Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.
Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Laila telah sampai di sebuah alamat yang diberikan oleh Ainun. Dia melihat sekeliling, tapi tidak menemukan siapa pun untuk ditanyai. Rumah itu terlihat begitu asri, pasti membuat para penghuni rumah merasa nyaman. Laila yang baru melihat saja sudah merasa senang.
Di depan rumah juga terdapat beberapa bunga dalam pot yang terlihat cantik. Khas sekali dengan Ainun yang memang sangat rajin merawat tanaman dan menghias rumah. Laila jadi teringat dulu di tempat kos temannya itu juga merawat beberapa tanaman.
"Assalamualaikum," ucap Laila dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Terlihat seorang wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh untuk membukakan pintu gerbang. Laila mundur satu langkah dan mencoba untuk tersenyum.
"Waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu setelah membukakan pintu gerbang.
"Apa benar ini rumahnya Ainun? Saya temannya. Kemarin saya menghubunginya dan bilang akan ke sini."
"Benar, ini rumah Bu Ainun. Mari silakan masuk!"
Laila pun mengangguk dan mengikuti langkah wanita itu. Halaman rumah cukup luas untuk tempat anak-anak bermain. Di samping rumah juga ada tanah lapang yang dipakai Ainun membuat kebun mini. Hingga akhirnya saat Laila memasuki rumah tampak Ainun berjalan keluar.
"Laila!"
"Ainun!" seru keduanya bersamaan.
Keduanya pun berpelukan. Rasa haru menyelimuti ruangan itu. Keduanya menyalurkan terasa rindu yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Mereka memang sangat dekat seperti keluarga, tidak menyangka pada akhirnya harus terpisah karena tekanan dari orang lain.
Dulu keluarga Laila juga sangat menyayangi Ainun dan menganggapnya seperti anak sendiri. Beberapa kali mereka meminta wanita itu untuk tinggal di rumahnya saja, tapi Ainun selalu menolak dengan beralasan ingin mandiri. Ainun hanya tidak ingin merepotkan orang lain. Mereka baik terhadapnya saja sudah cukup baginya.
"Kamu apa kabar?" tanya Laila.
"Baik. Kamu sendiri bagaimana?"
"Baik juga."
Keduanya pun mengurai pelukan. Ainun mengajak Laila untuk duduk di ruang tamu, tidak lupa juga dia meminta bibi untuk membuatkan minuman dan kue. Tadi Ainun sengaja membuat kue karena tahu temannya ini akan datang.
"Kamu masih terlihat cantik meski sudah tua," ujar Laila dengan menatap wajah Ainun.
Meskipun ada kerutan wajahnya. Namun, kecantikan Ainun masih sama seperti dulu. Pantas saja Malik masih menginginkan sahabatnya ini. Dia yang sesama wanita saja merasa kagum.
"Kamu ini bisa saja. Kamu juga masih terlihat cantik. Kamu pasti bahagia juga. Harun pasti sangat memanjakanmu 'kan?"
"Tentu saja. Memangnya dia berani membuat aku menangis."
Keduanya tertawa bersamaan, teringat jika dulu Harun gitu mencintai Laila, hingga mampu melakukan apa saja agar membuat wanitanya itu bahagia. Sama seperti Malik juga, bedanya keluarga Harun bisa menerima Laila, sementara keluarga Malik tidak karena status sosial yang mereka yang sangat berbeda jauh.
Laila dan Ainun pun berbicara banyak hal tentang hari-hari yang mereka lewatkan. Tentang keluarga masing-masing, juga perjalanan hidup selama bertahun-tahun ini. Keduanya sama-sama tidak membahas Malik sedikit pun.
Laila sengaja melakukannya karena tidak ingin Ainun merasa tidak nyaman. Dia sangat tahu jika sahabatnya tidak ingin mengingat masa lalu, sementara Ainun sendirian tidak ingin bertanya apa pun tentang Malik meskipun tahu mereka masih berhubungan. Baginya semua itu hanyalah masa lalu yang sudah lewat.
"Jadi kamu sekarang hidup sendiri di tempat ini?" tanya Laila saat tahu jika suami Ainun ternyata sudah meninggal sejak anaknya masih kecil.
Ainun memilih untuk hidup sendiri dan tidak menikah lagi. Padahal beberapa kali ada pria yang mendekatinya. Namun, Ainun menolaknya mentah-mentah. Wanita itu selalu beralasan jika tidak ingin anaknya merasa tersisih karena kedatangan orang baru. Bagi Ainun hidup bersama dengan anaknya saja sudah cukup.
"Aku disini tinggal sama cucuku karena anak dan menantuku sekarang kerja di luar negeri. Mereka dipindah tugaskan sama atasannya. Mereka tidak mungkin membawa Alif karena keduanya sama-sama sibuk, jadi Alif ditinggal di sini sama aku. Aku juga senang sih karena sekarang aku ada temannya."
Keduanya berbincang cukup lama, bahkan Ainun juga mengajak Laila mengelilingi rumahnya untuk melihat kebun mini miliknya. Hingga akhirnya sebelum dzuhur Laila pamit pulang. Wanita itu sudah mendapat pesan beberapa kali dari sang suami yang memintanya agar segera pulang.
Ainun pun tidak melarang. Dia paham jika Laila juga punya keluarganya sendiri. Melihat temannya bahagia dengan pasangan membuat Ainun juga ikut bahagia. Wanita itu juga mengatakan pada Laila agar nanti bisa datang bersama suami dan keluarganya.
***
"Kamu belanja banyak sekali, dapat uang dari mana kamu?" tanya Oma Ainun pada cucunya yang baru datang padahal ini sudah sore.
Alif memejamkan matanya sambil meringis. Dia kira omanya sedang beristirahat di kamar, jadi dirinya bebas membawa barangnya ke dalam rumah, tapi ternyata pemuda itu salah, omanya masih menunggunya di ruang tamu. Sekarang Alif bingung harus mengatakan apa. Kalau bohong takut nanti omanya marah, kalau jujur malah akan semakin marah lagi.
"Kenapa diam? Kamu tidak mencuri 'kan, Alif? Atau malakin teman-teman kamu?"
Alif mendelik tidak percaya dengan tuduhan Omanya. "Mana mungkin, Oma! Alif 'kan anak baik, mana mungkin mencuri. Apalagi malakin orang. Aku juga tahu mereka dapat uang saku dari orang tuanya, mana mungkin aku minta, kecuali mereka sudah punya usaha sendiri baru aku palakin."
"Kamu!"
"Bercanda, Oma."
"Lalu dari mana semua ini? Kamu setiap hari berantem di sekolahan membuat Oma pusing. Katakan dengan jujur sama Oma, dapat dari mana kamu semua ini? Bukankah orang tuamu sudah memblokir kartu kredit kamu. Uang jajan juga semuanya diserahkan sama Oma, kamu hanya pegang uang saku per hari."
Kartu kredit milik Alif memang diblokir oleh kedua orang tuanya karena kemarin Alif bertengkar dengan Fajar di sekolah. Sudah berkali-kali kedua orang tuanya memberi peringatan agar putranya itu tidak membuat ulah di sekolah. Kasihan omanya yang sudah tua. Seharusnya menikmati masa tuanya dengan bersantai, ini malah mengurusi cucunya yang nakalnya kebangetan.
Meskipun begitu Alif tidak pernah kapok. Akan selalu saja ada gebrakannya, entah itu di sekolah ataupun di jalanan. Pernah juga Alif ditangkap oleh posisi karena tawuran di jalanan. Karena memang masih dibawah umur jadi anak itu dibebaskan dengan beberapa persyaratan. Meskipun begitu Alif tidak pernah kapok masih juga tawuran dan berantem di sekolah.
"Sebenarnya ini dari opanya Fajar," jawab Alif dengan pelan. Namun, Ainun masih bisa mendengar dengan jelas. Dia ingat siapa pria yang dimaksud oleh cucunya itu.
"Di mana kamu bertemu dengan dia dan kenapa kamu sampai meminta dibelikan semua ini?"
"Aku nggak minta dibelikan, Oma. Orang itu sendiri yang menawariku untuk di belanjain. Tadi dia datang ke sekolah menawariku untuk diajak jalan-jalan dan akan memenuhi semua keinginanku, jadi aku mau saja. Kapan lagi bisa jalan-jalan membeli semua barang ini, tanpa harus mengeluarkan uang."
"Kamu tahu nggak apa akibat dari yang kamu lakukan tadi! Oma tidak mau tahu, besok kamu harus mengembalikan semua barang-barang ini!"
"Jangan dong, Oma. Aku mendapat ini barang ini dengan susah payah, masa mau dikembalikan begitu saja. Lagipula opanya Fajar sendiri yang belanjain aku. Aku juga nggak minta, kok."
"Tapi dengan kamu seperti ini, itu buat Oma malu dan juga dia akan ...."
Ainun tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Nanti Alif akan tahu jika dia dan Malik memiliki hubungan di masa lalu. Entah apalagi yang diinginkan oleh Malik terhadapnya, padahal dia sudah berusaha untuk menghindar. Ainun tidak ingin kejadian masa lalu terulang kembali.
Keluarga Malik juga pasti masih tidak menyukainya. Padahal pria itu sudah memiliki keluarga, seharusnya sudah bahagia dengan keluarganya, tapi kenapa masih mengusiknya. Ainun tidak ingin anak dan cucunya menjadi korban.
"Berikan semua barang-barang itu sama Oma."
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍
novelnya baguuuuss,,,, alur ceritanya juga bagussss,, aku suka😍