NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Asura

Kebangkitan Kaisar Asura

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemenangan Lin Huang

Aura ungu yang memancar dari tubuh Lin Huang begitu masif hingga membuat atmosfer di dalam Ngarai Tengkorak Merah terdistorsi hebat. Kubah Formasi Pengunci Jiwa sembilan lapis yang tadinya begitu kokoh, kini mulai menampakkan retakan-retakan besar bagai kaca yang siap pecah akibat riak energi Asura yang meluap-luap.

Mo Rong terbelalak. Rasa percaya diri dan kegilaan yang sempat menghiasi wajah tampannya runtuh dalam sekejap, digantikan oleh kengerian yang mendalam. Pedang berkarat di tangannya yang semula membara merah karena darah kutukan, kini bergetar hebat—seolah senjata itu sendiri ketakutan menghadapi keagungan kuno di hadapannya.

"T-Tidak mungkin! Bagaimana bisa seorang manusia memiliki tekanan jiwa selevel ini saat baru menembus Formasi Inti?!" Mo Rong berteriak histeris, suaranya melengking tinggi karena panik.

Huang tidak menjawab dengan kata-kata. Sepasang mata ungunya yang menyala menatap Mo Rong seolah pria itu tidak lebih dari seonggok daging tak bernyawa.

Dengan satu niat batin, Huang mengulurkan tangan kanannya. Energi Asura yang telah menyatu sempurna dengan inti jiwanya memadat di telapak tangannya, membentuk sebuah pusaran hitam berbalut petir ungu. Ini adalah esensi kekuatan yang jauh lebih murni daripada yang pernah dia gunakan sebelumnya.

"Sembahan Jiwa Gagak Darah... HANCURLAH!"

Didorong oleh rasa takut yang memuncak, Mo Rong mengerahkan seluruh sisa umur dan basis kultivasinya ke dalam satu tebakan putus asa. Bilah pedang merahnya menebas, meluncurkan bayangan gagak raksasa yang membawa aura pembusukan langsung ke arah dada Huang.

Huang tidak menghindar. Dia melangkah maju di udara kosong, lalu mengayunkan telapak tangannya dengan gerakan lambat namun sarat akan hukum alam yang absolut.

CRAAASH!

Pukulan tangan kosong Huang membelah bayangan gagak raksasa itu menjadi dua bagian dengan sangat mudah, seolah hanya merobek selembar kertas. Sisa energi ungunya melesat maju tanpa kehilangan momentum, menghantam pedang berkarat Mo Rong hingga hancur berkeping-keping menjadi debu besi.

"Arghhh!"

Mo Rong terlempar menghantam dinding tebing, memuntahkan darah hitam yang kental. Seluruh zirah perak tipisnya hancur total, dan meridian di sekujur tubuhnya retak akibat guncangan energi Asura yang merembes masuk ke dalam sistem kultivasinya.

Huang melayang turun, mendarat dengan anggun tepat di depan Mo Rong yang kini sudah tidak berdaya. Tato tiga sayap di dahi Huang perlahan meredup, dan warna matanya kembali menjadi hitam pekat, menyembunyikan kembali identitas terlarangnya ke dalam balutan Kitab Pembalik Surga Sembilan Putaran yang kini telah naik ke tingkat berikutnya.

"Kau... kau adalah monster..." Mo Rong terbata-bata, napasnya memburu di ambang kematian. "Tuan Jenderal Gorgon... tidak akan... melepaskanmu..."

"Dia boleh mencoba," jawab Huang datar.

Dengan satu jentikan jari, seberkas Qi Bumi yang tajam menembus dahi Mo Rong, mengakhiri hidup sang pengkhianat seketika.

Huang kemudian mendekati jasad Mo Rong dan mengambil kantong penyimpanannya. Di dalamnya, selain beberapa batu spiritual tingkat tinggi, terdapat sebuah lencana misi berwarna merah darah milik dalang Wayang Darah yang sebenarnya telah dibunuh Mo Rong sebelumnya untuk menjebak Huang, serta sebuah botol giok berisi Pil Kristal Bumi.

PRANG!

Bersamaan dengan tewasnya Mo Rong, Formasi Pengunci Jiwa di atas ngarai pecah sepenuhnya. Udara segar dari luar kembali berembus masuk, menyapu bersih sisa-siga kabut darah yang anyir.

Huang menarik napas dalam-dalam, merasakan kekosongan sekaligus kekuatan baru yang mengalir di dalam tubuh Formasi Inti Tingkat Awal miliknya. Pondasinya kini begitu kokoh, jauh melampaui kultivator biasa di tingkat yang sama berkat Arak Pemurnian Sumsum dari gurunya.

Dia memasukkan pil obat dan lencana misi ke dalam sakunya, lalu membalikkan badan untuk keluar dari ngarai. Namun, baru beberapa langkah berjalan, indra tajamnya menangkap riak ruang yang bergetar di ujung ngarai.

Sesosok bayangan abu-abu yang sangat akrab tiba-tiba muncul dari balik udara yang terbelah, memegang sebuah paha ayam panggang di satu tangan dan kendi arak di tangan lainnya.

Penatua Jiu.

Sang guru menatap jasad Mo Rong yang mengenaskan, lalu mengalihkan pandangannya pada Huang yang kini memancarkan aura Formasi Inti yang stabil dan tersamarkan dengan sempurna. Sebuah senyuman bangga yang jarang terlihat terukir di wajah tua yang biasanya malas itu.

"Kerja bagus, Bocah," ujar Penatua Jiu sambil menggigit daging ayamnya. "Kau tidak hanya membersihkan sampah faksi Iblis, tapi juga berhasil menembus ranah tanpa membuat seluruh akademi gempar. Kurasa arak buatanku tidak terbuang sia-sia."

Huang membungkuk hormat. "Terima kasih atas bantuan Guru. Jika bukan karena arak dari Guru, murid mungkin harus membayar harga yang lebih mahal untuk menang."

"Sudahlah, tidak perlu sungkan," Penatua Jiu melambaikan tangannya santai. "Tapi bersiaplah. Kematian Mo Rong pasti akan memicu kemarahan tersembunyi dari faksi-faksi yang beraliansi dengan faksi Iblis di dalam akademi. Saat kau kembali menyerahkan misi ini, namamu tidak akan lagi berada di jajaran bawah Murid Luar. Kau telah resmi melangkah ke panggung para monster sejati."

Huang menegakkan tubuhnya, menatap hamparan langit luas di luar ngarai dengan tatapan penuh tekad. Langkah pertamanya di luar akademi telah diselesaikan dengan darah musuh. Kini, dengan Ranah Formasi Inti di tangannya, Lin Huang siap kembali ke Akademi Empat Jagat bukan lagi sebagai mangsa yang bersembunyi, melainkan sebagai badai yang akan menjungkirbalikkan tatanan benua.

Kembalinya Lin Huang ke Akademi Empat Jagat tidak lagi sunyi. Berita tentang kematian Mo Rong—sang jenius nomor satu dari Kekaisaran Langit Pusat—di Ngarai Tengkorak Merah menyebar bagai api liar yang ditiup angin badai.

Awalnya, faksi-faksi besar yang beraliansi dengan Ras Iblis mencoba menuduh Huang melakukan kecurangan atau pembunuhan licik. Namun, di hadapan Aula Penegak Hukum Akademi, Huang dengan tenang menyerahkan lencana misi dan bukti sisa-sisa Qi kegelapan terlarang milik Mo Rong yang berhasil dia rekam menggunakan token gioknya sebelum pertempuran berakhir. Bukti itu mutlak: Mo Rong adalah pengkhianat yang beraliansi dengan faksi Iblis Benua Barat.

Sesuai aturan akademi, Lin Huang tidak hanya dibersihkan dari segala tuduhan, tetapi juga dianugerahi gelar sebagai Murid Dalam berkat kontribusinya membongkar sel mata-mata musuh, ditambah dengan hadiah 5.000 Poin Kontribusi yang sah.

Satu minggu setelah peristiwa di ngarai, Huang duduk bersila di dalam ruang kultivasi rahasia di Puncak Arak. Di depannya, melayang sebuah pil bulat berwarna kuning kecokelatan yang memancarkan aroma tanah yang pekat dan harum: Pil Kristal Bumi.

Huang menarik napas dalam-dalam, lalu menelan pil tersebut.

BOOM!

Energi elemen bumi yang sangat masif dan murni meledak di dalam perutnya. Jika itu adalah kultivator biasa, energi seberat itu bisa menghancurkan meridian mereka. Namun, bagi Huang yang memiliki fisik perunggu Asura dan dilindungi oleh Kitab Pembalik Surga Sembilan Putaran, energi itu adalah nutrisi terbaik.

Di dalam Dantiannya, inti jiwanya yang berwarna abu-abu keemasan berputar dengan kecepatan menggila, mengisap setiap tetes energi dari pil tersebut. Lapisan samaran itu semakin menebal, semakin kokoh, dan semakin tidak tertembus. Basis kultivasi Huang yang baru saja mencapai Ranah Formasi Inti Tingkat Awal kini langsung melejit dan menancap kuat di Puncak Tingkat Awal, hanya selangkah lagi menuju Tingkat Pertengahan.

Ketika Huang membuka matanya, kilatan cahaya abu-abu keemasan memotong kegelapan ruangan. Dia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan murni yang sanggup meremukkan baja hanya dengan remasan jari.

Sore harinya, Huang berjalan menuju Menara Empat Jagat, sebuah struktur melayang setinggi seratus lantai yang menjadi pusat ujian kekuatan bagi seluruh Murid Dalam. Di tempat inilah peringkat reputasi sejati para murid akademi diukir.

Saat Huang tiba di pelataran menara, suasana mendadak senyap. Puluhan Murid Dalam dari berbagai ras yang sedang berkumpul langsung menoleh ke arahnya. Tatapan mereka tidak lagi berisi kejutan atau remeh, melainkan kewaspadaan dan rasa segan yang mendalam.

"Lin Huang!"

1
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
Libz Adoel
👍👍👍👍👍
Libz Adoel
Mantappp 👍👍😍
Yann_Story: makasih😇
total 1 replies
yos helmi
🤭🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
bagus.. lebih bagus kalao sampe tamat n up minimal 3 bab / hari.. sy ng sayang kasih dukungan..
Yann_Story: siapp😇
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!