NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9 Ini Benar-benar Kamu, Anjani?

Mobil hitam milik Ren akhirnya melaju meninggalkan jalan perumahan Satriya. Suasana sunyi. Hanya suara AC mobil yang terdengar pelan bercampur suara isak napas Anjani yang belum benar-benar reda. Perempuan itu duduk di jok belakang sambil memeluk erat jaket Ren di tubuhnya. Jaket oversized itu nyaris menutupi seluruh tubuhnya yang hanya dibalut tanktop tipis dan legging hitam sebatas lutut.

Namun meski sudah tertutup, Anjani tetap merasa malu setengah mati. Ia bahkan tidak berani melihat kaca jendela ataupun menoleh. Kondisinya saat ini benar-benar berantakan. Mata sembab, tanpa membawa apapun, tanpa sandal. Dan sekarang berada di mobil mewah seorang CEO besar. Kalau hidupnya dijadikan sinetron, mungkin penonton juga capek sendiri melihat penderitaannya.

Sementara di kursi depan, Ren menyetir dengan satu tangan. Wajahnya tetap datar, dingin, masam, seperti dunia berutang padanya. Tapi diam-diam ia beberapa kali melirik melalui kaca depan, menangkap gestur tidak nyaman Anjani karena pakaiannya terlalu terbuka. Melihat itu Ren menaikkan jendela mobil demi menjaga privasinya.

Sedangkan Sae, anak itu duduk di sebelah Anjani tanpa jarak sama sekali. Padahal semalam saja ia masih seperti anak kecil antisosial yang alergi manusia. Sekarang malah nempel seperti anak kucing nemu kardus hangat.

Sae memperhatikan Anjani beberapa detik, lalu berkata datar. “Tante habis kabur?”

Anjani langsung tersedak napas sendiri. “Hm?”

“Di film orang yang nangis sambil pakai baju begini biasanya habis kabur.”

Anjani spontan menunduk malu.

Sementara dari depan Ren langsung bicara dingin tanpa menoleh. “Berhenti nonton drama aneh.”

Sae tetap tenang. “Aku belajar kehidupan.”

“Belajar yang benar.”

“Aku belajar, makanya pintar.”

Ren menghela napas panjang kasar seperti lelaki yang menyesal diberi anak terlalu pintar. Anjani yang tadi menangis sampai sesenggukan malah refleks menahan senyum kecil.

Dan Sae menangkap itu. Jiplakan Ren Aksara itu langsung duduk lebih tegak sedikit, seakan bangga karena berhasil membuat Anjani tidak menangis selama tiga detik.

“Tante lapar?”

Anjani menggeleng pelan. “Nggak…”

Perutnya sebenarnya sakit sejak tadi karena belum terisi apa pun. Namun sekarang ia terlalu malu untuk menerima apa pun.

Sae memperhatikan kaki Anjani yang telanjang beberapa detik. Kemudian tiba-tiba membuka tas kecil hitamnya.

Ren langsung melirik lewat kaca depan. “Sae.” Ia memperingati.

“Aku tahu.”

Anak itu tetap sibuk mengobrak-abrik tasnya. Beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan kaos kaki kecil bergambar dinosaurus abu-abu.

Anjani seketika bengong. “Kok kamu bawa itu?”

“Aku tidak suka kaki dingin," jawabnya serius sekali. Baginya membawa kaos kaki cadangan seolah bagian penting dari strategi bertahan hidup di dunia modern.

Sae mengulurkannya pada Anjani. “Pakai.”

Anjani refleks menolak halus. “Nggak usah, Sayang…”

“Pakai. Tante nanti sakit.”

Cara memaksanya aneh. Datar dan tidak manja, namun justru membuat orang susah menolak.

Ren melirik dari depan lagi. “Kamu maksa orang terus.”

“Aku peduli.”

“Kamu cerewet.”

“Papa lebih cerewet.”

Anjani spontan tertawa kecil. Dan itu membuat suasana mobil mendadak hening sepersekian detik. Suara tawanya kecil dan serak. Masih bercampur tangis, tapi tetap hangat.

Ren diam sesaat sebelum kembali fokus menyetir. Sementara Sae terlihat puas seperti baru memenangkan debat parlemen.

Anjani akhirnya menerima kaos kaki itu, lalu memakainya sambil menahan malu. Kaos kaki dinosaurus. Kekecilan, tapi masih lumayan menutupi.

Ya Tuhan. Hidupnya benar-benar aneh hari ini.

“Tante lebih bagus pakai itu daripada nangis terus.”

Anjani langsung menoleh. “Hm?”

Sae menunjuk matanya sendiri. “Mata Tante bengkak, cantiknya hilang.”

Anjani sampai tidak bisa menjawab. Dan anak kecil itu mengatakannya tanpa niat jahat sedikit pun. Murni jujur.

Beberapa detik suasana kembali hening. Sampai akhirnya Anjani perlahan mengangkat wajah.

“Pak Ren…”

“Hm.”

“Kenapa… ada di sekitar perumahan saya?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga karena semakin dipikir semakin aneh. Mana mungkin kebetulan.

Ren belum sempat menjawab karena Sae lebih dulu menyela datar. “Karena Tante jahat.”

Anjani bengong. “Hah?”

“Semalam aku kirim stiker.” Sae menatapnya lurus. “Tapi tidak dibaca.”

Ah. Anjani langsung ingat. Semalam Sae memang sempat meminta nomor teleponnya dengan super percaya diri seperti anak kecil yang sedang closing kerja sama bisnis.bDan ternyata, anak itu benar-benar mengirim pesan.

“Aku tunggu sampai Papa tantrum karena tidak tidur-tidur.” Nada Sae tetap datar seperti reporter berita.

Ren langsung mendengus. Mimik wajahnya tambah masam. Tantrum dibilangnya. Apa nggak ada pilihan kata yang lebih keren?

“Centangnya satu,” lanjut Sae.

Anjani langsung merasa bersalah. “Maaf… ponsel Tante mati.”

“Aku tahu sekarang. Karena Tante ternyata dibuang.”

Ren langsung melirik tajam lewat kaca depan. “Sae.”

“Apa?” Anak itu santai sekali. “Faktanya begitu.”

Ren memang tidak langsung tahu semuanya tentang apa yang terjadi kepada Anjani. Sae juga tidak tahu detailnya, tapi mereka cukup peka melihat ada yang tidak beres. Kondisi Anjani sekarang sudah sangat berbicara sendiri.

Anjani sampai tercekat malu karena perkataan polos Sae. Tapi anehnya tidak terasa dihina. Anak itu mengatakannya dengan nada yang justru terdengar seperti 'Kalau mereka membuang Tante, berarti mereka yang aneh.' Dan itu terlalu hangat untuk hati Anjani yang habis dihancurkan.

Sae kembali bersandar kecil di dekat lengan Anjani. “Jadi pagi tadi aku minta Papa nganter aku ke rumah Tante.”

Ren langsung bicara datar, “Dia bangunin saya jam 4 pagi.”

“Aku penasaran.”

“Kamu teror Papa dua jam.”

“Aku konsisten.”

“Berisik.”

“Aku anak tunggal. Wajar.”

Anjani spontan tertawa lagi. Kali ini sedikit lebih jelas. Dan lagi-lagi Ren diam-diam merasa suara itu jauh lebih enak didengar daripada kebanyakan orang yang tertawa terlalu keras di sekelilingnya selama ini.

Mobil Ren akhirnya berbelok masuk ke kawasan pusat perbelanjaan elite. Anjani yang sejak tadi diam mulai mengernyit kecil. Deretan butik mewah berdiri di sisi kanan kiri jalan dengan kaca besar dan interior mahal yang bahkan membuat orang segan sekadar masuk.

Perasaan tidak nyaman langsung merayap pelan di dada Anjani. “Pak Ren…kita mau ke mana?” suaranya hati-hati.

“Turun.”

Mobil berhenti tepat di depan sebuah butik besar bernuansa hitam emas. Logo butik itu berdiri elegan di atas pintu kaca. Dan Anjani langsung mengenalinya. Butik milik salah satu brand fashion ternama yang sedang naik daun beberapa tahun ini. Tempat yang dulu mungkin pernah jadi dunia impiannya. Sebelum hidupnya berubah jadi dapur, cucian, dan jadwal vitamin anak.

Anjani refleks memegang erat jaket Ren di tubuhnya. “Pak Ren nggak usah repot-repot…”

Ren mematikan mesin mobil lalu menoleh singkat. Tatapannya turun sekilas ke tanktop tipis Anjani yang tertutup jaketnya, kemudian ke kaki kecil berkaos kaki dinosaurus. Kombinasi yang membuat perempuan tersebut terlihat menyedihkan sekaligus absurd.

“Memangnya kamu mau keliling kota pakai begitu?”

Anjani langsung salah tingkah. Sementara Sae di sampingnya ikut melihat penampilan Anjani dengan serius seperti juri fashion show anak TK.

“Tidak proper,” komentarnya datar.

Anjani hampir tersedak malu. Ren membuka pintu mobil lebih dulu. Dan sebelum turun, Sae tiba-tiba berkata pelan.

“Papa kadang memang tidak menyenangkan.”

Ren langsung melirik tajam.

“Tapi hari ini lumayan berguna," lanjutnya.

Anjani spontan menahan tawa.

Sementara Ren menghela napas kasar. “Kamu kalau muji memang harus sambil menghina?”

“Aku menjaga keseimbangan.”

“Kamu gangguan.”

“Aku realistis.”

Ren menutup pintu mobil sedikit lebih keras.

Sae langsung menoleh pada Anjani. “Itu tanda dia ngambek.”

“Aku masih dengar,” sahut Ren dari luar.

“Aku tahu.”

Lucu sekali. Mereka benar-benar seperti musuh bebuyutan yang dipaksa serumah oleh takdir. Anjani sampai harus menunduk menahan senyum. Dan mungkin itu pertama kalinya sejak semalam dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Begitu masuk ke dalam butik, seorang perempuan elegan berusia sekitar 29 tahun langsung berjalan cepat menyambut mereka.

“Hei Ren, akhirnya kamu--” Kalimatnya terpotong. Tatapan perempuan itu langsung jatuh pada Anjani.

Deg.

Wajahnya berubah kaget. Benar-benar kaget. “Ya Tuhan…”

Perempuan itu mengamati Anjani dari atas sampai bawah. Rambut berantakan, mata sembab, memakai jaket Ren kebesaran, kaos kaki dinosaurus, dan wajah cantik pucat yang jelas habis menangis.

Namun bukan itu yang membuatnya terkejut. Melainkan--

“Anjani?”

Anjani membeku. Perempuan elegan itu langsung mendekat beberapa langkah dengan ekspresi tidak percaya.

“Ini benar-benar kamu?”

Bersambung~~

1
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
Ayuwidia
Ikan lohan 😆
Ayuwidia
Nih anak terlalu jujur 😆
Ayuwidia
CK, pasti suara si ulet kekekt 😏
ryuka
lanjuutt thoorr.. double up klo bisa 🤭🤭🤭🤭🤭🤭👍👍👍🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!