NovelToon NovelToon
MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.

Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan

Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPECIAL SEASON EPISODE 1: PANGERAN YANG KEHILANGAN MAHKOTA (PART A)

Satu tahun telah berlalu sejak perang kartu merah di SMA Nusantara Jaya resmi dibakar habis. Bagi dunia luar, waktu satu tahun mungkin berjalan biasa saja. Namun bagi Alvaro Pramudya, satu tahun ini adalah sebuah proses rekonstruksi total atas seluruh hidupnya.

Di sebuah sudut area pergudangan yang pengap di daerah Jakarta Utara, deru mesin kipas angin tua berputar dengan suara berisik. Alvaro berdiri di depan sebuah meja kayu palet berpaku kasar, menatap layar laptopnya yang mulai melambat. Kemeja flanel kotaknya digulung hingga siku, dan peluh tampak membasahi keningnya.

Tidak ada lagi wewangian parfum mahal pesanan Prancis. Tidak ada lagi jam tangan Swiss seharga ratusan juta rupiah. Yang ada hanyalah Alvaro yang baru—seorang pemuda biasa yang sedang berjuang membangun usaha rintisan logistik kecil-kecilan bernama *A-Logistics*.

"Al, ini data manifes pengiriman barang untuk wilayah Jakarta Barat hari ini. Supir kita sempat tertahan di gerbang tol karena ada kendala administrasi," Galang Saputra melangkah masuk ke dalam ruangan kantor darurat tersebut, melemparkan seonggok berkas kertas ke atas meja.

Galang, yang memilih kuliah di universitas yang sama dengan Alvaro, kini menjabat sebagai kepala operasional lapangan. Sementara Rafael Mahardika, dengan setelan kemeja yang sedikit lebih rapi, duduk di sudut ruangan sambil sibuk membenahi sistem algoritma pengiriman di komputernya.

"Biar aku yang urus administrasinya ke kantor tol," jawab Alvaro, suaranya terdengar jauh lebih dalam, matang, dan tenang. "Kita tidak boleh terlambat satu jam pun. Kepercayaan klien adalah satu-satunya modal yang kita punya sekarang."

"Kamu benar-benar sudah berubah, Al," Rafael menimpali tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. "Kalau Alvaro yang dulu, kamu pasti sudah menyuruh pengacara keluarga untuk meratakan gerbang tol itu dengan uang."

Alvaro terkekeh pelan, seulas senyuman tulus terukir di wajah tampannya yang kini tampak lebih tegas. "Uang itu bukan milikku, Raf. Itu milik Pramudya Corp. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri—dan pada Kayla—bahwa aku tidak akan pernah menyentuh satu rupiah pun dari sana untuk membangun masa depanku."

---

Sore harinya, Alvaro memarkirkan motor matik sederhananya di depan gerbang Universitas Negeri Jakarta. Di sana, di bawah rindangnya pohon mahoni, Kayla Shaqueena sedang berjalan keluar bersama beberapa teman kuliahnya dari Fakultas Ekonomi.

Kayla tampil sederhana dengan kaos rajut longgar, celana jins, dan tas kain yang selalu dibawanya sejak zaman sekolah. Rambutnya diikat kuda, memancarkan binar mata bulat yang selalu berhasil meruntuhkan ego Alvaro dalam sekejap.

Begitu melihat Alvaro, Kayla berpamitan pada teman-temannya dan berlari kecil menghampiri cowok itu.

"Bagaimana hari ini di gudang?" tanya Kayla, langsung meraih tangan Alvaro dan menggandengnya tanpa ragu. Ia mengeluarkan selembar tisu dari tasnya, lalu dengan lembut menyeka sisa keringat di pelipis Alvaro.

"Melelahkan, tapi menyenangkan," sahut Alvaro, menatap Kayla dengan tatapan mata yang sarat akan rasa cinta dan hormat. "Klien baru dari sektor tekstil menyetujui kontrak tiga bulan. Jika ini lancar, bulan depan aku sudah bisa menyewa kantor yang lebih layak."

"Aku bangga padamu, Al," ucap Kayla tulus, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu tegap Alvaro saat mereka berjalan menuju tempat parkir. "Kamu membuktikan bahwa pangeran tanpa mahkota justru jauh lebih mengagumkan."

Mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah warung tenda pecel lele di pinggir jalan raya yang bising. Di tempat sederhana seperti inilah mereka menghabiskan waktu setahun terakhir. Mengobrol tentang tugas kuliah, target bisnis, dan impian-impian kecil. Jauh dari intrik politik keluarga kaya yang dulu hampir menghancurkan mereka.

Namun, kedamaian yang mereka bangun dengan susah payah itu mendadak terhenti malam itu.

---

Saat Alvaro sedang membayar makanan di kasir, sebuah keheningan yang aneh tiba-tiba menjalar di area trotoar jalan. Suara bising knalpot motor reguler seolah tenggelam oleh deru mesin mobil sport berkapasitas silinder besar yang perlahan melambat di depan warung tenda.

Sebuah mobil sedan mewah **Maybach Exelero** berwarna hitam metalik—yang harganya setara dengan seluruh aset pergudangan Alvaro—berhenti tepat di samping motor matik Alvaro.

Kaca jendela belakang yang gelap perlahan turun, menampilkan sosok pemuda yang duduk tegak dengan setelan jas formal rancangan desainer ternama. Pembawaannya sangat tenang, misterius, dan dingin.

**Devan Narendra.**

Satu tahun di London tidak mengubah ketajaman sepasang mata teduhnya. Devan menatap ke arah warung tenda, lalu pandangannya terkunci tepat pada Kayla yang tengah berdiri mematung di dekat meja.

Pintu mobil terbuka. Devan melangkah turun dengan gerakan yang luar biasa elegan. Di belakangnya, seorang wanita muda dengan pakaian kerja yang sangat tajam dan memegang tas dokumen kulit mengikuti langkahnya. Dia adalah **Valerie**, pengacara korporasi baru keluarga Narendra.

Devan berjalan melewati deretan meja plastik, mengabaikan tatapan heran orang-orang sekitar, hingga ia berdiri tepat tiga langkah di hadapan Kayla.

"Lama tidak berjumpa, Rumput Liar," ujar Devan, suaranya bariton, halus, namun mengandung aura intimidasi yang sangat pekat, memutus seluruh kebahagiaan yang sempat ada di tempat itu dalam hitungan detik.

---

Bersambung

1
falea sezi
pergi jauh aja kayla😒 toxic bgt devan sama Alvaro sama aja bangke😒 biar aja mereka berantem bodoh amat😒
falea sezi
jahat amat devan😒
falea sezi
kayak f 4 aja masak sama🤣
Aera_yong
💪💪💪🥳
Aera_yong
😭 the four elite
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!