Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghianat Negara (Origin Story Hattori Zen—Flashback)
Unit Obake di bawah komando Hattori melesat serupa bayangan yang membelah rimbunnya hutan, nyaris tanpa suara kecuali gesekan halus jubah mereka dengan udara hingga mereka bertemu seorang penjual sake, dia adalah Kenji, intelijen desa Iga.
Kenji menjelaskan situasi benteng pasukan perbatasan Kamakura.
Pandangan Hattori menyapu dan memerintahkan dua Chunin untuk melindungi unit Obake dari atas tebing “Ryu, Kaito, Kalian cari posisi sedekat mungkin, target utama kalian adalah para pemanah di menara.”
Hattori menunjuk dua Chunin lainnya, “Sato, Inao, lakukan infiltrasi bawah air, sabotase kapal dan buat pengalihan” ia menatap satu Chunin tersisa,”Ren dan aku masuk ke jantung musuh, kita bersembunyi di bawah gerobak sake, ada yang di tanyakan?”
“Siap Jelas” angguk kelima Chunin, mereka langsung berpencar sesuai arahan.
Hattori dan Ren bergelantungan di bawah gerobak sake yang memang
biasa menyetor sake ke Pos benteng perbatasan.
Aroma tajam ragi sake menyengat hidung Hattori saat ia memaksakan tubuhnya menempel pada sasis kayu yang berderit. Debu jalanan mulai mengotori paru-parunya, memaksa setiap napas harus diatur dengan teknik pernapasan batin agar tak terdengar.
Gerobak sake itu melambat saat mendekati gerbang kayu raksasa Benteng Kamakura. Suara denting baju zirah para penjaga terdengar semakin jelas, memicu adrenalin yang tersembunyi di balik ketenangan Hattori dan Ren.
"Berhenti!" teriak seorang penjaga. Goncangan gerobak terhenti seketika.
Hattori menahan napas. Dari celah kayu, ia bisa melihat sepasang sepatu bot kulit yang berdebu berdiri tepat di samping roda. Jantung Ren di sampingnya berdegup sedikit lebih kencang—sebuah kesalahan amatir yang hampir membuat Hattori memberikan isyarat teguran melalui tekanan jari.
Srak!
Suara tombak yang menusuk tumpukan jerami di atas gerobak terdengar tepat di atas kepala mereka. Hanya selisih beberapa inci dari bahu Hattori. Logam tajam itu ditarik kembali.
"Hanya sake. Aman, Masuklah!"
Gerobak kembali bergerak, melewati lorong batu yang lembap menuju gudang penyimpanan. Begitu gerobak berhenti di area yang remang, Hattori melepaskan pegangannya dengan gerakan seringan bulu. Ia mendarat tanpa suara, diikuti oleh Ren.
"Cari posisi. Ingat, target kita adalah gulungan itu sebelum fajar menyingsing," bisik Hattori, suaranya sedingin es.
Di dermaga Teluk Azamo, Inao dan Sato menyelam di bawah air, mereka membuat gelembung air sebagai kacamata selam, begitu menyentuh tiang dermaga, dengan presisi yang mengerikan, mereka merayap ke geladak kapal.
Alih-alih ledakan besar, mereka hanya menyulut api kecil pada tumpukan kain berminyak di geladak kapal patroli terluar. Kemudian berguling menyelam lagi dalam air.
Api itu menari kecil, mengundang rasa penasaran.
Dua penjaga yang berjaga di bibir jembatan dermaga segera mendekat.
"Hei, apa itu?" gumam salah satunya sambil mencondongkan tubuh. Sedangkan para pemanah di atas menara benteng mengawasi dengan curiga.
Begitu kedua penjaga selesai memdamkan api dan mengecek jembatan dermaga, dua tangan muncul dari permukaan air yang gelap, mencengkeram kerah baju zirah mereka dengan kecepatan kilat.
Byurr!
Suara air yang terbelah hanya terdengar pelan, lalu sunyi. Di bawah permukaan, Inao dan Sato menghabisi mereka tanpa riak yang berarti.
Di atas menara, para pemanah Kamakura segera bereaksi begitu melihat kedua rekan mereka seolah tertarik ke dalam air. Mereka menarik busur, menyipitkan mata ke arah dermaga yang mulai terang oleh api. Namun, sebelum jemari mereka melepas tali busur…
Jeb—Jeb—!
Jeb—Jeb—!
Empat anak panah melesat menembus udara malam. Kaito dan Ryu di puncak bukit melepaskan tembakan beruntun dengan ritme yang teratur.
Anak-anak panah itu bersarang tepat di pelipis dan tenggorokan para pemanah menara. Tubuh-tubuh itu ambruk di lantai kayu menara tanpa sempat membunyikan lonceng peringatan.
"Menara bersih," bisik Ryu sambil segera meluncur turun dari posisi semula.
Sesuai protokol Obake, mereka harus berpindah posisi setiap kali melepaskan tembakan agar keberadaan mereka tetap menjadi misteri.
Di jantung benteng, Hattori dan Ren mulai memanjat dinding kayu menara pagoda utama dengan teknik Kinobori menggunakan Shuko dan Ashiko. Mereka merayap vertikal layaknya cecak, memanfaatkan bayangan dari ornamen bangunan.
Di bawah mereka, beberapa patroli musuh lewat dengan langkah teratur sesuai rute patrol, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di atas kepala mereka, dua Shinobi Iga tengah merayap menuju ruang sang Komandan.
Hattori berhenti sejenak di dekat jendela lantai atas. Ia melihat Kaito dan Ryu dari kejauhan sudah berada di posisi baru, membidik setiap prajurit yang tampak mulai curiga.
"Ren, bersiap," bisik Hattori sambil menyentuh gagang pedangnya. "Begitu kita masuk, sebisa mungkin hindari pertarungan tak berarti."
Hattori menggeser jendela kecil dengan ujung pisau. Mereka masuk dan menggukan teknik Kumo-Niju (Seni laba-laba) merayap di usuk atap ruangan.
Wanita yang tadi dilihat Hattori bernama Kaede, ia berhenti mendadak di tengah lorong yang remang. Langkahnya yang semula ringan kini membeku.
Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda, sebuah keheningan yang tidak wajar, namun di area pagoda ini, kesunyian terasa begitu pekat, seolah-olah udara sendiri sedang menahan napas.
Ia memejamkan mata, menyilangkan jemarinya dengan cepat membentuk segel "Rin" dan "Toh".
Seketika, persepsi Kaede meluas. Pendengarannya menajam, desiran angin yang melewati sela-sela atap, hingga getaran halus pada lantai kayu terdengar jelas di telinganya. Ia tidak lagi melihat dengan mata, melainkan suara-suara kecil yang tak semestinya yang ada di sekitarnya.
‘Di atas langit-langit. Dua titik hawa dingin yang bergerak tanpa suara. Sangat tipis, nyaris menyatu dengan kayu bangunan.’ Kaede memabaca situasi di sekitarnya dengan ketajaman pendengaran dan persepsinya.
Namun, yang lebih mengejutkan Kaede adalah posisi para pemanah di menara luar. Ia tidak lagi mendengar napas mereka. Yang tersisa hanyalah keheningan mati dari arah menara.
‘Pemanah kita sudah habis,’ pikir Kaede tajam. Ini ulah Shinobi? Dia langsung menebak pelakunya.
Kaede tidak berteriak. Ia tahu jika ia bersuara, anak panah dari kegelapan di luar sana akan langsung melesat ke tenggorokannya. Dengan gerakan anggun namun mematikan, ia menarik dua buah shuriken dari balik lengan bajunya dan tetap berdiri mematung, menunggu saat yang tepat ketika sang penyusup melakukan kesalahan kecil.
Di atas plafon, Hattori Zen merasakan perubahan itu. Ia melihat melalui celah kecil bagaimana tubuh wanita itu mendadak diam, penuh ketenangan yang berbahaya.
"Dia tahu kita di sini," Hattori menggunakan isyarat mata yang bisa dipahami oleh Ren.
Hattori tahu, melawan seseorang yang sedang dalam kondisi Kuji-In sangat sulit dihadapi. Ia harus memecah konsentrasi wanita itu.
Hattori merogoh kantongnya, mengambil sebuah kelereng kecil berisi bubuk besi dan menjatuhkannya ke arah yang berlawanan di ujung lorong.
Tik...
Suara itu sangat kecil, namun bagi Kaede yang pendengaran dan persepsinya tengah menajam, suara itu terdengar seperti dentuman. Namun, bukannya menoleh ke arah suara, Kaede justru melemparkan shuriken-nya ke arah langit-langit tepat di atas kepalanya—titik di mana Hattori sebenarnya berada.
Siut—!
Hattori melenting mundur tepat waktu, ujung shuriken itu menggores sedikit kain penutup wajahnya.
Tap—!
Shuriken itu tentancap cukup dalam di Kayu plafon, dan Hattori turun dengan posisi mendarat yang sempurna, pedang pendeknya sudah terhunus, memutar pedangnya, memberi isyarat pada Ren untuk tetap bergerak sesuai misi.
Kaede sedikit melirik dan tahu satu orang lagi pergi menjauh.Tapi ia tak bisa mengabaikan lawan di depannya.
Kini mereka berdiri berhadapan di lorong sempit. Cahaya bulan masuk melalui celah jendela, membelah wajah mereka berdua.
"Kuji-In yang mengesankan," ucap Hattori dengan suara berat. "Sangat jarang menemukan pengguna segel murni di pos perbatasan sejauh ini."
Kaede menurunkan posisinya, siap menerjang. "Dan sangat jarang menemukan Jonin yang rela jauh-jauh ke perbatasan. Apa yang kau cari, apa gulungan surat Daimyo Daichi? Hmph… dasar penghianat negara."
Hattori terdiam. Kalimat Kaede menghantamnya lebih keras daripada pedang mana pun. Apa maksud Kunoichi ini? Memangnya apa isi gulungan surat itu? Tanya Hattori dalam hati.