang tadinya masih asik sarapan segera menoleh.

"Makanlah sedikit. Isi perutmu! Jangan menyiksa diri sendiri dan jangan pikirkan Revan dan perempuan itu... Bagaimana pun juga, kamu tetap istri Revan dan menantu rumah ini bukan perempuan itu!" tegas suara Rendra.

"Maaf bu, pak.. Tapi aku benar-benar tidak lapar.." kali ini suara gadis itu sedikit berbeda dan itu dirasakan oleh Mira dan Rendra.

"Maara..." panggil Mira lembut menatap lurus pada menantunya.

"Aku nggak mau terlihat menyedihkan dimata kalian jadi tolong, jangan bersikap seperti ini.... Aku... Aku hanya ingin sendiri sebentar sambil memikirkan kelanjutan rumah tangga yang aneh ini...."

"Apa yang aneh? Kamu dan Revan menikah secara sah lalu dimana letak anehnya?" sela Rendra sedikit emosi.

"Sah secara agama bukan hukum negara... Lagipula, aku dan mas Revan bukan seperti suami istri pada umumnya. Kamar kami terpisah, kami nggak pernah saling ngobrol untuk memahami satu sama lain atau juga, mas Revan tidak pernah menganggap pernikahan ini sebagai sesuatu yang harus dibanggakan. Dia hanya menikahiku demi sebatas tanggungjawab dari kecelakaan yang menyebabkan ibuku meninggal dan rahimku mengalami cidera parah..."

Maara menarik nafas yang terasa begitu menyesakkan dada.

"Kalian memaksanya untuk menikahiku karena kasihan. Karena aku bukan perempuan sempurna seperti perempuan lainnya diluar sana..."

Untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan, Maara meluapkan apa yang membuat kepalanya serasa mau pecah.

Mira menangis terisak.

Tak menyangka jika Maara akan semarah ini ketika tahu alasan dirinya meminta Revan menikahinya.

"Maaf atas nada tinggiku... Aku pamit, assalamualaikum..."

Maara pergi meninggalkan rumah kediaman Adiyasa dengan motor maticnya.

Dia ingin sendiri saat ini.

Kepalanya benar-benar mau pecah.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!