Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang Tak Terduga
Malam kembali merayap, membawa kesunyian yang pekat ke dalam rumah besar di Blok C-12 itu. Di kamar utama lantai dua, Alya duduk di tepi tempat tidur dengan sebuah lampu meja yang menyala temaram, memantulkan bayangan tubuhnya yang mungil di dinding.
Di pangkuannya, sebuah laptop pinjaman dari Wati—yang dibeli dari hasil tabungan ART itu—menyala, menampilkan laman portal mahasiswa baru.
Alya menatap jadwal mata kuliah yang tertera di sana. Senin, Rabu, Jumat. Pukul 19.00 - 21.00 WIB.
Jari-jarinya menyentuh permukaan layar datar itu dengan getaran halus di ujungnya. Bukan getaran karena takut, melainkan luapan antisipasi yang membakar dadanya.
Tinggal tiga hari lagi. Tiga hari lagi menuju Senin malam yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Ponselnya yang tergeletak di atas seprai bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan singkat dari Reza masuk.
Reza: Malam ini aku pulang terlambat lagi. Ada makan malam dengan investor dari luar kota. Jangan tunggu aku.
Alya melirik pesan itu sekilas melalui sudut matanya. Tidak ada lagi sesak di dada. Tidak ada lagi air mata yang mendesak keluar seperti minggu-minggu pertama pernikahan mereka. Ia tidak peduli. Ia benar-benar sudah tidak peduli.
Apakah Reza sedang berada di restoran mewah, ataukah pria itu sedang mengunci diri di kamar hotel berbintang bersama Gita, bercumbu di atas keringat pengkhianatan, Alya tidak lagi ambil pusing.
Baginya, setiap malam yang dihabiskan Reza di luar rumah adalah sebuah berkah. Itu berarti satu malam lagi ia bisa tidur tanpa ketakutan. Satu malam lagi raganya terbebas dari sentuhan paksa yang menjijikkan.
Bagi Alya, komitmennya dalam pernikahan palsu ini hanyalah kehadiran fisiknya. Yang penting ia ada di rumah ini saat Reza memeriksa CCTV. Selebihnya? Mereka adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi atap penjara yang sama.
Alya menutup laptopnya, mematikan lampu meja, lalu menarik selimut hingga ke dada. Di bawah kegelapan kamar yang sunyi, ia memejamkan mata dengan senyuman tipis yang dingin. Nikmati malammu dengan Kak Gita, Mas. Karena aku juga akan menikmati jalanku sendiri.
Keesokan harinya, hari Sabtu sore, langit di atas komplek perumahan tampak berawan rata. Hawa sejuk sisa hujan gerimis tadi siang membuat dedaunan pohon kenanga di halaman samping rumah bergoyang pelan.
Hari ini adalah hari libur kelas aerobik di sanggar Sangkar Hati. Sesuai anjuran Diana, jeda satu hari sangat penting agar otot-otot tubuhnya tidak tegang setelah dihantam ritme gerakan yang cepat pada hari pertama.
Alya memanfaatkan waktu luang itu untuk bersantai di ruang tengah, mengenakan daster katun longgar berwarna biru tua yang nyaman, menyembunyikan semua luka fisiknya di balik kain yang melambai.
Ia sedang membantu Aminah merapikan stoples-stoples kue di dapur ketika suara bel rumah berbunyi tiga kali berturut-turut. Nada ketukannya terdengar tegas, berwibawa, dan tidak sabaran.
Alya mengernyit. "Siapa, Bu Aminah? Mas Reza biasanya langsung buka pagar pakai remot pribadi."
Aminah meletakkan kain lapnya, wajahnya tiba-tiba berubah tegang. "Biar Aminah cek lewat interkom depan, Mbak."
Belum sempat Aminah melangkah ke koridor depan, pintu utama rumah yang tidak dikunci dari dalam berayun terbuka. Langkah kaki dengan sepatu hak tahu yang berketuk nyaring di atas lantai marmer terdengar menggema, disusul oleh aroma parfum melati yang klasik dan pekat.
Seorang wanita paruh baya berusia sekitar awal enam puluhan berjalan masuk ke ruang tamu dengan dagu terangkat. Postur tubuhnya tegap meskipun gurat usia tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang dirawat dengan prosedur mahal.
Ia mengenakan blus sutra bermotif batik pesisiran berwarna coklat tua yang elegan, dipadukan dengan celana bahan hitam berpotongan lurus.
Sepasang matanya yang tajam—mata yang diturunkan langsung kepada Reza—menyapu seluruh ruangan dengan pandangan menilai yang dingin.
Dia adalah Ibu krisdayanti, ibu kandung Reza.
Aminah yang baru muncul dari balik pilar dapur langsung membungkuk dalam-dalam, tubuhnya gemetar ketakutan.
"I-Ibu... Selamat sore, Bu Kris. Mari silakan duduk, Bu. Saya... saya buatkan teh hangat dulu."
Krisdayanti tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tas jinjing kulit merk Hermes miliknya di atas meja marmer dengan ketukan yang disengaja, lalu matanya beralih, mengunci tepat pada sosok Alya yang berdiri terpaku di ambang pintu dapur.
Alya menelan ludah. Ia mengenali wanita ini dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja Reza, meskipun saat acara akad nikah yang terkesan mendadak dan terburu-buru enam minggu lalu, wanita ini hanya datang sebentar, memasang wajah sekaku batu, lalu pergi tanpa memberikan restu yang layak.
Krisdayanti adalah orang pertama yang menentang keras keputusan Reza menikahi gadis SMA yang tidak jelas asal-usulnya, ketika selama setahun penuh Reza selalu membanggakan nama Gita—wanita karir yang sukses—kepada keluarga besar mereka.
"Jadi... ini perempuan yang membuat anak laki-lakiku kehilangan akal sehatnya?" suara Krisdayanti mengalun rendah, namun ketajamannya sanggup membelah keheningan ruang tamu.
Alya menarik napas dalam-dalam, menekan debar jantungnya, lalu melangkah maju dengan sopan. Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangannya untuk menyalami mertuanya.
"Selamat sore, Ibu. Saya Alya."
Krisdayanti menatap tangan Alya yang terulur selama beberapa detik yang menyakitkan, sebelum akhirnya ia hanya menyentuhkan ujung jari-jarinya sekilas, menolak jabat tangan yang tulus. Ia duduk di sofa panjang, menyilangkan kakinya dengan anggun yang intimidatif.
"Di mana Reza?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Mas Reza sedang di kantor, Bu. Katanya ada urusan proyek yang harus diselesaikan sampai sore," jawab Alya, tetap mempertahankan nada suaranya yang lembut dan tenang. Ia duduk di sofa tunggal di seberang Krisdayanti, menjaga jarak profesional yang aman.
Krisdayanti mendengus sinis. "Proyek? Anakku itu gila kerja, tapi dia tidak pernah mengabaikan rumahnya semenjak menikah denganmu. Setiap kali saya telepon, dia selalu bilang sibuk. Rumah sebesar ini... tapi suasananya sedingin kuburan. Apa ini cara kamu mengurus suami, Alya?"
Alya terdiam. Kata-kata itu menembus pertahanannya, namun ia menolak untuk terlihat lemah di depan wanita yang jelas-jelas membencinya ini.
"Saya melayani Mas Reza sesuai dengan apa yang dia butuhkan, Bu," ucap Alya aman, memilih kata-kata dengan sangat hati-hati.
"Melayani?" Krisdayanti tertawa kecil, tawa yang sarat akan penghinaan. Matanya meneliti penampilan Alya yang hanya mengenakan daster katun sederhana dengan rambut yang hanya dicepol asal.
"Kamu bahkan tidak terlihat seperti seorang istri, Alya. Kamu terlihat seperti anak sekolah yang tersesat di rumah mewah ini. Saya sudah bilang pada Reza sejak awal... pernikahan yang terburu-buru seperti ini pasti ada yang tidak beres."
"Reza itu pria mapan, mapan sekali! Mantan pacarnya, Gita, adalah wanita terhormat yang tahu cara membawa diri di kalangan atas. Tapi entah setan apa yang merasuki anakku hingga dalam waktu semalam dia membatalkan rencana dengan Gita dan malah membawa bocah ingusan sepertimu ke atas pelaminan!"
Mendengar nama "Gita" disebut dari mulut mertuanya, sebuah kilatan pahit melintas di mata Alya. Jika Ibu tahu bahwa anak laki-laki kebanggaanmu itu justru sedang merangkak menjadi budak cinta dari wanita terhormat itu, Ibu pasti akan terkena serangan jantung, teriak Alya dalam hatinya.
"Pernikahan ini... adalah keputusan Mas Reza dan Kak Gita, Bu. Saya hanya menjalani apa yang sudah diatur," jawab Alya, suaranya kini terdengar lebih dingin, setipis es.
Krisdayanti mengernyit, tidak suka dengan ketenangan Alya yang di luar ekspektasinya. Ia mengira gadis delapan belas tahun ini akan menangis atau gemetar saat diintimidasi, namun Alya justru menatapnya balik dengan sepasang mata bulat yang kosong sekaligus tegas.
"Jangan bawa-bawa nama Gita untuk berlindung, Alya!" bentak Krisdayanti pelan namun tajam. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Saya tahu perempuan sepertimu. Kamu melihat Reza sebagai tiket emas untuk keluar dari kemiskinan keluarga kamu, kan? Menikah muda dengan pengusaha kaya agar hidupmu terjamin tanpa perlu susah-susah kuliah atau kerja keras."
"Tapi ingat kata-kata saya... posisi yang didapatkan dari hasil merebut atau memanfaatkan keadaan tidak akan pernah bertahan lama. Suatu hari nanti, Reza akan sadar kalau dia telah salah memilih pajangan di rumah ini."
Alya mengepalkan tangannya di bawah lipatan dasternya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Rasa sakit fisik dari tamparan Reza beberapa hari lalu di pipinya seolah kembali berdenyut, memicu amarah yang selama ini ia tekan di dasar jiwanya.
Namun, Alya tidak meledak. Ia justru menarik napas panjang, mengendurkan kepalan tangannya, dan menatap ibu mertuanya dengan senyuman tipis yang membuat Krisdayanti tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Terima kasih atas nasihatnya, Ibu," ucap Alya dengan nada yang teramat sopan namun mengandung sarkasme yang dalam.
"Saya akan selalu mengingat bahwa di rumah ini... saya memang hanya sebuah pajangan sementara. Dan saya pastikan, saya tidak akan meminta lebih dari apa yang sudah anak Ibu berikan."
Krisdayanti tertegun. Ia melihat mata Alya—mata yang tidak mencerminkan ketakutan seorang korban, melainkan mata seorang pengamat yang sedang menunggu waktu.
Sebelum wanita paruh baya itu sempat membalas, Aminah datang membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan sepiring camilan, memecah ketegangan yang nyaris membakar ruang tamu tersebut.
Krisdayanti berdiri dengan anggun, meraih tas Hermes-nya tanpa menyentuh teh yang disajikan.
"Saya tidak punya waktu lama mendengarkan pembicaraan kosongmu. Katakan pada Reza, malam minggu besok dia harus datang ke rumah besar. Ada makan malam keluarga."
Dan kamu..." Krisdayanti menatap Alya dari atas ke bawah sekali lagi. "...tidak perlu ikut. Ini hanya untuk keluarga inti."
Wanita itu berbalik, melangkah pergi dengan ketukan sepatu hak tahunya yang nyaring, meninggalkan ruang tamu yang kembali tenggelam dalam keheningan setelah pintu utama ditutup dengan keras.
Aminah segera meletakkan nampan, lalu berlutut di dekat kursi Alya dengan wajah panik.
"Mbak Alya... Mbak tidak apa-apa? Ibu Kris memang orangnya keras sekali sejak dulu, Aminah minta maaf..."
Alya mengembuskan napas panjang yang tertahan, lalu menoleh ke arah Aminah. Senyumannya kali ini terasa lebih lepas, sebuah tawa kecil yang hambar keluar dari bibirnya.
"Aku tidak apa-apa, Bu Aminah. Sungguh. Malah... aku sangat berterima kasih atas kedatangan Ibu Kris sore ini."
Aminah bingung. "Berterima kasih? Tapi beliau baru saja menghina Mbak..."
Alya berdiri, berjalan menuju jendela kaca, menatap mobil mewah Krisdayanti yang perlahan bergerak keluar dari gerbang. Di balik kaca, ia bisa melihat kamera CCTV teras yang merekam seluruh area luar.
"Beliau baru saja mengingatkanku, Bu," bisik Alya dengan sorot mata yang mengeras bagai baja.
"Beliau mengingatkanku bahwa di mata dunia, di mata keluarga Reza, dan di mata mereka semua... aku tidak pernah diinginkan di sini."
"Dan itu adalah alasan terbaik yang kubutuhkan untuk memastikan bahwa hari Senin besok... aku harus melangkah keluar dari jalur belakang rumah ini dan memulai kuliahku. Aku tidak akan membiarkan mereka membuangku sebelum aku sendiri yang menghancurkan sangkar emas ini."
Api kecil di dalam dada Alya yang sempat meredup karena kekerasan beberapa hari lalu, sore ini kembali berkobar hebat. Ditaburi bensin oleh penghinaan sang mertua, tekad Alya kini telah mengkristal sempurna. Hari Senin akan tiba, dan permainan topeng dua sisi di bawah lensa kamera akan segera dimulai.
jangan lupa mampir yaa🤭