NovelToon NovelToon
SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Balas Dendam / Summon
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:

[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]

Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!

Siapa bilang dia salah kontrak?

#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama si Serigala

Perjalanan pulang dari Rawa Timur terasa berbeda dari malam sebelumnya.

Kalau semalam Rio pulang berdua dengan Wukong dalam keheningan yang nyaman, malam ini ada satu tambahan — seekor serigala abu-abu berkaki pincang yang berjalan di sisi kirinya dengan langkah tidak simetris. Kaki kiri belakangnya masih belum pulih sepenuhnya, menyebabkan ritme jalannya sedikit tersendat setiap dua atau tiga langkah. Tapi serigala itu tidak berhenti. Tidak mengeluh. Tidak minta digendong.

Ia hanya jalan terus, dengan ekspresi datar yang Rio mulai curigai adalah ekspresi defaultnya.

Rio melirik ke bawah setiap beberapa menit.

Serigala itu tidak melirik balik. Ia hanya memandang lurus ke depan, seperti seorang prajurit yang sedang berbaris dan menganggap melirik ke samping adalah tanda kelemahan.

"Kamu gak capek?" tanya Rio akhirnya, saat mereka melewati batas zona rawa dan kembali ke jalanan tanah yang lebih padat.

Tidak ada respons. Jelas.

"Oke." Rio mengangguk sendiri. "Gue anggap gak."

Wukong di pundak kanannya mencicit dengan nada yang terdengar seperti *selamat datang di kehidupan gue sehari-hari* yang ia tujukan ke serigala baru tersebut.

Kontrakan Rio terletak di lantai dua sebuah bangunan tua di gang sempit kawasan tengah kota. Bukan tempat yang bisa disebut nyaman dengan standar normal manusia. Satu kamar tidur yang merangkap ruang kerja, dapur kecil dengan kompor satu tungku, kamar mandi yang pintunya harus didorong dengan bahu karena engselnya sudah miring sejak tahun lalu, dan satu jendela menghadap ke tembok bangunan sebelah yang berjarak kurang dari dua meter.

Tapi sewanya murah, pemiliknya tidak pernah bertanya pertanyaan aneh, dan letaknya strategis — empat puluh menit ke sekolah, dua puluh menit ke pelabuhan lama tempat dungeon liar langganannya berada.

Rio membuka pintu, menyalakan lampu, dan langsung menyadari satu masalah praktis yang belum ia pikirkan selama perjalanan pulang.

Ia tidak punya tempat tidur ekstra untuk seekor serigala.

"Oke." Rio berdiri di tengah kamarnya, menatap dari kasur tipis di sudut kanan ke serigala yang kini berdiri di ambang pintu, tidak masuk-masuk, hanya mengamati interior kamar itu dengan tatapan yang sulit dibaca. "Situasinya begini. Gue punya satu kasur, satu bantal, satu selimut. Wukong biasanya tidur di kursi meja belajar itu."

Wukong, yang sudah duluan masuk dan melompat ke kursi meja belajarnya, mengangguk dengan sangat serius seolah sedang memberikan kesaksian di pengadilan.

Rio menatap serigala itu lagi. "Kamu bisa pilih — lantai di sisi kasur, atau pojok dekat jendela. Dua-duanya ada karpetnya walau tipisnya minta ampun."

Serigala abu-abu itu akhirnya melangkah masuk. Pelan, hati-hati, seperti makhluk yang tidak terbiasa berada di dalam ruangan tertutup. Cakarnya beradu dengan lantai kayu tua yang berderit di beberapa titik. Ia berjalan mengelilingi ruangan satu kali penuh — mencium sudut-sudut tertentu, mengamati jendela, mengecek pintu kamar mandi yang setengah terbuka — sebelum akhirnya berhenti di pojok dekat jendela.

Ia berbaring di sana. Melingkar. Moncongnya diletakkan di atas cakar depannya.

Selesai.

"Oke," Rio mengangguk pelan. "Pojok jendela. Noted."

Rio mandi cepat, ganti baju, dan duduk di tepi kasurnya dengan panel sistem terbuka di depan matanya.

[STATUS SQUAD SAAT INI:]**

Slot 1 — Sun Wukong (EXP Laner/Fighter)**

Tier: Epic I ★☆☆☆☆

Skill Aktif: Naluri Tempur Primitif II, Doppelganger

Senjata: Ruyi Jingu Bang (Wujud: Ranting Kayu — Segel 94% Terkunci)

Kondisi: Optimal

Slot 2 — Void Shadow Wolf (Jungler/Assassin)**

Tier: Warrior III ★☆☆☆☆

Skill Aktif: —

Skill Terkunci: Shadow Step, Void Consume, Domain of Nothingness

Kondisi: Kritis Stabil (HP 34% — Pemulihan Aktif)

Catatan: Cedera fisik kaki kiri belakang — estimasi pulih 48-72 jam.

**Slot 3, 4, 5: KOSONG**

Rio menutup panel dan merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian.

Dua dari lima.

Wukong sudah di tier Epic. Serigala baru — Void Shadow Wolf — masih Warrior III dengan kondisi badan yang belum pulih. Tiga slot kosong yang entah kapan dan di mana akan terisi.

Tapi untuk ukuran dua hari sejak sistem aktif, progres ini sudah jauh di luar nalar normal.

Rio menutup matanya.

Ia tidak tahu sudah berapa lama tertidur ketika sesuatu membuatnya terbangun.

Bukan suara keras. Justru sebaliknya — keheningan yang terlalu penuh. Semacam ketidakhadiran suara yang anehnya lebih mencolok dari kebisingan.

Rio membuka matanya setengah. Kamar gelap, hanya ada cahaya jalanan yang masuk tipis dari celah jendela. Jam di dinding menunjukkan pukul 02.17 pagi.

Ia melirik ke pojok jendela.

Serigala itu tidak ada.

Rio langsung duduk tegak.

Ia melirik ke kursi meja belajar. Wukong masih di sana, tidur melingkar dengan ranting kayu tersembunyi di antara lipatan tubuhnya. Pintu kamar masih tertutup. Pintu kamar mandi juga masih setengah terbuka seperti tadi.

Kemudian Rio merasakan sesuatu — tekanan yang sangat ringan di kaki kanannya.

Ia menurunkan pandangan.

Serigala abu-abu itu berbaring tepat di samping kasur, tubuhnya menempel rapat ke sisi kasur dengan kepala diletakkan di atas kaki kanan Rio yang terjuntai ke tepi. Matanya terbuka, menatap pintu kamar dengan ekspresi pengawas yang sedang bertugas jaga malam.

Rio berkedip dua kali.

Serigala itu tidak bergerak. Tidak menoleh. Hanya terus menatap pintu.

"Kamu..." Rio memulai kalimat itu tapi tidak tahu harus melanjutkannya dengan apa.

Ia tidak pindah ke pojok jendela karena kepanasan. Tidak juga karena kakinya sakit sehingga butuh posisi lebih nyaman. Rio mengamati postur tubuh serigala itu — kepala di atas kaki Rio, tubuh menghadap ke pintu, telinga yang satu terangkat ke atas dalam posisi siaga.

Makhluk ini sedang berjaga.

Untuk Rio.

Di dalam kepala Rio, sesuatu yang kecil tapi cukup signifikan bergeser.

Ia sudah membaca identitas asli si serigala dari panel sistem. Void Shadow Wolf — Serigala Bayangan Kekosongan. Entitas setingkat dewa yang tersegel dalam wujud serigala biasa berkaki pincang. Makhluk yang dalam kondisi puncaknya sanggup melahap konsep ruang dan membunuh dalam bayangan tanpa meninggalkan jejak.

Dan malam pertama di kontrakan Rio yang sewanya murah karena pintunya miring, makhluk itu memilih berbaring di lantai kayu berderit untuk menjaga kakinya.

Rio menarik selimutnya sedikit lebih ke atas, berbaring kembali dengan kepala di bantal, tapi kali ini ia tidak memindahkan kakinya.

"Gak perlu jaga-jaga," bisiknya pelan ke arah serigala itu. "Di sini aman."

Telinga serigala yang terangkat itu bergerak satu kali — bukan turun sepenuhnya, hanya sedikit rileks. Cukup untuk memberitahu bahwa ia mendengar. Tapi posisinya tidak berubah.

Rio hampir tersenyum.

"Keras kepala ya."

Tidak ada respons. Jelas tidak ada.

Pagi datang dengan suara alarm ponsel Rio yang berbunyi pukul 06.00 dan langsung ia matikan sebelum bunyi keduanya.

Ia membuka mata dan menemukan situasi yang persis sama seperti tengah malam tadi — serigala abu-abu masih berbaring di posisi yang sama, kepala di atas kakinya, telinga dalam kondisi setengah siaga. Hanya saja sekarang matanya terpejam. Tidur, tapi Rio yakin satu suara aneh pun akan langsung membuatnya terbangun.

Wukong sudah bangun lebih dulu, duduk di meja belajar dengan ranting kayu di tangan, mengamati serigala baru itu dengan ekspresi yang Rio definisikan sebagai *sedang mengevaluasi rekan baru dengan sangat kritis*.

Rio duduk perlahan, berusaha tidak menggerakkan kakinya terlalu tiba-tiba.

Tetap saja, serigala itu langsung membuka matanya begitu Rio bergerak. Mata kuning pucat yang kini sudah jauh lebih hidup dari kemarin sore menatap Rio sebentar, kemudian serigala itu bangkit berdiri — kaki kirinya masih pincang, tapi sudah sedikit lebih kuat dari kemarin malam.

"Tidur yang nyenyak?" tanya Rio.

Serigala itu memalingkan wajah ke arah lain.

"Gue anggap iya."

Masalah berikutnya muncul pukul 06.20.

Rio membuka kulkasnya dan mendapati isinya terdiri dari satu butir telur, setengah bungkus mie instan, dan sebuah tomat yang sudah mulai keriput di salah satu sisinya. Ia biasanya makan pagi di kantin sekolah atau beli nasi bungkus di warteg depan gang.

Tapi sekarang ada dua hewan kontrak yang juga butuh makan.

Wukong biasanya tidak susah — ia makan hampir apa saja, dan Rio sudah stok pisang serta kacang di laci meja sebagai camilan rutinnya. Tapi serigala adalah karnivora. Dan Rio tidak punya daging apapun di kulkas malam ini.

Rio menatap kulkas. Menatap serigala. Menatap kulkas lagi.

"Oke, ini gue akui kurang persiapan."

Ia merogoh dompetnya. Tiga lembar lima puluhan ribu dan beberapa koin receh. Cukup untuk beli daging di warteg sebelah sebelum berangkat sekolah.

Rio mengambil jaketnya. "Gue keluar sebentar. Lima menit."

Ia melangkah ke pintu, membukanya, dan baru saja akan menutupnya dari luar ketika ia mendengar suara cakar di lantai kayu.

Rio berbalik.

Serigala itu berdiri di belakangnya, tepat di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi *dan kenapa kamu berpikir kamu akan pergi tanpa gue?*

"Kamu..." Rio menatap tangga sempit di belakang serigala itu, lalu menatap kaki pincang si serigala. "Tangga ini lumayan curam."

Serigala melangkah keluar dari ambang pintu ke arah tangga, tanpa ekspresi, lalu mulai menuruni anak tangga pertama.

Pelan. Hati-hati. Kaki kirinya menyesuaikan setiap anak tangga dengan cara yang jelas sudah ia kalkulasi sendiri tanpa minta bantuan siapapun.

Rio berdiri di atas, memperhatikan.

Tidak menawarkan bantuan — karena dari cara serigala itu bergerak, menawarkan bantuan kemungkinan besar akan diterima sebagai penghinaan.

Saat serigala itu sudah turun setengah tangga, barulah Rio mulai ikut turun di belakangnya. Wukong melompat ke pundaknya dari ambang pintu yang masih terbuka, dan mereka bertiga menuruni sisa tangga bersama-sama.

Di warteg depan gang, Bu Heni — pemiliknya yang sudah hafal wajah Rio sejak semester pertama — menatap seekor serigala abu-abu yang berdiri tenang di samping kaki Rio dengan pandangan yang memerlukan waktu tiga detik untuk diproses otaknya.

"Rio, itu..."

"Hewan peliharaan baru, Bu." Rio sudah menyiapkan jawaban itu selama perjalanan turun tangga. "Ras campuran. Jinak."

Bu Heni menatap serigala itu dua detik lagi.

Serigala itu menatap balik dengan ekspresi yang sangat netral dan tidak mengancam, yang entah kenapa justru terasa lebih meyakinkan daripada kalau ia mencoba terlihat ramah.

"Mau beli apa?" Bu Heni akhirnya kembali ke mode penjual.

"Daging ayam mentah setengah kilo, sama nasi bungkus satu untuk gue."

Sarapan pagi itu berlangsung di lantai kamar kontrakan — Rio di tepi kasur dengan nasi bungkusnya, Wukong di meja belajar dengan pisang dan kacangnya, dan serigala di pojok jendela dengan potongan daging ayam mentah yang Rio letakkan di piring plastik bekas.

Serigala itu tidak langsung makan.

Ia mencium daging itu dua kali, mendongak menatap Rio sebentar, kemudian mencium lagi.

"Ayam kampung," kata Rio di antara suapan nasinya. "Gue pilih yang paling segar. Gak ada yang lebih bagus di warteg sebelah jam segini."

Serigala itu mencium sekali lagi.

Kemudian makan.

Tidak lahap, tidak tergesa-gesa. Tapi makan. Dan Rio memperhatikan satu detail kecil yang mungkin terlewat kalau ia tidak sedang memperhatikan dengan seksama — serigala itu makan sampai kira-kira tiga perempat piring, lalu berhenti. Bukan karena kenyang, karena daging yang tersisa di piring masih cukup banyak. Tapi ia berhenti, mendorong piring itu sedikit ke depan dengan moncongnya, lalu berbaring dengan kepala di atas cakar depannya.

Seperti makhluk yang sudah lama terbiasa tidak menghabiskan jatah makannya. Seperti makhluk yang sudah lama belajar bahwa tidak selalu ada makan berikutnya.

Rio menelan suapannya pelan.

Ia menatap piring yang didorong ke depan itu, kemudian menatap serigala yang kini menutup matanya.

"Besok gue beli lebih banyak," kata Rio pelan. Bukan dalam nada kasihan. Lebih seperti pernyataan logistik yang sudah ia putuskan. "Dan lusa. Dan seterusnya."

Serigala tidak membuka matanya.

Tapi telinganya bergerak satu kali ke arah suara Rio.

Cukup.

Rio berangkat sekolah pukul 07.15. Wukong di pundak kanannya seperti biasa. Serigala berdiri di ambang pintu kontrakan yang Rio kunci dari luar, mengamati kepergian mereka dari balik terali besi tangga.

Saat Rio sampai di ujung gang dan menoleh sekali ke belakang, serigala itu masih berdiri di sana.

Tidak bergerak. Hanya menatap.

Rio mengangkat satu tangan sebentar — gerakan kecil yang bahkan ia sendiri tidak yakin kenapa ia lakukan.

Serigala itu tidak membalas. Tapi ia baru berbalik masuk ke dalam kontrakan setelah Rio benar-benar menghilang di tikungan gang.

Di pundak Rio, Wukong mencicit pelan.

"Iya," kata Rio tanpa ditanya. "Dia akan baik-baik saja."

Ia melangkah menuju sekolah, di bawah langit pagi yang masih biru muda, dengan tiga slot squad yang masih kosong dan satu serigala pincang yang baru saja belajar bahwa ada tempat di dunia ini yang bisa ia tinggali tanpa harus selalu waspada saat menutup mata.

Itu sudah cukup untuk hari ini.

1
SANG
Lanjut cek....
SANG
Iklan untukmu brooooo👍💪💪💪👍👍👍👍
SANG
Hadiah bunga untukmu thor👍💪👍💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Semangat ya💪💪💪💪💪
SANG
Aku datang sebagai tamu baru👍👍👍👍
,
lanjut
the misterius author 🐐: nanti malam kita lanjut kan ua bg
total 1 replies
Benni Yong
mantab
Jacky Hong
jadi gk sabar pengen liat si MC jadi kuat thor
semangat upnya thor
Benni Yong: dah tak kasih vote hari ini thor
akun baru soalnya yang akun Jacky kena hapus😁
total 2 replies
Jacky Hong
gas trus up thor
semangat dah tak krim kopinya👍
the misterius author 🐐: setiap hari minggu update 3 bab bg kalau hari biasa update 2 bab bg nanti kan jadwal nya ya bg jangan lupa ajak teman teman abg baca juga
total 1 replies
SANG
Beken deh, sip deh, tenar deh, mantap deh, keren deh, pokonya top mar ko top deh. Bintang sepuluh untukmu Thor.
SANG
Namanya mulai beken💪👍
the misterius author 🐐: udah mulai tenar kah bg 🤣
total 1 replies
SANG
Namamu pasti ku ingat💪👍
the misterius author 🐐: jangan di ingat thor 🤣
total 2 replies
SANG
Semangat. Lanjut💪👍
the misterius author 🐐: parah parah emang wkwk
total 9 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/Sembilan belas
SANG: Haha🤣🤣🤣👍👍👍
total 2 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Pokonya keren deh💪👍
SANG
Keren deh💪👍
the misterius author 🐐: ok thor😍
total 3 replies
SANG
Wah novel baru lagi ya Thor💪👍
the misterius author 🐐: pokok nya fresh trus thor
total 6 replies
Jacky Hong
buat chpter 6 tak kasi kopi biar semungut upnya Thor
klo bsa up besok 2 chpter🤣
the misterius author 🐐: novel kita ogah main tingal bg
total 4 replies
Jacky Hong
lanjut up thor👍
the misterius author 🐐: sudah up bg 🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!