Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 019 : Dijamu Orang Mati dan Selisih Waktu
Aldi bersimpuh tepat di hadapan monyet putih itu. Dia mengocok dadu-dadu miliknya. Dia melempar dadu-dadu itu tepat di atas tanah.
Tiga kali percobaan, namun tidak membuahkan hasil. Rifki yang sejak tadi memperhatikan Aldi dari belakang rasanya sudah habis kesabarannya.
"Lama banget!" umpat Rifki kesal, dia mendekati Aldi saat itu juga.
"Eh, Mas! Jangan!" kata Farah mencoba menahannya. Tetapi rasanya tidak ada gunanya. Rifki mengacuhkan suara Farah bak sebuah angin lewat.
Tetapi ketika Rifki hampir mencapainya. Saat itu juga, Rifki ditatap langsung oleh monyet putih itu.
Degggg
Rifki membelalakkan kedua matanya.
"A...apa ini?" lirih Rifki menahan rasa sakit yang mendadak menyerang dadanya.
Saat itu, di tengah rasa sakitnya. Dari yang tadinya sorot matanya saling tatap dengan monyet putih itu. Kini, Rifki memilih mencaritahu perihal apa yang membuatnya sampai kesakitan.
Dia mengarahkan tatapannya ke bawah, tepat ke arah jantungnya. Sungguh, dia dibuat terkejut rasanya ketika tidak menemukan apapun tetapi rasa sakitnya masih ada.
"Sial!" umpat Rifki, sumpah demi apapun. Ini sungguh sakit. Bahkan untuk menahan rasa sakitnya. Buliran keringat keluar dari dahinya.
Saat itu, ketika Rifki kembali menatap ke arah monyet putih itu. Rifki seakan kehilangan fungsi kakinya untuk menapak dan jatuh bersimpuh.
Brukkkk
"Rifki!" teriak Desta dari balik tubuh Rifki. Dia menatap Rifki dengan tatapan khawatir.
Padahal langkahnya tadi begitu mantap dan kuat. Tapi, sekarang Rifki seperti kehilangan fungsi kakinya.
"Di..dia kenapa?" ujar Desta lagi bertanya-tanya. Sementara Haikal dan Farah serta Ardin.
Mereka hanya diam memperhatikan. Mereka takut, jika tindakan gegabah mereka akan membuat mereka bernasib sama seperti Rifki di sana.
Di tengah kegaduhan itu. Justru ada yang aneh pada Aldi. Dia yang tadinya memainkan dadunya cukup santai. Kini gerakannya semakin cepat. Farah memperhatikan itu.
"Terjadi hal gak beres juga pada Aldi di sana, kak!" ujar Farah pada Ardin di sampingnya. Dia mengarahkan jari telunjuknya ke arah Aldi.
Mendengar ucapan Farah. Perhatian semua orang kini tertuju tepat pada Aldi.
"Huh.. Huh..." Aldi mulai terengah-engah.
"A.. apa ini?!" pekik Aldi heran, ketika dia pun tidak mampu mengendalikan pergerakan tubuhnya sendiri.
Jari-jari tangannya itu bergerak bukan atas maunya. Seperti ada yang sedang menggerakkannya dengan kecepatan itu secara paksa.
Di tengah kegaduhan serta keanehan yang terjadi di sana. Monyet putih itu melempar pandangannya ke arah mereka.
Monyet putih itu menatap mereka satu persatu. Hingga tatapannya pada akhirnya berakhir tepat pada Aldi yang berada lebih dekat dengannya.
Brrrrr
Hawa di sana tiba-tiba saja mendingin. Bersamaan dengan berubahnya suhu. Sebuah gema suara datang.
Suara itu berasal dari tempat monyet putih itu. Anehnya, bahkan monyet itu seperti tak bicara. Tetapi ada suaranya.
"Kalian tidak perlu ikut campur!"
Suara itu, suara laki-laki. Asalnya masih sama, dari tempat monyet putih itu duduk.
"Ini urusanku dan dia! Kalian diam saja!" ujarnya lagi, suaranya kini makin berat.
Monyet putih itu bergerak pelan. Dia mendekat ke arah Aldi. Mempersempit jarak di antara mereka.
Monyet putih itu, memperhatikan Aldi yang masih setia bermain dadu. Hingga ketika monyet itu berbalik membelakangi mereka. Saat itu juga permainan dadu terakhir Aldi jatuh tepat membentuk tiga kata.
Bersamaan dengan terjadinya hal itu. Monyet putih itu pun pergi dari sana meninggalkan mereka. Dia melompat ke dahan-dahan pohon. Cepat sekali pergerakannya lalu menghilang.
"Uhukkk... Uhukkk.."
Aldi terbatuk ketika kehadiran monyet putih itu tak lagi ada di hadapannya. Bersamaan dengan perginya monyet putih itu. Aldi bisa menggerakkan kedua tangannya kembali sesuai dengan kemauannya.
Sungguh, tangannya kini terasa sakit. Aldi mencoba mengesampingkan hal iyu. Dia melihat ke arah dadu-dadunya. Di situ terbentuk tiga kata yang berisi,
"Cari Balik Pegon!"
Ya, itulah jawaban dari hasil permainan dadu. Saat itu, Aldi yang masih merasakan sakit di tangannya. Memilih mengambil dadunya. Dia berdiri, kemudian berbalik ke arah temannya. Wajahnya nampak lelah.
"Kamu gak apa?" tanya Rifki, refleks dia segera berdiri lalu menghampiri Aldi.
Dia Rifki, menepuk bahu Aldi. Saat itu, Aldi hanya menggeleng pelan. Menandakan bahwa dia baik-baik saja meskipun tangannya sakit.
"Ada kemungkinan di balik huruf Pegon itu! Ada pesan yang disembunyikan!" ujar Aldi pada mereka.
Farah mengernyitkan keningnya. Dia ingat bahwa di dalam belantara. Huruf Arab Pegon itu banyak sekali tertempel di pepohonan. Terbesit satu pertanyaan kini di dalam kepalanya. Apakah mereka akan mencarinya satu persatu?
"Tapi, di sana banyak Pegon! Kamu yakin bakalan cari satu-satu?" kali ini Farah mengutarakan apa yang ada di dalam kepalanya.
Aldi tersenyum mendengar itu. Baginya, sandi-sandi biasanya meninggalkan jejak. Dia adalah pemecah sandi. Dia suka sekali teka-teki sudah cukup lama.
Aldi mengarahkan perhatiannya ke arah Haikal. Satu-satunya teman yang sama cerdasnya sepertinya. Di situ, hanya Haikal yang tidak syok atas perkataan Aldi dan Aldi sudah menduganya.
"Pesan tersembunyi, pasti punya tanda! Dan kita akan tetap berjalan lurus ke depan mencari jawaban. Kita bakalan, menghubungkan apa yang kita tahu. Aku yakin, apa yang kita cari akan kita temukan! Intinya jalan saja dulu!" ujar Haikal, mulai memprovokasi teman-temannya. Menyampaikan apa yang ada di dalam kepala Aldi dan dirinya kini.
Farah dan yang lain pun mencoba percaya kepada duo Einstein, yaitu Haikal dan Aldi. Mereka pada akhirnya memilih menaruh kepercayaan mereka pada Haikal dan Aldi.
Perjalanan mereka pun dimulai. Selangkah demi selangkah, kaki mereka mulai menjauh dari kediaman sesepuh. Mereka berjalan menyusuri desa yang tadinya ramai. Mendadak menjadi sunyi senyap bak desa mati.
Hingga, ketika mereka akan mendekati belantara terlarang. Di situ, jarak dari rumah warga ke rumah lain terlihat mulai rapat.
Tetapi anehnya, sejauh apapun mereka berjalan. Mereka tidak menemukan satu tanda kehidupan. Desa itu begitu senyap.
"Orang-orang ini ke mana, sebetulnya?" lirih Desta menatap sekeliling. Memperhatikan rumah warga sekitar.
"Kamu ya, masih belum paham aja!" timpal Haikal kini padanya.
"Badan doang gede! Tapi logika gak jalan buat apa?!" kali ini Rifki yang lebih tua menimpali obrolan. Mendengar olokkan Rifki. Desta langsung menatapnya sinis. Sialan memang makhluk bongsor ini! pikirnya.
"Ya, kan aku gak tahu, Mas! Lagian yang aneh di hidupku itu ya cuma mimpi kita yang sama ini loh! Aku kalau soal alam sebelah mana paham!" jelas Desta.
Rifki terkekeh mendengar itu. Karena Desta berjalan tepat di sisinya. Dia pun menepuk bahu Desta yang berotot itu dan berkata,
"Okay, jadi kalau asumsiku, kita ini udah berada di alam ghaib. Sejak ketika kita pingsan!" ujar Rifki menjelaskan.
"Terus, orang-orang itu, kemana mas?" tanya Desta lagi pada Rifki. Rasanya apa yang Rifki katakan, itu gak bisa masuk ke dalam kepalanya. Aneh menurutnya.
Beberapa jam lalu, mereka bertemu segerombolan manusia. Bahkan sosok sepuh, juga beberapa warga. Serta kopi yang mereka minum.
Tetapi anehnya, malam ini. Seakan semuanya lenyap tak berbekas. Pertanyaan itu juga sedang memenuhi kepala Farah. Lain lagi, Aldi dan Haikal.
Jika mereka sudah menyimpulkan, kalau mereka berada di alam ghaib. Maka, ya sudah! Sekarang yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka menemukan jalan pulangnya?
"Kadang, hal ghaib itu gak bisa kita pikir secara logika! Contohnya mimpi kita yang bawa kita ke sini!" kata Haikal menjawabnya.
"Jadi?" tanya Desta.
Aldi menghela nafas sejenak. Dia menatap ke depan. Sementara obrolan Haikal dan Desta masih menjadi musik yang menemani langkah mereka.
Di depan sana, ketika mereka hampir dekat dengan belantara terlarang itu. Aldi ingat sesuatu.
Bahwa biasanya, orang mati yang menuntun jalan pulang. Akan berpesan pada jiwa hidup yang datang, untuk tidak menoleh ke belakang. Terbesit satu ide di dalam kepala Aldi sekarang untuk menjawab kebingungan Desta.
"Desta!" panggil Aldi kini padanya. Desta menoleh ke arah Aldi.
"Hmmm.." jawabnya. Aldi pun tersenyum, dia berhenti sejenak. Hal itu juga menghentikan langkah kaki semua orang. Di situ, Aldi pun berkata,
"Kalau kamu mau, kamu boleh lihat ke belakang!" kata Aldi. Desta menaikkan salah satu alisnya.
Keningnya berkerut mencoba mencerna perkataan Aldi. Tetapi sebab dia penasaran. Dia pun memilih menoleh ke belakang dan dia dikejutkan oleh apa yang dia lihat kini.
"Alamak!" katanya terkejut. Sementara teman-temannya yang lain kecuali Rifki.
Memilih untuk tidak menengoknya. Kalau Ardin Farah, itu karena dia takut. Sedang Haikal dan Aldi, mereka memilih mengamankan jantungnya agar tidak copot.
Berbeda dengan Rifki yang sudah sering melihat hal ghaib. Dia tidak kaget.
"Ka..kamu lihat apa, Mas?" tanya Farah lirih dan masih tetap setia tidak melihat ke belakang.
Sementara Desta, dia masih terpaku. Tetapi bibirnya mencoba menjelaskan.
"Kita dari tadi bertamu di kuburan. Gak ada perkampungan di sana, loh! Terus tadi kita minum apa, Weh? Dari mana kopi tadi? Sesepuh tadi di mana? Orang-orangnya kemana? Loh, kita dijamu demit!" ucapnya yang semakin absurd.
Rifki menoleh ke arah Desta. Sungguh jika tidak dihentikan ucapannya ini. Mungkin manusia ini akan berkata hal-hal aneh yang menyinggung.
Segera dia menggerakkan kedua tangannya ke arah kepala Desta lalu membalikkan tubuhnya secara paksa untuk menuju ke arah belantara sambil berkata,
"Banyak bacot! Udah, ayo jalan! Lagian udah dibilang kita ini disesatkan. Udah tersesat gini, omonganmu jangan sesat juga!" umpat Rifki mengomel. Sementara Desta dia masih syok.
"Udah, ayo jalan!" kata Rifki. Mereka pun berjalan sambil terkekeh. Masuk ke dalam hutan terlarang itu.
Menit demi menit berlalu. Kecepatan waktu antara alam sebelah dan Alam manusia jelas berbeda. Jika dirasa, di Alam sebelah menit berjalan cukup cepat, tetapi berantonim dengan waktu yang terjadi di Alam manusia.
Tempo waktu di alam ghaib terbilang singkat tetapi nyatanya lama di Alam manusia. Sehari di alam ghaib, bisa menjadi tujuh hari di alam sebelah.
Tergantung pada siapa yang mempermainkan waktunya. Itulah yang terjadi kini pada Tuan Antony dan Nyonya Antony.
Satu persatu informasi mulai mereka gali bersama. Ketika anak kesayangan mereka Farah berada jauh di alam sebelah. Pagi ini, Tuan Antony di dalam mobilnya sedang membuat sketsa.
Gambaran ini adalah gambaran yang pernah Farah tunjukkan kepadanya. Tidak butuh waktu lama untuk membuatnya hingga gambaran itu sepenuhnya jadi. Dan inilah, desa yang akan mereka cari keberadaannya.
..._________...
ternyata dia lebih tua dari aku🤣