Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Pengkhianatan di Balik Meja Komisi
Suasana di dalam mobil taktis yang melaju kencang membelah jalanan Singapura menuju bandara seketika membeku. Notifikasi darurat dari Pak Baskara yang baru saja terputus menyisakan dentuman tak kasat mata di dada setiap orang di dalam kendaraan tersebut. Haena, yang sedetik lalu baru saja menunjukkan kecemerlangan hukum yang mematikan, kini mematung dengan tatapan yang menembus kaca jendela gelap. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk tahi lalat di bawah dagunya dengan ritme yang semakin cepat sebuah tanda bahwa otak jeniusnya sedang mendeteksi adanya glitch fatal dalam struktur loyalitas Dirgantara Corp.
"Seseorang di jajaran komisaris inti?" gumam Haena pelan, suaranya sedingin es yang retak.
"Hanya ada lima orang yang memiliki akses biometrik untuk memberikan hak veto korporasi. Aku, Papa, Nyonya Rosalind, Vanya, dan satu-satunya orang yang tidak pernah kucurigai, Komisaris Utama Sudirman."
Kaelen Arkananta yang duduk di sampingnya segera menekan tombol interkom untuk menghubungi markas komando Jakarta.
"Pak Baskara, berikan saya akses visual ke ruang rapat dewan komisaris sekarang! Siapa yang melakukan transaksi veto tersebut?"
Layar hologram di tengah kabin mobil menyala, menampilkan rekaman CCTV ruang rapat utama di Jakarta yang terjadi sepuluh menit lalu. Di sana, Komisaris Utama Sudirman terlihat duduk dengan tangan gemetar di atas meja kayu solid, sementara seorang pria berpakaian serba hitam dengan pin emas berlambang burung fiks berdiri di belakangnya. Pria itu menekan ibu jari Sudirman ke pemindai elektronik, mengaktifkan transfer hak veto yang sah secara hukum kepada entitas The Second Elder.
"Sudirman telah disandera," ucap Kaelen dengan suara bariton yang rendah dan penuh ancaman.
"Itu bukan penandatanganan sukarela. Lihatlah bekas memar di lehernya. Mereka mengancam keluarganya."
Haena menutup matanya sesaat, mengatur napasnya agar tetap tenang di tengah badai pengkhianatan ini. Di otaknya, skema korporasi Dirgantara Corp kini telah berubah menjadi labirin yang berbahaya. Pengalihan hak veto berarti musuh sekarang memiliki legitimasi untuk mencairkan seluruh aset, memecat jajaran eksekutif, dan menyerahkan kepemilikan saham kepada pihak asing dalam hitungan menit.
"Pak Baskara," Haena membuka suara, otoritasnya kembali mengeras layaknya baja.
"Segera aktifkan 'Protokol Phoenix'. Jika kita tidak bisa membatalkan hak veto tersebut secara legal, kita akan menghancurkan sistemnya secara fundamental."
"Nona Haena, apakah Anda yakin?" suara Pak Baskara di ujung telepon terdengar ragu.
"Itu akan membuat sistem perbankan Dirgantara Corp lumpuh total, termasuk gaji ribuan karyawan."
"Lakukan saja," potong Haena tanpa keraguan.
"Sesuai dengan anggaran dasar yang kutulis ulang saat pengesahan merger, jika terjadi pengalihan hak veto yang dipaksakan di bawah ancaman fisik, seluruh sistem operasional harus terkunci otomatis ke dalam mode safe-state."
Sementara itu, di dalam sel isolasi Polda, Nyonya Rosalind dan Vanya yang sedang bersandar di dinding beton terdiam saat mendengarkan derap langkah berat dari koridor penjara. Pintu sel mereka terbuka lebar. Sosok pria berpakaian serba hitam yang sama dengan yang berada di ruang rapat Jakarta muncul di ambang pintu.
"Nyonya Rosalind, Vanya," pria itu berucap dengan suara berat.
"Anda bebas. The Second Elder telah mengesahkan kepemilikan Dirgantara Corp yang baru. Anda kini adalah orang-orang paling berkuasa di negara ini."
Nyonya Rosalind berdiri dengan kaki yang tertatih, tawanya yang melengking memenuhi lorong penjara, kali ini bukan lagi tawa gila, melainkan tawa kemenangan yang angkuh. Dia menatap Vanya yang masih bingung.
"Ayo, Vanya! Kita akan kembali ke gedung Dirgantara sebagai pemegang saham mayoritas. Haena dan Bramasta hanyalah sejarah!"
Vanya mengikuti ibunya dengan tatapan kosong, langkahnya terasa berat seolah dia tahu bahwa kehancuran mereka yang sebenarnya baru saja dimulai.
Kembali ke mobil taktis di Singapura, Clarissa yang duduk di depan Haena tampak frustrasi.
"Nona Haena, sistem mode safe-state telah aktif. Namun, The Second Elder sudah bergerak untuk memblokir akses remote kita ke Jakarta. Mereka menggunakan server satelit militer untuk menjaga agar pengalihan veto tetap sah secara hukum di mata internasional!"
"Mereka menggunakan server satelit komersial sebagai perisai," Haena menatap layar tabletnya.
"Gavin, berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mencapai hanggar jet pribadi kita?"
"Lima menit, Nona!"
Haena menoleh ke arah Kaelen.
"Kaelen, kita tidak akan kembali ke Jakarta dengan jet biasa. Kita harus melakukan sesuatu yang lebih ekstrem. Hubungi kapal induk bayangan Arkananta. Kita butuh koneksi satelit militer frekuensi tinggi untuk membajak sinyal The Second Elder secara langsung dari langit."
Kaelen tersenyum tipis, matanya berkilat penuh kekaguman pada ketenangan Haena yang luar biasa.
"Sudah kulakukan, Haena. Jet kita sudah dipersenjatai dengan sistem jammer aktif. Begitu kita berada di udara, kita bisa menembus perisai server mereka."
Di rumah sakit Jakarta, Ibu Aminah yang terus memegang tasbihnya di samping Tuan Bramasta merasakan getaran aneh di udara. Tuan Bramasta yang masih terbaring lemah menatap langit-langit, wajahnya yang penuh luka terlihat sangat tenang.
"Haena sedang melawan, Aminah," bisik Bramasta.
"Dia tidak akan membiarkan kerja keras kita jatuh ke tangan orang-orang yang hanya ingin menghancurkan bangsa ini."
"Amin, Bramasta," jawab Ibu Aminah dengan suara parau.
Tiba-tiba, seluruh lampu di rumah sakit tersebut padam. Gelombang EMP tak kasat mata yang dikirimkan oleh Haena dari jarak ribuan kilometer melalui satelit mulai bekerja, memutus akses ilegal The Second Elder dari server pusat Dirgantara Corp. Di kantor pusat Dirgantara, para pria berpakaian hitam yang sedang menguasai ruang direktur terbelalak ketika semua layar komputer mereka mendadak menampilkan logo burung phoenix yang membara simbol dari protokol yang diaktifkan Haena.
Haena, di dalam mobil yang melesat menuju bandara, mengetuk tahi lalat di bawah dagunya dengan ritme yang stabil. Di layar tabletnya, dia melihat garis pertahanan musuh mulai hancur satu per satu.
"Kalian mengira veto adalah senjata terkuat," ucap Haena dengan suara yang rendah namun penuh tekanan otoritas.
"Tetapi di dunia yang dibangun oleh data, kedaulatan ada di tangan siapa yang memiliki kendali atas server utama. Dan hari ini, aku adalah pemilik sah kedaulatan itu."
(Cliffhanger)
"Tepat saat jet pribadi Arkananta Group mencapai ketinggian jelajah, sebuah peringatan merah muncul di layar kokpit: "Koneksi satelit berhasil dipulihkan, namun ada interupsi dari frekuensi lokal!" Di layar utama, muncul wajah Komisaris Utama Sudirman yang tampak babak belur, namun dia berbisik dengan nada yang sangat ketakutan: "Nona Haena... jangan kembali ke Jakarta. Faksi The Second Elder telah memasang jebakan di Bandara Halim. Mereka tidak hanya menginginkan perusahaan, mereka menginginkan nyawa Anda secara langsung di landasan pacu."