Menghuni penjara kelas kakap bukanlah hal tersulit bagi Marysa. Yang benar-benar menghancurkannya adalah kenyataan bahwa pria yang memborgol tangannya adalah Herry, cinta masa lalunya yang kini menjabat sebagai kapten polisi dan ironisnya, Herry sama sekali tidak mengingatnya. dan bahkan terdengar jika Herry akan segera menikah.
Memilih mati daripada terus tersiksa oleh ingatan, sang Ratu Mafia mengatur pelarian besar dari Negara aslinya Korea menuju ke negara tropis, Indonesia. Rambut panjangnya dipangkas pendek, kemewahannya ditanggalkan, dan kini ia menyamar sebagai Tania, seorang tukang sapu jalanan yang tak kasatmata.
Namun, kedamaian barunya terusik ketika jalanan mempertemukannya dengan Rangga. Pria playboy yang terbiasa berganti-ganti Wanita itu mendadak penasaran setengah mati pada sosok Tania, yang dingin.
Akankah samaran Marysa terbongkar saat seorang playboy itu mulai tulus mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Duh Salah Ambil!
...
Sore itu, setelah jam kerja berakhir dan aroma keringat serta debu jalanan melekat di seragam oranye mereka, Tania berjalan berdampingan dengan Rangga menuju pos kebersihan. Sinar matahari yang mulai meredup memantulkan warna jingga kemerahan di atas aspal. Di antara deru bising kendaraan yang mulai padat oleh jam pulang kantor, Tania tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Aku ingin minum lagi," ucap Tania tiba-tiba. Suaranya lempeng, tanpa ekspresi, seolah sedang meminta air mineral biasa. "Ciu. Di mana bisa membelinya?"
Rangga yang sedang memanggul sapu lidi langsung tersentak. Langkah kaki jangkungnya terhenti seketika. Dia menoleh dengan mata sipit yang membelalak lebar, menatap wajah porselen Tania di balik masker kainnya. "Hah? Minum ciu lagi, Neng? Waduh, jangan, Neng!"
Rangga mendadak dilanda kepanikan. Pikiran pertamanya langsung melayang pada insiden di pos ronda malam itu. Dia benar-benar takut jika Tania kembali ikut ke tongkrongannya, wanita itu akan menjadi sasaran kekesalan dan imbas kecemburuan dari para wanita malam yang pernah dikencaninya. Lingkungannya terlalu berisik dan kasar untuk wanita seperti Tania.
Namun, di balik itu, ada alasan yang lebih mendalam di lubuk hati Rangga. Sebagai pria jalanan, dia tahu betul betapa merusaknya efek samping kecanduan alkohol murah seperti ciu. Dia tidak ingin tubuh kurus Tania dirusak oleh cairan kimia membakar itu. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada wanita yang belakangan ini mulai mengacaukan isi kepalanya.
"Kasih tahu saja tempatnya, biar aku beli sendiri," desak Tania kaku, sepasang mata kelamnya menatap Rangga dengan dingin, mencerminkan sisa jiwa Marysa yang sedang jenuh dan membutuhkan pelarian instan untuk menenangkan sarafnya yang tegang setelah melihat Herry tadi siang.
"Enggak, enggak ada cerita beli ciu-ciuan!" seru Rangga, mencoba tegas meski jantungnya berdegup agak kencang karena ditatap seintens itu. Otaknya berputar cepat mencari pengalihan. "Gini aja, daripada minum begituan bikin pusing, mending kita main catur! Kebetulan sore ini aku mau ke rumah sakit lagi jaga Ayah. Kita main catur di rooftop rumah sakit, mau gak?"
Main catur. Sebuah kata yang mendadak memicu sinapsis di otak Tania. Di dunia bawah tanah klan Baekje, Catur, maupun baduk adalah permainan wajib para petinggi untuk menyusun strategi perang dan eliminasi lawan. Sudah lama sekali dia tidak menyentuh bidak-bidak kayu itu sejak pelariannya.
Tania terdiam sejenak, memproses tawaran itu sebelum akhirnya mengangguk pendek. "Boleh. Terdengar seru."
Rangga mengembuskan napas lega yang amat sangat di dalam hatinya. "Nah, gitu dong! Ya sudah, ayo!"
"Sebelum ke sana, saya ingin mampir ke supermarket dulu," potong Tania kaku. "Aku perlu membeli minuman segar."
Rangga hanya mengikutinya dari belakang saat Tania melangkah masuk ke dalam sebuah supermarket ber-AC yang dingin. Rangga memperhatikan kebiasaan unik wanita ini. Tania langsung berjalan menuju deretan lemari pendingin, mengambil dua kaleng soda lemon.
Di dunia lamanya, setiap kali Marysa selesai meneguk minuman keras dosis tinggi, dia selalu menetralisir lambungnya dengan soda lemon dingin atau susu murni original untuk menghilangkan rasa terbakar di tenggorokannya.
Rangga yang berdiri di sebelahnya ikut mengambil satu kaleng soda cola kesukaannya. Namun, saat mereka tiba di depan kasir dan Rangga baru saja hendak merogoh saku celananya untuk membayar, tangan ramping Tania sudah bergerak lebih dulu dengan kecepatan tak terlihat. Dia menyodorkan selembar uang pecahan seratus ribu ke arah kasir sebelum Rangga sempat membuka dompetnya yang kempis.
"Eh, Neng, kok kamu yang bayar lagi toh? Harusnya aku yang traktir," protes Rangga, wajahnya merona merah karena merasa harga diri prianya agak tercoreng.
"Sudah. Jangan berisik," jawab Tania dingin, menyambar kantong plastik belanjanya dan berjalan keluar tanpa memedulikan gerutu medok Rangga di belakangnya.
Sebelum menuju rumah sakit, mereka mampir terlebih dahulu ke rumah kontrakan Rangga untuk mengambil papan catur kayu yang disimpan di atas lemari pakaiannya.
Ini adalah pertama kalinya Tania menginjakkan kaki di rumah pria jangkung itu. Tania berdiri di ambang pintu, sepasang mata kelamnya menyapu seluruh sudut ruangan dengan jeli. Rumah petak itu sangat sederhana, berdinding batako tanpa cat yang halus, namun anehnya... ruangan itu cukup rapi dan bersih untuk ukuran seorang pria lajang yang bekerja kasar di jalanan dan terkenal berantakan di tongkrongan. Ada aroma minyak telon encer dan wangi kopi yang samar, menciptakan atmosfer yang jauh lebih jujur dibandingkan rumah-rumah mewah penuh konspirasi di Seoul.
"Maaf ya, Neng, rumahnya sempit dan jelek begini," ujar Rangga agak canggung, menyodorkan papan catur kayu yang sedikit berdebu setelah diambil dari atas lemari.
"Tidak apa-apa. Ini rapi," komentar Tania pendek, sebuah pujian jujur yang langsung membuat sudut bibir Rangga berkedut ingin tersenyum lebar.
...
Sesampainya di rumah sakit, mereka melakukan rutinitas seperti biasa. Tania masuk sebentar ke kamar rawat VIP untuk menjenguk ayah Rangga yang masih terbaring lemah. Dia menitipkan kantong plastik belanjanya dan tas kecilnya di dalam lemari kayu kecil di sudut ruangan, sebelum akhirnya Rangga mengajaknya naik menggunakan lift menuju lantai paling atas agar tidak kecapekan. Menggunakan tangga memmang seru apalagi berdua tapi itu melelahkan.
Rooftop rumah sakit malam ini terasa begitu sepi dan senyap. Angin malam berembus cukup kencang, memainkan ujung kaos oversize hitam Tania. Cahaya lampu kota Jakarta dari kejauhan berkerlip seperti hamparan berlian tiruan di bawah langit hitam tanpa bintang.
Rangga menggelar papan catur kayu itu di atas sebuah meja beton panjang. Mereka duduk berhadapan. Rangga mengambil bidak hitam, sementara Tania memegang bidak putih.
"Neng, jangan remehkan aku ya. Di tongkrongan pos, aku ini juara bertahan catur antar RW," ucap Rangga sombong, menaikkan satu pionnya maju dua langkah dengan gaya tengil.
Tania tidak menyahut. Wajahnya di balik keremangan malam tampak begitu dingin, fokus, dan tajam. Jari-jari rampingnya bergerak dengan ritme yang sangat konstan dan presisi.
Skak.
"Loh?" Rangga mengernyitkan dahi, menggaruk rambutnya saat rajanya mendadak terpojok hanya dalam sepuluh langkah pertama.
Permainan kedua dimulai, dan hasilnya tetap sama. Permainan ketiga, keempat, hingga kelima, Rangga terus-menerus dikalahkan tanpa ampun oleh Tania. Strategi Tania begitu rapi, sadis, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi Rangga untuk membalas. Rangga sampai dibuat heran sendiri, menatap wanita di depannya dengan pandangan tidak percaya. Ini anak belajarnya di mana toh? Kok main caturnya kayak jenderal perang begini? batin Rangga frustrasi namun kagum setengah mati.
Sambil meneguk soda colanya untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena berpikir keras, Rangga terus berkonsentrasi penuh pada papan catur, mencoba memutar otak untuk menyelamatkan sisa bidaknya.
Keheningan malam begitu intens. Tania pun tampaknya sedang berada di tingkat fokus yang sangat tinggi, menganalisis pergerakan kuda Rangga. Karena perhatiannya tersedot sepenuhnya pada papan kayu di depan mereka, tangan kanan Tania bergerak secara refleks ke samping meja, meraih sebuah kaleng minuman dingin yang terbuka, lalu meneguk sisa isinya hingga tandas untuk mendinginkan tenggorokannya.
Di saat yang bersamaan, Rangga yang juga sedang tegang mendadak meraba samping mejanya tanpa melihat, mengambil kaleng minuman yang tersisa di sana, lalu meneguknya dengan cepat.
Gluk... gluk... gluk.
Rangga mendadak menghentikan tegukannya. Lidahnya mengecap rasa yang aneh. Ini bukan rasa manis legit dari soda cola karamel kesukaannya. Ini adalah rasa asam yang tajam, segar, dan menusuk dari soda lemon.
Rangga menurunkan kaleng itu dari bibirnya, lalu menatap benda di tangannya di bawah temaram lampu taman. Itu kaleng soda lemon milik Tania.
Rangga seketika menoleh ke arah Tania. Di seberang meja, Tania juga baru saja menurunkan sebuah kaleng dari bibirnya. Kaleng merah berlogo putih soda cola milik Rangga. Tania tampak tertegun sejenak mengecap rasa manis karamel di lidahnya, menyadari bahwa dia baru saja salah meminum cairan yang bukan miliknya karena terlalu serius memikirkan langkah skakmat.
Mereka berdua saling bertatapan di dalam kesunyian rooftop.
Eh!! Ini kan...!!
Jantung Rangga mendadak melompat gila-gilaan, berdegup begitu kencang hingga terasa sakit di dalam rongga dadanya. Wajahnya dalam sekejap berubah menjadi merah padam hingga ke ujung telinga. Sebagai seorang pria dewasa, Rangga mengerti betul apa artinya ini. Secara tidak sengaja, melalui perantara kaleng minuman yang saling tertukar di sela-sela bibir mereka, mereka baru saja melakukan apa yang sering disebut orang sebagai ciuman tidak langsung indirect kiss.
Semburat rasa malu, canggung, namun dipenuhi oleh letupan emosi romantis yang manis dan lambat mendadak mengunci seluruh persendian tubuh jangkung Rangga, membuatnya membeku di tempat dengan kaleng soda lemon yang masih menempel di jemarinya yang gemetar.
Malam itu seolah menegaskan bahwa pertahanan hati mereka berdua kini sedang dikikis habis oleh hal-hal kecil yang tidak terduga.
...
😊😗🤪😋😋
🍻
Thanks you for reading ....😘
Jangan lupa semangatin aku...
like commentnya 😇