Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan baru
"Siapa Lea?"
"Lea itu wanita yang menabrakku kemarin."
"Jadi namanya Lea?" tanya Luna.
Alesha mengangguk.
"Iya. Dia yang membawaku ke rumah sakit dan yang bertanggung jawab atas semua biaya pengobatanku."
Luna mengangguk pelan.
Kalau begitu, kemungkinan besar wanita bernama Lea itu juga yang memperbaiki motornya.
"Pantas saja," gumam Luna.
Alesha kembali menatap uang di tangannya.
Beban hati Alesha sedikit berkurang.
Setidaknya motor Luna tidak mengalami kerusakan seperti yang ia bayangkan.
Alesha dan Luna mengobrol ringan selama beberapa saat.
Kehadiran Luna membuat kamar yang tadinya sunyi terasa lebih hidup.
Hingga pintu kamar terbuka pelan, membuat keduanya menoleh bersamaan.
"Kak Ana," ucap mereka berdua bersamaan.
Ana tersenyum kecil melihat kekompakan mereka.
Lalu ia menghampiri ranjang Alesha sambil membawa sebuah parsel buah di tangannya.
"Sepertinya kakak datang di waktu yang kurang tepat, ya?" ucap Ana sambil tersenyum, melihat obrolan mereka yang langsung terhenti.
"Nggak, Kak. Kita hanya ngobrol biasa kok," jawab Luna.
"Maaf ya, Kak. Hari ini aku nggak masuk," ucap Alesha.
Ana langsung menggeleng.
"Nggak apa-apa lah, Sha. Mana mungkin saya membiarkan kamu masuk kerja di saat kondisimu seperti ini," ucap Ana.
Dalam kondisi seperti ini, Alesha masih sempat memikirkan pekerjaan.
Ana lalu meletakkan parsel buah itu di atas meja kecil yang berada di samping ranjang.
"Jangan lupa makan buahnya, ya."
Alesha mengangguk pelan.
"Terima kasih, Kak. Maaf merepotkan."
"Kamu ini seperti orang lain saja," ucap Ana sambil tersenyum tipis.
Baginya, menjenguk Alesha bukanlah sebuah kerepotan.
Apalagi selama ini Alesha selalu bekerja dengan baik.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Alhamdulillah, Kak. Aku sudah mendingan. Mungkin sebentar lagi aku sudah pulang."
"Syukurlah. Kakak senang dengarnya," ujar Ana tulus.
Alesha menatap Ana cukup lama.
Seolah sedang memikirkan sesuatu.
Bibirnya beberapa kali terbuka lalu tertutup kembali.
"Kak Ana..." ucapnya pelan.
"Iya, Sha?" balas Ana.
"Hmm... aku...."
Alesha kembali terdiam.
Raut wajahnya terlihat ragu-ragu.
"Kalau kamu ingin sesuatu, ngomong saja, Sha," ucap Ana lembut.
Luna yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu langsung paham.
Ia bisa melihat kalau Alesha sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi masih ragu untuk mengungkapkannya.
Luna segera merangkul bahu Alesha.
"Ngomong saja, Sha. Kak Ana nggak gigit kok..." ucapnya, berusaha mencairkan suasana.
Ana langsung terkekeh mendengar itu.
"Iya, Sha. Ngomong saja."
Alesha akhirnya mengangguk pelan.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara.
"Aku dapat tawaran kerja, Kak."
Hening.
Suasana kamar langsung menjadi sunyi beberapa saat.
Luna dan Ana saling berpandangan.
"Kamu dapat kerja apaan, Sha?" tanya Luna penasaran.
"Lea menawariku pekerjaan di perusahaannya, Lun. Katanya ada lowongan yang cocok dengan jurusan yang dulu aku ambil," jawab Alesha sambil menunduk.
Jemarinya saling bertaut gelisah.
Hatinya di liputi rasa tidak enak.
Baru saja Ana memberinya pekerjaan saat ia sedang kesulitan, tetapi sekarang ia mendapatkan tawaran pekerjaan lain.
Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Alesha, Ana perlahan menepuk bahunya.
"Sha, ambillah pekerjaan itu. Mungkin ini jawaban dari Allah untuk membantumu bangkit," ucapnya dengan tulus.
Alesha langsung mengangkat wajahnya.
Alesha sampai tertegun mendengarnya.
Ia benar-benar tidak menyangka Ana akan mengatakan hal itu.
Sejujurnya, ia sempat berpikir Ana akan kecewa atau bahkan marah.
Alih-alih kecewa, Ana justru mendukungnya.
"Kak..."
Ana tersenyum lembut.
"Kenapa lihat kakak seperti itu?"
"Aku pikir... kakak akan marah," ucap Alesha jujur.
"Marah?" Ana terkekeh pelan. "Untuk apa?"
Alesha menunduk.
"Soalnya aku baru kerja di tempat kakak, tapi sekarang malah mau pindah."
Ana menggeleng pelan.
"Sha, dengarkan kakak."
Alesha mengangkat wajahnya.
"Kakak memang senang bekerja denganmu. Kamu rajin, jujur, dan bertanggung jawab. Tapi kakak juga nggak mau menahanmu kalau ada kesempatan yang lebih baik."
Hidung Alesha mendadak terasa perih.
"Apalagi pekerjaan itu sesuai dengan jurusan yang sudah susah payah kamu tempuh dulu."
Ana menepuk bahunya pelan.
"Kalau memang itu bisa membuat hidupmu lebih baik, ambillah."
"Tapi toko kakak..."
"Kakak masih bisa cari pegawai lagi."
"Tapi nggak semudah itu, Kak."
Ana tersenyum.
"Memang nggak mudah. Tapi masa depanmu jauh lebih penting."
Luna yang sejak tadi mendengarkan langsung mengangguk setuju.
"Nah, itu dia. Aku juga setuju sama Kak Ana."
Alesha menatap Ana dan Luna bergantian.
Di saat hidupnya sedang berantakan, Ana dan Luna tetap ada untuknya.
"Terima kasih, Kak."
Ana mengusap puncak kepala Alesha dengan sayang.
"Nggak perlu berterima kasih."
"Kalau nanti aku diterima kerja di sana, aku tetap akan sering mampir ke toko."
Ana tertawa kecil.
"Kalau nggak mampir, kakak yang akan datang menjemputmu."
Luna langsung menyela.
"Betul. Biar sekalian ditagih traktiran gaji pertama."
"Eh!"
Wajah Alesha langsung memerah.
Melihat reaksinya, Ana dan Luna tertawa bersamaan.
Tawa mereka bertiga memenuhi kamar rawat yang sejak tadi terasa sunyi.
—
Helena melangkah keluar dari kamarnya dengan wajah kusut.
Baru beberapa langkah, keningnya langsung berkerut.
Piring kotor masih menumpuk di atas meja makan.
Gelas bekas semalam bahkan belum dipindahkan.
"Ya ampun..."
Helena memijat pelipisnya.
Pandangannya beralih ke dapur.
Wastafel penuh dengan piring dan peralatan masak yang belum dicuci.
Aroma tidak sedap mulai tercium.
"Renata!" teriak Helena.
Tidak ada jawaban.
Helena berjalan menuju ruang keluarga.
Lantai terlihat berdebu.
Beberapa bungkus camilan berserakan di atas meja.
Dadanya langsung naik turun menahan kesal.
"Renata!"
Kali ini suaranya lebih keras.
Namun tetap tidak ada sahutan.
Helena segera mengambil ponselnya dan menghubungi putrinya.
Beberapa saat kemudian panggilannya tersambung.
"Apa sih, Bu?" suara Renata terdengar malas dari seberang sana.
"Kamu di mana?"
"Di luar."
"Di luar mana?"
"Jalan sama teman."
Helena langsung membelalak.
"Jalan? Rumah berantakan begini kamu malah keluyuran?"
Renata mendecak.
"Memangnya kenapa?"
"Kenapa, katanya? Piring belum dicuci, baju belum dicuci, rumah berantakan!"
"Itu kan biasanya dikerjakan Alesha."
Mendengar jawaban itu, Helena semakin kesal.
"Alesha sudah pergi!"
"Ya terus?"
"Ya terus siapa yang kerjakan semuanya sekarang?"
Renata terdiam sesaat.
"Lah, memangnya aku?"
"Kalau bukan kamu siapa lagi?"
"Bu, aku lagi sama teman-teman. Nanti saja kalau sudah pulang."
Belum sempat Helena membalas, panggilan sudah diputus sepihak.
"Renata!"
Helena menggertakkan giginya.
Kesabarannya benar-benar diuji.
Helena mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Selama ini rumah selalu rapi tanpa pernah ia pikirkan.
Tapi sejak Alesha pergi, semuanya berubah berantakan.
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁