Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 21 : Fitnah Besar
Gema pemberitaan mengenai skandal foto di koridor hotel perlahan mulai mereda dari halaman utama media hiburan, digantikan oleh rutinitas harian yang tampak kembali normal di kediaman Mahendra. Namun, bagi Selena, ketenangan itu adalah sebuah penghinaan. Kegagalannya di pesta amal kemarin, ditambah dengan penolakan keras Arka di koridor malam itu, justru menyiram bensin ke dalam kobaran api dendam di dadanya.
Ia tidak bisa lagi hanya bermain-main dengan merusak gaun atau mengunci pintu. Jika ia ingin mendepak Nadira secara permanen dari sisi Arka dan memastikan wanita itu dibenci sampai ke liang lahat oleh seluruh garis keturunan Mahendra, ia harus menggunakan senjata yang paling mematikan: menghancurkan satu-satunya hal yang paling dijaga oleh Arka—Mahendra Group.
Akal licik Selena mulai berputar, menyusun sebuah skenario fitnah besar yang dirancang begitu rapi hingga tidak akan meninggalkan celah bagi Nadira untuk membela diri.
---
Seminggu setelah pesta amal, atmosfer di kantor pusat Mahendra Group sedang berada di puncak ketegangan. Perusahaan sedang mempersiapkan draf akhir untuk proyek akuisisi mega-infrastruktur di kawasan timur yang bernilai triliunan rupiah. Dokumen rancangan anggaran dan strategi penawaran harga—yang disebut sebagai "Dokumen Master Blue-print"—disimpan secara sangat rahasia di dalam brankas ruang kerja pribadi Arka. Hanya Arka dan Yudha yang memiliki akses kode digital untuk membukanya.
Sore itu, suasana rumah utama Mahendra tampak agak lengang. Opa Wijaya sedang pergi melakukan terapi kesehatan rutin di rumah sakit didampingi oleh Pak Sidiq, sementara Ibu Sarah sedang menghadiri pertemuan yayasan sosialita hingga larut malam.
Memanfaatkan situasi sepi ini, Selena bertamu ke rumah dengan alasan ingin mengantarkan kue buatan ibunya untuk Ibu Sarah. Sebagai sosok yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ibu Sarah, para pelayan di rumah tidak menaruh curiga sedikit pun ketika Selena meminta izin untuk meminjam toilet di lantai dua—lantai yang sama dengan ruang kerja pribadi Arka yang berada di dalam rumah jika ia sedang bekerja dari rumah.
Namun, Selena tidak pergi ke toilet.
Dengan langkah mengendap-endap dan mata yang waspada menatap koridor, ia menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Arka. Beberapa hari sebelumnya, saat berpura-pura membawakan kopi untuk Arka di kantor, Selena dengan jeli sempat mengintip pantulan jemari Arka di permukaan meja kaca saat pria itu mengetikkan kombinasi kode akses cadangan pada perangkat eksternal miliknya.
*Pip... pip... pip... bip.*
Lampu indikator brankas kecil di sudut meja Arka berubah hijau. Pintu besi tebal itu terbuka perlahan, menampakkan seberkas map kulit berwarna biru tua berlogo hologram emas Mahendra Group. Di dalamnya terdapat cetakan fisik dokumen strategi akuisisi yang sangat rahasia.
Selena tersenyum licik, kilatan kepuasan yang kejam terpancar dari matanya. Ia mengeluarkan sebuah pemindai portabel berukuran mini dari dalam tasnya, lalu dengan cepat menyalin setiap halaman dokumen tersebut ke dalam bentuk digital. Setelah selesai, ia mengembalikan map tersebut ke posisi semula tanpa mengubah sudut kemiringannya sedikit pun, lalu mengunci kembali brankas tersebut.
Kini, bagian pertama dari rencana jahatnya telah selesai. Langkah berikutnya adalah menaruh umpan untuk menjebak Nadira.
Selena berjalan menuju kamar tidur Nadira dan Arka yang berada di ujung koridor. Menggunakan kunci duplikat yang sempat ia curi dari gantungan kunci pelayan beberapa minggu lalu, Selena menyelinap masuk ke dalam kamar. Ia membuka lemari pakaian khusus milik Nadira, lalu menyelipkan sebuah *flashdisk* berwarna perak yang berisi salinan dokumen rahasia tersebut ke dalam saku bagian dalam salah satu blazer kerja yang sering dikenakan Nadira untuk mengajar. Tak hanya itu, Selena juga menjatuhkan selembar kertas catatan kecil berisi tulisan tangan tiruan yang menyerupai tulisan Nadira, yang berisi rincian nomor rekening bank fiktif dan janji pertemuan dengan pihak kompetitor bisnis Mahendra Group.
"Mari kita lihat, seberapa besar cinta dan perlindungan Arka padamu saat dia tahu bahwa harimau yang dia pelihara di dalam rumahnya ternyata adalah seekor serigala yang menjual seluruh kekayaannya pada musuh," desis Selena kejam sebelum menyelinap keluar dari kamar tanpa meninggalkan jejak.
---
Dua hari kemudian, badai besar yang sesungguhnya menghantam Mahendra Group.
Pagi-pagi sekali, bursa saham dikejutkan oleh pengumuman resmi dari perusahaan kompetitor utama mereka, dirgantara perkasa, yang berhasil memenangkan tender proyek mega-infrastruktur dengan selisih angka penawaran yang teramat tipis dan tidak masuk akal dari draf milik Mahendra Group. Strategi penawaran harga yang diajukan oleh kompetitor tersebut mutlak meniru dan mematahkan seluruh taktik rahasia yang telah disusun oleh tim Arka selama berbulan-bulan.
Kebocoran data internal berskala masif telah terjadi.
Suasana di dalam ruang rapat utama Mahendra Group mendadak mencekam bagaikan di dalam ruang interogasi. Arka duduk di kursi pimpinan dengan wajah yang menggelap sehitam malam. Aura intimidasi yang ia pancarkan begitu pekat hingga membuat para direksi di sekeliling meja menundukkan kepala, tidak berani bernapas terlalu keras.
"Yudha," panggil Arka, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar menahan amarah yang luar biasa. "Bagaimana dokumen yang hanya diakses oleh dua orang di dunia ini bisa jatuh ke tangan Dirgantara Perkasa?"
Yudha melangkah maju dengan wajah pucat, namun tatapannya memancarkan keprihatinan yang mendalam. "Tuan Arka... tim siber kami telah melacak jejak forensik digital dan aktivitas fisik di ruang kerja Anda yang berada di rumah utama dua hari lalu. Ada aktivitas pengunggahan data ilegal yang terhubung dengan alamat IP jaringan rumah."
Arka mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Siapa yang mengakses ruangan saya hari itu?"
Yudha ragu-ragu sejenak, melirik ke arah para direksi sebelum berbisik pelan di dekat telinga Arka. "Hari itu... rekaman CCTV koridor lantai dua luar sempat mengalami gangguan selama lima belas menit. Namun, laporan dari penjaga gerbang menyatakan bahwa hanya ada dua orang luar yang berada di rumah pada jam tersebut: Nona Selena dan... Nyonya Muda Nadira yang baru pulang mengajar lebih awal."
Mendengar nama Nadira disebut, jantung Arka mendadak melewatkan satu detak. Ada penolakan instan yang bangkit dari dalam sanubarinya—*tidak mungkin Nadira melakukannya. Wanita itu bahkan tidak peduli dengan uang kontraknya, bagaimana mungkin dia menjual dokumen perusahaan?* Namun, fakta bahwa data tersebut bocor dari dalam wilayah rumahnya sendiri tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Kita pulang ke rumah sekarang. Bawa tim investigasi internal," perintah Arka tegas, berdiri dari kursinya dan melangkah keluar dengan rahang yang mengeras.
---
Siang itu, ruang tengah kediaman Mahendra berubah menjadi pengadilan yang mengerikan bagi Nadira.
Ibu Sarah berdiri di tengah ruangan dengan napas yang memburu karena amarah yang meluap-luap. Di sampingnya, Selena duduk dengan wajah yang dipasang serapi mungkin untuk menampilkan ekspresi terkejut dan prihatin yang palsu. Nadira sendiri berdiri mematung di depan mereka, merasa kebingungan karena mendadak dipaksa pulang dari sekolah oleh titah mendesak dari Ibu Sarah.
*Brak!*
Pintu utama rumah terbuka kasar. Arka melangkah masuk diikuti oleh Yudha dan dua orang petugas keamanan internal perusahaan yang membawa perangkat pelacak digital.
"Arka! Kamu harus melihat ini sendiri!" seru Ibu Sarah begitu melihat putranya datang. "Perusahaan kita sedang berada di ambang kekacauan karena ada pengkhianat di dalam rumah ini! Dan saya tahu persis siapa orangnya!"
Nadira menatap Arka dengan pandangan mata yang jernih namun dipenuhi rasa bingung. "Pak Arka... ada apa sebenarnya? Kenapa semua orang menatap saya seperti ini?"
Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Nadira, mencari tanda-tanda kebohongan atau ketakutan, namun ia hanya menemukan ketulusan yang murni di sana. Namun, sebelum Arka sempat bersuara, Ibu Sarah sudah memberi perintah pada petugas keamanan.
"Geledah kamar mereka! Periksa seluruh sudut barang-barang milik wanita ini! Saya tidak ingin ada tikus berdasi yang bersembunyi di bawah atap rumah saya!" bentak Ibu Sarah kejam.
"Nyonya Sarah, saya tidak pernah melakukan apa pun yang merugikan keluarga ini," bela Nadira, suaranya mulai bergetar karena merasa kehormatan dan martabatnya sedang diinjak-injak tanpa alasan yang jelas. "Saya bahkan tidak tahu dokumen apa yang sedang kalian bicarakan!"
"Halah! Jangan berlagak suci, Nadira! Latar belakang keluargamu yang bangkrut dan terlilit utang miliaran rupiah itu sudah cukup menjadi alasan bagimu untuk menjual rahasia Mahendra Group demi uang!" tuduh Ibu Sarah sengit, mengabaikan fakta bahwa utang tersebut sebenarnya telah diselesaikan oleh Arka.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, salah seorang petugas keamanan turun dari lantai dua dengan membawa sebuah blazer kerja berwarna cokelat milik Nadira dan selembar kertas catatan kecil.
"Tuan Arka, Nyonya Sarah... kami menemukan benda ini tersimpan di dalam saku bagian dalam blazer milik Nyonya Muda Nadira," lapor petugas tersebut, menyerahkan sebuah *flashdisk* perak dan secarik kertas kepada Arka.
Yudha segera menghubungkan *flashdisk* tersebut ke dalam laptop portabelnya. Setelah memeriksa isinya selama beberapa detik, wajah Yudha berubah drastis menjadi sangat pucat. Ia menatap Arka dengan pandangan tidak percaya. "Tuan... isi di dalam perangkat ini adalah salinan lengkap dari 'Dokumen Master Blue-print' beserta seluruh strategi penawaran harga yang bocor ke tangan kompetitor."
*Deg.*
Dunia seolah runtuh di bawah kaki Nadira. Wajahnya seketika berubah pucat pasi, kehilangan seluruh pasokan darahnya. "Tidak... itu tidak mungkin... Saya tidak pernah memiliki benda itu! Saya bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakannya untuk mengambil dokumen di dalam brankas!"
Ibu Sarah merebut secarik kertas dari tangan petugas dan membacanya dengan suara lantang. "Dan lihat ini! Ini adalah catatan tulisan tanganmu sendiri, Nadira! Di sini tertulis rincian nomor rekening bank swasta asing dan jadwal pertemuan rahasia dengan direksi Dirgantara Perkasa! Masih mau mengelak?!"
"Itu bukan tulisan tangan saya! Seseorang telah menjebak saya!" seru Nadira, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Rasa putus asa dan ketakutan yang luar biasa menghantam dadanya. Ia memandang ke sekeliling ruangan, namun yang ia temukan hanyalah tatapan penuh kebencian, kejijikan, dan kemarahan dari Ibu Sarah dan seluruh pelayan yang ada di sana. Mereka semua telah sepenuhnya mempercayai bukti palsu tersebut.
Selena yang menyaksikan hal itu dari sofa menundukkan kepalanya, berpura-pura menyeka air mata palsu. "Astaga, Nadira... bagaimana bisa kamu setega itu pada Arka? Padahal Arka sudah begitu baik menerimamu di rumah ini meskipun keluargamu sudah hancur. Kenapa kamu malah membalasnya dengan menusuknya dari belakang?"
Tuduhan Selena itu seolah menjadi palu hakim yang mengesahkan vonis bersalah bagi Nadira di mata seluruh keluarga Mahendra. Kebencian Ibu Sarah yang selama ini terpendam kini meledak sepenuhnya tanpa ada rem lagi.
"Dasar wanita ular tidak tahu diuntung!" teriak Ibu Sarah, melangkah maju dan menunjuk wajah Nadira dengan penuh murka. "Kamu telah menghancurkan kerja keras putraku! Kamu membawa sial dan kehancuran bagi rumah ini! Pergi kamu dari rumah ini sekarang juga! Saya tidak sudi melihat wajah seorang pencuri dan pengkhianat tinggal di bawah atap yang sama dengan keluarga Mahendra!"
Nadira merasakan dadanya teramat sesak hingga menyakitkan, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu telah lenyap. Isak tangisnya kian pecah, menghancurkan seluruh pertahanan keanggunan yang ia miliki. Di tengah-tengah gempuran fitnah besar yang mengurungnya dari segala penjuru, Nadira mengalihkan pandangan matanya yang basah penuh harap ke satu-satunya pria yang berdiri diam di tengah ruangan.
Ia menatap Arka.
"Pak Arka..." bisik Nadira, suaranya parau dan sarat akan kepedihan yang mendalam. "Tolong percayalah pada saya... demi Tuhan, saya tidak pernah melakukan hal sehina itu. Saya tidak pernah mencuri dokumen perusahaan Anda..."
Arka berdiri mematung di tempatnya. Wajahnya tampak kaku bagaikan pahatan batu es, dan sepasang manik mata hitamnya menatap lurus ke arah Nadira dengan tatapan yang sangat dalam dan tak terbaca. Di satu sisi, seluruh bukti fisik dan digital yang dikumpulkan oleh tim investigasinya menunjuk lurus pada keterlibatan istrinya. Logika bisnisnya mendesaknya untuk bersikap tegas terhadap segala bentuk pengkhianatan internal yang mengancam stabilitas perusahaan.
Namun, di sisi lain, debaran halus dan rasa cinta yang perlahan mulai menguasai hatinya sejak insiden ciuman semalam menolak untuk mempercayai apa yang dilihat oleh matanya saat ini. Arka menangkap adanya kejanggalan yang teramat rapi dari penemuan bukti-bukti tersebut—terlalu rapi hingga terkesan sengaja diletakkan agar mudah ditemukan.
Melihat Arka yang hanya diam seribu bahasa tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membelanya, hati Nadira seketika hancur berkeping-keping. Rasa kecewa yang teramat sangat menghantam sanubarinya. Ia mengira bahwa debaran kebersamaan mereka selama beberapa hari terakhir, perlindungan Arka di bawah halte hujan, dan kehangatan ciuman tidak sengaja di hotel malam itu telah menumbuhkan setitik rasa percaya di antara mereka. Namun ternyata, di mata Arka Mahendra, dirinya tetaplah seorang "istri paruh waktu" yang tidak memiliki nilai kepercayaan sedikit pun di atas lembar kontrak mereka.
"Baiklah..." ucap Nadira perlahan, menyeka air matanya dengan gerakan yang bergetar hebat namun menyimpan sisa harga diri yang terluka. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Ibu Sarah dan Arka secara bergantian. "Jika keberadaan saya di rumah ini hanya dianggap sebagai pembawa sial dan pengkhianat... saya sendiri yang akan melangkah pergi. Saya tidak akan pernah mengambil sepeser pun uang dari kontrak pernikahan ini, karena martabat saya tidak bisa dibeli dengan fitnah yang keji."
Tanpa menunggu pengusiran lebih lanjut, Nadira membalikkan badannya. Dengan langkah kaki yang gemetar namun dipaksakan untuk tetap tegap, ia berjalan melewati Arka tanpa menoleh lagi, melangkah keluar menembus pintu gerbang kediaman Mahendra menuju ketidakpastian dunia luar di bawah gumpalan awan hitam yang kembali berkumpul di langit kota.
Di dalam ruang tengah, Ibu Sarah mendengus puas, sementara Selena tersenyum kemenangan yang teramat licik di balik telapak tangannya. Namun, mereka tidak menyadari bahwa di tempatnya berdiri, pandangan mata Arka Mahendra perlahan berubah menjadi sangat tajam dan berbahaya—bukan tertuju pada kepergian Nadira, melainkan terkunci lurus pada gerak-gerik Selena yang tampak terlalu puas di atas penderitaan istrinya. Badai fitnah besar telah berhasil memisahkan mereka, namun di balik kesunyian yang mencekam itu, sebuah investigasi rahasia yang sesungguhnya baru saja dimulai dari balik dinginnya keputusan sang CEO.