Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Serangan Besar dan Bayangan yang Mengintai Identitas
Kegagalan rencana menggunakan Rendi dan dendam yang semakin membara membuat Guntur Wibowo tidak lagi berpikir dengan kepala dingin. Ia merasa harga dirinya telah terinjak-injak, dan menganggap keberadaan pemimpin baru Klan Felix sebagai penghalang terbesar bagi ambisinya. Jika sebelumnya ia masih berusaha mencari cara licik, kini ia memutuskan untuk bertindak secara terbuka dan habis-habisan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk menghancurkan Klan Felix sekaligus.
“Kita tidak akan berhenti sampai mereka hancur total!” teriak Guntur dalam pertemuan terakhirnya dengan para panglimanya. “Jika mereka ingin bermain strategi, kita akan tunjukkan kekuatan yang sesungguhnya. Serang mereka dari tiga arah sekaligus, putuskan jalur suplai makanan dan amunisi mereka, dan biarkan mereka merasakan apa artinya menentang Klan Elang!”
Dalam waktu singkat, pasukan Klan Elang bergerak secara besar-besaran. Mereka menduduki posisi-posisi strategis di perbatasan, memblokade jalan-jalan utama yang menghubungkan wilayah Klan Felix dengan kota-kota lain, dan mulai menyerang pos-pos penjagaan kecil untuk menguji kekuatan pertahanan lawan.
Berita ini segera sampai ke telinga Zerrin, dan kali ini ia tahu bahwa pertempuran yang sesungguhnya tidak bisa dihindari lagi. Ia memanggil seluruh kepala kelompok dan penasihat untuk menyusun pertahanan yang kuat sekaligus serangan balasan yang terkoordinasi.
“Guntur bertindak karena emosi, bukan akal sehat,” ujar Zerrin sambil menunjuk peta wilayah yang dipenuhi tanda penanda. “Ia mengerahkan terlalu banyak pasukan sekaligus, sehingga jalur suplainya sendiri menjadi sangat panjang dan sulit dijaga. Itulah kelemahan utamanya. Kita tidak akan melawan kekuatan mereka secara langsung di medan terbuka , kita akan memanfaatkan medan wilayah kita sendiri, memotong sumber daya mereka, dan membuat mereka kehabisan tenaga sebelum akhirnya kita memberikan pukulan penentu.”
Ia membagi tugas dengan rinci: sebagian pasukan bertugas mempertahankan titik-titik penting agar tidak mudah ditembus, sebagian lagi bergerak diam-diam ke belakang garis musuh untuk menyerang kendaraan pengangkut barang dan amunisi, serta memutus saluran komunikasi mereka.
“Biarkan mereka maju sejauh yang mereka inginkan, tapi setiap langkah yang mereka ambil akan terasa semakin sulit dan berbahaya,” perintah Zerrin dengan tegas. “Mereka akan merasa menang sebentar, tapi perlahan-lahan akan terjebak di tengah wilayah kita tanpa bantuan dan persediaan yang cukup.”
Sementara situasi di dunia klan semakin memanas, ancaman lain yang jauh lebih pribadi mulai muncul sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Sejak beberapa minggu terakhir, Zerrin merasa ada sesuatu yang mengawasinya. Bukan di dalam lingkungan klan, melainkan saat ia berperan sebagai Claudia Ramirez di sekolah maupun di rumah. Ia sering melihat sosok asing yang lewat berulang kali di jalan menuju sekolah, atau mobil yang sama terparkir agak jauh dan mengikuti gerakannya.
Awalnya ia mengira itu hanya perasaan waspada yang berlebihan, namun instingnya yang terasah selama bertahun-tahun tidak bisa dibohongi. Ia segera memerintahkan jaringan informannya untuk menyelidiki siapa orang-orang itu dan dari mana asalnya.
Hasil penyelidikan datang dua hari kemudian, dan membuat hati Zerrin terasa berdebar kencang bukan karena takut, tapi karena risikonya sangat besar.
“Queen, orang-orang yang mengikuti Claudia Ramirez ternyata dikirim oleh seseorang yang mengaku sebagai penyelidik swasta, namun saat ditelusuri lebih dalam, mereka terhubung dengan kelompok yang bekerja untuk Klan Elang,” lapor Karim dengan nada serius. “Mereka tampak sedang mengumpulkan informasi tentang kebiasaan, pergerakan, dan lingkungan sekitar gadis itu, seolah ingin mengetahui siapa dia sebenarnya dan apa hubungannya dengan urusan klan.”
Berita ini seperti peringatan keras bagi Zerrin. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus pada urusan klan, sehingga lupa bahwa ia memiliki dua identitas yang harus dijaga sama ketatnya. Entah bagaimana, Guntur atau orang-orangnya mulai mencurigai adanya kaitan antara Claudia Ramirez dengan pemimpin baru Klan Felix, dan kini sedang mencoba membongkar rahasia itu.
Jika mereka berhasil menemukan bukti bahwa jiwa pemimpin klan itu berada di dalam tubuh seorang gadis muda, bukan hanya posisinya yang terancam seluruh keluarga Ramirez, sekolah, dan semua orang yang ada di sekitarnya juga akan menjadi sasaran bahaya.
“Jadi mereka sudah mulai mencari celah yang paling lemah,” gumam Zerrin dengan suara rendah, matanya menyipit tajam. “Mereka tidak bisa menembus pertahanan kita dari depan, maka mereka mencoba menyerang dari belakang melalui identitas keduaku.”
Ia segera mengambil keputusan tegas. “Karim, perintahkan orang-orang kita untuk mengawasi setiap gerak langkah penyelidik itu. Jangan sampai mereka mendapatkan informasi yang bisa membahayakan. Jika perlu, alihkan perhatian mereka ke arah lain, atau buat mereka percaya bahwa Claudia hanyalah gadis biasa dari keluarga kaya yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan urusan klan.”
Namun Zerrin tahu itu hanya solusi sementara. Selama pertempuran dengan Klan Elang belum selesai, risiko ini akan terus ada. Ia harus menjaga kedua sisi pertarungan sekaligus: melindungi wilayah dan kekuasaannya sebagai pemimpin klan, serta melindungi jati diri dan orang-orang di sekitarnya sebagai Claudia.
Di sekolah, ia mulai bertindak lebih berhati-hati. Ia tidak lagi pulang terlalu larut tanpa alasan yang jelas, selalu memastikan ada teman atau pengawal keluarga yang terlihat menemaninya, dan berusaha bersikap sebiasa mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. Bahkan saat berbicara dengan Arjuna dan teman-temannya, ia berusaha menjaga nada bicara dan sikap agar tetap sesuai dengan usianya, tanpa terlihat terlalu dewasa atau berwibawa secara berlebihan.
Suatu sore, saat ia berjalan pulang dari sekolah, ia sengaja berhenti sejenak di depan toko buku dan memeriksa sekelilingnya dengan pandangan samar. Ia menangkap sosok pria bertopi yang bersembunyi di balik pohon tidak jauh dari situ, mengamatinya dengan pandangan yang tidak wajar.
Tanpa terlihat terganggu, Claudia berjalan masuk ke dalam toko, lalu melalui pintu belakang yang jarang diketahui orang, bergerak cepat dan bergabung dengan dua orang pengawal yang sudah menunggu di tempat yang disepakati.
“Dia ada di sana, mengawasi,” ujarnya singkat. “Alihkan dia, tapi jangan lukai atau tangkap dia dulu. Biarkan dia terus mengikuti, tapi berikan informasi palsu yang kita inginkan agar dia membawa laporan yang salah kepada tuannya.”
Malam itu, saat ia kembali ke rumah, ia duduk di ruang kerjanya dan merenungkan situasi yang semakin rumit. Di satu sisi, pasukan Klan Elang semakin mendesak dan pertempuran di perbatasan semakin sengit. Di sisi lain, bayang-bayang ancaman mulai mendekat ke kehidupan pribadinya, mengancam untuk membongkar rahasia terbesarnya.
Namun tekanan ini justru membangkitkan semangat bertarungnya yang paling dalam. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kedua dunia yang telah ia bangun dan jaga dengan susah payah.
“Mereka ingin bermain di dua medan sekaligus? Baiklah, aku akan tunjukkan bahwa aku bisa menguasai keduanya,” gumamnya dengan senyum dingin yang penuh tekad.
Ia segera menyusun rencana ganda: untuk medan pertempuran, ia akan mempercepat serangan balasan agar bisa mengakhiri pertarungan secepat mungkin sebelum Guntur memiliki cukup waktu untuk menyelidiki lebih dalam. Untuk masalah pengawasan terhadap identitasnya, ia akan membuat jebakan informasi yang terstruktur, sehingga laporan yang sampai ke telinga Guntur justru akan membingungkan dan membuatnya salah mengambil langkah.
Sementara itu, di markas besar Klan Elang, Guntur menerima laporan dari penyelidiknya. Isinya menyatakan bahwa Claudia Ramirez hanyalah putri dari keluarga pengusaha biasa, tidak memiliki hubungan apa pun dengan anggota atau pemimpin Klan Felix, dan kehidupannya sangat biasa-biasa saja.
Namun Guntur tidak sepenuhnya percaya. Ada firasat aneh yang terus mengganggu pikirannya mengapa pemimpin Klan Felix itu terasa begitu asing namun memiliki keahlian dan gaya bertarung yang persis seperti pemimpin lama yang sudah mati? Dan mengapa gadis itu selalu terasa ada di sekitar peristiwa-peristiwa penting?
“Teruskan pengawasan,” perintah Guntur dengan suara berat. “Jangan percaya pada laporan yang terlihat terlalu mudah. Jika ada sesuatu yang tersembunyi, kita harus menemukannya sebelum dia menghancurkan kita sepenuhnya.”
Di tengah ketegangan yang semakin memuncak, pertarungan yang sesungguhnya baru saja memasuki babak paling berbahaya. Zerrin harus menunjukkan kebijaksanaan dan ketangguhan tertingginya, agar bisa keluar sebagai pemenang tanpa kehilangan satu pun dari dua identitas yang dimilikinya.
Malam itu, langit di atas wilayah kedua klan terasa gelap dan berat, seolah menahan badai besar yang akan segera meledak. Nasib Klan Felix, masa depan kehidupan ganda Zerrin, dan keselamatan semua orang yang dicintainya kini tergantung pada setiap keputusan dan langkah yang akan diambil selanjutnya.
**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**