NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Rencana Pernikahan Herry

...

Malam kembali turun membungkus kampung pojokkan kota, sebuah wilayah kumuh yang terjepit di antara dinding pembatas pelabuhan dan proyek pergudangan yang mangkrak. Di tempat inilah, hanya terpaut dua gang dari kontrakan petak milik Tania dan tak jauh dari rumah kecil beratap seng tempat Rangga tinggal, pos ronda kayu itu kembali menjadi pusat dunia kecil mereka.

Malam ini suasananya agak berbeda. Udara terasa lebih gerah dari biasanya, membawa sisa pengap dari aspal jalanan yang terbakar matahari siang tadi. Di atas tikar pandan yang diletakkan di tanah, lingkaran nongkrong itu kini lebih ramai karena kedatangan beberapa wajah baru. Ada aturan tidak tertulis yang mendadak berlaku malam ini, para pemuda membawa pasangan mereka masing-masing.

Doni datang bersama pacarnya, seorang gadis penjaga toko kosmetik yang terus-menerus memoles lipstik merah muda di bibirnya. Jono juga membawa seorang wanita bertubuh sintal yang bekerja di warung makan seberang gang. Hanya dua pria paruh baya, termasuk Pak Kumis penjual nasi goreng yang menyempatkan mampir setelah lapaknya sepi, yang duduk santai tanpa perlu repot-repot membawa istri mereka yang pasti sudah tertidur di rumah.

Dan tentu saja, ada Rangga.

Pria jangkung itu baru saja duduk ketika seorang wanita berambut ikal dengan pakaian ketat berwarna kuning terang langsung mengambil tempat di sebelahnya. Wanita itu salah satu dari sekian banyak gebetan kasual Rangga didaerah kampung ini langsung menempelkan lengannya ke bahu Rangga tanpa perlu ditawari. Dia bergelayut manja, tertawa genit pada setiap lelucon hambar yang dilemparkan para pemuda, seolah-olah ingin menegaskan pada dunia bahwa malam ini Rangga adalah miliknya.

Alhasil, Tania Sae Ning menjadi satu-satunya orang di sana yang duduk tanpa pasangan.

Tania mengambil posisi di sudut paling ujung, bersandar pada tiang kayu pos ronda yang sudah lapuk dimakan usia. Dia mengenakan kemeja flanel kebesaran berwarna gelap yang menyembunyikan lekuk tubuhnya, dengan sepasang mata kelam yang menatap lurus ke depan, kosong dan dingin. Riuh rendah suara tawa, aroma asap rokok kretek, dan banyolan mesum para pemuda sama sekali tidak menyentuh dinding pertahanannya. Bagi seorang Marysa, dikelilingi oleh manusia-manusia fana yang memamerkan kemesraan ini terasa seperti menonton pertunjukan teater bisu yang membosankan.

Namun, Rangga tetaplah Rangga. Sifat playboy yang sudah mendarah daging di dalam tubuhnya tidak bisa disembunyikan begitu saja.

Meskipun lengan kirinya sedang digelayuti oleh wanita genit berbaju kuning itu, sepasang mata sipit Rangga terus-menerus mencuri pandang ke arah sudut tempat Tania berada. Setiap kali wanita di sebelahnya mencoba menyuapinya kacang rebus, Rangga menerimanya dengan acuh tak acuh, sementara fokus perhatiannya tetap tertuju pada raut wajah datar Tania. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dada Rangga melihat bagaimana Tania diasingkan secara visual oleh keadaan malam ini. Pria jangkung itu beberapa kali mencoba melemparkan umpan obrolan ke arah Tania, berusaha menarik wanita dingin itu masuk ke dalam lingkaran, meski usahanya hanya dibalas dengan anggukan kepala yang kaku dari sang mantan ratu mafia.

...

Hawa dingin musim dingin mencekik kulit, sebuah ruang makan privat di salah satu hotel bintang lima di distrik Gangnam, Seoul, menyajikan atmosfer yang bertolak belakang namun tak kalah menyesakkan.

Cahaya lampu kristal yang mewah memantul di atas permukaan meja marmer panjang yang dipenuhi oleh hidangan kelas atas khas Prancis. Di sana, sebuah rapat keluarga berskala besar mengenai detail pernikahan sedang berlangsung dengan sangat formal.

Kapten Herry duduk tegak dengan setelan jas hitamnya yang sempurna. Di sebelah kanannya ada Jessica Hwang Won duduk dengan senyum anggun yang menawan, mengenakan gaun beludru sewarna anggur merah. Di seberang meja, Wakil Komisaris Jenderal Han duduk bersama istrinya, memancarkan aura kekuasaan yang mutlak dari seorang petinggi kepolisian.

"Ayah, Ibu... aku sudah memikirkannya matang-matang sejak minggu lalu," Jessica membuka suara, nadanya terdengar manja namun penuh ketegasan yang tak bisa dibantah. Dia menoleh ke arah Herry, lalu kembali menatap kedua orang tuanya. "Aku tidak mau pernikahan kami digelar di Seoul. Aku ingin kami menikah di luar negeri, di Indonesia."

Mendengar keputusan mendadak itu, Herry yang sedang memotong daging steaknya menghentikan gerakan tangannya sesaat. Rahangnya yang tegas mengeras, namun dia tidak langsung menyela.

"Indonesia?" Wakil Komisaris Jenderal Han mengangkat satu alisnya, menaruh gelas anggurnya dengan ketukan pelan di atas meja. "Kenapa harus ke sana, Jessica? Fasilitas di Seoul jauh lebih terjamin untuk menjamu para pejabat kementerian."

"Aku kagum dengan keindahan alami di sana, Ayah," jawab Jessica, matanya berbinar oleh ego seorang putri tunggal yang terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. "Beberapa waktu lalu aku melihat brosur tentang resor mewah di pinggiran pulau mereka. Dan entah mengapa, aku sangat ingin mengadakan pemberkatan dan resepsinya di Jakarta. Kebetulan salah satu teman baikku saat kuliah di Amerika sekarang sedang tinggal di sana mengurus bisnis keluarganya. Dia bisa membantu kita mengurus semua perizinan VIP dengan pemerintah setempat. Lagipula, bukankah suasana tropis akan sangat berkesan bagi para tamu?"

Ibu Jessica tersenyum kecil, langsung menyetujui keinginan putrinya. "Jika itu maumu, Ibu rasa tidak ada masalah. Ayahmu bisa mengatur cuti khusus untuk Herry dan tim pengamanan internal."

Herry hanya diam mendengarkan seluruh percakapan itu mengalir di atas kepalanya. Pria itu benar-benar sedang dihadapkan oleh kerumitan pikiran yang luar biasa besar. Pikirannya tidak berada di ruang makan mewah ini, jiwanya tertinggal di tumpukan berkas pelarian kapal kargo kayu di pelabuhan Gyeonggi yang dia terus ia pelajari.

Jakarta? batin Herry, sepasang mata jelaganya menggelap oleh emosi dingin yang tertahan.

Sebuah kebetulan yang aneh ataukah takdir sedang mempermainkannya dengan kejam? Di saat insting detektifnya mencurigai bahwa jalur pelarian laut Marysa mengarah ke wilayah Asia Tenggara, Jessica justru menuntut agar pernikahan mereka digelar di Jakarta, jantung dari wilayah selatan yang sedang dia selidiki secara diam-diam.

Rasa stres yang pekat membuat pelipis Herry berdenyut nyeri. Dia merasa seperti seonggok bidak catur yang digerakkan oleh ambisi keluarga Han, dipaksa melangkah menuju altar pernikahan yang tidak pernah dia inginkan sepenuhnya, sementara di dalam dadanya, lubang hitam ingatan tentang Marysa terus menganga, menuntut untuk segera dipenuhi oleh jawaban.

Ia seperti dikendalikan karena kedua orang tua Herry telah tiada jadi mau tidak mau ia harus menurut. Lagi pula ini demi masa depan.

"Bagaimana menurutmu, Herry? Kamu tidak keberatan, kan?" Jessica menyentuh lengan Herry lembut, menatap calon suaminya dengan pandangan menuntut.

Herry menarik napas pendek melalui hidung, menekan seluruh gejolak emosi dan keraguan yang bergemuruh di dalam hatinya. Sebagai seorang perwira yang hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan calon mertuanya, dia tidak memiliki ruang untuk menolak keputusan keluarga ini.

"Jika itu yang membuatmu bahagia, Jessica... aku akan mengikuti keputusanmu," jawab Herry, suaranya terdengar sangat datar, dingin, dan kaku, tanpa ada nada kebahagiaan sejati di dalamnya.

Di balik ketenangan wajahnya yang rupawan, Herry tahu bahwa perjalanan ke Jakarta ini tidak akan pernah menjadi sekadar perjalanan pernikahan biasa bagi dirinya. Itu adalah tiket emas yang diberikan takdir untuk membawanya melangkah masuk ke dalam teritori baru, tempat di mana dia akan memulai perburuannya sendiri untuk mencari Marysa yang hilang, bahkan jika dia harus mempertaruhkan seluruh karier dan masa depannya di kepolisian Seoul.

Aku akan terus mencarimu...Aku tidak bisa membiarkan kamu memenuhi isi kepalaku.

...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!